<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639</id><updated>2011-07-08T05:12:18.400-07:00</updated><category term='Gallery'/><category term='Poem'/><category term='cerita konyol'/><category term='cerpen'/><title type='text'>Lado's Cave</title><subtitle type='html'>"Smile!!!
and we can see how beautiful the life is"</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>29</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-8557396267629781194</id><published>2011-03-08T07:00:00.000-08:00</published><updated>2011-03-08T07:12:20.710-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-XUhF3xMiHgs/TXZEqKb0K3I/AAAAAAAAAKY/hqsQ1fhDBPk/s1600/COSMIC%2B-%2BCopy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-XUhF3xMiHgs/TXZEqKb0K3I/AAAAAAAAAKY/hqsQ1fhDBPk/s200/COSMIC%2B-%2BCopy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581724279318522738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/images/music+bands+or+music" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-8557396267629781194?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/8557396267629781194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=8557396267629781194' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/8557396267629781194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/8557396267629781194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2011/03/blog-post.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-XUhF3xMiHgs/TXZEqKb0K3I/AAAAAAAAAKY/hqsQ1fhDBPk/s72-c/COSMIC%2B-%2BCopy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-3044211981791056500</id><published>2011-03-08T06:49:00.001-08:00</published><updated>2011-03-08T06:52:39.635-08:00</updated><title type='text'>foto terbaru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-LYw1TWKuyH8/TXZCX2iCHbI/AAAAAAAAAKQ/W6IGcFIueLM/s1600/IMG_1625%2B-%2BCopy.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-LYw1TWKuyH8/TXZCX2iCHbI/AAAAAAAAAKQ/W6IGcFIueLM/s200/IMG_1625%2B-%2BCopy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581721765714992562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/images/music+bands+or+music" target="_blank"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-3044211981791056500?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/3044211981791056500/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=3044211981791056500' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3044211981791056500'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3044211981791056500'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2011/03/foto-terbaru.html' title='foto terbaru'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-LYw1TWKuyH8/TXZCX2iCHbI/AAAAAAAAAKQ/W6IGcFIueLM/s72-c/IMG_1625%2B-%2BCopy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-9146937435023107020</id><published>2011-03-08T06:34:00.000-08:00</published><updated>2011-03-08T06:38:29.354-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Cs42ZSx40IA/TXY_GXdJkpI/AAAAAAAAAKA/RNCRveXz9Zo/s1600/Image%2528251%2529.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Cs42ZSx40IA/TXY_GXdJkpI/AAAAAAAAAKA/RNCRveXz9Zo/s200/Image%2528251%2529.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581718166780351122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;                                                                         &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Guru Tak Ideal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Masih terpatri di lubuk hati yang terdalam pesan dekanku nan imut di saat Wisuda Fakultas; “Sekarang tibalah saatnya kamu masuk dalam dunia yang sesungguhnya, banyak tantangan dan hambatan siap menghadang, gunakan pengetahuan yang telah kamu dapat sebaik mungkin dan jangan pernah putus asa.” Tidak salah kalimat itu. Dunia realita ini memang keras dan kejam. Tapi show must go on. Keputusan untuk kembali ke kampung halaman tercinta tak bisa diganggu gugat. Tinggal di gunung jauh dari  Citra Land Mall, Hi Sum Cafe, Family Fun, Warung Tegal apalagi Bioskop Twenty One. Singkat cerita jadilah aku seorang guru SD (ha..ha.. Sarjana Sastra Inggris plus lulusan terbaik dari salah satu Universitas elit cuma jadi guru SD di isolated village. sok heroik banget). Kawan aku hanya menjalani panggilan jiwa! Kira-kira demikian kalau aku mau menguatkan sang aku. Mimpi untuk jadi kaum metropolis aliran Yupies dengan sejumlah fasilitas mewah plus-plus ku singkirkan jauh-jauh.&lt;br /&gt;Berbagai aturan sekolah ku jalankan kecuali terlambat masuk sekolah. Hee..hee.. kebiasan sialan  satu ini gak bisa dihilangi, kebawa waktu kuliah. Benar kata para psikolog; sesuatu yang sudah dilakukan sebanyak 99 kali berturut-turut maka akan jadi kebiasan yang sulit dirubah. Setiap pagi Sang Kepala Sekolah selalu menegaskan dan menegaskan tetap saja gak mempan. Diibaratkan mengetuk batok kelapa yang sudah keras kulitnya. Jangan pikir aku cuma sendiri, ada sainganku kalau masalah terlambat. Seorang guru, kebetulan Ijasa terakhir PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) diangkat jadi PNS. Padahal dia sendiri tidak pernah punya mimpi jadi guru apalagi PNS, jauh banget. Menurutnya lebih baik pegang mesin sensor dan potong kayu di hutan dari pada jadi guru harus pegang pulpen dan menjalankan sejuta adminstrasi yang gak abis-abis. Tapi sang kepala sekolah yang sudah dimutasikan ke tempat asalnya terus membujuk agar si tukang sensor ini bisa kembali pegang bolpoin. Mengingat para pendidik generasi bangsa sangat minim di daerah terpencil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;             Tibalah pagi yang indah meskipun bagi ku gak indah soalnya tidurku belum pulas sudah harus bangun. Kenapa ya matahari cepat banget nongkrong diatas bukit? Padahal masih ingin gentayangan di alam bidadari. Pikir-pikir masih ada tugas yang harus diselesaikan. Mengusap-usap mata jalan menuju kamar mandi, sementara di bawah sana anak-anak sekolah sudah baris lengkap dengan seragam kenegaraan “Sang Merah Hati Ayam” (maksudnya seragam merah Putih). Beberapa anak melirik melihat ku berjalan ke kamar mandi dengan wajah kusut. Pikir mereka; enak ya.. jadi guru, datang terlambat gak dipukul, kalau kita betis sampai memar.” Sang Pengamat tak henti-hentinya memperhatikan anak-anak yang datang terlambat sambil menegur nama anak-anak itu. Bagaikan kucing yang berkonsentrasi tinggi mengamati gerakan anak ayam tak berinduk. Atau jelihnya mata burung elang mengintai burung kecil yang sedang lengah. Dia bukan guru juga bukan anggota komite atau kepala UPTD atau pengawas, dia hanyalah istri Kepala sekolah. Sebagai seorang istri yang baik harus mendukung kinerja suaminya salah satunya adalah: Berteriak dari halaman rumahnya, untuk memaksa anak-anak baris yang rapi. Aturan darimana? Ah gak tahu. Yang aku tahu aku sudah terlambat.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Pasang wajah cuek, seolah-olah gak salah. Berjalan menuju ruang guru. Semua anak-anak sudah masuk kelas dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tentu saja masih ada sepasang mata memandang ku tanpa ada suara, Sang Pengamat. Mau teriak suruh cepat gak mungkin, ini seorang guru. Tetap cuek dan tepat di depan ruang guru langkah kaki ku terhenti. Sepertinya para pahlawan tanpa tanda jasa sedang berdoa. Ku putar haluan pura-pura masuk ke perpustakaan dari pada berdiri seperti patung dan jadi tontonan anak-anak. Tahu sendiri kalau doa dipandu Sang Kepala Sekolah. Dijamin berdiri sampai lutut kram! Padahal Tuhan Yesus mengatakan “ Kalau berdoa jangan bertele-tele, Bapakmu yang di Surga sudah tahu sebelum kamu meminta.” Maklum manusia gak pernah puas. Termasuk berdoa juga begitu. Sudah omong ini, omong itu, omong ini lagi, itu lagi dan lagi..lagi..lagi.. Setelah mendengar kata: Amin, ku bentangkan langkah kaki ku menuju ruang guru,&lt;br /&gt;“Selamat pagi!”&lt;br /&gt;“Pagi” Sorak serempak dari para Pendidik yang dikategorikan disiplin.&lt;br /&gt;Ku letakan tas  hitam yang berisi lap top bantuan dari LPMP Provonsi Nusa Tenggara Timur. Di meja bertaplak hijau. Taplak yang pembayarannya masih kontroversial. Pikirku taplak sialan ini beserta gorden. Masa sih.. harganya sampai tujuh juta lebih? Emang Mas Jawa itu pasti udah untung besar. Otak ku masih mereka-reka untung rugi curang dan tidak, antara sesal dan ikhlas, tiba-tiba;&lt;br /&gt;“Abang, tadi Kepala sekolah bilang, kamu itu sudah dua bulan tidak ke gereja.” Ibu Cici, guru PNS yang paling muda dan tergolong adik ku mengabarkan berita luar biasa ini.&lt;br /&gt;Sejenak aku kaget,&lt;br /&gt;“Jadi, Pak Kepsek hitung ya siapa saja yang datang ke gereja?”&lt;br /&gt;“Mana aku tahu? Tanya sendiri sama Pak Kepsek.”&lt;br /&gt;”Nanti kamu omomg sama Pak Kepsek buatkan daftar hadir di letakan didepan gereja.” Tanggap ku sekenanya.&lt;br /&gt;Ibu Cici Cuma nyegir. Dalam hati dia pikir; rumah sudah mau gandeng dengan gedung sekolah  masih terlambat. Gereja sudah di halaman rumah masih malas sembahyang. dia kembali membereskan buku-bukunya. tiba-tiba;&lt;br /&gt;“Ehm...Selamat Pagi!” Ada suara dari pintu&lt;br /&gt;Pandanganku secepat kilat mengarah pada sumber suara. Ternyata yang muncul adalah sosok jangkung beseragam PNS, siapa lagi kalau bukan saingan terlambatku dan selalu jadi ‘Santapan’ Kepala UPTD P&amp;amp;K karena selalu terlambat dan masuk sekolah tanpa ijin, Pak John.&lt;br /&gt;Sudah jadi kebiasaan kalau Pak John muncul pasti suasana jadi ceriah. Ibu Cici tertawa apalagi Pak Kons; sahabatnya pasti meledeknya habis-habisan.&lt;br /&gt;“Eh.. Pak John kamu pasti menghadap Kepsek hari ini. Tadi Pak Kepala ada omong, kamu sudah 2 bulan tidak ke gereja padahal Seksi Liturgi” Pak Kons angkat bicara.&lt;br /&gt;“Bukan Pak John, tapi Pak Don.” Ibu Cici bantah.&lt;br /&gt;“Bukan, tadi Pak Kepala bilang Seksi Liturgi le..”&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“He...he..he.. ternyata Pak John bukan aku.” Aku menanggapi. Pikirku pada titik ini aman pasti Pak John dipanggil ditanya kenapa tidak ke gereja padahal kamu guru agama, kenapa kamu begitu tega, apa kata Tuhan Allah nanti kalau Guru Agama tidak memberi contoh yang baik. Dan si pendek itu bicara sambil mengelus-elus kepalanya tengok kiri-tengok kanan lihat atas bawa tanpa memandang lawan bicaranya. Dan Pak John hanya jawab;&lt;br /&gt;“Iya pak..iya pak.”&lt;br /&gt;Tapi salut aku sama Pak John gak pernah mengamuk. Kalau Pak John kayak Ketua BPD pasti kami sudah disidangkan dan harus denda jutaan dengan Delik; Sindiran yang Melecehkan. Memang jasa mu luar biasa Pak John membuat orang tersenyum dan merasa bahwa hidup ini begitu indah. Upah mu besar di Surga (kalau Surga ada).&lt;br /&gt;Setelah menertawakan Pak John, para Pengabdi Ibu Pertiwi ini sibuk menyiapkan nilai maklum sebentar lagi mau kenaikan kelas. Waktu yang diramalkan Pak Kons tiba juga,&lt;br /&gt;Sosok pendek setengah dari tinggi badan Pak John muncul di ambang pintu, sambil mengelus-ngelus kepala,&lt;br /&gt;“Pak John ikut saya ke kantor sebentar.” Wajah serius.&lt;br /&gt;“Saya Pak?” Pak John memastikan. Soalnya bunyi “John” dan “Don” itu tak bisa dibedakan kalau omongnya cepat dan tidak jelas. Apalagi kasus yang mau disidangkan sama. Tadi Ibu Cici dan Pak Kons sempat berdebat soal John dan Don yang terlambat dan tidak ke gereja.&lt;br /&gt;Tanpa berbisik apalagi berkata, Pak John mengayunkan langkah menuju Kantor Kepsek, layaknya terdakwa yang dipanggil Jaksa penuntut umum.&lt;br /&gt;Beberapa saat sang terdakwa muncul lagi ke habitatnya, ruang guru. Wajah tetap cuek dingin.&lt;br /&gt;“Pak Don, dipanggil Kepala Sekolah!”&lt;br /&gt;“Yang benar!” Aku ragu dengan pernyataan Pak John soalnya wajahnya kalau bercanda dan serius sama saja.&lt;br /&gt;“Benar! Kamu ditunggu sekarang”&lt;br /&gt;Melangkahlah aku. Ternyata pagi ini semakin tidak sempurna. John dan Don sama saja, berarti Pak Kepala tadi singgung kami berdua. Maklum kalau pemimpin kami ini bicara gak terarah loncat sana loncat sini jadi pendengar minimal harus punya IQ 150 kayak Sri Muliyani, Mentri keuangan yang sudah jadi Direktur Bank Dunia. Biar bisa tangkap seratus persen. Secara simbolis mengetuk pintu, soalnya aku yakin Sang Kepsek juga gak dengar. Berjalan terus menuju kursi tamu, kemudian di persilahkan duduk. Maka duduklah aku.&lt;br /&gt;“Begini ade.. (aku gak dengar jelas lagi dia omong apa meskipun aku sudah berkonsetrasi, aku yakin ini bukan masalah pendengaranku, soalnya tadi pagi aku baru bersihkan dengan pengorek kuping)..hmm..emm..hmmomm.. gambar sekilas.”&lt;br /&gt;Kata “gambar” dan “sekilas” saja yang aku tangkap. Pikiranku berspekulasi. Jangan-jangan ini terkait dengan lukisan-lukisan Buddha yang aku tempel dinding kamarku. Jadi beliau beranggapan aku sudah murtad. Ah... masa bodoh. Karena gak ada respon dia omong lagi.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Saya beranggapan ade itu dulu masih kuliah terlalu sibuk jadi tidak ke gereja, sehingga kebiasaan itu dibawah terus. Padahal kita harus mengajak kaum muda aktif di gereja, ade pengurus OMK (Orang Muda Katolik)?” Sedikit memandang wajahku sisanya lihat keatas kesamping dan kebawah.&lt;br /&gt;“Aku bukan pengurus pak, anggota.” Jawabku.&lt;br /&gt;“Dulu ade pengurus?”&lt;br /&gt;“Tidak pak.”&lt;br /&gt;“Penolong berarti. Ade sempat aktif dan sekarang sudah tidak lagi. Sekarang kita mau merubah keadaan, dan kita harus kasih contoh.. sebenarnya saya juga mau ade bimbing anak-anak untuk sembahyang lingkungan malam hari.. saya berusaha untuk mengajak orang untuk rajin ke gereja tapi apa kata orang. Tetangganya sendiri apalagi guru bawahannya sendiri saja tidak aktif. Sehingga saya mengharapkan ade untuk aktif.. jadi saya umpamakan ade ini seperti orang yang pergi merantau kemudian pulang baju baru, jam tangan baru, sepatu baru jadi rajin setelah  tidak baru lagi.. malas..”&lt;br /&gt;Gawat.. emang pemimpin satu ini gak bisa mengerti orang, pake contoh yang bikin orang dongkol saja. Dia pikir aku datang ke kampung sini untuk pamer. Dia lupa kalau selama keberadaanku disini sudah banyak perubahan. Emang benar manusia untuk lihat sisi negatif itu lebih mudah. Aku sudah gak nyaman lagi.&lt;br /&gt;“Maaf pak, jangan samakan saya dengan orang yang sekedar pamer. Ketidak aktifanku di OMK bukan karena bajuku sudah kusam atau jam tangan ku sudah rusak, tapi karena mereka sudah tidak mau lagi aktif. Begini pak kalau kita sudah memberi tapi orangnya sudah tidak mau menerima meskipun kita sudah bujuk tapi tetap tidak mau ya.. sudah energi yang ada bisa saya gunakan untuk orang lain.”&lt;br /&gt;“Ya ..begitu saya umpakan jadi ade sama dengan dengan orang merantau begitu...”&lt;br /&gt;Hi..kenapa ini kepsek gak ngerti juga..dia pake ulang lagi. Bagaimana bisa mengerti orang lain kalau sebelum orang lain bicara sudah ada kesimpulan dulu. Belum ada data-data sudah buat kesimpulan. Ini kalau dosenku yang namanya Pak Adhy sudah dibantai habis-habisan pada konsultasi skripsi.&lt;br /&gt;“Begini pak! Aku muak sama sistem gereja, sakremen sepertinya dijual. Jadi kalau aku ke gereja, tidak pernah merasakan khusuknya atau kesakralan beribadat trus, mungkin aku juga punya persoalan psikologis.” Argumenku ku lontarkan biar dia anggap aku tidak waras.&lt;br /&gt;“Dan satu lagi pak, ibadat bagi saya adalah ketika saya bisa berbuat baik tidak pernah menyusahkan oranglain dan ketika kehadirkan ku justru dianggap memudahkan segalah kesulitan, itulah ibadat bagiku.”&lt;br /&gt;“Begini ade.. yang kita bicarakan tadi saya hanya berharap ade bisa bimbing anak-anak bersama Ibu Cici. Biar ketika kita ajak anak-anak sekolah kita sudah buat duluan. Bagaimana kita bisa ajak mereka kalau kita tidak melakukan? Pak John juga seksi liturgi dan guru agama juga sudah kelihatan jarang ke gereja.” Tanggapnya enteng.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Saya bukan guru ideal pak, dan ini kekurangan saya, tapi cobalah bapak buka mata dan melihat dalam kekurangan pasti ada kelebihan.”&lt;br /&gt;“Kalau ade tidak suka dengan sistem gereja datang kalau ada pertemuan. Ini ade juga tidak pernah ikut pertemuan di gereja jadi tidak mengerti persoalannya.”&lt;br /&gt;Sudah lah pikirku iyakan saja. Dari pada omong putar-putar hanya saling mempertahankan pendapat.&lt;br /&gt;“Baik pak!” Keluarlah aku menuju ke ruangan para pejuang mencerdaskan bangsa. Mungkin sang kepsek pikir semuanya sudah teratasi dengan kata iya dari mulutku. Padahal biasanya manusia itu iya..iya tapi belum tentu dilaksanakan. Yang penting aku bisa memberi semampuku. Soal iman urusan masing-masing..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-9146937435023107020?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/9146937435023107020/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=9146937435023107020' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/9146937435023107020'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/9146937435023107020'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2011/03/guru-tak-ideal-masih-terpatri-di-lubuk.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Cs42ZSx40IA/TXY_GXdJkpI/AAAAAAAAAKA/RNCRveXz9Zo/s72-c/Image%2528251%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-1514642874523661630</id><published>2011-02-19T10:45:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T10:48:33.382-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-HaHJKjb_vbc/TWAQPFIDnCI/AAAAAAAAAJ4/cgF4DKKk3GQ/s1600/LEMBAR%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-HaHJKjb_vbc/TWAQPFIDnCI/AAAAAAAAAJ4/cgF4DKKk3GQ/s200/LEMBAR%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5575474189944724514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-1514642874523661630?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/1514642874523661630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=1514642874523661630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1514642874523661630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1514642874523661630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2011/02/blog-post.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-HaHJKjb_vbc/TWAQPFIDnCI/AAAAAAAAAJ4/cgF4DKKk3GQ/s72-c/LEMBAR%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-4363566173468816741</id><published>2011-02-19T10:37:00.000-08:00</published><updated>2011-02-19T10:43:55.806-08:00</updated><title type='text'>SANG DOMBA</title><content type='html'>&lt;a href="http://photobucket.com/images/music+bands+or+music" target="_blank"&gt;&lt;img src="file:///tmp/moz-screenshot.jpg" alt="" /&gt;   	&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt; 	&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Bodoni MT Black, serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt;font-size:130%;" &gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Kegelisahan Sang Domba&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;				(don lado)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hamparan rerumputan bagai permadani hijau tinggal lukisan usang terpampang di bilik kenangan. Kumpulan domba kini melahap tulang rumput kering dan daun-daun tua seadanya. Dimanakah hijau rerumputan yang dikisahkan para leleluhur? Kemanakah tuan bijak yang katanya selalu memperhatikan kesejahteraan hidup para domba? Tak ada yang tahu. Bagi para domba itu bukan pertanyaan mendasar. Masa lalu punya kisah sendiri. Tak perlu diingat lagi. Masa depan memiliki ketidakpastian. Semua begitu kompak berjalan melahap makanan seadanya, mengembik jika itu perlu dan siap digiring ke tempat pemangkasan bulu. Hanya  demi sebua rumah megah nan indah di hari depan. Ditengah kumpulan ini, seekor domba sedang asyik bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan. Tak ada yang tahu, bahkan gembala atau tuannya sekali pun. Tidak ada yang aneh dari tingkah lakunya. Mengembik, makan, minum dan siap dicukur bulunya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tibalah mereka di sebua tempat peristirahatan. Dan biasanya tempat dan jam seperti ini mereka beristirahat sejenak. Mendendangkan kekaguman mereka akan sang tuan beserta gembala-gembala mereka. Sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengisi perut dengan rerumputan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita mesti lebih banyak berterimakasih.. karena para gembala telah menjaga kita.. Jangan pernah kuatir akan hari esok! Tuan kita sudah mengaturnya” Seekor domba tua berujar. Rupanya dia sudah didoktrin oleh para gembala atau mungkin sudah ada penyuapan demi perlakuan khusus yang diperoleh domba tua? Ah.. lagi-lagi tidak pasti. Yang jelas domba tua ini selalu dihormati dan menjadi orang kepercayaan para gembala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betul itu.. kita harus lebih banyak pasrah dengan ketotalitasan, ada rumah terindah bagai rumah para dewa disediakan oleh tuan kita.” Yang lain menambahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tidak bagi ku..” diam sesaat sambil menunduk. Kemudian menegakan kepala dan menatap setiap wajah-wajah para domba.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sesaat.. Kumpulan domba menatap serius ke sosok yang berada paling kiri. Kata-kata pembantahan yang tak pernah didengar sebelumnya. Dan terkesan domba ini hidup dalam keragu-raguan. Domba tua memperhatikan lekat-lekat sosok muda yang berdiri tegar. Sosok ini dikenal betul, biasa dipanggil Vida. Selama ini Vida selalu mematuhi aturaan yang ditetapkan kumpulan domba. Hasrat ingin tahu lebih jauh, domba tua mengajukan pertanyaan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Maksud kamu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sadarkah Kalian, hidup kita selalu diperas. Sudah memberikan bulu, masih akan dimintakan susu lagi? Apakah ada kontribusi para gembala itu bagi kita, kaum domba?” Sambil menatap kesekeliling, sosok domba muda melanjutkan pernyataannya. Tak ada rasa takut. Kepercayaan diri yang selama ini tak pernah terbayang membalut rapi sosok domba muda ini. Kemantapan dan ketegasan kata-kata yang tersaji sangat jelas dari mulut mudanya. Cukup untuk memberikan semburan panas agar bisa bergerak dari tempat kediaman yang dianggap nyaman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua mata melotot dan tersentak kaget. Ada yang seolah-olah mengiyakan namun hanya dalam hati. Takut kalau dianggap pembangkang atau mungkin merasa melawan berarti hidupnya sial terus. Tapi ada juga yang tidak bisa terima dengan pernyataan ini dan sedikit emosional.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apa kamu bilang? Kamu tidak pikir, hidup kita butuh gembala! Tak ada seekor domba pun didunia ini yang hidup dari kemampuannya sendiri.” Salah satu dari domba kepercayaan gembala angkat bicara. Meskipun bulu nya tak bisa panjang-panjang karena terus dicukur oleh gembala. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hidup ku bahagia dan jauh dari derita. Karena bakti ku pada gembala.. dan gembala selalu menceritakan kalau tuan kita adalah sosok yang sangat baik. Aku yakin dia memang baik hati.. aku merasakan kehadirannya selama ini” Layaknya kesaksian, dia membuktikan keyakinannya. Meskipun hal itu sangat subyektif. Hampir semua anggota kumpulan mengangguk-anggukan kepala. Dan yang lain diam saja. Mungkin takut menggelengkan kepala, kalau menganggukan, tidak yakin. Ah.. dilematis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Iya betul itu.. kami sependapat.. tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Gembala kita tahu apa yang terbaik buat kita.. kenapa mesti pusing.” Yang lain menambahkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hai! ... Para domba anggota kumpulan jangan lagi kita dengarkan kata-kata anak muda ini. Kebenaran yang diyakini kita selama ini jangan pernah ditentang kalau tidak mau hidup menderita.” Kata-kata berbau sedikit ancaman dilontarkan dari domba tua. Selanjutnya para domba berjalan lagi menyusuri hamparan rumput kering, demi mempertahankan hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Gerombolan domba kini menikmati hidup mereka makan rumput kering. Piara bulu yang panjang, nanti dicukur oleh gembala dan dijual untuk hidup gembala dan kemulian sang tuan. Tapi tak seekor domba pun tahu. Mereka hanya percaya pada cerita gembala.. Sang domba, Vida terus merenung... sampai kapan domba-domba ini sadar kalau mereka hanya dimanfaatkan. Tapi harus bagaimana? Sesaat tersadar dari perenungannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sudahlah aku mengerti perasaanmu..kamu harus tahu kita hanya domba bukan makluk hebat seperti manusia. Kamu hanya akan ditertawakan dikucilkan dan mungkin disingkirkan dari kelompok ini kalau kamu bersikap kontra.” Seokor domba yang selalu berada paling belakang karena tidak bisa jalan cepat mencoba menghibur sahabatnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sungguhkah kita makhluk tak berdaya, sahabatku?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Vida...Pertanyaanmu tak perlu dijawab. Kita butuh gembala untuk memimpin kita menuju hamparan rumput yang hijau seperti cerita nenek moyang kita. Kamu tidak merindukan hal ini?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku ingin sekali. Tapi apakah jalan yang kita lalui ini benar? Kamu lihat gembala kita! Mereka enak-enak tidur diatas kasur empuk. Lengkap dengan fasilitas mewah lainya. Kadang terlihat berpesta. Biasanya setelah bulu-bulu kita dicukur, satu persatu menghilang dan kembali lagi setelah beberapa bulan.. Sementara mereka tidak pernah pikir kalau kita kerja keras untuk piara bulu-bulu kita demi kehidupan mereka. Bahkan sekarang.. bulu kita harus dicukur lebih banyak lagi.. Bukankah tugas gembala memperhatikan kesejahteraan para domba. Mencari padang rumput yang hijau. Membersihkan kandang, menyediahkan air minum. Tapi coba kita lihat sekarang. Hanya karena prinsip mandiri mereka biarkan kita tertatih-tatih. Jangankan membersihkan kandang menunjukan padang rumput saja tak pernah dilakukan. Mereka sibuk dibalik rumah mewah mereka. Sesekali terlihat keluar dan bicara panjang lebar tanpa bukti.. Penutup dari kata-kata mereka selalu penuh makna menggantung ular.” Vida menumpahkan kegelisahannya, yang selama ini dibungkus sangat rapi direlung hatinya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kadang aku pun berfikir seperti itu... tapi kita hidup dalam komunitas ini. Kebenaran sosial sudah jadi bingkai hidup kita, aku bukan orang dionisian yang mampu hidup dengan ketegaran prinsip sendiri.” Lingkan. Demikian domba ini biasa dipanggil, menengada ke langit membiru namun samar-samar ada kabut abu-abu mebentuk seluet fatamorgana. Seperti kegelisahan hati yang dilematis. Sejenak menarik nafas mendalam. Seperti memaklumi segalanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perlahan-lahan, dengan langkah yang disadari. Vida, sang domba meninggalkan sahabatnya Lingkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Biarlah aku menyendiri sesaat sahabatku.” Vida meninggalkan Lingkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pergilah! Kembalilah jika kamu tak sanggub!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari kejauhan terdengar para domba mendendangkan pujian untuk kebaikan sang tuan. Ada yang begitu serius. Ini kelompok yang memasrahkan hidupnya pada sang tuan. kelompok lain memuji seadanya sambil matanya mencari rerumputan yang bisa dimakan. Ada juga yang bercengkerama dengan teman-temannya dan anggota baru dibawah lindungan pohon tak berdaun, mencerita kisah kasih hidup yang penuh komposisi warna.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;  &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sementara dibalik rumah mewah, beberapa gembala asyik menghitung jumlah uang, hasil penjualan bulu para domba. Tak pernah tahu mereka. Ada kerisauan ditengah-tengah gerombolan domba yang mereka gembalakan. Atau sekedar merasakan derita kumpulan domba.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sialan! Kali ini hasil penjualan bulu domba menurun... Kalau begini terus kita tidak bisa maju.. Bagimana kalau saatnya kita paksa mereka menyediakan susu atau daging segar? Kamu stuju?” Rupanya ini pertanyaan dari mulut gembala yang ditujukan kepada asistennya yang ditempatkan di peternakan ini beberapa bulan lalu. Sejenak sang asisten memikirkan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut saya.. ada tahap yang harus kita lewati.. dua bulan lagi kita mengadakan upacara selamatan dan syukuran atas bakti para domba. Nah, pada perayaan itu domba-domba yang dianggap serius kita berikan penghargaan, dan akomodasi yang nyaman. Sebagai motivasi bagi domba lain agar lebih serius lagi untuk membaktikan diri pada peternakan ini.. bagaimana?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Diam sesaat.. mengangguk-angguk,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betul juga ide kamu.. kita akan coba melakukan hal itu. Tapi ini juga tidak mempan kita jalankan rencana selanjutnya... saat ini kita butuh membuat gedung yang besar untuk perayaan akhir tahun mapun pertengahan tahun. Kalau bangunan ini tidak kita selesaikan, bisa-bisa kita dipulangkan.” Rupanya otoritas hidup gembala-gembala ini tergantung pada atasannya lagi. Tuan mungkin? Atau bos lain lagi? Entahlah...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Tak perlu ada pemberitahuan khusus bahwa minggu depan akan ada perayaan syukuran, karena ini sudah jadi tradisi dari tahun ke tahun. Banyak dari domba-domba yang menyiapkan diri untuk menyambut perayaan ini. Namun tidak sedikit juga yang cuek dan lebih memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyambung hidup di jaman yang semakin sulit ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Apapun yang terjadi saat-saat seperti ini mereka harus kerja ekstra keras menyongsong perayaan ini. Kawanan domba harus mengumpulkan rumput yang banyak memelihara bulu. untuk bersama-sama merayakan upacara ini. Sudah ada pemberitahuan kali ini mereka harus mengumpulkan sepuluh ikat rumput. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	Dikalah istirahat untuk mengagungkan sang tuan, sebua seruan dari domba tua dikumandangkan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saudara-saudaraku kawanan domba yang berdiam di peternakan ini. Sebentar lagi kita akan merayakan upacara syukuran atas karya kita dan bentuk terimakasih kita kepada gembala dan tuan kita.” Suara lantang. Semua domba yang hadir berbinar-binar. Ada yang berekspresi datar-datar saja. Intinya dari seruan itu adalah mengumpulkan dan berkorban. Kemudian domba tua melanjutkan,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kali ini ada ketegasan dari gembala kita. Siapa yang tidak mengumpulkan rumput terbaik sepuluh ikat dan memberikan bulu terbaik maka mereka tidak diperkenankan untuk masuk dalam upacara ini.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seruan itu menimbulkan berbagai suara-suara. Keributan pun tidak terkendali. Meskipun suara sumbang terngiang tetap saja dipantulkan kembali oleh dinding-dinding pagar tembok milik para gembala. Sang domba tua hanya bisa diam dan memaklumi. Katanya seorang pemimpin harus “bijak” mampu mengendalikan keadaan dan sabar. Ini adalah tantangan bagi seorang pemimpin. Begitu kira-kira pikir sang domba tua. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Domba-domba yang kecewa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gembala kita sekarang tidak seperti yang dulu.” Berkata pada yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Betul kawan.. kalau gembala yang dulu, tinggal dipondok, makan seadanya, trus waktu mereka dihabiskan bersama, sering memainkan seruling klasik begitu merdu. Bahkan menyirami rumput-rumput yang kelihatan menguning. Jika ada domba yang sakit segera mereka obati.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ah.. sudahlah itu kan masa lalu. Tidak usah dipikirkan lagi!”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apakah kita hanya bisa menerima kenyataan seperti ini, kawan?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Apalagi yang harus kita lakukan kalau anak-anak kita tidak mau dipisahkan dari peternakan ini.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Situasi yang sulit memang. Hidup secara komunal diikat oleh aturan komunal yang tak bisa dibantah. Kalau berani keluar dari rel itu artinya celaka. Bagimanapun bentuk rel dan kemanapun arah rel itu harus diikuti. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kegelisahan Vida terus meremas hati yang masih muda. Benturan-benturan konservatif dari aturan hidup membuat pipinya memerah dan keningnya berkerut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seekor domba? Ya seekor domba.. Apa yang bisa diperbuat? Kecuali mengembik berbeda kalau jadi harimau atau macan bisa meraung dan menggigit. Andai aku seperti mereka. Ah... hanya bisa seaandainya.. Tibalah saat yang dinanti-nanti, upacara syukuran tahunan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semerbak hiasaan mewarnai aula sederhana menjadi luar biasa. Masih tak kelihatan wajah para gembala. Domba-domba yang telah berikhar untuk setia kepada peternakan ini begitu sibuk. Berlomba-lomba memberikan kemampuan terbaiknya. Sepertinya saat ini mereka ingin menunjukan kemampuan terbaik untuk sang tuan atau mencari nama besar? Sesuatu hal bisa saja mungkin. Kemudian muncullah kawanan domba begitu rapi, bulu-bulu  dihias berbagai macam bunga-bunga liar. Ada tanda-tanda khusus yang terpampang didahi mereka. Ada semacam penentuan status dalam hal kesetian. Warna merah baris terdepan, diikuti warna ungu, warna hijau, dan terakhir warna hitam. Sambil mengumandangkan pujian perlahan-lahan bergerak menuju aula. Pemandangan berbeda ketika muncul beberapa domba  yang tidak mengenakan atribut tertentu. Dengan penampilan seadanya berjalan menuju aula. Ditengah kumpulan tak beraturan ini ada sosok yang terus meresah, Vida tak tahu apa yang dipikirkan. Diam menunduk dan berdiri disampaing pintu aula. Upacara ini siap dimulai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para domba yang merasa begitu setia dan taat pada aturan memandang sinis pada domba-domba yang dianggap liar dan makluk bar-bar. Sementara domba-domba tak peduli dengan ritual dan seabrek aturan yang mengikat menertawakan kepatuhan yang berlebihan. Bagi mereka kehadiran ini hanya sebagai penuaian kehidupan bermasyarakat jika tak ingin dikucilkan. Dan ....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saudara-saudari anggota Peternakan Tanah Terjanji, hari ini kita berkumpul ditempat ini untuk merayakan kurban satu tahun kesetian kita pada sang tuan dan atas berkat yang kita terima selama ini. Syukur kita haturkan dan sebagai karya nyata kita hari ini kita berikan kurban, hasil terbaik dari usaha kita untuk sang tuan.” Suara domba tua begitu lantang menggemah keseluruh sudut-sudut ruangan dan masuk menembus gendang telinga yang siap menada masuknya suara. Kemudian sebua pernyataan pun muncul,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk itu saudara-saudari yang tidak bisa menuaikan kewajiban diharapkan agar tau diri dan tidak masuk dalam aula ini”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sial..ternyata mereka benar-benar menerapkan aturan konyol ini. Demi sebua usaha mencari perhatian sang tuan, kasarnya cari muka tapi dikemas dengan kata-kata manis “kesetiaan” gemuru hati Vida tak terbendung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kamu lihat. Kamu sudah tahu keanehan ini tapi apa yang bisa kamu perbuat anak muda?” Rupanya dari tadi ada sosok yang memperhatikan Vida. Dan..&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kamu dengar pernyataan domba tua tadi? Kurban untuk sang tuan, pernahkah kamu melihat sang tuan itu. Paling-paling untuk para gembala yang leha-leha didalam rumah mewah sana. Pintarnya mereka, jual nama sang tuan untuk kehidupan mereka dan sang domba itu jadi tameng.” Sesaat Vida melirik ke sumber suara yang terdengar disampingnya, ada rasa kaget... tak diduga sosok itu dicap gila dan tidak dipedulikan. Domba betina yang sering dipanggil, Kiara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setelah ini akan kamu saksikan bagiamana liciknya sang gembala membuat domba tua itu dan para pasukan domba aneh yang mengenakan atribut persis domba gila itu melayang-layang diudara. Dan dengan begitu mereka semakin ikut saja apa kata para gembala. Dan kamu bisa tebak sendiri.. memuakan!” Tajam muncul dari mulut domba betina ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak banyak lagi yang bisa diperbuat..ha...ha... lebih baik dicap orang gila daripada dicap waras padahal setiap saat memperkosa nilai hidup dan cuma jadi kerbau dicocok hidung.” Domba betina ini menjauh dan keluar dari keramian dan menghilang dari padangan Vida.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kegundahan dan kegelisahan terus mencengram nuraninya, apa yang bisa diperbuat dengan sistem komunal yang baku dan cenderung disakralkan ini? Kecuali menerima saja, bersikap cuek tapi kalau sangat prinsipil ya..tinggalkan lingkungan ini. Pandangan mata Vida kemudian mengarah pada sosok yang muncul berpakian megah, bagai pakian kebesaran para kaisar Zaman Romawi Kuno; mereka adalah para gembala. Buku besar dipegang dan disembah-sembah; sepertinya itu sabda dari sang tuan yang diagung-agungkan. Aneh memang gembala yang terkenal dengan pakian compang-camping, sebagai potret kesederhana tapi yang muncul justru para kaisar.. kontradiktif.. Dimanakah kemurnian itu? Telah hilang ditelan oleh mental kapitalis? Kemudian seorang gembala angkat bicara;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Para domba yang terkasih, Tak ada yang bisa dilakukan jika kita tidak mendapat restu dari sang tuan, untuk itu kita harus berjalan diatas sabda yang telah ditetapkan” Nada ketenangan sambil mengangkat buku besar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semua yang hadir didalam aula berbinar-binar dan mengangguk-angguk, seperti mendengar suara yang penuh mistis. Berbagai rentetan ritual dilakukan dan sambutan penutup dari domba tua; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Saudaraku semua yang dilindungi dalam peternakan ini, telah kita lewati sebua momen yang sangat penting dalam kehidupan kita, sebagi kumpulan domba yan setia kita juga harus tahu kewajiban kita. Untuk kali ini telah ditetapkan bagai anak domba yang sudah beberapa bulan lahir diharapkan untuk mengikuti ritual khusus agar hidupnya aman dan tenteram dan harus menyiapkan sejumlah rumput pilihan dan susu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tak ada suara bantahan hanya ekspresi wajah dari kaum yang merasa tidak mampu, atau dianggap pemalas atau mungkin kurang keyakinan terhadap ritual ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; line-height: 150%; color: rgb(0, 0, 0);" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kenapa bisa begini? Sepertinya Peternakan Tanah Terjanji ini sedang menujuh keruntuhan. Vida berjalan meninggalkan kumpulannya dan menghilang ditengah padang rumput yang tak lagi menghijauh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-4363566173468816741?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/4363566173468816741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=4363566173468816741' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/4363566173468816741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/4363566173468816741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2011/02/sang-domba.html' title='SANG DOMBA'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-4781940698271920765</id><published>2008-11-22T06:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-22T06:28:53.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>Tuhan Dimanakah Kau?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSgSnWLwv3I/AAAAAAAAAIY/CSsNdePlkxM/s1600-h/Avalokitesvara.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 198px; height: 198px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSgSnWLwv3I/AAAAAAAAAIY/CSsNdePlkxM/s200/Avalokitesvara.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271483831016275826" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Tuhan dimanakah Kau&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081118;8520000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081122;5310000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt;&lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;b&gt;Tuhan dimanakah Kau?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Siapa lagi yang masih mempertanyakan tentang Tuhan?” Suara Pak Anton terdengar tegas dan lantang. Dosen yang miskin rambut ini sangat religus. Salah satu aktifitasnya adalah mengajar Bahasa Inggris di sebua biara tempat pendidikan para calon pastor. Selain itu aktifitas gereja adalah hal terpenting selain mengajar kami. Hal ini membuat ia sangat taat kepada ajaran kitab suci. Atau mungkin karena ketaatannya terhadap kitab suci yang membuat gaya hidupnya seperti ini? ah..gak pasti. Toh segala sesuatu membawa akibat dan sebab yang baru. Rupanya Vina barus saja di tembak habis-habisan sama si bapak.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Seto pak!!” sambil menunjuk ke sosok yang baru saja muncul di ruangan dosen. Bisa ditebak, Seto kebingungan, gak tahu apa-apa langsung di tunjuk. Urat dahinya mengkerut dan..&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ada apa toh?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Tuh, kamu dipanggil sama Pak Anton.” Vina tersenyum. Dalam hati dia pikir. Selamat menikmati perdebatan sama si bapak religius.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Oh ternyata kamu juga.” Sambil geleng-geleng kepala.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Silahkan duduk!”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tanpa banyak bertanya Seto mengambil tempat duduk di depan si bapak. Wajahnya masih bingung. Dalam hati pasti ada yang gak beres ini. siap-siap aja. Tanpa ada basa-basi. Gaya dosen satu ini gak pernah berputar-putar tapi langsung pada pokok permasalahan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kamu masih mencari Tuhan?” sambil memandang si tersangka di depannya lekat-lekat. Belum dijawab pertanyaan lanjutan muncul juga.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Sudah kau temukan Tuhan ada dimana?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tanpa pikir panjang Seto langsung jawab.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Belum Pak. Saya masih proses mencari.” Sedikit senyum. Pikir Seto ini pertanyan lucu. Tiba-tiba kok nanya beginian. Ah..paling juga si bapak ngelawak.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Jadi kamu masih mencari? Tuhan itu gak perlu di cari. Kalau kamu bertanya secara logika tidak akan ketemu.. Jalankan saja perintah Tuhan maka hidupmu akan tenang. Tapi tentu saja perintah yang mengandung cintakasih.” Si bapak berceramah panjang lebar.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Tapi ini kita bicara konsep pak, menurut saya Tuhan itu gak ada. Karena manusia yang menciptakan itu.” Bantah seto.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Itu pendapat dari mana? Atau kamu jadi bagian dari kelompok atheis? Orang yang gak percaya sama Tuhan itu sama aja dengan manusia yang susah hidupnya. Karena dia ragu. Nah hal pertama itu kita harus percaya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Tapi kita tidak harus percaya membabi buta tanpa harus tahu, pak.” Seto gak mau nyerah begitu aja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kalau dalam konteks iman kepada Tuhan itu wajib “yakin.” Kalau kita gak yakin sama aja kita ragu dengan keberadaan Tuhan, itu berarti gak jauh beda dengan orang-orang yang gak beragama, atau beragama tapi perilakunya gak manusiawi. Atau kamu jadi pegikut aliran kepercayaan baru?” Susah kalau bicara masalah Tuhan sama orang yang benar-benar “religius” apa pun pendapat mu bakal di mentahkan  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Gak, pak. Bukan itu persoalannya. Menurut saya konsep tentang ketuhaan itu justru membuat hidup orang beragama menjadi rancu. Selalu memuja Tuhan biar dapat pahala. Kan sama aja dengan nyogok pak. Baik-baikan sama orangnya biar entar kita minta bantuan apa aja dikasih. Terus kalau bencana alam, itu hukuman dari Tuhan. Katanya Tuhan maha pengampun kok manusia dihukum. Trus satu lagi pak, berperang untuk membela Tuhan. Kok bisa Tuhan maha kuasa kok harus dibela-belain. Itu konyol pak.” Rupanya Seto udah gak tahan lagi kemudian membalas tembakan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Nah kalau kamu melihat sisi itu. Itu manusianya bukan Tuhan. Banyak sekali orang yang merasa tangan kanan Tuhan. Ada nabi-nabi palsu, terus sekarang banyak teroris yang merasa membawa amanat Tuhan dengan membunuh manusia-manusia tidak berdosa. Itu sebenarnya sudah tercatat dalam alkitab. Ini gejala-gejala akhir zaman. Makanya untuk memperpanjang akhir zaman kita harus yakin akan kasih Tuhan dalam hidup kita.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sampai tahap ini Seto bingung. Kenapa jadi panjang lebar begini. Mana aku urusan sama alkitab cs  apalagi tentang ramalan akhir zaman. Sadar gak bakal ada titik temu kali ini dia mau cari teman.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Itu pak, Donatus juga.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Aku yang duduk membelakangi mereka dari tadi sibuk dengan computer, sedikit siap-siap kalau si bapak melemparkan pertanyaan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Oh..jadi kamu juga, Don? Masih mencari Tuhan juga?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Biasa nya manusia belajar dari pengalaman orang lain. Tanpa ragu lagi aku mulai berspekulasi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kalau menurut saya Tuhan ada didalam hati pak gak perlu dicari diluar sana. Itu sama aja dengan memindahkan air laut ke dalam sebua lubang kecil.” Siap menunggu tanggapan. Meskipun aku paham apa maksud Seto. Mengingat si bapak make sudut pandang berbeda, maka aku banting setir ikut jalan si bapak&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Iya benar itu.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Aku terseyum kecil melihat wajah Seto. Dalam hati dia pikir. Dasar pengkianat. Dia juga yang sering ngomong beginian. Bukannya bantuin jelasin. Malah  nyari titik aman. Selanjutnya si bapak melanjutkan ceramah agamanya dan Seto diam mendengarkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Bla..bla…bla…bla..&lt;i&gt;and&lt;/i&gt; bla…bla.. Sekarang kamu paham?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Gak perlu pikir panjang lagi, kan percuma juga kalau bantah. Dari pada pusing-pusing.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Iya pak” Seto menanggapi kemudian meninggalkan ruangan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Cikal bakal keresahan ini adalah munculnya kaum “Meragukan konsep Tuhan.” Aku sendiri bagian dari komunitas ini. Aku yang boleh dibilang sedikit murtad mencoba memahami agama dan ketuhanan menurut pikiranku. Pada dasarnya manusia adalah makluk social jadi dia butuh orang lain. Awalnya aku dan Seto sering diskusi tentang hal ini. Kemudian bertambah dan bertambah. Ternyata banyak anak-anak Sastra yang tertarik dengan diskusi seperti ini. Diam-diam Vina dan mahasiswa seangkatannya, Aku, Seto, dan teman-teman 2004 lain menambah suasana baru sebagai komunitas yang di cap kaum atheist.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pada waktu itu, aku jadi anggota senat mahasiswa, tugas ku adalah menyerap aspirasi dari teman-teman mahasiswa. Dan tanpa ku duga aspirasi tertulis disitu seperti berikut;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Buat Komunitas diskusi tentang Agama”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Bikin UKM Spiritual dan Meditasi&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ayo teman-teman kita bikin kelompok Yoga”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dan ternyata ada yang lebih ekstrim lagi,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Hidup kaum atheist! Mari kita bawah pencerahan bagi orang-orang yang berada dalam penjara iman yang membabi buta”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kemudian ada juga lembaran kertas lainnya yang gak mau kala.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Selamat kan mahasiswa Sastra dari kesesatan!”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Wahai mahasiswa akhir zaman sudah dekat, sekarang banyak sekali pengikut Lucifer berkeliaran.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Teman-teman ku peliharalah imanmu!”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Disamping aspirasi lain tentang akademik dan sarana kuliah. Kelompok aspirasi ini cukup membuat ku diam sesaat. Gila..kayaknya ada perang dingin. Diam-diam kedua kubu bergentayangan. Kaum Theist sama Non-Theist lebih ekstrim atheist. Meskipun kami sendiri punya konsep sendiri &lt;i&gt;Agnostic-humanitarian&lt;/i&gt; adalah pas buat kami. Dan parahnya lagi kami gak peduli tetap saja berjalan seperti apa adanya. Ya mau gabung silahkan, gak silahkan. Setiap manusia punya hak kok. Perang dingin tetap jalan. Tibalah kegerahan dari salah satu pihak, aku diundang dalam pertemuan secara empat mata,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Don..kami dari Perkumpulan Doa, mau mengadakan kegiatan reat-reat, saya harap kamu sama teman-teman bisa ikut.” Wajahnya serius. Sepertinya ada persoalan berat. Pertemuan ini justru bagi dia adalah sebua perjuangan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ya..kalau saya sih sepertinya gak bisa, tapi teman-teman lain mungkin bisa. Kenapa gak ditempelkan aja pengumumannya biar teman-teman tahu kalau ada kegiatan seperti ini?” Aku masih belum maksud dengan arah pembicaraan ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kita sudah pasang pengumuman kok..tapi &lt;i&gt;sorry&lt;/i&gt; ya..”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Maksudnya?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kamu paham lah..kalau selama ini aktifitas berbau keagamaan kurang eksis di Sastra, jadi saya dan teman-teman mengharapkan peran serta kalian semua. Dan kamu cukup vocal di Sastra jadi saya mohon bantuannya untuk menggerakan anak-anak disini. Begitu maksudnya.” Sedikit tersenyum&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kalau itu aku gak bisa jamin. Soalnya teman-teman punya pilihan sendiri.” Sebenarnya sih aku sungguh-sungguh gak tertarik dengan kegiatan semacam ini. Ini dipengaruhi dengan kemuakan yang muncul di otak ku.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Selama ini saya tahu kok siapa kamu? Dan bagaimana pemikiran kamu? Khusunya tentang agama. Sampai-sampai teman-teman banyak yang ikut kamu. Makanya kamu yang harus saya ajak bicara.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Waduh..kayaknya arah pembicaraan menuju pada kami kelompok kamu atheist. Dan sepertinya dalam pikiran mereka aku lah sumber persoalan ini. Cara berpolitik. Menemukan kepalanya terus pegang kalau kepalanya bisa digiring berarti bawah-bawahnya ikut juga. Tapi sayang aku punya prinsip.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Maaf sebelumnya, aku merasa bahwa segala sesuatunya terjadi begitu saja. Aku sendiri gak punya pikiran untuk mempengaruhi teman-teman. Sebenarnya mereka selama ini merasakan hal yang sama. Kemuakan dengan ritual agama dan konsep ketuhanan yang rancu cuma mereka gak berani bicara. Nah begitu ada orang yang berani bersuara maka mereka semua merasa punya teman.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ya mungkin seperti itu. Makanya saya mengharapkan peran serta kamu dan teman-teman. Gak perlu dijawab sekarang mungkin kesempatan lain. Terus terang saya mengharapkan kamu ikut kalau teman-teman lain belum sempat.. Toh Tuhan pasti tahu jalan yang terbaik.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Aku hanya menganguk. Dalam hati, iya Tuhan lagi.. aku berusaha untuk membuat lawan bicara ku bisa mengerti.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ya..kalian juga harap bisa mengerti bahwa setiap orang punya fase masing-masing. Ini pun dalam hubungan dengan iman. Masing-masing orang punya pengalaman spiritual sendiri. Mungkin tahap seperti kami ini harus dilewati. Jadi gak usah kuatir.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Mudah-mudahan kembali kejalan yang sesungguhnya.” Senyum sedikit.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ternyata dimata kelompok kaum agamis kami adalah orang-orang yang tersesat. Dan mereka mengharapkan kami untuk kembali kejalan yang benar.. Atau justru sebaliknya? Ah pahami sendiri lah!&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sementara mereka punya lentera Tuhan yang selalu menerangi jalan hidup dan menganggap kami gak punya. Padahal kami punya lampu senter yang kami bawa masing-masing untuk bisa menerangi jalan kami.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Semangat untuk terus mempertanyakan Tuhan sebagai esensi dan konsep serta tradisi agama membara dalam diri kami yang sudah dicap oleh teman-teman penganut setia agama tertentu sebagai kaum sesat. Dan tanpa diduga kami mengambil kelas yang sama. Cukup untuk membuat kami tersenyum dan berkata dalam hati&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Sepertinya ini kelas mengasykan”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Matakuliah AGAMA. Gak pernah kelas ini sepi. Bagaimana tidak mahasiswanya seperti kami. Dalam matakuliah ini ada dua kategori mahasiswa. Pertama, Ikut saja yang penting bisa lulus. Dalam kelas diam dan mendengarkan adalah cara terbaik sambil melihat jam trus berpikir kapan pulang ya? Kedua, mahasiswa yang bersemangat sekali gak pernah bolos, gak pernah terlambat, kerena ini adalah momentum untuk membantah sang dosen. Sepanjang jam kuliah gak pernah diam selalu menguasai keadaan. Dan kelompok kedua ini lah yang mendominasi kelas ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Sudah dapat dibayangkan dosen agama kami tercinta yang sehari-harinya mengajar agama di SMA-SMA elit di Kota Semarang sering diam. Sekali dia mengeluarkan pernyataan. Maka seperti bola tanggapan dan sanggahan dari kami membentur kesana kemari. Sampai sang pendidik ini diam sesaat untuk memikir kira-kira bicara apa. Karena setiap pernyataan akan membuka pertanyaan atau pernyataan baru yang berlawanan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Awalnya saya pikir kelas ini pasti seperti sebelumnya. Mahasiswanya hanya diam dan mencatat tapi ternyata saya keliru. Kalian semua kritis sekali. Sepertinya saya harus lebih mempersiapkan diri.” Si bapak yang dikategorikan sebagai dosen tamu ini berkomentar. Dalam hati, belum tahu dia..ini baru permulaan pak.. jadi silabus yang bapak pake hanya buat symbol saja. Karena kami akan selalu membawa topik-topik yang selama ini kami diskusikan diluar untuk mengharapkan tanggapan bapak. Maklum namanya juga mahasiswa. Idealismenya masih dipegang kuat, darah muda nya selalu mengelora. Tapi lain cerita kalau sudah gak mahasiswa lagi. Apalagi nyari uang susah ya..luntur juga idealismennya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Baiklah karena kalian kritis dalam hal ini maka saya berikan tugas untuk membuat makala tentang sekilas ajaran pokok agamanya masing-masing Dan jangan lupa minta tanggapan dari masing-masing tokoh agama.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tiba-tiba vina nyeletuk,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Maksudnya agama yang di KTP, pak?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kok begitu? Memang agama anda ada berapa?” Si Bapak bingung kok bisa muncul pertanyaan seperti ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Justru itu pak..saya sendiri gak punya. Punyanya yang di KTP.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Oh kalau masalahnya begitu. Menurut kamu selama ini kamu menjalankan ajaran agama seperti apa itu yang kamu buat.” Si bapak memberikan tanggapan. Rupanya dia paham sedang menghadapi mahasiswa setengah atheist  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kayaknya gak perlu pake tanggapan tokoh agama pak. Paling juga pendapat mereka sama.” Aku memberikan masukan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Iya pak” yang lain bersorak.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Tidak bisa. Karena pendapat kalian itu harus didukung oleh tokoh masyarakat. Hal itu menunjukan kalau bisa dipertanggungjawabkan.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Akhirnya kami sepakat ikut saja maksud sang bapak. Lagi-lagi teman-teman yang tergolong kaum abangan (agama hanya KTP) kebingungan. Tokoh siapa yang bisa dimintai komentar? Karena pasti kami akan memakni konsep Tuhan dan ajaran agama sesuai dengan pemahaman kami. Satu-satunya cara adalah mengarang sendiri nama dan tanggapan sang tokoh. Dan tibalah hari pengumpulan tugas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Donatus..Kesini sebentar.” Si bapak serius sekali membuka setiap lembar makala yang dipegang. Matanya melotot diatas frame kacamatanya. Karena kacamatanya sedikit diturunkan. Aku pun maju dengan percaya diri. Siap-siap..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Ada apa pak?”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kamu..buat tentang Agama Buddha..Memang agama kamu Buddha toh? bukan Katolik?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Diam sesaat..berfikir kira-kira kata-kata apa yang bisa diucapkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Secara turun temurun Katolik pak Tapi saya tertarik dengan Ajaran Buddha.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kenapa kamu tidak bahas tentang Katolik saja?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Tadinya saya mau bahas tentang Katolik tapi saya pikir bapak juga Katolik banyak teman-teman disini bakal bahasa Katolik jadi saya bahas Ajaran Buddha saja. Toh ini bisa jadi materi yang menarik” Aku sedikit berspekulasi. Menunggu tanggapan dari si bapak.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sambil melihat-lihat makala ku dan mengangguk-nganguk, “Bagus..ternyata kamu tahu banyak tentang ajaran Buddha. Kamu punya buku? Ya..yang dasar-dasar saja tentang Ajaran Buddha.” Menatap ku yang duduk di depannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;"&gt; 	“Oh.gak banyak pak saya juga masih belajar kok. Kalau masalah buku nanti saya bawakan, pak” Senyum sedikit&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Silahkan kembali ke tempat duduk anda!”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Terimakasih pak.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; .Kemudian seperti biasa kelas ini menjadi kelas yang penuh dengan perdebatan. Dan ujian akhir. Kami tergolong kaum Atheist dan setengah atheist ternyata dapat nilai A. kemudian sambil menikmati nilai yang memuaskan ini, Vina mendekati;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Don tahu gak kenapa kok kita dapat A padahal kita selalu bantah dengan perkataan bapak agama?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Gak tahu”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Karena kalau dia &lt;i&gt;ngasih&lt;/i&gt; kita B atau C kita bakalan ngulang dan itu bikin dia tambah pusing. Makanya dia ngasih A biar kita gak ngambil lagi kan dia bisa bebas.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Masuk akal juga sih.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Lagi-lagi Seto terlibat dengan perdebatan tentang Tuhan. Gara-gara di lembar ucapan terimakasih bendel skripsinya bukannya  kata ‘Yesus’ duluan yang ditulis, Justru ‘Buddha Gautama’. Kali ini Bu Rosa yang satu perguruan dengan Pak Anton alias dosen agamais merasa ada yang gak beres. Maklum si ibu gak tahu kalau Seto bagian dari komunitas setengah atheist. Sebenarnya mereka berdialog pake Bahasa Inggris, tapi dari pada diterjemahkan lagi pake Bahasa Indonesia saja.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Seto..kenapa kamu justru menulis nama Yesus dibelakang?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Menurut saya Yesus dan Buddha Gautama adalah guru saya.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Tapi seharusnya kamu tulis Yesus duluan kerena dia itu Tuhan tidak sekedar guru. Posisi itu yang membedakan dia dari yang lain.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Gawat… Seto harus siap-siap lagi. Rupanya si ibu serius omongin masalah ini. Padahal perasaan gak ada hubunganya sama ujian skripsi deh.. tapi ya sudah. Api sudah dinyalakan, layani saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kalau dalam padangan saya bu, Buddha Gautama merupakan sosok yang patut saya ucapkan terimakasih kerena ajarannya telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Kemudian Yesus dengan ajaran cinta kasihnya, sosok yang membuatku lebih peduli dengan orang lain.. keduanya adalah guru tidak lebih dan sama.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Seto, kamu harus tahu Yesus itu Tuhan..”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Sepertinya kita punya sudut pandang yang berbeda bu, saya tidak bisa memaksakan konsep saya ke ibu atau sebaliknya.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ini hanya masukan Seto”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Baik bu, terimakasih atas masukannya.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.1in; margin-bottom: 0.1in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-4781940698271920765?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/4781940698271920765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=4781940698271920765' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/4781940698271920765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/4781940698271920765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/11/tuhan-dimanakah-kau.html' title='Tuhan Dimanakah Kau?'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSgSnWLwv3I/AAAAAAAAAIY/CSsNdePlkxM/s72-c/Avalokitesvara.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-274272820209879181</id><published>2008-11-19T03:51:00.000-08:00</published><updated>2008-11-19T03:56:59.657-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>Asmara..oh..Asmara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP-p5i4V_I/AAAAAAAAAH4/-Mm9o_84daM/s1600-h/asmara.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 130px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP-p5i4V_I/AAAAAAAAAH4/-Mm9o_84daM/s200/asmara.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270335984728823794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Asmara oh&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081110;17150000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081119;1380000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="center"&gt; &lt;b&gt;Asmara oh..Asmara..&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;      	Jatuh cinta? Waduh indahnya, tapi gimana kalau ditolak?, dikiayanati?, gak berani menyampaikan? Atau si dia sudah punya pacar? Pasti lemah, lesuh, gak ada gairah hidup, trus pengin kabur dari dunia ini. Kali ini Yudha dan Agung gak bisa ngelak lagi. Diam-diam Yudha mengagumi si  Mella, gadis bertubuh ramping. dan Agung dengan idolanya gadis bertubuh bongsor asal Fakultas Ekonomi. Gadis-gadis ini bagi mereka adalah cahaya lilin dikala mati lampu, seteguk air dikala air galon di kost-kostan habis, sebagai kipas angin dikala panas kota semarang menyayat kulit. Atau sepotong tempe di saat gak punya uang buat beli lauk.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;      	Si Makluk zaman batu ini sedang kasmaran. Selalu saja loyo kalau gak lihat sang idola hati. Dan begitu seberkas bayangan nongol dibawah tangga, dunia serasa bertabur bintang dengan bunga bermekaran dimana-mana. Sang bidadari telah tiba. Aksi dimulai,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;    	“Mi kok datang telat sih, papi udah nunggu dari tadi.” Wajahnya serius, seolah-olah gadis didepannya adalah istrinya. Yang disapa gak mau kala bikin si giant baby semakin berbunga-bunga.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;    	“Habis tadi macet sih, papi main ninggalin aja.” Sambil mengerutkan keningnya. Pintar juga aktingnya. Hati si Yudha semakin berbinar-binar mirip bintang dari timur yang mengantarkan para tiga raja menemukan tempat kelahiran Yesus.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;    	“Maaf mi, habis tadi ada urusan mendadak.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;    	“Tiada maaf bagi mu!”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;     Dasar..laki-laki kurang kasih sayang. Pacaran gak..Istri bukan. Pake mi..mi an segala. Emang ini karakternya si pemuja wanita berbadan sapu lidi. Adegan papi and mami berlanjut terus. Gak cuman di kampus, via sms berlanjut..hubungan main-mainan ini pun terbaca oleh pihak yang merasa memiliki si gadis.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Tiba-tiba wajahnya berubah jadi laki-laki paling malang sedunia. Gara-gara ada sms yang masuk,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Jangan macam-macam sama pacar ku ya!!Awas kamu.” Bunyi sms ini cukup meresahkan pria berbadan gajah ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“&lt;i&gt;Pie ki&lt;/i&gt;?” Rupanya dia semakin bingung. Tiba-tiba sms masuk lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Pokoknya jangan dekatin dia lagi, kalau sampai kamu berani jangan salahkan saya. Kamu tahukan siapa saya?” Mati..ancaman semakin serius. Bagaimana gak kuatir pemilik nomor ini adalah salah satu penegak hukum di negri Indonesia Raya ini alias polisi. Kalau sudah begini peran teman dibutuhkan. Manusia emang egois ya..saat senang di rayakan sendiri tapi begitu susah butuh orang lain.. Siapa lagi yang bisa diandalkan kecuali Seto. Seorang yang gagal masuk Akpol ini punya kenalan polisi seabrek mulai dari polisi jalanan sampe berpangkat jendral. Jurus pertama telpon ke yang punya posisi lebih tinggi dan berhasil.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;    	Si Polisi ini dimaki habis-habisan. Gak mungkin berkutik secara pangkat dia lebih rendah. Hanya bisa mengatakan “Siap Pak!” Aku berfikir, enak ya punya jabatan dan kekuasaan bisa main perintah aja, trus main nekan. Si Yudha terselamatkan meskipun habis itu kebiasaanya kumat lagi. Selalu mendekati perempuan berbadan sangat ramping yang sudah punya pacar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Dan emang ini musimnya jatuh cinta. Si Agung gak tinggal diam berpartisipasi dalam kisah-kasih ini. Pertemuan dengan gadis Fakultas Ekonomi dalam suatu kegiatan di Vihara bikin dia gak bisa tidur, susah makan, lemah, lesuh, bingung pokoknya mengharubirukan. Dengan berat hati (Antara ragu, bingung, kangen, dan lain-lain saling mengisi bilik hatinya) dia berangkat juga menemui pujaan hatinya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Permisi tante, Angel ada?” Tersipu malu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Oh..ada..Angel ada teman mu.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Iya sebentar.” Kemudian terdengar langkah kaki turun dari lantai dua.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Oh Agung.” Sambil tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Ada apa, Gung?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pertanyaan gak diduga. Pada tahap ini orang yang sedang kasmaran mendalam akan gelagapan mau jawab apa.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Em..tadi habis dari rumah teman terus mampir.” Padahal bukan itu jawabanya. Tujuan utamanya adalah datang kesini. Kamu gak tahu, Angel kalau semalam aku gak bisa tidur gara-gara mempersiapkan mental untuk bisa datang dan melihat wajahmu. Kemudian pertanyaan klasik pun muncul.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kamu gak sibuk?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Gak sih tapi lagi nunggu teman mau ngerjain tugas.” Sambil mengambil tempat duduk disampingnya. Gawat..detak jantung semakin kencang. Antara senang, bercampur gerogi deg..degkan. Angel ambil posisi duduk sangat dekat habis gak ada tempat lain. Dalam hati rasanya ingin terus berlama-lama seperti ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Emangnya kenapa?” Mata mereka saling pandang. Dalam hati aduh..mata itu begitu indah. Gak lagi konsen dengan pertanyaan itu.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kenapa sih kok lihatnya begitu? Ada yang salah?” Angel penasaran ditanya kok diam aja sambil melotot.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Oh..gak-gak kok” Seolah-olah tersadar. Yang salah adalah kenapa aku harus kasmaran dengan kamu. Padahal aku tahu kalau kita gak mungkin bisa bersatu. Rasanya terlalu berat untuk melangkah. Tapi iya &lt;i&gt;love is blind&lt;/i&gt;, hati Agung merintih. Mawar ku kamu gak tahu kalau begini saja aku sudah sangat bahagia. Dasar pria melankolis! Sekarang jadi mati kutu. Coba kalau lagi sendirian pasti ngahayalnya macem-macem. Bisa pergi berduaan &lt;i&gt;dinner&lt;/i&gt; bareng di terangi nyala lilin-lilin dan diringi lagu-lagu cinta. Sebelum makan dia akan memberikan sekuncup bunga sebagai bentuk expresi rasa cinta. Uh..&lt;i&gt;So romantic.&lt;/i&gt; Tapi gak kalau berhadapan langsung begini.. mulut seperti di bungkam ratusan lembar isolasi. kata-kata hilang semua dari pikiran. Entah kemana. Tiba-tiba,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Eh..teman ku udah datang tuh.” Melotot ke parkiran depan rumah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dalam hati Agung hanya bisa mengeluh. Pernyataan Angel itu punya satu makna, cepat-cepat angkat kaki. Padahal kan masih pingin duduk berduaan. Meskipun cuma saling lihat aja. Kenapa mesti sekarang orang ini datang? Menganggu kebahagianku aja.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Ya udah aku pulang dulu ya.” Suaranya merendah, sambil mengenakan jaket. Persiapan mau pulang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Mau pulang sekarang toh? Kan belum ngobrol lagi.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Teman mu kan udah datang mau bikin tugas. Jadi aku pulang aja.” Sebenarnya aku masih mau disini malaikat ku tapi gimana sepertinya pertemuan kita harus berakhir disini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Ya udah hati-hati ya, Gung!” Angel berdiri dan mengantar si &lt;i&gt;secret admirer&lt;/i&gt; nya keluar.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Di rumah, pikiran Agung mulai melalang buana menyusuri masa lalu. Rangkaian waktu telah menghadirkan pertemuan-pertemuan yang disulam apik dalam relung hatinya. Angel..Angel.. Awalnya kita bahkan gak kenal. Gara-gara waktu pertemuan pertama untuk acara Waisak di Borobudur kata-kata mu, “Terserah aku ikut siapa aja.”  Teman-teman lain pada bingung mau berangkatnya sama siapa dan bagaimana lagi-lagi kamu cuma bilang, Terserah dan terserah.. tapi kenapa kok aku begitu terkesan ya dengan kata itu? Sial!! Ini gara-gara Donatus.. dia yang manas-manasin keadaan. Katanya kalau cewek yang selalu bilang terserah itu bakal menjadi cewek yang asik..apalagi kalau dia belum punya cowok…bla..bla...bla.. Aku sepertinya tersihir dengan pendapat manusia sok tahu itu.. Dan kamu hadir seperti kuncup bunga yang gak pernah layu menghias bilik hati ku. Rasa kasmaran ku terpahat semakin indah. Ketika Hari Waisak, kita selalu jalan bareng.. bercengkerama tentang banyak hal. Aku semakin membiarkan rasa ini tumbuh dan tumbuh. Malam hari aku rela tidur di kursi karena tempat tidurku buat mu. Dalam derita tidur dengan kaki yang ditekuk-tekuk toh aku tetap bahagia. Kesakitan sepertinya luluh ketika aku membayangkan dirimu. Semuanya ku lakukan untuk mu, oh..Mawar ku. Tapi apakah kamu merasakan hal yang sama?  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Dasar orang terlalu pintar begini nih. Ngomong donk! Mana dia tahu kalau kamu lagi kasmaran sama dia. Sepertinya kamu hanya bisa menikmati imajinasimua aja, bro. Waktu terus berjalan pokoknya aku harus bisa mengatakan kalau aku suka sama dia. Semangat mengebu-gebu.. kali ini Si Tompel benar-benar mau berjuang untuk mendapatkan cinta Si Angel. Lagi-lagi gak bisa. Gara-gara dia datang tapi di rumah ada teman nya Angel. Cowok lagi.. pikiran sudah macem-macem.. Apa itu cowok pacarnya? Atau yang lagi Pendekatan, kok kayaknya mereka akrab banget. Sepertinya berat kalau maju terus. Disini jika seorang yang lagi kasmaran pasti mucul hasrat &lt;i&gt;possessive&lt;/i&gt; nya. Takut kala saingan Agung memutuskan untuk pergi buru-buru.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kok baru datang langsung pulang?” Wajah Angel sedikit cemberut. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Aku lupa ada janji sama teman.” Mencari alasan. Gawat..gimana mau rebut hatinya si gadis kalau sebelum perang udah angkat bendera putih duluan. Dengan wajah lesu sang pejuang cinta ini pulang dengan bendera putihnya dikibarkan tinggi-tinggi.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kita juga mau pergi kok” Melirik ke teman cowoknya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Oh…ya udah aku pulang dulu.” Wajahnya menunduk seperti kala judi ratusan juta. Dengan penuh penderitaan, Sang pejuang sebelum perang ini berusah melupakan pujaan hatinya. Tidak ada lagi sms atau telpon. Tidak adalah kunjungan ke bangunan bertuliskan “Tokoh Mawar.” Benar..benar.. kamu memang mawar yang berduri. Keindahan mu membuatku takjub tapi duri mu selalu menusuk-nusuk hatiku..hiks..hikss..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kemudian kabarpun terdengar kalau Si Gadis yang bermukim di Toko Mawar ini sudah menikah. Senyum bersemi dibibir Si Tompel, coba kalau aku masih kasmaran sama dia bisa-bisa aku gantung diri atau minum apotas. &lt;i&gt;May you always be happy, My Rose. &lt;/i&gt;Kini sudah ada bidadari lain berbadan bongsor juga sedang bermukim di hatiku, dia gadis yang tinggal kost-kost an di pintu pagarnya bertuliskan “Roma” Apakah nasib ku  kali ini sama juga? Ah..gak tahu..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;          	Hasrat Yudha untuk mendekati perempuan yang berstatus ‘hak milik’ orang kumat lagi. Kali ini gadis yang lebih ramping. Menurut sang pemuja idolanya adalah luar biasa. Miss universe aja kalah. Hari-hari nya kembali bahagia setelah skandal satu teratasi.. “Jadikanlah aku yang kedua” lagu yang dinyanyikan Astrid cocok banget buat dia. Handphone selalu penuh dengan foto si ramping ini. Foto lagi tidur sampai beraksi bak model di simpan di memory HP sampai-sampai memorinya gak cukup. Maklum si ramping tergolong perempuan narsis. Semua berjalan mulus-mulus saja. si Ramping sepertinya menikmati kebersamaan ini. Maklum pacarnya kerja di luar kota jadi ya..buat hiburan gak apa-apa lah dari pada stress. Realistis aja lah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;            Tiba-tiba si manusia kebo ini kaget dan beranjak ke kamar mandi begitu melihat sms terterah di layar Hp nya,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Kangen”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  	Dan sms itu dari Si Ramping seperti kesurupan dia langsung cepat-cepat berangkat ke kampus. Padahal bisa saja sms itu salah ngirim. Tapi bagi orang yang kasmaran pasti gak pikir panjang nikmati saja. Hati nya sumringah begitu melihat sang idola tersenyum malu bersama teman-teman lain. Akhirnya mereka pergi nonton bareng. Kebahagian dan kearaban semakin melekat. Emang kalau sudah begini manusia sering lupa diri. Kalau senang pinginnya keterusan. Padahal gak bisa, hidup kan ada dua sisi senang dan susah. Seperti kata orang bijak ketika kebahagian sedang bercengkrama dengan anda di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur. Tiba lah kesakitan itu. Semua akibat kenarsisan kedua anak manusia ini. Ditambah aku yang lagi belajar memotret. Foto “kemesraan” mereka di cium sang pacar. Sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi. Acara jalan bareng di liputi kelabu karena si ramping pulang di tengah jalan sambil nangis-nangis. Isu mulai berkembang diantara kami. Ini semua gara-gara foto “gendong” yang barusan di lihat sang pacar. Yudha merasa bersalah. Dia sebagai subyek dalam persolan ini. Karena ketelodaran dan gak hati-hati persoalan ini pun muncul. Coba kalau aku nolak di foto kayak gitu.. Pasti gak terjadi. Hatinya meradang. Tapi mau gimana semua sudah terjadi. Biasa penyesalan datang terlambat. Selama jalan bareng, Yudha terlihat banyak diam gak seperti biasanya. Sumber kekonyolan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	 Dan saat yang membuat si giant baby siap mental.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	Tirai wisma di buka ada tamu datang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Yudh, ada yang nyari tuh.” Aku menatap wajahnya. Kasihan juga. Kalau diurut-urut aku secara gak langsung terlibat dalam permasalahan ini. Coba kalau aku hidden foto mereka, gak mungkin masalahnya jadi berabe begini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Gini Yudh, Aku itu gak masalah kalau kalian pergi bareng. Dan mengenai foto itu, aku cuma kuatir kalau nanti orang-orang nilai yang macem-macem.” Pacar Si Ramping buka mulut. Kehadirannya ingin menjelaskan kesalahpahaman.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Terus terang aku gak cemburu sama kamu..kita saling kenal kok, Cuma sikap dari dia (si ramping) yang bikin aku jengkel. Dia gak terbuka malah mutar-mutar makanya aku jengkel”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Iya aku juga sorry banget.. semua karena kesalahan ku juga.” Sambil menunduk si giant baby, menyadari kesalahannya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Gak apa-apa aku cuma minta tolong foto itu dihapus ya. Trus kalau mau pergi-pergi ajak dia juga ya.. jangan trus kalian cuekin dia gara-gara ini.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; 	“Oh..iya..kita gak bakalan nyuekin dia.” Senyum bersemi dibibir. Sedikit lega. Untung sang pacar bukan orang yang sangat possessive atau berpikiran picik. Kalau gak bisa-bisa dia disuruh bikin MOU (memorandum of understanding) alias kesepakatan berdasarkan hukum kalau mereka tidak ada perasaan apa-apa. Sekali melanggar berurusan dengan pengadilan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.02in; margin-bottom: 0.04in; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-274272820209879181?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/274272820209879181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=274272820209879181' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/274272820209879181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/274272820209879181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/11/asmaraohasmara.html' title='Asmara..oh..Asmara'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP-p5i4V_I/AAAAAAAAAH4/-Mm9o_84daM/s72-c/asmara.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-5749215081986519927</id><published>2008-11-14T05:43:00.000-08:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.241-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SR2B-dD1ZDI/AAAAAAAAAGw/PY4cc9ToPVI/s1600-h/sidomukti.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 169px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SR2B-dD1ZDI/AAAAAAAAAGw/PY4cc9ToPVI/s200/sidomukti.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268510049045931058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Carpe Diem&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Agak kurang percaya juga. Pada akhirnya aku jadi mahasiswa. My dream comes true, kira-kira begitu kalau aku sedikit berbunga-bunga. Hari pertama kami, para calon mahasiswa harus berkumpul dan berbaris di tengah lapangan. Gak ada satu pun kenal. Sudah biasa. Sejak SMK dulu aku sudah seperti orang hilang. Kambing berbulu hitam ditengah-tengah domba. Burung gagak terbang bersama burung merpati putih. Air kopi di antara air susu dan air coklat. Kira-kira seperti itu. Bapak Rektor ceramah panjang lebar di bawah tiang bendera. Aku ingat waktu SMP dulu. Paling suka kalau disuruh jadi pembawa bendera meskipun begitu persis di depan bendera kedua kaki ku bergetar semua karena gerogi. Habis itu teman-teman sama guru-guru ku cuma tersenyum. Gak berani mereka ketawa. Ini upacara bendera. Kalau sampe ada yang ketawa bisa-bisa di penjara. Tidak menghargai perjuangan para pahlawan zaman bahula. Teman-teman calon mahasiswa sudah mulai resah. Terdengar bisik-bisik. Dua makluk di depanku berbisik-bisik satu sama lain,&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;“Kok lama banget sih?”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;“Heeng ih..udah pegel nih kaki”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Kaki ku udah kesemutan nih.”&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara seorang mahasiswa di samping kiriku sudah memajukan bibirnya. Padahal gak perlu dia berekspresi kayak gitu, bibirnya udah maju sendiri. Pikirnya, “Sialan omong  gak penting banget! Udah laper gak bar-bar.” Kalau kondisi seperti ini. Aku selalu melihat reaksi orang-orang disekitar ku. Sekarang samping kanan ku. Matanya mulai tertutup..kemudian badan bergerak maju…mundur….berhenti tiba-tiba.  bergoyang lagi-lagi..maju..mundur dan kaget matanya dibuka. Ternyata si kebo ini lagi mau beranjak tidur. Gila badan segede begini. Bayangin aja. Kalau dia oleng kesamping. aku jadi korban tindihan makluk purba kala ini. Bisa-bisa jadi pisang penyet. Sepertinya dia baru saja dipaksa bajak sawah 10 petak. Lihat kesamping kiri…Waduh..burung pelatuk siap melubangi pohon. Itu bibir semakin lancip aja.. Gawat..bisa-bisa aku dipatukin sama dia. Sekilas kami saling memandang dan aku memilih untuk mengalihkan pandangan ketempat lain.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan berakhir juga berdiri di lapangan dengan suasana membosankan. Semua mulai berteriak, mengekspresikan kebahagiannya. Si burung pelatuk terseyum dan Si kebo sadar kembali. Rupanya mereka masing-masing punya teman. Jangan kira ini penderitaan berakhir. Belum! Bagai sapi di bawa ke tempat penjagalan kami digiring masuk kelas. Di pintu masuk ruangan itu tertulis “Adelaide.” Para senior gak ada yang senyum sama sekali. Kemudian mereka semua beraksi, membaca nama kami satu persatu.. Dan tibalah nama ku dibaca.&lt;br /&gt; Dasar manusia gak pernah baca nama orang suci.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Do….na…tus” Dengan terbata-bata sang senior ini membacakan nama ku.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Hadir”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Baris di belakang!”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tiba-tiba aku kaget.&lt;br /&gt;Si kebo yang tadi di lapangan ada juga disamping ku.&lt;br /&gt;Dan satu kelompok lagi sama aku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Kenalan dulu mas, saya Yudha” Sambil tersenyum-senyum&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;“Donatus” Aku masih gak yakin juga, kok dia ada disini?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kami mendengarkan aturan yang dibacakan dari para senior. Tampang mereka benar-benar kaku. Ya tahu sendiri lah.&lt;br /&gt;Dan aku aku melihat ke belakang dan ternyata si burung pelatuk itu ada di sini juga. Maklum waktu itu masih sok jaim. Mana aku mau kenalan duluan, lagian aku masih terbayang kejadian di lapangan tadi.&lt;br /&gt;Kita duduk diatas lantai kayak para nelayan asing yang di tangkap karena memasuki perairan Indonesia. Duduk menunduk sesekali mendongak kalau ditanya.&lt;br /&gt;Senior mondar-mandir kayak angkatan laut Republik Indonesia yang sedang meronda. Kemudian setelah sesi serius sekarang sesi santai tapi menegangkan. Disini gak ada dosen berarti keselamatan kami calon mahasiswa baru terancam. Bakalan spot jantung bertingkat-tingkat. Bagi yang  gak kuat dengan bentakan para algojo ini.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kami dipaksa untuk menghafal lagu dengan syair seperti berikut:&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Langkahku smakin mantap&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Masuk Fakultas sastra&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lihat anak sastra yang keren dan cantik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tapi tak lupa ku harus  giat belajar&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Biar bokap dan nyokap berbangga hati&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Andai saja ku tidak di fakultas sastra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Aku tak akan bertemu teman-teman yang cakep&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan yang kece……&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Plus gaya hasil koreografi amatiran ala sang ketua Senat Mahasiswa Sastra, Linggayani. &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Gara-gara keesokan harinya kami diwajibkan mengenakan karton berwarna biru selebar dada sebagai identitas, sekarang aku baru tahu siapa nama si burung pelatuk itu, Diana dan disebelahnya selalu ada si gentong air di dadanya  ada tulisan Metta.&lt;br /&gt;Dua manusia ini di tambah si kebo jadilah kelompok kami seperti kumpulan manusia barbar. Sehabis sesi kami diwajibkan menyanyikan lagu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Sekarang coba nyanyikan lagu yang diajarkan panitia!!” seorang berwajah kaku mengenakan topi yang hampir menutupi wajahnya. Ada kesan serem.&lt;br /&gt;Dialah si tukang bentak-bentak. Kami ikut saja instruksi itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“ Lebih keras lagi!!! Suaranya semakin tinggi. Suasana berubah jadi tegang. Tidak ada bisik-bisik, semua menunduk. Dan nyanyi lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Kurang keras!!!! Kalian dengar! Suara mahasiswa dari ekonomi saja sampe sini.” Intonasi suaranya meninggi sambil matanya melotot.&lt;br /&gt;Sial pikir ku, pake bandingan ekonomi. Mereka orangnya banyak ratusan lebih. Nah kita Cuma lima puluhan. Tapi namanya anak baru, gak berani komentar apalagi situasi seperti ini. Cari aman aja. Dari pada jadi bulan-bulanan senior.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Sekarang pake gaya!!” Pandangannya gak sedikitpun melirik kami, sepertinya bukan kami yang diperintah. Dasar senior gak tahu diri, seenaknya aja main nyuruh-nyuruh. Perasaan gak penting deh nyanyi beginian. Kira-kira begitu kegundahan yang sedang melahap seluruh isi kepala dan hati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Saya minta 2 orang maju, satu cowok satu cewek sebagai pemandu!!” Si tukang bentak melanjutkan instruksinya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; Sampe disini kami tetap diam saja. Seperti patung. Yang bisa dilakukan adalah lirik kiri-lirik kanan. Berharap apakah ada yang jadi pahlawan sore ini. Mana ada yang mau..tiga kali latihan aja salah..salah terus.&lt;br /&gt;Gawat..sudah 10 menit berlalu tidak ada yang maju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Selama tidak ada yang maju, kalian akan tetap berada di tempat ini. Kalau perlu sampe tengah malam atau besok pagi.!!” Pernyataan yang tegas tidak perlu penjelasan. Kami semakin resah. Tiba-tiba keresahan kami terobati dengan bergeraknya sosok berkepala botak. Langakahnya mantap seperti kepala pasukan.&lt;br /&gt;Dia lah Seto, cita-cita mau jadi polisi tapi gak lulus test terpaksa masuk sastra. Dia naik keatas meja. Dan menuggu pasangannya. Dari kaum cewek gak ada yang maju. Sepertinya mereka belum siap dengan gerakan feminis. Dan tiba-tiba muncul juga penerus R.A Kartini, di dadanya tertulis Silvia. Akhirnya mereka berdua melakukan gerakan sementara kami ikut saja.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Dan gerak kan yang dilakukan tidak semulus yang di bayangkan.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Aduh salah..” Seto mengeluh. Gawat sudah berkali-kali salah terus.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Kalau salah ulangi dari awal sampai benar!!!” Si tukang komando berdiri di samping Seto dan Silvia.&lt;br /&gt; Urat-urat lehernya terlihat bergelombang. Giginya yang sedikit maju. Serem, tapi menggelikan. Terus saja kami melakukan gerakan dan berteriak-teriak. Gak peduli lagi harmonisasi suara maupun keindahan koreografi layak peserta Akademi Fantasi Indosiar.&lt;br /&gt;Pokoknya gerakan benar, teriakan bisa membuat para senior ini mengatakan sudah cukup. Akhirnya berakhir juga.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;br /&gt;“Lumayan untuk sore ini, walaupun saya merasa masih kurang” Senyum sinis terlihat dibalik topi hitamnya.&lt;br /&gt;Sial!! Udah berteriak suara hampir habis. Bergoyang sampai kaki pegel-pegel, loncat-loncat sampai perut kram Cuma di bilangin lumayan. Dasar senior gak tahu diri. Demikian suara menggemuru di otakku.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Waktu sudah pukul 20.00 dan kami masih tetap duduk. Aturan dibacakan beserta apa saja yang harus kami bawa besok. Berbagai tugas diperintahkan seperti; bikin puisi pake bahasa inggris, bawa pita biru dan lain-lain. Saatnya pulang, pikir ku dan teman-teman,tapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Sebelum pulang ucapkan yel-yel beserta gerakan!!!” Si tongos ini rupanya belum puas dengan instruksi tidak logisnya dari tadi. Baiklah, pada kondisi seperti ini seorang calon mahasiswa pasti cari posisi aman. Gak ada yang berani bantah terang-terangan meskipun aku yakin di dalam kepala-kepala ini sudah menghujat sebanyak-banyaknya. Sial, brengsek, manusia tak berperasaan dan mantra-mantra ajaib lainya. Hanya untuk menunjukan ketidakpuasan. Dan tak perlu bertele-tele kami mulai,&lt;/span&gt; &lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;We know no fear&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;We know no regret&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Carpe diem&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Long live Sastra&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kemudian,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Kok saya gak dengar apa-apa ya?” &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Gawat..ini artinya kami harus ngulang sekali lagi. Wajah-wajah di kelas ini sudah menunjukan kejengkelan yang amat..sangat dalam. Kulihat kebelakng si burung pelatuk bibirnya udah semakin maju, siap untuk mematuk dan muka si gentong air sudah memerah. Siap untuk mengglinding. Kalau si kebo ekspresi datar-datar saja. Sepertinya gak ada sedikit pun gambaran kejengkelan. Kayaknya dia tipikal orang yang pasrah. Dengan tenaga dan suara yang tersisa kami melakukan lagi..lagi..dan lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Baiklah cukup untuk hari ini!” Si tukang bentak ini berjalan ke belakang tanpa ada seyum sedikitpun.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Waktunya pulang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Sebelum kita pulang berdoa dulu..dan saya minta salah satu dari kalian mimpin doa.” Pembawa acara beraksi. Matanya melahap isi ruangan. Gak ada yang maju. Males banget..mimpin doa. Tiba-tiba kakak pendamping kelompok ku menaggapi.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;br /&gt;“Saya minta Donatus yang mimpin.” Sambil mendekati aku.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sial!!..kenapa mesti aku, coba? Kan masih banyak anak-anak lain. Hatiku berontak. Bukan masalah aku berdiri di depan dan menyusun kata-kata. Masalahnya adalah; aku bukan orang religius parah nya lagi aku sedang muak dengan agama.. Posisi sulit dan gak ada pilihan lain. Selain maju.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; “Jangan panjang-panjang doa nya!!” Beberapa senior mengingatkan,&lt;br /&gt;sepertinya buat mereka ini hanya tradisi. Kalau begini caranya mendingan gak usah sekalian. Dasar manusia! Sukanya make topeng! Gak tau kalau aku sendiri juga keberatan disuruh menyusun kata-kata buat Tuhan. Bagiku si gak perlu kan Tuhan Maha Tahu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;br /&gt;“Mari berdoa, dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin. Tuhan kami percaya Engkau Maha Tahu, oleh karena itu, Engkau tahu apa yang kami inginkan. Dalam nama Yesus kami haturkan ujud kami. Amin. Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Amin.” Aku terseyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan permintaan jangan panjang-panjang kalau berdoa. Suara bisik-bisik dari teman-teman. Mungkin pikir mereka dasar gak mutu doanya! Ada yang tersenyum bahkan tertawa Ada yang gak peduli yang penting bisa pulang cepat, sudah capek, bosan, dan jenuh. Makanya kalau nyuruh orang itu yang benar buat mimpin doa. Seterusnya aku gak lagi disuruh mimpin doa.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah terimakasih Donatus, sekarang kalian boleh pulang. Jangan lupa besok bawa tugas beserta bekal. Kalau yang hari ini masih salah atribut besok jangan sampe salah lagi.” &lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Kami bubar.&lt;br /&gt;Seperti napi yang baru bebas dari penjara akibat mencuri ayam. Kami Menarik nafas lega, bersiul, bernyanyi, berteriak dan lain-lain. Kebebasan yang dirindukan tiba juga. Lagi-lagi si kebo mendekati aku. Apa lagi kalau dia binggung besok mau bawa apa dan harus gimana mendapatkan barang-barang itu. Singkatnya dia nginap bersama aku. Dan kedekatan kami menjadi sebua perjalanan menyenangkan sekaligus memiluhkan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt; Setalah sesi serius kami duduk berdiskusi untuk mengakrabkan diri. Topiknya adalah sharing, “Kenapa masuk Fakultas Sastra?” Seto angkat bicara. Manusia yang bakal sekamar dan setempat tidur dengan aku.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Saya kebetulan saja, cita-cita mau masuk AKPOL tapi gagal di tes kesehatan, terpaksa masuk sini karena kakak saya juga alumni universtias ini”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Saya juga tadinya pingin masuk bidang olaraga di Yogya, tapi ternyata gak diterima gara-gara gak lulus test juga. Karena ada teman menawarkan jadi terpaksa juga masuk sini.” Si Yudha alias kebo menerangkan dengan lugas. Kemudian.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku sama Metta rencananya mau masuk Pariwisata di Bandung tapi orang tua gak setuju karena kejahuan, jadi mau gimana lagi masuk sini aja. Toh ini universitas elit.” Sambil mengerak-gerakan kepala dan gak lupa bibir. Si Diana alias Deedee bicara. Sepertinya mereka berdua selalu sahati dan serasa dalam segala hal. Meskipun kalau dijejer persis angka sepuluh. Tapi inilah makna perbedaan yang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Saya di suruh orangtua masuk sini. Tadinya gak pingin kuliah, langsung kerja aja. Jadilah saya masuk sini.” Andre alias Aming.&lt;br /&gt;Kenapa dia dipanggil Aming, itu adalah singakatan dari Angel Mingkem. Emang makluk asal Papua ini susah sekali kalau merapatkan kedua bibirnya. Tetap aja dalam kondisi apa pun selalu terbuka mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;“Saya masuk sini karena udah bosan ngangur diluar. Pingin mencari suasana lain. Sukur-sukur bisa memperbaiki masa depan. Milih sini karena disini kampus yang bagus di Kota Semarang. Alasan ambil jurusan ini kerena di jurusan Psikologi gak lolos.” Ini giliran ku menjelaskan.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Sampe disini aku pikir ternyata gak ada yang mantap masuk di fakultas ini. Ini hanya tempat pelarian. Alias fakultas berkumpulnya mahasiswa buangan. Pasti bakal ada yang aneh-aneh. Habis masuk dengan keterpaksaan pasti banyak kendala internal maupun eksternal, individual maupun sosial. Waduh.. kok jadi ceramah.&lt;br /&gt; Nah lihat saja nanti para manusia-manusia ini akan menjadi generasi penerus Fakultas Sastra. Dengan segala kekonyolan, kesuksesan, kebahagiaan, kedongkolan, kesedihan, dan gak lupa kebodohan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-5749215081986519927?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/5749215081986519927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=5749215081986519927' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5749215081986519927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5749215081986519927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/11/carpe-diem-agak-kurang-percaya-juga.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SR2B-dD1ZDI/AAAAAAAAAGw/PY4cc9ToPVI/s72-c/sidomukti.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-1771668164648797812</id><published>2008-11-01T10:02:00.000-07:00</published><updated>2008-11-19T04:00:32.473-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>Kegundahan Pemimpin Prematur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP_tmdCmvI/AAAAAAAAAIA/PBfNG-DsvXU/s1600-h/the+secretary.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 165px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP_tmdCmvI/AAAAAAAAAIA/PBfNG-DsvXU/s200/the+secretary.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270337147835161330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Tidak ada pilihan lain&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081102;40000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081102;60000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Kegundahan Pemimpin Prematur&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;        	Tidak ada pilihan lain. Aku harus nyebur. Baru saja Pak Adhy memanggil kami bertiga. Aku plus dua manusia aneh lainnya Kiki dan Lenny, mahasiswa diploma tiga Bahasa Inggris. Dengan gaya nya yang kalem kami dipersilahkan duduk dikantornya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Silahkan duduk!”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Terimakasih, pak”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Begini. Saya yakin kalian tahu bagaimana kondisi mahasiswa Sastra sekarang. Saya yakin kalian bisa jadi pemimpin mahasiswa Sastra.” Sampai disini aku yakin secara tidak langsung diantara kita bertiga pasti jadi ketua BEMFS dan SMFS. Tapi siapa yang mau? Aku? Sudah cukup pusing dengan kuliah, nilai menurun sangat drastis semester lalu. Sekarang mau dikasih beban beginian.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Sampai saat ini belum ada yang mau mendaftar, padahal sebentar lagi saya harus melaporkan ke universitas siapa ketua BEMFS dan SMFS yang baru.” Senyum khasnya bersemi dibibirnya. Cukup dengan senyumnya ini saja. Kami sudah tahu kemana arah pembicaraannya dan apa yang harus kami lakukan. Trauma akan kejadian kepengurusan tahun lalu masih menari riang di kepala ku. Ah..! jadi ketua BEMFS?, entar pas sidang pertanggungjawaban di hajar habis-habisan persis kayak anggota DPR yang ketahuan korupsi di garuk sama KPK trus di bawa ke ruang sidang sampai aib sekecil apapun di buka semua.Kalau sudah begini mendingan gak usah pake baju dan celana. Benar-benar telanjang. Trus berlari aja di jalan persis kayak orang gila. Habis semuanya sudah terbongkar. Kami saling melirik. Rupanya di masing-masing otak punya pemikiran yang sama. Tapi aku merasa ada yang aneh dari lirikan Kiki sama Lenny.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Baiklah saya kasih waktu buat kalian bertiga untuk mempertimbangkan hal ini. Saya percaya kalian bisa.” Memberikan isyarat supaya kami keluar ruangan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Langsung saja kami bertiga membentuk forum untuk menentukan siapa jadi ketua BEM siapa jadi ketua Senat. Membuat skenario politik. Kiki angkat bicara,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Begini Don, kita gak bisa nentuin orang lain lagi kalau menurut saya kamu yang jadi ketua BEM dan Lenny jadi Senat” Sambil melirik ke Lenny.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Gak bisa. Aku merasa gak mampu. Gimana kalau kalian berdua aja?”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Trus kamu jadi apa?” Lenny gak terima. Rupanya dia menuntut keadilan, maklum era emansipasi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ya..aku jadi pengamat aja.” Tapi sebenarnya dalam hatiku posisi yang sangat sulit. Apa yang akan terjadi kalau gak ada yang mau jadi pemimpin? Mana mungkin aku, apakah aku mampu?  Terlalu berat. Tapi keputusan harus diambil.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Sudahlah Don kita Bantu kamu dari belakang.” Kiki berusaha membujuk.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Iya dimana-mana juga orang pasti bilang begitu kalau posisi seperti ini, kamu maju kita bantu, habis itu kalau udah nyempulung, bodoh amat. Mau jalan kek… gak..kek.. mana aku urus. Toh aku gak punya posisi apa-apa. Kalau baik pasti di puji-puji tapi kalu jelek di maki-maki. Tetap aja pusing sendiri. Saatnya ambil keputusan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Baiklah aku mau jadi Ketua BEMFS asal ada syaratnya?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Mereka berdua melotot sepertinya bahagia banget, tapi kok ada syaratnya segala.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Apa syaratnya?” Serempak&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kiki jadi wakil ku Lenny jadi ketua Senat. Bagiku cuma ini jalan tengah. Kalau kalian gak mau ya sudah. Gak usah ada BEMFS maupun SMFS kecuali kalian sendiri yang maju.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Suasana diam sesaat. Mereka berdua menunduk. Mungkin menimbang. Kok tetap aja sulit. Pake ada syarat segala. Sampe disini aku berfikir. Sangat kontras, kalau diluar sana para politikus berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin sampai cara apapun di tempuh bahkan ada yang sampe gila gara-gara gak kepilih jadi bupati. Tapi kita malah saling lempar posisi. Habis gimana coba. Jadi beginian selalu susah. Gak punya bayaran. cuma dapat ucapan terimakasih plus sertifikat itupun kalau persediaan kertas masih ada.  Kalau program gak jalan dimaki-maki sama teman-teman mahasiswa. Belum lagi adik angkatan yang menganggap kita pilih kasih, tidak peduli dengan angkatan bawah, trus teman-teman satu angkatan yang merasa bahwa kita gak peduli lagi sibuk dengan organisasi. Plus kakak angkatan yang suka ngritik kerena mereka merasa berpengalaman. Jadi adanya cuma sakit hati sepanjang hayat. Habis itu berat badan turun drastis, prosentase mengisap rokok semakin meningkat. Dan welcome to other world alias pass away.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ok kita setuju.” Mereka berdua mendongakan kepala dan menatapku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kalau gitu kita salaman” Meskipun berat. Mau apalagi gak ada pilihan lain. Susah ya.. selalu aja terjebak pada pilihan yang gak enak semua. Coba kalau disuruh milih. Kencan sama Angelina Jolie atau jadi Ketua BEM pasti tanpa berpikir panjang aku milih yang pertama. Berbagai strategy dan trick dijalankan. Tahap pertama adalah; meyakinkan diri ku sendiri bahwa aku mampu. Ini yang sulit. Selalu aja sang aku bilang kamu tuh gak bisa. Urus diri aja gak bisa mau urus orang lain. Habis itu semalaman gak bisa tidur. Ini cuma lingkup fakultas aja sudah kayak gini apa lagi tingkat negara. Bisa-bisa aku gantung diri segara pake tali rafia diatas lemari. And Show must go on! Kira-kira demikian. Bukan saatnya lagi bingung, menyesal, dan meratap. Kepala harus ditegakan ikat pinggang harus di kencangkan, tatapan mata harus tegas tapi berperikemanusiaan. Langkah kaki harus mantap dan berjalan harus tegak lurus. Jangan lupa banyak makan. Karena pasti tingkat stress meningkat, ini harus dihadapi. Ini simbol seorang pemimpin. Sampe disini sang aku mengerti dan memahami.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Kampanye secara simbolis dilakukan, poster ku dengan foto almamater dengan visi misi berbahasa seadanya dipajang. Dengan kata mutiara, “Nothing is Imposible.” Gak seru emang. Habis gak ada saingannya. Gak serame adik angkatan ku. Berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin mahasiswa di Fakultas ini. Ucapan selamat dari teman-teman dan angkatan atas bertebaran. Tentu saja dibalik ucapan selamat ini, tersembunyi makna, “Selamat hidup dalam penderitaan!” Sindiraan dari teman-teman mahasiswa muncul&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Waduh..kok Donatus toh..payah ih..”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kenapa?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Donatus itu Atheist.. Bisa-bisa mahasiswanya pada murtad semua.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Berhubung aku cuek dan sedikit bangga dengan status tersebut, aku membiarkan saja. Dalam hati, begini ya rasanya jadi pemimpin. Belum apa-apa tantangan udah siap menerkam. Baru aja mau jalan batu kerikil udah membentang siap menusuk-nusuk telapak kaki. Entar lagi pasti batu besar di hantam ke arahku.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tanpa ada proses pemilihan, kami bertiga di lantik dalam sidang akhir kelembagaan mahasiswa Sastra. Kali ini mental ku cukup dihantam. Ketua BEMFS lama di kritik habis-habisan sampe-sampe bibirnya bergetar. Habis mau ngomong apa lagi. Semua kesalahannya terbongkar semua termasuk penyalahgunaan dana. Emang ini ajang pembalasan dendam. Justru yang mengemukakan fakta-fakta kebusukan sang pemimpin adalah teman-teman dekatnya sendiri. Emang kalau bicara politik semua penuh intrick. Teman bisa makan teman. Gak kenal sahabat. Benar apa kata So Hok Gie, “politik itu seperti lumpur” Sekilas aku membayangkan tahun depan aku yang berdiri didepan dan akan dihabisi seperti ini. Waduh..mau ditempel dimana muka, udah hancur begini tambah berantakan. Kemudian Dani wakil angkatan 2004,  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Siap..siap bang! Tahun depan kamu.” Sambil terseyum. Cukup untuk memberikan peringatan. Seribu macam pikiran kocar-kacir menghantam otak ku. Aku tidak terlahir sebagai pemimpin. Tapi semua ku anggap sebagai kebetulan. Pelantikan siap dimulai. Layak gubernur terpilih, tangan kanan memegang bendera fakultas tangan kiri memegang bendera universitas aku mengucapkan sumpah. Saat ini mata ku berkaca-kaca. Hatiku dihinggapi suasana haru. Jangan pikir aku merasa bangga, tidak itu terlalu berlebihan. Hal mendasar adalah ,”Mampukah aku menjadi pemimpin yang jujur dan membawa perubahan?” Gila..gila aku yang benci politik tai kucing kayak gini harus nyemplung. Tak ada yang tahu kegundahan hatiku. Kan manusia pintar main sandiwara! Sidang pembantaian dan pelantikan ini berakhir dengan kaburnya sang mantan gubernur karena udah gak tahan lagi dengan peluru-peluru torpedo yang terus menghantam.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Baru aja mau mencari anggota. Isu-isu bermunculan dari angkatan bawah. BEM sama Senat Mahasiswa Sastra tahun ini tidak peduli dengan angkatan bawah. Dengan wajah yang merenggut Kiki mengampiri ku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Don, ada anak-anak angkatan bawah mengeluh kalau kita gak ngajak mereka di pengurusan ini terus mereka juga bilang kalau BEMFS sekarang ini gak jelas dan tidak ada pengenalan ke mereka.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Terus sikap kamu bagaimana?” Aku menangapi, karena aku pikir kalau dia yang dengar berarti dia sudah memikirkan langkahnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kita tetap aja jalan dengan cara kita.. tapi kita coba ajak aja mereka dulu yang kelihatan vocal seperti itu.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Aku tidak mau kerjasama dengan orang yang gak jelas. Menurutku biarkan mereka berpendapat. Tapi nanti kalau ada kegiatan kita libatkan mereka, tapi untuk meletak keposisi yang penting aku tidak setuju.”  Kini aku lebih serius lagi. Saatnya untuk melakukan terbaik. Tidak ada waktu lagi untuk mengasihani diri sendiri dan membiarkan diri dalam ketakutan yang tidak pasti.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Oke kalau gitu.. ini ada nama-nama yang saya usulkan untuk duduk di kepengurusan kita nanti.” Sambil menyerahkan kertas yang tercantum nama-nama anak-anak. Naluri laki-laki ku muncul. Berhubung ini beban yang cukup berat aku butuh partner yang pintar sekaligus cerah secara fisik. Biar otak gak senep.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“He..he..terus terang aku butuh sekretaris yang enak dipandang.” Aku berbisik ke wakil ku yang ada disampingku, jadi menurut kamu gimana?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Terserah kamu. Kalau itu bisa bikin kamu semangat kenapa gak” Mungkin pikirnya dia dasar laki-laki mata kerajang saat beginian masih mikirin perempuan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Baiklah sekarang kita kumpulkan mereka dulu sambil menjelaskan apa yang harus kita lakukan kedepan.” Aku memberikan instruksi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Semua sudah berkumpul. Tanpa mereka tahu aku ajak bicara dan ini moment aku untuk memberikan penilain siapa yang layak untuk duduk di kepengurusan.. Sampe disini butuh ketajaman nurani, kelincahan berfikir, dan kepekaan terhadap orang lain. Dan tibalah saatnya menentukan sekretaris. Dan ini membuatku tidak pernah menyesal. Kehadirannya justru memuluskan langkah ku selanjutnya. Tentu saja dia gak tahu dengan otak licik ku. Nah, disini aku belajar menjadi seorang pemimpin itu harus sedikit licik.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Pilihan ku adalah seorang makhluk hasil produksi dari Sunda, Zwitsy atau Sisy. Tahu sendirilah kalau product asal Jawa Barat itu selalu prefect. Kalau cacat juga paling sedikit aja. Gak rusak-rusak amat. Secara loyalitas dapet, secara intelektual dapet, secara fisik oke.  Saatnya menentukan rencana. Pembagian job description. Wakil bertanggungjawab kedalam. Ketua keluar.. ini kesempatan ku untuk memberikan kesan ke luar fakultas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Biasa kalau awal-awal gini banyak undangan datang. Tentu saja aku mengajak sekretaris ku. Dan sudah dibayangkan ketika rapat perdana dengan BEM Universitas. Bisik-bisik sana-sini. Membahas dan menanyakan sekretarisku. Rapat berjalan dengan lancar.  Meskipun lirik-lirik sembunyi-sembunyi ke arah sekretaris ku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“Khusus untuk BEM sastra besok datang lagi bersama sekretarisnya.he..he..he..” Sang pemimpin rapat cengar-cengir. Ternyata seleranya sama juga. Gak bisa lihat yang bening-bening. Dan Sisy hanya tersenyum bingung bertamba malu-malu kucing. Emang ini reaksi normal perempuan, pasti dalam hatinya juga ada sedikit kebahagian. Habis dari tadi gak ada satu pun ketua BEM masing-masing fakultas hadir bersama sekretarisnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“Enak ya rapat di temani sekretaris. Cantik lagi..he..he.. berapa nomor telponnya.” Salah satu peserta rapat berbisik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“Oh..ini tidak untuk konsumsi umum. Hak milik perorangan..he..he..” Aku menanggapi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Nah langkah pertama sukses. Cukup untuk memberikan kesan. Pasti nama BEM Sastra akan terus dibicarakan. Yang bersangkutan gak tahu dengan akal licikku. Sebelum pulang pertanyaan meluncur dari mulutnya yang mungil;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kak, kok yang lain gak ada sekretarisnya?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Gak apa-apa dari sini kamu bisa belajar untuk mengenal kondisi universitas. Tadi malah mereka suruh kamu datang kalau setiap kali ada rapat.” Tentu saja bukan itu jawaban sebenarnya. Dia hanya terseyum-senyum kecil. Trik ini terus dijalankan. Setiap kali ada undangan selalu aku membawa sekretarisku karena ada catatat khusus dari yang mengundang&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Pada tahap ini aku terus bergerak. Mulai dari penertiban adminstrasi, surat menyurat, proposal dan Laporan Pertanggungjawaban kegiatan. Perencanan program kegiatan. Akal ku benar-benar diperas. Tak ada waktu untuk berleha-leha. prioritas ku ada dua organisasi ini dan kuliah seperti biasa sebagaiaman seorang mahasiswa Dan hal yang membuatku semakin percaya diri adalah tim ku benar-benar orang yang tepat; berdedikasi, disiplin dan pekerja keras. Ditambah lagi dengan kehadiran seorang dosen, Sosok low profile dan selalu well come. Dosen satu ini termasuk dalam kategori kaum proletar. Dia selalu membaur dengan teman-teman mahasiswa, rokok bareng nonton bareng, kadang-kadang minum bareng. Tapi kalau masalah kuliah benar-benar strick gak ada istilah pengampunan. Kehadirannya merupakan cahaya lilin dalam terowongan. Tempat aku bisa menemukan ide-ide atau solusi terhadap permasalahan yang dihadapi tanpa harus bertemu secara formal. Dia lah Pak Retang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Donatus saya sudah pelajari program kerja kamu setahun kedepan. Dan saya stuju. Kamu harus persiapkan secara matang. Dan kalau kamu buntung temui saja saya. Dikampus atau dirumah.” Dengan logatnya khas orang Sumba dan nada-nada berirama bijak terdengar bagai tetesan air membasahi tenggorokan yang kering.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Baik pak, pasti saya akan membutuhkan Pak Retang.” Jawabku dengan mantap.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Seiring berjalannya waktu, undangan dari Rektorat tiba. Agenda: membahas kenaikan biaya SKS. Aku sadar ini merupakan bentuk dari demokrasi. Mungkin pihak rektorat ingin mengetahui bagaimana reaksi mahasiswa. Dari pada tiba-tiba dinaikin malah bisa-bisa demo dimana-mana. Akhirnya lagi-lagi mereka yang pusing. Rapat…Tentu saja sekretaris ku selalu disampingku lengap dengan senjatanya. Pulpen plus buku angenda dan berhubung regenerasi itu penting maka disertakan juga Si ketua bidang kegiatan mahasiswa bidang akademik, Yona. Rapat dimulai dan sambutan dari Wakil Rektor III. Suasana semakin tidak nyaman bagi kedua manusia yang berada di samping kiri dan kanan ku.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kak, kok Sastra gak disebut ya?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Aku hanya bisa tersenyum. Dalam hati aku bisa memahami pikiran mereka. Tapi disinilah jiwa seorang pemimpin diuji. Bagaimana memberikan semangat kepada bawahannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Tenang aja! Nanti kita akan tunjukan kalau Sastra patut di contoh oleh Fakultas lain.” Ini seperti sebua nazar bagaiku. Aku gak tahu kenapa tiba-tiba muncul semangat untuk terus berusaha bagi Fakultas ini. Padahal sebelumnya, bodoh amat. Paling cuma jadi panitia dalam kegiatan. Rapat ini berjalan dengan lancar. Dan hasil akhirnya SKS tidak dinaikan tapi dikenakan biaya UKP bagi mahasiswa yang ambil matakuliah semester atas. Dan ini kebijakan jalan tengah dan kami perwakilan mahasiswa sepakat dengan keputusan ini setelah melalui proses penghitungan rumit ala akuntansi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Lagi-lagi Wakil Rektor III memberikan sambutan penutup dan sudah bisa ditebak nama BEM Fakultas Sastra paling belakang di sebut itu pun agak tersendat-sendat. Lagi-lagi Yona protes,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kak.. kali ini disebut tapi kayaknya hampir lupa gitu. Kayak anak tiri aja ya.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Aku hanya tersenyum. Dalam hati aku berjanji, Suatu saat bapak akan menyebut nama Fakultas Sastra paling depan dengan expresi yang membanggakan. Rapat selesai. Kesan tidak enak selalu tergambar di wajah kedua manusia ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ini tugas kita untuk menunjukan kalau kita itu ada. Jangan merasa rendah diri!” Sambil menepuk-nepuk pundak mereka.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Saatnya Sidang Akhir untuk kepengurusan BEM Universitas. Dan ketua BEM masing-masing fakultas dan seluruh ketua dan anggota senat mahasiswa masing-masing fakultas beserta para wakil angkatan hadir dalam rapat akbar ini. Dan Wakil Rektor III memberikan sambuatan untuk membuka sidang ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Selamat sore.. Pada kesempatan ini saya sebagai Wakil Rektor III memberikan ucapan terimakasih dan penghargaan saya kepada BEM Fakultas Sastra atas dispilinnya selama ini, tertib admistrasi, program kerja berjalan sesuai dengan agenda dan LPJ masuk tepat pada waktunya. Saya harap ini menjadi contoh bagi BEM fakultas lainya. Saya mohon ketua BEM dari Fakultas Sastra untuk berdiri.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Dengan senyum kelegaan aku berdiri dan tepuk tangan riuh menggemah memenuhi ruangan. Semua mata menyerot ke aku yang berdiri dengan penuh kepercayaan diri,  sambil beberapa teman dari fakultas lain berteriak,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Hidup Sastra! Hidup Donatus!”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Sampe disini aku merasa bahwa tidak ada yang sia-sia. Jika kita melakukan sesuatu dengan keyakinan, keikhlasan, dan kesabaran maka yang terbaik akan kembali kepada kita. Sidang ini pun berjalan sebagaiman mestinya. Seperti di fakultas tapi ini skalanya lebih besar. Tentu saja ada acara pembantaian juga. Tapi berhubung pemimpinnya adalah seorang yang benar-benar bijak, cerdas, berdedikasi tinggi sehingga dia tetap senyum dan menerima kritikan dengan lapang dada. Tanpa harus memajukan bibir beberapa senti sebagai ekspresi kejengkelan.&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-1771668164648797812?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/1771668164648797812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=1771668164648797812' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1771668164648797812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1771668164648797812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/11/kegundahan-pemimpin-prematur.html' title='Kegundahan Pemimpin Prematur'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP_tmdCmvI/AAAAAAAAAIA/PBfNG-DsvXU/s72-c/the+secretary.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-8952877866923722662</id><published>2008-10-30T23:44:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.241-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>RM I Ampun deh..</title><content type='html'>&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;RM I&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081030;2410000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081030;3250000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;RM I? Ampun deh..&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kalau udah masuk tahap ini, rasanya seperti makan buah simalakama. Aku sendiri juga gak tahu seperti apa bentuk buah simalakama, kata pepatah makan buah simalakama dalam konteks ini berarti; kalau gak ambil pra proposal alias RM I berarti akan menjadi ajudan tetapnya Bapak Soegijapranata, patung pendek yang berdiri tegak didepan Fakultas kami. Dengan kata lain menjadi mahasiswa abadi. Kalau ngambil, tetap aja gak maju-maju banyak rintangan, seperti stress, frustrasi, depressi, insomnia, anemia, bahkan katanya bisa-bisa amnesia itu berarti menjadi tangan kanannya patung sang pahlawan nasional yang setiap saat berdiri disamping kanannya. Sama aja dapat gelar MA (Mahasiswa Abadi). Dua hal penting menurutku, pertama kemampuan intelektual menurut ku menjadi penyebab dasar diikuti poin kedua motivasi diri yang mulai kena dehidrasi sehingga RM gak selesai-selesai dan skripsi gak bisa-bisa maju sidang. Orang pintar tapi kalau mentalnya gak pernah disuntik vitamin gak bisa berkembang sesuai dengan hukum alam. Kok jadi ceramah, ya?  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Pagi itu, semua wajah tidak menampilkan senyum, gak kayak kuliahnya Pak Bambang, dosen setengah “gila.” Sepanjang kuliah dia mengocok perut mahasiswa dengan gaya dan guyonannya seperti mata air yang gak kering-kering. “Andara Early”, jadi tema pokok dalam diskusi filsafatnya tentang konsep Estetika. Makhlumlah dosen ini mantan biarawan katolik yang gak mampu jadi romo. Katanya masih nafsu sama cewek. Atau kuliahnya Suster Ninfa, dosen penyabar selalu ceria gak pernah cemberut. Rasanya kalau di dekat dia adem banget. Emang kalau orang yang selalu dekat dengan Tuhan auranya lain; berwarna cerah dan indah bagai pelangi diwaktu hujan rintik-rintik. Di kepalanya terbentuk cahaya berwarna-warni bulat melingkar ala dewa-dewi Yunani kuno. Tetapi yang namanya manusia gak luput dari kekurangan, dosen asal Filipina ini sempat khilaf alias marah. Kalau ini ceritanya nanti aja. &lt;i&gt;Back to the topic..&lt;/i&gt; Tetap donk, kedua dosen ini menjadi warna tersendiri bagi kami.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kali ini tidak ada pilihan lagi harus mengambil RM 1 (research method 1 / Pra proposal). Susahnya kalau mau jadi sarjana. Digembeleng habis-habis otaknya, meskipun setelah gelar SS nya disandang belum tentu pekerjaan  bisa dikantongin. Angkatan kami harus berpisah. Terbagi kedalam dua jurusan. Sastra dan Linguistik.  Yang Sastra di bawa koordinasi Bu Ike, ya..Bu Ike..ibu satu ini punya jam terbang cukup tinggi untuk memuaskan hasrat keterpaksaan untuk menjadi mahasiswa jurusan Sastra. Semua sudah berkumpul di selasar fakultas tercinta. Semua muka gak di setrika sama sekali. Nekuk kiri, nekuk kanan. Tatapan mata hampa. Garis kebingungan menggurat semerawut di wajah para mahasiswa ini. Tapi ada juga optimis dengan kepala selalu tegak keatas. Berbagai pikiran tersimpan menumpuk di otak laksana gudang yang menampung barang rongksoan. Kenapa bisa begini? Hari ini adalah saatnya bagi kami untuk mengajukan Novel atau Short story beserta judul sebagai materi dalam pra proposal, padahal sampai saat ini banyak diantara kami belum bisa menemukan yang tepat.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kali ini mahasiswa yang digolong sebagai kelompok wisatawan berkumpul di tangga. Para mahasiswi ini kalau ke kampus berpenampilan seperti mau ke Mall. Di dalam tasnya lengkap berbagai bahan kecantikan. Tumben mereka sudah datang? Biasanya kalau kelas sudah mulai baru mereka datang. Bak peragawati yang melenggak-lenggok di atas catwalk. Kalau sudah begitu kami kaum lelaki mengambil profesi sebagai pengamat mode professional layaknya pertunjukan Fashion Show di F TV. Mengamati dari mereka muncul sampai dapat tempat duduk sambil geleng-geleng kepala dan pernyataan pun dimuntahkan “Luar biasa!”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Meskipun make-up cukup tebal menghiasi wajah mereka, tapi guratan keragu-ragu masih dikenali. Mereka adalah Veby, Sherly, Mona, dan Evi. Perempuan-perempuan ini menjadi warna tersendiri. Gak bisa kebayang kalau di kelas gak ada mereka. Rasanya sepi dan pingin cepat-cepat pulang. Kenapa bisa begitu? Veby sang idola dengan keindahan tubuhnya membuat mata ini gak mau berkedip sedikit pun, trus Sherly..wow.. luar biasa, Mona dan Evi mereka berdua sih gak dandan tapi cukup dengan keaslian saja bikin hati ini dag..dig..dug..  Dari pakaian mereka yang serba ketat atas dan ketat bawa sehingga setiap lekukan terlihat begitu indah. Pengamat cukup untuk mengatakan, “Uedan mantep Ee!” Meraka adalah icon sosok perempuan sesungguhnya, tentu saja secara fisik kalau intelek nanti dulu deh. Kalau di Sastra ada dua kategori mahasiswi secara fisik pertama murni perempuan dan kedua setengah perempuan setengah laki-laki. Nah untuk menemukan yang pertama itu susahnya minta ampun. Ibarat nyebur ke sawah buat menemukan ikan pari dan anjing laut. Kalau ciri kedua terpampang dimana-mana sampe bosan ngeliatnya. Keempat perempuan ini membahas tentang apalagi kalau bukan RM I.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Novel mu apa Veb?” Mona rupanya pengin tahu.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Aku gak pake novel, habis malas mbaca jadi pake cerpen, “Shooting an Eliphant” kan gak begitu banyak!” Sambil cengar cengir dengan gayanya yang begitu feminim.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Lah..kamu?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Aku pake eh..Novel &lt;i&gt;Ratu Calon Arang&lt;/i&gt;..gak tebal.” Sambil membetulkan letak soft lensa berwarna coklat sebagai pengganti kaca mata.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Tapi mumet aku..aku ngerti cerita ne.. tapi bingung nentuin judul le.” Mengerut-ngerut keningya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Aku juga masih bingung bahas &lt;i&gt;opon&lt;/i&gt;e yo? Sambil membuka-buka lembar foto kopian berisi tentang cerita tersebut dengan huruf yang sangat kecil.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Gimana gak mumet. Foto kopiannya aja masih bersih gak ada coret-coretan alias belum pernah dibaca trus sepertinya kertas-kertas ini hasil dari proses kopi generasi ke empat atau lima jadi tulisannya gak jelas. Tampaknya mereka berpusing-pusing ria. Layaknya Shekespier yang sedang kebingungan memikirkan pertunjukan drama malam nanti karena yang hadir adalah sang ratu Inggris yang terkenal sangat egois dan otoriter. Sekali saja pertunjukannya tidak membuat sang Ratu tersenyum maka habis sudah karir nya di dunia hiburan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Emang dikirain gampang apa ambil jurusan Sastra. Sampai disini argument Vebby tentang enak masuk di Sastra terbantahkan. Pernyataan seperti itu gugur. Ibarat pendapat kaum agamis di &lt;i&gt;Dark Age&lt;/i&gt;, kalau matahari mengelilingi bumi dan Copernicus membantah kalau bumi yang berputar-putar mengelilingi matahari. Atau sok tahunya Colombus bahwa daratan yang didatangi setelah berputar-putar samudra nan luas adalah benua Asia. Tanah bagai surga dalam dongeng-dongeng kitab kuno. Ternyata bukan. Daratan itu adalah kumpulan orang-orang yang jauh dari peradaban kemakmuran yang kemudian dikenal dengan Amerika.. Waduh kok jadi ngelantur.. &lt;i&gt;Oke.. Back to the topic.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ada beberapa kriteria dalam menentukan materi pra proposal. Pertama cari cerpen dalam bahasa Inggris sukur-sukur kalau ada terjemahan Indonesianya. Kedua cari novel yang jumlah halamanya dibawa seratus, kalau lebih dari 100 halaman pastikan bahwa ada terjemahan Indonesiaanya. Dan ketiga cari puisi saja biar lebih gampang. Dengan beberapa kriteria ini maka hari ini, kami hadir disini. Menemui sang jendral, Bu Ike untuk mempertanggungjawabkan tugas yang telah di instruksikan.  Dan kelas siap dimulai&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Semua duduk menunggu giliran maju untuk berkonsultasi. Seperti mau periksa ke dokter. Harus antri. Layak nya dokter Bu Ike siap menerima pasien, dengan segala keluh kesanya. Hampir semua pasien yang hadir punya gejala; bingung menyebabkan pusing-pusing ditambah mual-mual.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sambil menarik nafas dalam-dalam,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Silakan maju satu-satu!” Menatap keseluruh ruangan.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kami masih saling menatap kira-kira siapa mau jadi pahlawan hari ini. Biasa..kalau masa sulit begini gak ada yang mau maju duluan. Nunggu kalau ada penunjuk jalan. Maka Seto maju sebagai sang hero penunjuk jalan. Novel tipis berjudul &lt;i&gt;Jonathan Seagul&lt;/i&gt; di keluarkan. Dan mendiskusikannya dengan Bu Ike. Seperti dokter ahli penyakit dalam Bu Ike begitu serius mendengarkan keluhan sang pasien. Akhirnya sang pengemar berat Jessica Simpson ini pun kembali ke tempat duduknya. Sekarang giliran para anggota mahasiswi wisatawan. Namun sebelumnya,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ayo siapa lagi yang belum maju?” Bu Ike sepertinya sudah menunggu pasien selanjutnya. Namun para mahasiwi ini masih berdiskusi membahas siapa yang maju duluan. Mereka gak bisa mengelak. Toh.. sekarang kami semua sudah maju. Akhirnya Mona maju.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Silakan jelaskan pake novel apa trus apa yang mau dikaji?” Membetulkan letak kacamatanya dan duduk menyandar di punggung kursi. (ekspresi kelelahan)&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Em..novelnya ini bu, &lt;i&gt;Ratu Calon Arang&lt;/i&gt;..(diam sebentar) saya mau membahas sisi moralitasnya..tapi sebenarnya saya masih bingung moralitas seperti apa?” Mona mengemukakan keluhannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Si ibu mengamati lekat-lekat sambil menganguk-angguk kepala. Dalam hati mungkin dia berfikir. Gawat… ini bukan novel sembarangan. Novel ini karya dari Pramoedya A.Toer, yang menekankan pemikiran feminism. Akhirnya seperti seorang psikater jurus-jurus ilmu sastra di jelaskan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kalau kamu mau menggunakan pendekatan moralitas kamu harus pilih teorinya siapa? Seperti Emanuel Kant, dan lain-lain…..” Belum selesai si ibu bicara, Mona memotong&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Itu teorinya kayak apa bu? Terus cara analisisnya gimana?” Mengerutkan kening&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ya teori tentang baik buruk dalam suatu masyarakat trus dihubungkan dengan kondisi yang ada di dalam novel. Tapi kamu harus banyak baca buku-buku tentang moral secara umum trus bagaimana hubungan konsep moral itu sendiri dengan sastra.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Emang hubungannya kayak apa?”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Bu Ike sudah mulai gak nyaman dengan pertanyaan ini. Pikirnya kalau kayak gini sama aja dengan aku yang ngerjain&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ya..itu tugas kamu untuk membaca buku-buku itu. Kamu bisa pinjam diperpus. Nah kalau kamu udah baca baru kamu ceritakan pemahaman kamu. Sekarang tugas kamu baca lagi novelnya sama cari buku tentang moral itu.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kok aku jadi pusing ya.!” Sambil memegang kepalanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Pusing?” Bu Ike penasaran.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Iya bu..aku maunya yang gampang-gampang aja. Gak perlu cari buku-buku seperti siapa tadi bu?..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Emanuel Kant”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Iya..ada cara lain gak selain baca buku seperti itu?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kali ini Bu Ike membenarkan duduknya. Susunan urat diwajahnya mulai tidak beraturan dalam hati, kalau gak mau susah gak usah kuliah aja. Memang kalau diibaratkan kami adalah mahasiswa yang lahir secara premature dan dituntut harus cepat besar. Sementara susunan saraf di otak belum sepenuhnya mencapai kematangan. Maka jadilah seperti ini. Rupanya Bu Ike mengerti dengan kesulitan mahasiswa yang sedang duduk dengan tatapan hampa di depannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Baiklah Mona, kamu bisa pake pendekatan Formalistik aja.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Itu kayak apa bu?” Sambil mata nya melongoh. Layaknya bayi yang keheranan. Baru tahu kalau ada makhluk lain seperti bapaknya. Yang dia tahu selama ini cuma ibunya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Formalistik itu..em (menarik nafas dalam-dalam sambil terseyum).” Kali ini si ibu harus menjelaskan kembali teory satu ini yang pernah dipelajari oleh kami selama satu semester. Tapi disini si ibu di uji kesabarannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kamu nanti mengkaji Plot, Theme, Settings, Character, point of view, dan lain-lain.. tapi kamu harus baca tentang teori formalistic.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“O gitu ya.. lebih mudah ya, bu?&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Di tembak dengan pertanyaan seperti ini Bu Ike diam dulu. Kemudian&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ya.. gak ada yang mudah Mon, cuma kalau formalistic kamu gak perlu menganalis psikologi, sosiologi, moral, dan lain-lain. Kamu hanya berkutat dengan novel itu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Aku bingung bu Formalistic itu gimana cara menerapkannya?”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Sampai disini Bu Ike harus menjelaskan kembali.. dan dia sendiri bingung harus mulai dari mana. Karena saking bingungnya. Terpaksa dia mencari perantara untuk memberikan pengertian. Tiba-tiba aku yang dipanggil.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Donatus!”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Waduh gawat kenapa lagi? Pikirku dalam hati. Apa aku ada salah? Seperti wajah orang bloon aku mendekati bu Ike.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Iya bu..ada apa bu?” Sedikit nyengir dan ragu-ragu juga.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Tolong kamu jelasin ke Mona! Formalistic itu apa?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Mampus aku ..Aku sendiri masih gak yakin dengan instruksi ini. Kenapa harus aku? Kan kami makhluk yang sama-sama tersesat dari awal. Tapi mau gimana. Aku harus mengambil tindakan. Memberikan penjelasan kepada teman ku yang sedang kebingungan. Wajah bingung ku mulai ku uraikan menjadi wajah yang penuh dengan kepercayaan diri. Ibarat salesman yang meskipun gak pernah merasakan manfaat product yang dijual harus berusaha meyakinkan pelangannya biar laku. Jurus-jurus dilancarkan. Meskipun sampai saat ini aku yakin kalau Mona tambah bingung dengan penjelasanku. Alasannya satu; orang buta menuntun orang buta. Kaum tersesat mengiring orang yang lagi buntuh jalannya. Adegan rancu ini berakhir.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bagaimana kaum Linguistik? Kita lihat saja. Tiba-tiba kelas bubar dan keroyokan para calon ahli bahasa ini keluar. Mereka masih mendiskusikan topic-topik yang akan ditulis nanti.  Kerena hujan rintik-rintik terpaksa kami semua berkumpul dulu di selasar. Dan mulailah si trouble maker asal pemalang angkat bicara tanpa peduli ada orang dibelakang.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Sebenarnya kita bisa nentuin topiknya tapi tetap aja ditentang mentah-mentah.” Suaranya mengumandang. Kemudian entah kenapa tangannya dilempar kebelakang.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Plok” Aku yang saat itu berdiri di belakangnya gak tau apa-apa terpaksa korban tangan gajahnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Aduh.. matanya itu loh di pake! Gak lihat apa orang sebesar ini?” kalau ngomong sama orang ini gak perlu halus-halus. Percuma.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Oh..ono &lt;i&gt;menungso&lt;/i&gt; toh?” Tampang tanpa salahnya di pajang besar-besar sambil cengengesan  dan berlanjut. Dasar…&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Sebenarnya kita bisa.. Tapi gara-gara Si Ninik tambah si kecil, Heny itu yang bikin kita jadi bingung. &lt;i&gt;Tekok e sing&lt;/i&gt; macam-macam. Di kirain gampang apa nyari topik.” Sambil wajahnya ditekuk-tekuk. Selanjutnya kami tidak perhatikan lagi apa yang dia bicarakan. Mendengar tapi tidak nguping. Ada obyek menarik bagi kami yang cukup bikin &lt;i&gt;sock&lt;/i&gt; si gajah gemuk ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  Serentak kami semua tertawa. Di belakang dia persis telah berdiri dua orang dosen khusus Linguistik yang telah disebut namanya dengan tidak sopan. Tentu saja mereka dengar sangat..sangat jelas sekali. Kemudian&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Apa Yudh? Kamu habis bilang apa?” Bu Ninik berjalan kedepan sambil memegang lengannya Yudha.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Oh ada ibu toh?” Aduh saya minta maaf bu.!” Kedua tangannya dikatupkan dan sedikit menunduk seperti seorang pendoa yang memohon kepada para dewa-dewi untuk mengabulkan permintaanya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana suasana hati makhluk satu ini. Seperti pencopet yang ketahuan dan digebuk habis-habisan. Remuk redam. Belum selesai berurusan dengan Bu Ninik tiba-tiba muncul satu lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Berapa NIM kamu Yudh?” Bu Heny muncul di belakang Bu Ninik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Waduh..mampus ada Bu Heny toh? Aduh maaf-maaf saya gak sopan. Maaf..maaf..maaf sekali bu saya sudah gak sopan” Sambil kedua tangannya yang terkatup diangat naik turun layak orang melakukan Ciam Sie di Klenteng. Untuk mencari angka penentu nasib. Benar-benar sial nasib mu Yudh. Kira-kira begitu kalau Dewa nasib melihat makhluk satu ini. Kalau sudah begini kami semua pasti tertawa sekeras-kerasnya dan mengluarkan mantra ampuh, “Sukurin makan tuh!”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kamu mau lulus tahun berapa Yudh, 2010?” Bu Ninik melanjutkan&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Aduh jangan bu kalau bisa secepatnya.” Posisi tangan tetap. Gerakan tangan tetap. Ekspresi wajah seperti pengemis yang minta dikasihani. Kedua dosen ini pun berlalu masuk lagi ke ruangan sepertinya ada urusan yang lebih penting dari pada sekedar meladeni giant baby ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“&lt;i&gt;Kok ora ono sing ngomong toh&lt;/i&gt;?” Biasa mencari kesalahan orang lain, sambil melihat kami yang masih tertawa dengan kelakuan dia.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Oh &lt;i&gt;ngono..&lt;/i&gt;lihat temannya susah malah ketawa.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Belaskasihan sama kamu itu percuma Yudh,..makanya jangan asal nyeplas-nyeplos.” Igor angkat bicara sambil tertawa.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Seketika Agung mendekati dengan wajah serius dan memberikan ucapan selamat kepada trouble maker ini.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Selamat bro, jadi Ajudan nya Pak Soegijapranata. Sekarang silakan berdiri di sampingnya!” Sambil menunjuk ke patung yang ada didepan kami persis.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Yudha tidak terima sambil ngomel-ngomel dan menendang pantatnya si Apank alias Agung.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-8952877866923722662?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/8952877866923722662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=8952877866923722662' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/8952877866923722662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/8952877866923722662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/rm-i-ampun-deh.html' title='RM I Ampun deh..'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-6424190949326615857</id><published>2008-10-25T05:58:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.241-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>Pasar Morphology</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQReDW0obBI/AAAAAAAAAC8/iTtGDyTNrbo/s1600-h/PIC_0090.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 156px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQReDW0obBI/AAAAAAAAAC8/iTtGDyTNrbo/s200/PIC_0090.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261433676434533394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Pasar Morphology&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081025;3080000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081025;3430000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Pasar Morphology&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ruangan sudah penuh. Tempat yang dikhususkan hanya untuk paling banyak 45 orang terpaksa di isi 60 orang. Fantastik bukan? Sepertinya pertunjukan hari ini menarik untuk disimak. Sementara sang pemain belum tiba, kami sudah menunggu kurang lebih 20 menit. Tapi rupanya para manusia yang hadir tidak risau. Asyik bergumul dengan  obrolannya. Kami tetap duduk berdesak-desakan. Seperti penumpang kereta api kelas ekonomi disaat arus balik Lebaran. Tapi tunggu dulu! Jangan membayangkan ini adalah ruangan theater untuk pertunjukan Sendra Tari Ramayana, pemutaran film &lt;i&gt;The Day After Tomorrow&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Memory of Geisha,&lt;/i&gt; bukan juga drama monolog dengan menghadirkan sastrawan seperti; Taufik Ismail atau Butet Kertaraharja tapi drama monolog versi Bu Ninik atau Mak Nik dengan matakuliah kebanggaannya Morphology. Kami adalah mahasiswa, mulai dari angkatan atas yang gak lulus-lulus kelas ini dan terpaksa ambil lagi..ambil lagi dan ambil lagi, kemudin angkatan kami baik Linguistics maupun Literatur ditambah adik angkatan yang sedang kejar kelulusan, maklum kuliah di sini semakin tahun biaya SKS semakin melambung tinggi, jadi satu-satunya solusi adalah lulus dengan cepat. Maka jumlahnya sangat banyak untuk ukuran fakultas kecil ini. Kenapa kami tetap setia menuggu? Alasannya cuma satu Mak Nik suka terlambat, makhlum dosen satu ini punya banyak sekali urusan mulai dari beli cabe di pasar, buang sampah, antar anak kesekolah, bayar listrik dan PAM, guru private sampe jadi seksi konsumi atau bendahara di setiap kegiatan yang diadakan Fakultas Sastra, sehingga wajar kalau dia telat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Suasana mulai tidak terkendali seperti di pasar tradisional, semua sibuk untuk membahas persoalanya masing-masing, tawar-menawar barang, bertemu teman lama, marah dengan tukang becak, dan penjual sibuk dengan barang daganganya, kuli barang asyik dengan barang bawaanya sambil berteriak; Minggir..minggir! Ya..seperti ini lah suasana kalau kelas raksasa gak ada bedanya sama masuk pasar. Teriakan, tertawa cekikian menggema memenuhi ruangan ini, membuat tempat ini semakin sumpek. Tapi sepertinya kami menikmati. Kalau anak SD masih bisa diatur, sedikit bentakan mereka sudah kapok tapi ini mahasiswa. Tiba-tiba sang lakon datang, dengan tas besarnya layaknya Backpeker, tersenyum sedikit nyengir  dan kalau ekspresinya seperti ini maka; bola matanya tidak kelihatan dengan giginya berbaris seperti iklan pepsodent.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Sorry, I’m late” Sambil meletakan tumpukan buku diatas meja. Kemudian kami semua bersorak,&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Gak apa-apa bu, sudah biasa.” Ya.. kalimat ini punya makna; Sindiran, Pemakluman, dan Ucapan selamat datang. Yang ditanggapi hanya tersenyum. Pertemuan setingkat dengan rapat DPR ini siap dimulai (kan sama aja kalau DPR lagi rapat ada yang molor, telpon-telponan, ngobrol sama tetangganya gak peduli sama agenda yang diraptkan) Dengan jumlah manusia begini banyak perlu alat bantu kalau mau bicara. Speaker dinyalakan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Tes..tes.. Ok.let’s begin our meeting today!” Kalimat yang bermakna menyadarkan mahasiswa untuk kembali ke fungsi mereka; “Mendengarkan apa yang dibicarakan dosen.”  Tentu saja mahasiswa dibelakang masih sibuk sendiri. Seperti domba berada ditengah kawanan, para mahasiswa dibelakang sibuk melahap rumput disekitarnya. Gak urusan sang gembala didepan sedang berteriak-teriak. But show must go on.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Lembaran transpransi dipasang diatas OHP dan disorotkan ke dinding, sang wonder woman mulai aksinya. Menjelasakan setiap permasalahan yang tercantum di transparansi. Mahasiswa yang didepan memperhatikan dengan serius sekali-kali merasa terganggu. Ini adalah kumpulan mahasiswa yang merasa sudah kelelahan mengambil mata kuliah ini alias mahasiswa yang mengulang. Lebih tegasnya lagi sadar untuk tidak mau ngulang lagi tahun depan “Ssssst..brisik” gak tahu ini suara dari siapa.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Dan Mak Nik sudah merasa terganggu dengan kegaduan para mahasiswa. Kemudian beliau diam sebentar. Mungkin dia berpikir. Dasar manusia dari Zaman Barbar tidak bisa menghargai orang. Semaunya sendiri. Untuk menangani masalah ini, Mak Nik harus berdiri dibelakang. Dan untuk beberapa saat cara ini cukup ampuh. Seketika kegaduan berhenti. Dan penjelasan dilanjutkan. Beberapa saat kemudian. Kawasan didepan kelas mulai beraksi. Berawal dari bisik-bisik meningkat menjadi oboralan yang semakin kedengaran. Kondisi masih ditolerir. Namun suara tertawa cukup membuat Si Ibu berjalan ke depan kelas. Kemudian ekpresi ketidakpuasan tergambar diwajahnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Maunya kalian apa toh? Aku berdiri didepan..dibelakang ribut pindah belakang depan ribut..ya udah aku berdiri di tengah saja.” Dengan mic sedikit menempel kebibir Si Ibu berbicara sambil memutar-mutar badanya kekiri..kanan..depan..belakang.. Sampai disini semua berjalan lancar. Kemudian soal latihan mulai diberikan  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Baiklah saya sudah menjelaskan panjang lebar sekarang latihan!” Sambil meletakan mic diatas meja.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Suasana berubah, yang gak punya kertas mulai meminjam teman disebelahnya.  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Minta kertas donk!”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Wes..wes..rak mutu tenan kuliah rak ndue kertas.” Tetap aja kertasnya di kasih juga. Habis itu sudah dapat dibayangkan kumpulan mahasiswa yang datang sebagai pelengkap meletakan kertas diatas kursi dan menunggu jawaban dari semua arah. Seperti harimau  yang tiduran sambil matanya mengintai kesekeliling menunggu mangsa yang bisa di lahap. Yang gak dengar instruksi mulai beraksi&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ngapain toh?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Suruh ngerjaiin latihan.. Itu soalnya!” Ini yang mendengarkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Nah.. Untuk kelas ini ada tiga tipe mahasiswa. Satu, datang dan mendengarkan apa yang dibicarakan dosen, sesekali bertanya, nah ini golongan mahasiswa serius, dan sadar kalau gak lulus berarti ngulang. Dua, datang dan mendengarkan gak peduli ngerti apa gak, itu urusan nanti. Kalau disuruh nyatat, ya..nyatat kalau gak duduk diam sambil menghayal, “Kapan ya kelas ini bisa berakhir?” aku kan mau shopping, mau makan gule and bla..bla…(gak bakalan berakhir kalau omongin hayalan). Tiga, datang, gak mau mendengarkan tapi sibuk ngobrol, kalau ditegur diam sebentar habis itu brisik lagi. Habis itu setelah selesai kuliah nanya, “ada tugas gak?” Kemudian, “Pinjam catatannya donk!”  Bisa ditebak mungkin hanya empat atau lima mahasiswa yang termasuk kategori pertama, sisanya menyebar ke bagian kedua dan ketiga. Dan parahnya kategori ketiga mendominasi kelas ini&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Saatnya adegan penghakiman, nama para terdakwa dipanggil untuk maju dan membuktikan diri kalau dari tadi mengerti dengan penjelasan sang lakon. Mak Nik mengamati wajah-wajah para makhluk yang menjadi penghuni ruangan ini. Tentu saja sasaranya adalah para biak kerok keributan dan dianggap pasti gak bisa menyelesaikan soal yang diberikan. Ini saatnya untuk menyembunyikan wajah. Yang merasa kalau gak ngerti sama sekali, menyembunyikan wajahnya dibelakang punggung teman yang ada didepanya. Sangat beruntung kalau duduknya dibelakang mahasiswa yang kelebihan lemak, pasti gak kelihatan. Dan nama pertama muncul juga. meskipun adegan penyembunyian telah dilakukan. Siapa terdakwa pertama?&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Yudha..maju nomor satu dan dua!” Sambil nyengir Si Ibu melontarkan nama yang cukup untuk diragukan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Bisa dibayangkan bagaimana wajah sang terdakwa ini. Nomor satu aja belum tentu bisa pake dikasih nomor dua lagi. Suasan mulai riuh. Yang disebut adalah Yudha..maskot keributan dalam kelas akibat tertawanya yang gak kira-kira setiap kalau ada kelas yang dianggab santai, contohnya kelasnya Mak Nik ini. Dan apa aksi selanjutnya sebelum maju dan berdiri didepan papan?&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kon.. ngompo ndes?” Wajahnya mulai panik. Meskipun gak diadili hukuman cambuk, penggal, penjara beberapa bulan atau penjara seumur hidup atau hukuman tembak ditempat, tapi tetap saja ini pertarungan harga diri. Tentu saja kalau gak bisa apa-apa satu perasaan mucul dan cukup untuk menghantam mental, apalagi kalau “Malu” karena dianggap goblok.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Padahal aku wes ngumpet.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ya…ketahuan lah.. duduk mu dibelakang Andrie.. “ Si Metta berkomentar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Pernyatan ini cukup masuk akal bagaimana tidak Andrie, gadis berbadan mungil bagai sebatang lidi padahal dia seperti gajah kegemukan. Ya jelas ketahuan. Apalagi sepanjang kelas dia selalu tertawa lantang, cukup untuk dimintai pertanggungjwabannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Nomor satu opo ndes?” Sambil menunduk bertanya ke Aming alias Andrean. Jawabanya sudah jelas, kan mereka satu kawanan atau perguruan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Lah mboh…aku wae rak ngerti.” Sambil nyegir mengejek. Kebingungan menjadi-jadi. Apa yang mau ditulis didepan kalau gak ada bahan? Masa soalnya ditulis lagi. Kalau ujian tertulis sih gampang tinggal nyalin soal habis itu gak urusan. Dosennya mau ngasi nilai berapa kek, itu gak penting. Tapi ini dihadapan tujuh puluh orang yang akan memperhatikanya menulis satu demi satu huruf untuk merangkai kata dan kalimat..Waduh gak kebayang deh.. Tangan nya mulai mengusap-usap wajah. Siapa tahu setelah diusap pandangan mata jadi lebih jelas untuk melihat siapa sang penyelamat. Semua perhatian mengarah ke makhluk Zaman Peradaban Batu ini, yang terlalu cepat berevolusi di abad sekarang. Kertas ditangannya masih kosong, mungkin udah dari tadi kertas itu menertawakan dan menghujat-hujatnya. Avu yang duduk disampingnya mengingatkan. Dia mungkin berfikir kalau Yudha gak maju, bisa-bisa nama dia yang dipanggil untuk menggantikan posisi Yudha.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ayo Yudh maju!” Tetap menyembunyikan wajah dibelakang Metta.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Maju Pie..Gak tahu mau nulis apa.” Masih kebingungan.. Kali ini yang diusap-usap adalah kertas polos ditangannya, layaknya Aladin yang mengosok-gosok lampu ajaibnya berharap sang jin keluar untuk memenuhi permintaanya. Tapi sayang, sang jin  sudah hijarah ke negri Utopia. Jadi gak mungkin bisa datang ke kelas Morphology. Kemudian..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Yudha..kamu masih disitu? Maju sekarang!” Kali ini sudah mantap bagi Bu Ninik kalau mahasiswanya ini gak ngerti dengan penjelasannya dari tadi ongomong sampai mulutnya berbusa-busa.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Masih bu.” Jawab Yudha seadanya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Suasana kelas mulai riuh. Ketakutan mulai merambah para mahasiswa yang tergolong kategori tiga. Bagi kategori satu, suasana tetap damai. Jawaban sudah ada di atas kertas tinggal maju dan menulisnya. Dan tiba-tiba ada yang baik hati memberikan kertas dengan jawaban nomor satu dan dua. Seperti menemukan kembali permata yang hilang si giant baby maju dengan penuh kepercayaan diri untuk menjalankan amanat yang telah dilimpahkan kepadanya. Semua mata memperhatikan, kedepan. Seperti peserta symposium yang mengamati persentasi penemuan suatu teori baru dalam kanca ilmu pengetahuan.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sipidol diambil dan ditulis dengan  sedikit ragu-ragu, karena tulisan dikertas itu kurang jelas. Pada akhirnya penderitaan ini berakhir dan kembali ketempat duduk. Si Ibu mengamati sebentar jawaban yang ada di papan tulis. Dan..&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Salah semua.” Suaranya santai. Seketika juga sorak riuh&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Uh..Sui.. Salah sisan..”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Sopo toh sing ngei jawaban..?” Si Yudha gak terima. Bukannya nyadar diri malah nyari kambing hitam, siapa yang ngasih jawaban.Dasar manusia tidak tahu berterimakasih. Kira-kira orang yang ngasih jawaban berpikir seperti itu. Tentu saja gak ada yang ngaku. Dan penyebutan nama berlanjut, kali ini Mak Nik tidak perlu mencari lebih jauh lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Nomor tiga dan empat, Metta.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Kali ini Yudha cengar-cengir terus. Seolah-olah dia punya teman dalam penderitaan menanggung malu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Saya bu?”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ya kamu..nama kamu Metta kan?” Kali ini Si Ibu tidak ada senyum lagi. Wajahnya menunjukan keseriusan dan bercampur aduk dengan jengkel dan kecewa. Yang disebut namanya ekpresinya gak jauh berbeda dengan terdakwa nomor satu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Dee..jawabane opo?” Sambil matanya melahap kertas yang ada di depan sohibnya itu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“He..aku juga gak tahu. Pank..jawabane opo? Meskipun dia gak tahu untuk membantu sahabat karibnya ini Deedee meminta bantuan Apank alias Agung. Rupanya kali ini struktur otaknya lagi gak konslet sehingga dia mampu mengikuti proses pembedahan jenis tanaman aneh bernama Morphology ini. Dan tindakan humanis pun diambil Apank, membantu semua makhluk.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Nih..tapi gak tahu benar apa gak.? Sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi jawaban dari latihan ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Gak apa-apa..salah benar urusan nanti yang penting maju dulu.” Sambil mengambil kertas ditangan Si Agung tentu saja dengan sembunyi-sembunyi dan memberikannya kepada Metta, si bunder seperti gentong air pun maju. Sampai disini aku mengerti kenapa namanya Avu gak disebut sama si jaksa penuntut umum, soalnya dia terdampar dibalik gentong air ini. Spidol mulai menari-nari diatas papan seperti pelukis, Metta merangkai dengan jelas jawaban yang di instruksikan. Dan berakhir juga. Selanjutnya kembali kehabitat.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Si ibu mengamati lagi..sambil mengeleng-geleng kepala. Kali ini tidak hanya Metta yang merasa malu tapi juga sang pencipta gagasan yang baru saja dipaparkan didepan, siapa lagi kalau Agung. Ternyata..&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Nomor tiga setengah benar..tapi nomor empat salah.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Ya..lumayan dari pada pertama salah semua. Yudha merasa kalah. Tiba-tiba dia diam tidak lagi cengar-cengir disaat Metta maju dan menulis di papan tadi. Sekarang Metta tersenyum lega meskipun bukan punya dia tapi kan sebagian mahasiswa di kelas itu tahu kalau dia yang maju. Si Apank diam saja. Pikirnya ya..gak apa lah namanya juga manusia gak sempurna. Emang sih, tapi kok lebih banyak gak sempurnanya ya?&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Soal selanjutnya tidak dilanjutkan menurut pertimbang si ibu. Soal yang gampang saja gak bisa pada hal soal selanjutnya sedikit susah. Kemudian mic di ambil lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Baiklah saya akan mengulang penjelasan bagian pertama..karena kalau ini saja kalian tidak bisa maka selanjutnya gak bisa.”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  Semua kepala yang dari tadi menunduk dibalik punggung teman-temannya naik lagi laksana kepala kura-kura yang keluar dari cangkangnya karena merasa sudah aman alias tidak ada pemangsa disekitarnya. Tidak ada penyebutan nama lagi. Berarti para mahasiswa ini bebas berekspresi lagi. Wajah kelegaan tergambar, tapi suasana masih tetap terkendali. Mungkin emosi ketakutan masih gentayangan di dalam makhluk-makhluk ini. Dengan Bahasa Inggris berbalut Indonesia gado-gado Bahasa Jawa khas Semarangan, Si Ibu menjabarkan konsep-konsep tentang materi Morphology. Bla..bla…bla…bla…bla..bla…&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Kemudian keributan mulai muncul kembali. Strategi pengamanan tetap seperti pola pertama berjalan kebelakang..kemudian kedepan setelah itu berdiri ditengah berputar ke kiri..ke kanan..ke depan…ke belakang seperti para penganut salah satu ajaran di India kuno yang wajib melakukan ritual untuk penghormatan kepada leluhur dengan berputar-putar menghadap ke empat arah mata angina sambil mengucapkan mantra-mantra suci. Demikian juga Mak Nik, Sambil berbicara dengan nada suara yang naik turun sampe mulutnya berbusa-busa. Kemudian si ibu kelelahan juga.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Kesel aku..lunggo yo.” Sambil membawa mic yang terus menempel dibibirnya. (kayaknya perlu adanya sarung sekali pake untuk membungkus kepala mic..).&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Iya bu..entar ibu farisesan.” Pernyataan ini jelas dari sohibnya si gentong.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Dan duduklah ia setelah melakukan ritual penyembahan, agar supaya suasana kelas menjadi kondusif. Dan jangan pikir praktek transaksi di Pasar Johar ini telah berakhir. Tidak.. setelah sang lakon duduk. Semua mahasiswa dibelakang sepertinya satu orang memiliki lebih dari dua mulut dan peternak lebah yang selalu membawa ternaknya kemana-mana. Tetap saja Si Ibu melaju, gak peduli para mahasiswa itu memperhatikan atau tidak. Waktu untuk menghuni ruangan bagai pasar ini segera berakhir dan Jaksa penuntut umum sekaligus hakim mengambil keputusan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Minggu depan quis.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Waduh.. bu jangan minggu depan..donk.”&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“I don’t care tetap quis. Dan akan saya nilai.” Pernyataan tanpa kompromi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Tapi kan penjelasannya belum selesai” Semua mulai kebingungan. Gak tahu apa-apa tiba-tiba quis padahal dalam pengaturan jadwal minggu depan-depannya lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Makanya dengarin kalau dosen lagi bicara” Nada kekecewaan. Mungkin kalau aku mendiskripsikan, suasana kegundahan Bu Ninik adalah seperti berikut: Hancur hatiku remuk redam kalian semua tak berperasaan, aku tidak dihargai sama sekali.Aku sudah berjuang demi kalian,hiks..hiks..hiks.. Tapi itu gak mungkin. karena Bu Ninik bukan manusia berhati melankolis tapi berhati baja yang digunakan sebagai bahan pembuatan Luku oleh petani untuk membajak sawah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Bu mau tanya tentang…..” Belum selesai Si Mella berbicara tiba-tiba di selah sama si Ibu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Pokoknya I don’t care. Gak ada penjelasan lagi.” Sambil memasukan buku kedalam tasnya. Dan meninggalkan rungan. Tetap saja dia tersenyum.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;Yang punya perasaan akan merasa jengkel dengan temannya, gak enak sama Bu Ninik. Kok quisnya awal banget. Kalau gak punya perasaan ya..berpendapat; bodoh amat. Kalau quis kan tinggal nyonto, tolong digaris bawah ini mahasiswa kategori ketiga. Sebelum meninggalkan kelas, Si Yudha bersabda kepada pujaan hatinya yang lagi kebingungan belum sempat nanya, Bu Ninik keburu kabur.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Gak apa-apa kan masih minggu depan.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Minggu depan mu..Kamu tuh ribut dibelakang sampe Bu Ninik jengkel!.” Sambil wajahnya ditekuk, bibirnya maju beberapa senti.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kok aku toh..”Sambil menggoda idola hatinya. Kemudian mereka berdua berlalu. Selanjutnya berhamburan keluar para pedagang dan pembeli. Pasar Morphology telah bubar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-6424190949326615857?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/6424190949326615857/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=6424190949326615857' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6424190949326615857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6424190949326615857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/pasar-morphology.html' title='Pasar Morphology'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQReDW0obBI/AAAAAAAAAC8/iTtGDyTNrbo/s72-c/PIC_0090.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-590826504122176954</id><published>2008-10-21T08:44:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>Si Ganteng vs Sepatu Buntut</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQReZGEdHmI/AAAAAAAAADE/ej-3Nr2nxyI/s1600-h/pak+Adhy.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQReZGEdHmI/AAAAAAAAADE/ej-3Nr2nxyI/s200/pak+Adhy.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261434049894620770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Si Ganteng vs Sepatu Buntut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kebiasaan bagi kami untuk nongkrong di selasar Fakultas, belakang Patung Bapak Soegijapranata. Tempat ini sangat efektif. Alasananya; bisa melihat kebawa dengan leluasa. Tangga-tangga tersusun rapi kebawa. Sehingga kalau kami naik menuju ke fakultas serasa seperti menaiki podium laksana Barack Obama yang sedang menaiki panggung dan memberikan pidato andalannya sementara dibawa semua simpatisan berteriak histeris, menuggu sang idola berdeklamasi. Kira-kira begitu.. Terus terang kami sangat bangga dengan letak Fakultas Sastra. Di tambah Patung Pak Soegijapranata berdiri di tengah-tengah tangga naik menambah kesan elegan atau anggun.&lt;br /&gt;Sebelum pulang kami menghabiskan waktu disini sekedar merenggangkan saraf-saraf, bercerita tentang hal-hal yang penting sampai hal-hal yang gak penting. Tiba-tiba suasana diam, di antara mahasiswi seperti Deedee, (aku naksir dengan badannya proposional gitu, tapi kalau muka nanti dulu deh..) Metta (kalau yang ini.. Wow.. kata si Seto sanguhne akeh alias banyak bekalnya, silakan terjemahkan sendiri). Dan teman-teman mahasiswi lainya, mata mereka memandang di belakang ku. Aku curiga sepertinya ada obyek yang menarik. Sampai-sampai wajah para mahasiswi ini begitu terpesona. Mata melotot, mulut setengah terbuka kedua tangan menempel dipipi dan berbisik-bisik. Gak jelas apa yang mereka omongin. Terpaksa ku balik belakang kerena penasaran. Dan…&lt;br /&gt;“Hello, Good Afternoon” Senyum khas nangkring di bibirnya.&lt;br /&gt; Seperti di komando gaya militer, mereka semua bersorak,&lt;br /&gt; “Good afternoon, Sir?” tentu saja wajah mereka masih melongoh. Mengikuti sosok yang lewat begitu saja  dan menghilang menuju ke sarangnya. Dan.. Tidak peduli dengan topik sebelumnya. Tanpa persetujuan kami, para kaum hawa ini asyik sendiri dengan reaksi kimia yang timbul akibat dari efek indra penglihatan.&lt;br /&gt;Dengan menepuk-nepuk pipi Si Deedee bereaksi,&lt;br /&gt;“Aduh gantengnya.. Pak Adhy kau memang ganteng” Di tambah ekspresi tambahan seperti mata kelilipan  mengedip-ngedip dan bibir atas dan bawa di kulum-kulum. Dan…ekspresi kaum hawa superaktif ini pun berlanjut., sekarang topik mereka adalah Pak Adhy. Sampe disini aku pikir Pak Adhy punya bakat untuk jadi Hypnotist. Bagaimana tidak, hanya denagn sedikit senyum saja, para mahasiswi ini melemah kesadaranya tanpa harus beraksi layaknya Tommy Rafael atau Deddy Cobuzer.  Selanjutnya, teman-teman mahasiswi ini membentuk forum diskusi sendiri layaknya mahasiswa yang sedang mengatur strategi untuk demo di Gubernuran, minta turunkan harga BBM atau demo dikampus minta turun biaya SKS.&lt;br /&gt;“Ganteng ih..”&lt;br /&gt;“Tapi sayang sudah punya istri.”&lt;br /&gt;“Gak apa-apa aku mau kok jadi simpanannya.”&lt;br /&gt;“Em..kencan sama dia sejam aja, rasanya fantastik..”&lt;br /&gt;“Yang penting ada pemandangan di Sastra dari pada gak. Habis gak ada yang ganteng sih di Sastra..”Sambil merapatkan gigi dan meremas-remas jari para perempuan yang habis kena anak panah Dewa Aphrodite ini asyik dengan obyek barunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai menyimpulkan bahwa; ternyata Perempuan dan laki-laki di Fakultas ini sama saja dalam hal menikmati objek lawan jenis (tentu saja ada pengecualian buat Tedjo) kalau ekspresi anak  laki-laki 2004 melihat Veby, Sherly, dan kawan-kawan.&lt;br /&gt; “Wuedan ayu nee.” Terus mulai spesifik&lt;br /&gt; “Badannya mantap ya..Yahut” Semakin spesifik lagi&lt;br /&gt; “Bokong e.. ndes.. wuhui..siiip..” Semakin ..semakin spesifik lagi (silakan terusin sendiri, entar cerita ini dianggap cerita porno, bisa-bisa di gebukin sama FPI dan kawan-kawan kayak kasus Playboy Magazine).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Adhy..ya.. Dosen dengan penampilan selalu rapi, tinggi standart, badan gagah didukung dengan muka tampan. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya, kalau berpapasan dengan siapapun. Kalau marah expresinya tidak seekspresif Bu Ike atau Bu Ninik. Tatap matanya tidak setajam Bu Wur. Kalau bicara kata-katanya dirangkai dengan halus dengan intonasi nada yang mantap tapi cukup untuk menghantam ke ulu hati. Bapak satu ini layak dijuliki: “Dosen Aristokrat.”  Bapak tampan  ini (versinya mahasiswi) adalah dosen kami para mahasiswa dan mahasiswi jurusan Sastra (Literature). Kami akan selalu bertemu dengan beliau. Sekarang aku baru sadar kenapa para mahasiswi ini selalu hadir kalau mata kuliahnya Pak Adhy, ternyata mereka datang khusus untuk menikmati drama monolog yang dipentaskan. Gak peduli mengerti atau tidak apa yang dibicarakan.&lt;br /&gt; Suatu kewajiban untuk mengambil matakuliah aneh ini; “Critical Theory” pertama kali dengar istilah ini. Wajah merenggut, trus dahi berkerut, trus tangan garuk-garuk kepala. Kira-kira apa ya.. yang akan dipelajari nanti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Em..kita lihat saja..” Pikir ku dalam hati. Nolak gak mungkin ini sudah jadi kewajiban kalau mau ngedapat ada singkatan SS dibelakang nama sendiri ya..harus ambil.&lt;br /&gt;Hari pertama menyantap menu aneh ini. Semua mahasiswa Sastra lengkap hadir alias gak ada yang bolos. Dan di depan sudah berdiri Si bapak tampan, dengan senyum khasnya. Penjelasan dimulai. Dan aku mengakui benar-benar dosen satu ini sangat elegant tidak hanya secara fisik tapi intelek juga. Sampai-sampai saking high classnya Bahasa Inggris yang dipake, aku gak ngerti sama sekali. Aku hanya bisa nggaruk-nggaruk kepala sambil nyegir kesamping. Mastiin apakah di samping ku paham juga. Kebetulan yang duduk di sampingku adalah Andhini.&lt;br /&gt;“Aku juga gak ngerti Don, Pak Adhy ngomong apaan.”&lt;br /&gt;“Tapi kok kelihatan kamu serius amat?” Aku penasaran.&lt;br /&gt;“He..he..habis Pak Adhy tampan sih. Apalagi kalau dilagi ngomong sexy banget.” Matanya melotot kedepan sambil kedua tangannya menahan dagunya posisi siku menumpuk pada kursi. “Dasar.. Perempuan..bukannya mikirin penjelasan malah menikmati Pak Adhy. Aku tidak putus asa mencari pendukung. Pada tahap ini jika seorang berada dalam ketidakmampuan maka dia akan mencari pendukung untuk sama-sama menderita dalam ketidaktahuan. aku balik belakang, disana si Hino sedang berpusing-pusing ria. Kacamatanya sudah mulai digerak-gerakin keatas dan kebawa. Tanpa kuduga di mendekatkan kepalanya dan berbisik;&lt;br /&gt;“Kamu ngerti, Don apa yang dijelasin Pak Adhy?” Wajah si calon frater ini  sangat serius ini sudah jadi karakternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He..he..gak” Kayaknya cukup untuk membuktikan bahwa sejak dari tadi kami yang duduk dibarisan sebelah kanan gak ngerti ide pokok yang keluar dari mulut Pak Adhy dengan perantaraan bahasa yang sangat halus sampai gak bisa dideteksi. Di satu sisi teman-teman lain di barisan sebrang sana sangat berusaha untuk memahami. Aku tidak menyerah. Aksi pertama Keep concentration, kedua pusatkan kesadaran pada indra pendengaran; istilah-istilah seperti; Post modernism, post colonialism, structuralism, deconstruction itu yang bisa ku tangkap. Sisanya? Gone with the wind.&lt;br /&gt;“Gila..gila..itu Bahasa Inggris dari daerah mana ya?” Suara hatiku merintih. Cukup sudah aku gak bisa nangkap. Mendingan aku disuruh menangkap belut disawah dari pada menangkap omongannya Pak Adhy. Sangat licin. Tentu saja hal ini juga disebabkan oleh tingkat kecerdasan atau IQ. Dan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Pak Adhy sadar kalau sorot mata dan gerak-gerik wajah para mahasiswanya hanya kamuflase. Pertanyaan meluncur:&lt;br /&gt;“Do you understand?” Keningnya sedikit berkerut.&lt;br /&gt;Serampak kami bersorak:&lt;br /&gt;“No, sir!” Sambil cengar-cengir (menertawakan ketidakmampuan kami).&lt;br /&gt;Si Tampan diam. Mungkin dia berfikir, ternyata saya omong dari tadi sampai air liur ditelan berkali-kali gak ada yang ngerti. Padahal sudah 30 menit berlalu. Akhirnya beliau memutuskan untuk memakai Bahasa Indonesia. Beban sedikit berkurang meskipun sari pati dari pembahasan ini cukup berat; pemikiran Derida dan kawan-kawan sebagai alat untuk mengkritik karya sastra. Ternyata selanjutnya urat-urat di kening masih belepotan tak karuan sampai kelas sophisticated ini pun berakhir. Sudah dibayangkan eksprsi para mahasiswa calon sastrawan ini. Menarik nafas dalam-dalam dan menghebuskannya. Akhirnya berakhir juga kami bermukim di negri para Dewa yang memusingkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya beberapa dari kami masih penasaran. Pak Adhy terpaksa buka kelas tambahan diluar. Si Hino secapat kilat menghampiri dan terpaksa dosen aristocrat ini nongkrong di tangga, ala Socrates memberikan penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;Kembali ke sepatu buntut, Pagi yang indah tetapi tetap saja kelabu. Harus bangun pagi. Kali ini adalah ujian. Bangku kelas sudah diatur sedemikian rupa dengan jarak yang agak jauh untuk menghindari kecurangan. Tahu sendiri kalau kepepet cara apapun ditempuh. Kali ini perjuangan yang cukup untuk mengasah nalar dan nurani. Pertarungan nasib siap dimulai. Pak Adhy sudah siap dengan tumpukan soal di tangannya. Tanpa komando, kami mengambil tempat duduk. Untuk menentukan posisi duduk ada beberapa syarat: pertama Ada siapa disamping kiri, kanan, depan, dan belakang yang bisa diandalkan. Kedua,  apakah tempat duduk itu cukup aman  untuk membuka catatan, contekan, celipan, atau kitab-kitab lainya, jika syarat pertama gagal. Ketiga bagi yang yakin bahwa dewi fortuna berpihak kepadanya, duduk dimana saja tidak jadi masalah. Dengan perhitungan tepat ala Suhu Feng-Sui atau Paranormal spesialis arsitek  sebelum mendirikan bangunan atau mengatur ruangan agar “Chi” yang masuk adalah positif dan mendatangkan rejeki bagi penghuninya, kami pun duduk. Tibalah pertempuran itu.&lt;br /&gt; Aku sibuk bercengerama dengan otak ku, mengingat kembali apa yang sudah dipelajari. Si Tampan masih berdiri didepan kelas. Sorot matanya memandang satu persatu mahasiswa yang ada diruangan kelas. Aku tidak peduli, kali ini soal yang ada di depan ku jauh lebih menarik bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Pak Adhy menghampiriku dan meletakan sepotong kertas yang sisi sebelah atasnya masih berwarna putih tepat disamping lembar jawaban ku. Aku menatap kertas itu dengan kening sedikit berkerut. Kira-kira apa ya? He..he.. otak ku menduga. Biasa manusia mau nya mental enak, jangan-jangan dibalik ini jawaban? Ah gak mungkin, mana ada dosen yang menulis jawaban buat mahasiswanya. Kalau pun mau pasti dia cuma ngasi bocoran soal. Tapi itu bukan tipe dosen sastra banget. Apalagi si ganteng ini. Atau mungkin ada pesan rahasia, perasaan aku bukan anggota Badan Intelejen Nasional. Ah.. buka aja dari pada penasaran. Sebelumnya ku palingkan muka ku menatap ke wajah sosok yang tepat berdiri disamping ku. Sudah dipastikan, beliau tersenyum, tapi aneh senyumnya kali ini penuh misteri (sedikit sindiran begitu). Tanpa menunggu waktu ku buka dan.. aku kaget dan tersipu malu. Disitu tertulis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“YOU LOOK HANDSOME IF WEAR SHOES!” Kalimat yang cukup jelas dan tidak ada hubungannya dengan soal-soal itu maupun kepentingan darurat lainya. Tentu saja aku mau mencari supporter, mata ku berkelana ke setiap kaki yang ada dibawa kursi, Sial..teman-teman semua pake sepatu. Berarti cuma aku saja yang pake sandal jepit., kok kompak ya mereka?..Mikir sebentar. Hem..Untuk kelas Pak Adhy ada dua aturan yang gak bisa diganggu gugat: Pertama, pakai sepatu meskipun sepatunya jelek. Kedua, pake kemeja atau baju berkerah walaupun cuma punya satu potong. Aku berjanji pada diriku sendiri, setiap pelajarannya dia tidak ada lagi acara lupa pake sepatu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku menulis satu kata pada jadwal mata kuliah Pak Adhy; “Sepatu”  itu adalah satu-satunya cara untuk membuat kesadaranku berfungsi sebagaimana mestinya. Sepatu ku cuma ada satu pasang. Itu pun pemberian teman, warna hitam merek spotec dengan bahan dasar kain yang sebelah kiri sudah  ada sobekan bagian atas sehingga spongs nogol ke ata seperti lidah anjing yang sedang kelelahan. Sejak saat itu ketika nama Pak Adhy terdengar bayangan yang timbul di pikiran ku adalah sepatu buntut ku.. he..he.. padahal teman-teman mahasiswi akan membayangkan sosok seperti: Brad Pitt, Leonardo de Caprio, Anjasmara, dan kawan-kawan. Pokoknya bayangan yang membuat mereka dag..dig..dug.. dan melayang-layang ke negri antabranta, hayalan mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-590826504122176954?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/590826504122176954/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=590826504122176954' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/590826504122176954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/590826504122176954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/si-ganteng-vs-sepatu-buntut.html' title='Si Ganteng vs Sepatu Buntut'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQReZGEdHmI/AAAAAAAAADE/ej-3Nr2nxyI/s72-c/pak+Adhy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-1202855011060737407</id><published>2008-10-15T05:58:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>BeTe ah...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRe4KNc9dI/AAAAAAAAADM/txqa7RRbrcc/s1600-h/PIC_0087.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRe4KNc9dI/AAAAAAAAADM/txqa7RRbrcc/s200/PIC_0087.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261434583582045650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;Bete&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20081015;16320000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081015;17460000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Bete..Ah..&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Akhirnya kami harus berpisah. Setelah empat semester bersama-sama. Kali ini kami gak punya pilihan lain selain berpisah. Jangan berfikir kalau perpisahan ini berurai air mata dengan diringi lagu “Good bye” nya Krisdayanti bagaikan istri seorang tentara yang ditinggal perang, atau seorang gadis yang diputus pacarnya secara sepihak dengan iringan lagu “Please Remember” by LeAnn Rimes. Atau anak tunggal yang menyingkir ke kota metropolitan untuk mengadu nasib. Tidak..kita hanya pisah jurusan kok. Ada dua jurusan di fakultas ini: &lt;i&gt;Sastra&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Linguistik&lt;/i&gt;. Pilihan yang sangat…sangat berat bagi kami. Wajah kebingungan terpampang dimana-mana dari toilet kampus, selasar, tangga belakang Patung Pak Soegijapranata sampai ruangan Bu Heny (Dosen Wali tercinta). Bukan karena kita gak mau pisah, tapi bingung mau ambil jurusan apa? That’s the basic reason. Tinggal milih mau jadi sastrawan stress atau ahli bahasa yang ambruadul. Kalau gak milih kedua-duanya berarti cepat-cepat angkat kaki dari Fakultas ini. Berat..berat… bagaimana tidak prestasi yang kami ukir selama ini tidak sedikit pun mendukung kedua pilihan itu. Prestasi  kami adalah bikin semua dosen memegang kepala dan berkata:  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Ampun-ampun.. Kenapa aku harus ngajar mahasiswa kayak gini.*^^$^$#%#%”  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Ada dua opini yang berkembang pada waktu itu; pertama milih LinguistiK aja karena kalau Sastra itu isi baca buku melulu terus baca novel lagi, padahal aku kan tidak suka baca novel, bahasa Indonesia aja gak suka apalagi pake bahasa orang bule..please deh.. Argument ini muncul dari si trouble maker asal Pemalang. Sosok unik. Makhluk dari peradaban zaman batu yang terlalu cepat berevolusi ke zaman modern sehingga ada beberapa struktur otaknya yang perlu penyesuaian. Emang kalau Lingustik gak baca buku, apa? Trus opini kedua bagi yang anti Linguistik (matematikanya bahasa kira-kira begitu kalau disederhanakan), Linguistik itu terlalu susah kita harus dipaksa belajar grammar sampai botak ditambah simbol-simbol yang gak bisa dihafal, entar kayak Pak Budi ha..ha..ha.. (emang dosen yang canggih otaknya ini kepalanya kempling buanget no hair, dia terkenal sebagai pakar grammar) padahal otak kita hanya bisa ke pake 10 % aja. Kalau Sastra kan enak, modal ngarang indah semua beres. Demikian pendapat ini di luncurkan oleh si cantik, Febby. Idola kaum lelaki angkatan 2004. Gadis aduhai dengan postur gak tinggi tapi berbadan sintal. Kalau dia lewat atau duduk berhadapan gitu. Waduh pikiran pasti berkeliaran ke daerah-daerah terlarang. Siapa pun yang lihat kalau doyan perempuan pasti mengatakan: “Ya Tuhan sungguh luar biasa karya Mu.” Sambil menatap dalam-dalam ke makhluk indah ini. Kemudian dilanjutkan: “Gimana ya proses pembuatannya sehingga menghasilkan produk seperti itu?” kemudian silakan beropini sendiri-sendiri..karena pikiran itu pintar banget kalau diajak mikiran hal-hal beginian, kalau tugas kuliah, “Waduh.. udah mentok gak kuat lagi, pikiran ku terbatas.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Sekarang aku baru sadar ternyata kami tersesat. Sama-sama masuk ke tempat gelap..Tapi mau gimana lagi pilihan udah dibuat. Konsekuensi harus ditanggung. Selamat menjadi sastrawan stress dan ahli bahasa yang ambruadul. Kapan ya bangsa ini bangkit dari keterpurukan? Wuedan mikiran bangsa, ngaca donk!&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Anak-anak sastra selalu menenteng novel-novel dari Romanticism Era sampai Twenty Century dengan para pengarangnya sudah lebih dulu menghadap Ilahi, dan sekarang sedang berleha-leha diatas sana, menatap kami sambil mengatakan; “Makan tuh karyaku!”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Jangan kira itu bakal dibaca, paling cuma buat gaya aja biar dibilang anak Sastra Inggris. Sebua status sosial dikalangan mahasiswa yang sangat prestious. Kalau anak linguistic di tas nya penuh dengan buku-buku aneh.. Pragmatics, Sociolinguistics, Psycholinguistics, Second Language Acu…(aku lupa nulisnya kayak apa), trus buku-buku lain yang berasal dari planet sebrang sana. Dibaca kata pengantarnya aja, asap udah nyembul diubun-ubun trus urat-urat didahi berkerut sambil mata melotot trus pasti kata-kata keluar dari mulut:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  “Ini makanan apaan sih kok belum pernah dengar ya?.”  Buku-buku alien ini pun jangan pikir dibaca, paling buat menuh-menuhin tas. Kalau dikost-kost atau rumah, ada teman yang datang trus kekurangan bantal pasti dipake buat bantalan, besok kalau mau kuliah masukin ke tas lagi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	Selanjutnya kuliah menjadi rutinitas seperti biasa, bukan semakin pintar tapi semakin hancur. Siang yang sangat melelahkan, aku memutuskan untuk menemui dosen wali ku yang imut, terkenal penyabar dan baik hati, makhluk setengah malaikat (makhluk setengah dewi entar ada yang tersinggung, didemo lagi kayak Iwan Fals) Gak tau kenapa aku mau menemui dia padahal gak ada urusan. Berjalan pelan-pelan mendekati pintu kaca. Dibalik pintu ini our cute mom sedang menjalankan tugas-tugas nya sebagai pengajar, dosen wali, dan dekan. Tidak lupa aku mengetuk pintu. Begitu beliau melihat aku,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Don, masuk aja!” Sambil kepalanya sedikit mengalihkan pandangan dari layar ajaib didepannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Enggak ganggu ya..Bu?” He..he biasa basah basi. Kayaknya pertanyaan itu gak penting banget, kan udah di suruh masuk.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Enggak kok, duduk aja.” Bu Heny  berdiri dan menatapku. Wajahnya seperti orang patah semangat, sepertinya sayap-sayap indah dipunggungnya terluka dan kayaknya dia mau mengatakan sesuatu. Dan sebelum dia menginjak gas aku salip duluan,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Ibu gak ngajar ya?” menatap dalam-dalam ke Bu Heny.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Itu dia Don, yang mau aku ceritakan ke kamu.” Expresinya lepas seperti orang yang melepaskan karung beras dipundaknya. Dan meletakan diatas lantai.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Maksudnya, bu?” Aku bingung&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Begini..aku itu  sudah bete banget sama teman-teman kamu. Aku harus gimana coba? Aku sudah mengajar dengan semua kemampuanku. Tapi mereka itu gak ngerti-ngerti. Ini khusus untuk anak-anak Linguistik.” Kali ini aku sedikit tersenyum yang disebut Linguistik, bukan Sastra. Aman..aman. pikirku dalam hati. Walaupun faktanya gak jauh beda, toh dari awal, kita adalah makhluk yang tersesat. Tersesat dalam dua pilihan yang sama-sama berat. Ibarat disuruh nyebur ke kolam lumpur tempat nongkrong kerbau atau mandi air comberan. Kemudian si ibu melanjutkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kalau aku ngajar kelas Linguistik persis memasuki kuburan ditengah padang gurun. Suasana kelas sepi dari awal sampai akhir. Aku seperti ngomong sama kursi dan meja. Bukan gak ada orangnya? Ada penguninya disitu.tapi semuanya diam dari awal sampai akhir. Dan aku lihat wajah mereka itu seperti kebingungan, melongoh, ada beberapa yang mengangguk-angguk tapi itu tindakan yang misterius. Kalau aku keluar sebentar, waduh.. persis kayak ngelepas kerbau ditengah pasar, Ramee.” Wajah Bu Heny menggambarkan kelelahan sangat berat. Kali ini nurani kemanusian ku muncul, meskipun dalam hati aku cuma mengatakan; Kasihan Bu Heny harus menanggung penderitaan ini. Tapi gak apa-apa bu, masih berat Salibnya Yesus kok.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Kalau di Sastra gimana, Don? Jangan-jangan sama juga” Bu Heny melontarkan pertanyaan yang gak ku duga sebelumnya. Mikir sebentar..Kalau aku bilang sama aja nanti Si Ibu tambah stress, kalau bilang gak baik-baik aja ya..bohong donk namanya. Tumben otak ku masih bisa berfikir tentang kebohongan. Kemudian otak ku mengembara mengingat kembli dan ketemu, ya.. kelas nya Pak Retang, Prose Analysis. Waktu itu kita gak mau keluar kelas meskipun jam nya udah berakhir alias dead kita tetap ngotot gara-gara ngedebat masalah konsep Ketuhanan. Ada dua kubu waktu itu para Theologist dipimpin Hino, calon frater (mau jadi pastor) dan Kaum Atheist, Agnostic dan Non-theist dipimpin Seto, calon Bhikku ( ada keinginan mau jadi Bhikku katanya) perdebatan itu sangat seru. Sampai Pak Retang harus angkat bicara:&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Cukup dulu! Diskusinya nanti kita sambung lagi di lain kesempatan.” Sambil melihat jam tangan yang sudah kelewatan 20 menit. Jadi dengan bangga aku mengatakan;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Gak bu, kita itu kalau di kelas sering diskusi dan debat kok jadi kelas gak pernah sepi” Walaupun cuma kelas itu aja sih, tapi kan aku gak bohong.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;	“Oh gitu ya..” Bu Heny terseyum. Mungkin dia berfikir beban ku sedikit berkurang.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Tiba-tiba Bu Ike masuk, sudah bisa ditebak kalau melihat langkah kakinya yang tergesa-gesa sambil mengeser pintu, Krek.. kacamatanya sedikit miring kemudian dia menarik nafas dalam-dalam, pasti ada masalah yang sangat penting. Sambil menatap Bu Heny kemudian aku yang sedang duduk di depan meja Bu Heny. Dengan wajah give-up nya sambil mengeleng-geleng kepala.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Aku harus melakukan apa lagi Bu? (Sambil melihat ke Bu Heny) Aku sudah kasih kesempatan biar mereka bisa nyontek atau nanya teman tapi tetap aja mereka gak melakukan, padahal aku lihat lembar jawaban mereka itu warnanya masih putih semua gak ada coretannya sama sekali.” Diam sebentar sambil menatap aku. Tentu saja gaya bercerita bu Ike sangat ekspresif dari Bu Heny, kedua tangannya bergerak bagai seorang dirijen yang sedang memimpin sebua konser spektakuler atau seorang pemimpin pemandu sorak yang terus mendukung para pamain idolnya di lapangan basket ball, Intonasi suaranya bergerak naik turun seperti tangga lagu musik complicated jazz dan mimik wajahnya seperti artis Meriam Belina dalam senetron “Cahaya”  kemudian drama monolog ini pun berlanjut;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Aku sudah gak ngawasin mereka lagi, aku sengaja duduk didepan sambil baca koran, dan muka ku sengaja ku tutup dengan koran. Tadinya aku pikir mungkin kepala ku masih kelihatan. Jadi korannya aku angkat lagi sampai aku kelelep dan aku yakin pasti kalau dari depan itu semua kepala ku tidak kelihatan sama sekali. Tapi..tetap saja lembar jawaban kosong melompong. Jadi dari pada Bete didalam aku keluar saja. Padahal ini sudah setengah jam.” Bu Ike berjalan menuju dispenser sambil meneguk cairan pelega dahaga.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Itu Don, kenapa aku gak masuk kelas hari ini. Aku sudah capek..bete..dan give-up. Kamu dengar sendirikan ceritanya Bu Ike?.” Bu Heny meyakinkan aku. Dengan suaranya yang lembut.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Iya, Bu..” Jawab ku seadaanya, dalam hati aku berbisik “Gila..parah juga ternyata.” Kali ini benar-benar tersesat. Pikiran ku mulai berpetualang siapa-siapa saja mahasiswa yang ada didalam kelas itu. Pertama tanpa di komando, sosok Giant Baby dari Pemalang muncul. Iya..bagaimana tampang manusia satu ini? Pasti dia gak bisa bergerak, semalam aja gak belajar katanya gak punya catatan. Apalagi makhluk andalanya seperti Mella, pujaan hatinya juga gak bisa jawab, pasti dia akan mengumpulkan lembar jawaban hanya bertuliskan nama dan judul mata kuliah. Sepanjang waktu dia pasti gelisah dan menunggu miracle. Kemudian ke Penggemar Maria Ozawa, Agung alias Apang, Makhluk yang pintar dan pantas untuk lahir di abad ini, tapi karena proses evolusi yang mengalami stagnansi sehingga struktur otaknya sering konslet. Dia pasti mengerutkan kening sambil cengar-cengir dan memegang kepalanya, mengacak-acak rambutnya dan mengelus-elus tompelnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; Keributan menggemah sampai ke ruangan Bu Heny. Pasti kelasnya sudah selesai. Sudah diduga semua berteriak seperti pemandu sorak;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Pasti kita dapat nilai A : Ambil lagi tahun depan!” Suara si Yudha terdengar menggemah. Emang kalau bersuara dia paling lantang, singkron dengan fisiknya. Aku memutuskan untuk keluar ruangan Bu Heny. Menemui Si Tompel&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “Gimana bro berhasil?”&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “(Nyengir dulu sambil geleng-geleng kepala) Berhasil apanya gak bisa jawab semua. Mau nyontek gak ada catatan nanya yang lain gak tahu semua ya udah terpaksa nomor satu sampai sepuluh mengarang indah.”  &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;  Benginilah sekelumit potret buram generasi bangsa ini..hiks..hiks..hikss… moga-moga adik angkatan kami gak seperti ini. Sehingga masa depan Faklutas Sastra dan negri ini sedikit bercahaya. He..he.. sok heroic pada hal sama aja udah punya gelar SS tapi bukan Sarjana Sastra tapi Sarjana Stress atau Sinting.  &lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-1202855011060737407?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/1202855011060737407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=1202855011060737407' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1202855011060737407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1202855011060737407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/bete-ah.html' title='BeTe ah...'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRe4KNc9dI/AAAAAAAAADM/txqa7RRbrcc/s72-c/PIC_0087.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-5838819108376936246</id><published>2008-10-13T00:27:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>Angkatan Brengsek</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRf-z34D_I/AAAAAAAAADk/5T0Jeg7YLLg/s1600-h/bu+ike.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 198px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRf-z34D_I/AAAAAAAAADk/5T0Jeg7YLLg/s200/bu+ike.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261435797356679154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku sadar dari mimpi indah bersama bidadari Limbukku..gak tau kenapa akhir-akhir ini aku selalu memimpikan dirinya. Meski arena mimpiku slalu gak cukup luas menampung bayangannya. Tapi tetap aja dia maksa masuk. Dasar Limbuk..&lt;br /&gt;“Sial.. ada ujian hari ini!” gerutuku.. belum sepenuhnya sadar. Seperempat nyawa baru hadir. Tangan meraba-raba handphone, apalagi yang dilakukan kalau bukan lihat jam. Mastiin aja. Kalau jamnya masih bisa diajak kompromi. Jam 09.00. ternyata kali ini jam sedikit pengertian.&lt;br /&gt;“Ah baru jam sembilan kuliah jam 09.30 tidur lagi ah..” perlahan-lahan aku berpetualang lagi memasuki alam para bidadari. Tiba-tiba..&lt;br /&gt;“Bangun ndes! Ujian..gdebuk (pintu kamar digebuk) sudah jam setengah sepuluh ini.” Suara siapa lagi kalau bukan si pengemar berbagai aktris cantik dari Hollywood itu, Seto.&lt;br /&gt;“Aduh..baru aja lelap sedikit udah mau bangun.” Biasa.. mengeluh kalau kenikmatannya terhambat.&lt;br /&gt;“Gak mau ikut ujian? Gak juga gak apa-apa masih ada tahun depan?”  Sindirannya cukup untuk membuat ku loncat dari tempat tidur tanpa kompromi.&lt;br /&gt;Terpaksa. tanpa pikir panjang lagi. Langsung menuju kamar mandi. Tidak perlu mandi cukup cuci muka saja. Lari dengan kecepatan tinggi sudah jadi tradisi. Salip kiri, salip kanan akhirnya sampe juga di Fakultas tercinta, Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kepercayaan diri aku dan Seto menaiki anak tangga, langkah kaki tidak beraturan. Maklum sudah terlambat, walaupun suasana hati tidak setegang kalau yang ngajar Bu Wur alias Bu Jambul. Kali ini Ibu Ike dosen berpenampilan seadanya, cuek, kadang kalau ngajar sandalnya ditinggal di kantor. 100% terbalik dengan sosok Bu Wur. Kalau ongomongin masalah disiplin waktu, waduh.. saingan sama mahasiswanya alias suka terlambat.  Tapi kali ini lain karena hari ini “UJIAN”. Makanya Susana hati berbeda. seperti biasa disambut Bapak Soegijapranata, berdiri tegak di atas tangga tanpa ekspresi, mata tetap menyorot ke satu arah, mengenakan kaca mata tapi gak ada kacamatanya (frame nya aja) Berjubah kebesaran berwarna hitam ala seorang uskup dengan kalung salib melingkari lehernya semua berwarna hitam termasuk kulitnya. Pikirnya mungkin seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana masa depan bangsa ini kalau generasi bangsa kayak mereka. Mereka tidak tahu kalau masa perang dulu saya berjuang setengah mati. Gak tidur..gak makan.. hanya untuk membebaskan negri ini dari tangan penjajah. Tapi sekarang apa yang mereka perbuat..kuliah terlambat terus.gak pintar-pintar, slalu bikin masalah. Malu aku, namaku dipake buat kampus ini.” Kira-kira begitu kalau patung cebol nan gagah perkasa ini bisa bersuara.&lt;br /&gt;“Jangan kuatir pak, walaupun mahasiswa kayak gini. Suatu saat kami bisa bikin  jantung bapak berdetak dan bergerak dari tempat keabadian itu.” Aku beroptimis. Selanjutnya adalah suasana berubah. Teman-teman berdiri melingkar di depan pintu tata usaha, wajah mereka begitu serius. Kedatangan kami tidak dihiraukan. Aku berusaha mendekat. Dan dengan senyum kelegaan Febe nyengir kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu Dona baru datang.” Mungkin pikirnya. Sang hero sudah datang. Semua akan dapat diatasi. Walaupun pahlawan kesiangan karena emang gak bisa bangun pagi. Dengan wajah yang tenang seperti biasa aku sok jadi penyelesai masalah, problem solver. Kira-kira gitu istilah kerennya.&lt;br /&gt;“Ada apa?” Suara tenang, sedikit bingung tapi tetap santai.&lt;br /&gt;“Tadi Bu Ike marah..marah sampai bilangin angkatan kita itu brengsek habis itu dia gak mau ngasih ujian hari ini..aduh..Bang.. padahal kitakan udah susah..susah buat susah..susah nyari di internet, malam sampe ngelembur, masa disuruh bikin ulang lagi. Padahal itu kan belum tentu salah kita. Kamu udah ngumpulin?” Seperti peluru dari senjata automatic, kata-kata meluncur tanpa henti dari mulut Febe. Tidak ada koma titik atau tanda baca lainya.&lt;br /&gt;“Sebentar-sebentar aku gak ngerti ada apa toh?” Sekilas aku melihat kewajah temanku sang pengidola Sania Twain itu. Ya..bisa ditebak wajahnya bingung dan membingungkan. Itu sudah jadi karakter dari wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..Be kamu ceritaiin dong, kronologinya! Kok.. Bu Ike bisa marah-marah kayak gitu” Si Yuli angkat bicara. Ternyata dia juga gak ngerti permasalahan utamanya apa. rasa penasaran dan kebingungan terpampang jelas.&lt;br /&gt;“Gini loh tadi aku sama Tia ngumpulin paper Romantism trus Bu Ike dengan wajah jengkel, sedikit kaget ngomentar; Kok baru ngumpulin sekarang! Aku jawab;&lt;br /&gt;Kan ujiannya hari ini jadi ngumpulnya hari ini. Bu Ike malahan kayak marah gitu, Kalian itu gak tau diri ya.. sekarang itu ujian oral. Paper itu harus di kumpulin 3 hari sebelum ujian oral. Dan itu ada pengumumannya. Aku tanya jadi gimana bu? Bu Ike gak jawab terus keluar ruangan sambil nekuk wajah gitu. Aku juga ikut keluar. Habis itu Rachel sama teman-teman lain dengan pedenya ketemu Bu Ike di pintu situ (sambil menunjuk ke pintu dekat ruang dosen) terus ongomong sama Bu Ike, Bu mau ngumpulin paper. Nah Bu Ike langsung bentak; Kalian itu punya mata, punya kuping kenapa tidak mau dipake saya sudah bilang di kelas waktu pertemuan terakhir kalau paper tugas akhir dikumpul 3 hari sebelum ujian dan saya juga tempel pengumuman di papan. Kalian memang angkatan brengsek lebih brengsek dari yang lain. Pokoknya saya tidak mau terima paper kalian. Terus ya udah kita keluar. Habis Bu Ike nya udah marah-marah gitu. Cukup jelas Febe mendeskripsikan dengan mimic seorang Bu Ike beserta intonasinya. Sebelum aku bicara tiba-tiba Bu Ike keluar sambil mukul pintu..keluar dari Tata Usaha, sepertinya dia dengar obrolan kami yang kebingungan, kecewa, sakit hati, merasa tolol dan seribu perasaan lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian dengar tidak kalau pertemuan terakhir kemarin saya umumkan untuk mengumpulkan paper 3 hari sebelum ujian? Tau tujuannya apa?” Kami masih kebingungan untuk menjawab. Dan Si ibu yang lagi syndrome high blood melanjutkan semprotannya.&lt;br /&gt;“Supaya saya punya waktu untuk baca tulisan kalian yang bikin pusing itu.” Matanya melotot dan sudah pasti letak kacamatanya sudah tidak normal agak miring ke kiri. Wajahnya memerah seperti habis dijemur dimatahari sehari di Pantai Marina. Teman-teman memolototiku. Lagi-lagi isyarat mata itu menghendaki aku angkat bicara. Baru mau buka mulut Bu Ike meluncur lagi bagai  pesawat jet lepas landas. Wush..&lt;br /&gt;“Siapa yang dengar pengumuman saya? Kalau tidak ada berarti saya yang salah.” Sepertinya dia mau cari bukti sebenarnya kesalahan ada dipihak mana. Tiba-tiba si kupret bicara&lt;br /&gt;“Saya Bu..saya sama Dani..dan kita udah ungumpulin 3 hari yang lalu.” Si Igor dengan jujur menaggapi. Tidak pikir dia kalau jawabannya bisa bikin satu angkatan gak bisa ikut ujian hari ini. Karena Bu Ike mengangap kegobolokan ada di pihak kami.&lt;br /&gt;“Sial” Pikirku. Tiba-tiba aku yang disodorkan pertanyaan&lt;br /&gt;“Donatus, kamu dengar tidak?”&lt;br /&gt;“Tidak bu.” Jawabku. Karena memang aku gak tahu ada pengumuman kayak gitu.&lt;br /&gt;“Okey saya tidak mau ambil pusing saya mau ujian oral kalau kalian bikin paper yang baru titik tidak ada alasan lagi.” Pernyataan itu jelas, menghantam dan mengecewakaan bagai pasien sakit jantung masuk stadium tiga. Dag..dig..dug.. there’s no other choice except find a new topic. “Gila..gila.. bikin setengah mampus gak di kasih nilai.” Gumamku dalam hati. Setelah kepergian Bu Ike dengan pernyataannya setajam pisau, sekeras batu, dan sepanas bara api  semua kecewa.&lt;br /&gt;“Ayo kita harus gimana ini? Masa kita harus buat lagi..Igor sih?” Febe melototin Igor yang berdiri dengan percaya diri disampingnya.&lt;br /&gt;“Ya bukan aku dong ya salah..memang waktu itu kita dengar kok.” Igor membela diri. Dengan wajah agresifnya, keningnya dikerut-kerutkan.&lt;br /&gt;“Tuh..Dona aja gak dengar apa-apa.” Febe gak mau kala Aku pikir-pikir lagi. Emang sudah jadi tradisi kalau ada tugas mesti pada nanya ke aku. Walaupun seringkali aku sok tahu. Tapi kok kali ini aku gak tau ya..O..ya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku gak masuk ada rapat pas kuliah terakhir kemarin.” Aku sadar sekarang. Tapi apa yang mesti dilakukan ya.. Harusnya aku nanya.harusnya aku bisa nebak..dan harusnya bla..bla..bla… biasa penyesalan selalu datang terlambat.. kalau datang duluan bukan penyesalan namanya.&lt;br /&gt;“Ok. Sekarang kita temuin Bu Ike mungkin dia bisa ngerti, siapa tau.” Ku coba untuk berharap. Meski teman-teman sudah pada ikhlas. Ikhlas buat ngambil aja lagi tahun depan, gitu maksudnya. Tapi mereka juga masih berharap, terlihat dari wajah-wajah bingung itu. Tapi kenapa seorang Bu Ike bisa sampai marah seperti itu? Ya.. mungkin udah capek menghadapi mahasiswa dablek kayak kami. Itu kejadian kedua sebelumnya adalah. Kuliah Extensive Reading. Seperti biasa kita dikasih novel dan puisi masing-masing dibatasi sesuai dengan tebal tipisnya novel dan banyak sedikitnya puisi. Saatnya maju ujian. Semua berbaris laksana pasukan Garuda yang dikirim ke Timur Tengah atau seperti warga yang antri sembako. Kali ini kumpulan puisi yang harus kami jelaskan ke Bu Ike. Sudah dipastikan setiap anak menenteng fotokopian dengan puisi buah karya para penyair Romanticm Era sampai abad dua satu. Pintu lab dibuka, dan maju satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah beberapa saat bu dosen yang mengenakan daster ini keluar wajahnya merah membara. Korban pertama adalah pintu. Kasihan pintu, coba kalau dia bisa ngomong, kenapa ya aku yang slalu digebukin. Perasaan aku gak salah apa-apa..&lt;br /&gt;“Cklek..Gdebuk..Bum….”  Semua kaget dan memandang kearah pintu sang wonder women berbadan dua mengenakan daster motif bunga-bunga berdiri disana dengan tangan kanan menenteng fotokopian kumpulan puisi dan tangan kirinya baru saja menghantam pintu. Gila.. coba kalau tangan itu di tempeleng ke muka pasti tambah hancur wajahku.. berantakan dan berserakan kemana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian itu saya sudah kasih waktu selama dua minggu untuk baca teks ini..@$%#*$&amp;amp;^)(*&amp;amp;..” Suaranya merambat naik, urat nadi di lehernya seolah-olah mau meloncat keluar, seperti ular yang kepanasan menggeliat keluar liangnya. Kedua kaki menumpu kuat menahan berat badannya yang over karena ada seorang penghuni yang bertenggger didalam perutnya.  Kemudian adegan pembentakan berlanjut.&lt;br /&gt;“Kalian pikir saya ini teman kalian yang bisa kalian perlakukan seenaknya.” Sampai disini aku masih bingung. Kupandang wajah teman-teman disekitar tempat itu. Semua wajah kebingungan ada yang melongoh, menunduk, dan melotot karena kaget. Kalau ada yang sakit jantung mungkin shock di tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari tadi saya tanya tidak ada yang bisa jawab, sudah 6 orang. Kalau pun ada yang jawab itu ngelantur kemana-mana.. masa diawal katanya characternya sudah mati kok di belakang bisa hidup lagi.” Sambil mengibas-ngibas teks yang ada ditangannya. Bola matanya melotot seolah-olah kedua matanya mau melompat keluar dari kacamata yang ada didepan seperti bola golf yang meloncat-loncat mencari hole. Aku dan beberapa teman disitu sedikit tersenyum ada yang kelepasan tertawa, saat itu mungkin kami pikir bisa saja tokoh itu punya ilmu sihir atau bisa bermuzijat kayak David Copperfield atau seperti Yesus yang bisa membangkitkan orang mati, atau mungkin karakter itu pengikut Yesus. Kemudian,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian jangan tertawa!..paling juga sama saja denagan teman-teman kalian yang sudah maju.. Sekarang saya gak mau nguji lagi..kalian baca saja dulu puisinya kalau sudah siap baru kasih tau saya.” Bu Ike langsung menyingkir menuju kantor dengan sandal setengah sepatu yang diseret-seret. Karena makenya gak pas gitu. Semua wajah mengambarkan rasa bersalah tapi prosentasenya lebih besar perasaan puas karena gak ujian hari ini. Akhirnya ujian ditundah.. See you next time Bu Ike.&lt;br /&gt;Kembali ke permasalahan semula, sekarang adalah kejadian kedua, sudah pasti pertama aja kayak gitu apa lagi adegan selanjutnya jauh lebih dasyat dan bombastis kalau kasarnya sih jauh lebih sadis. Semua bicara sendiri-sendiri, belum siap untuk menghadap Bu Ike yang sedang nongkrong di tata usaha dengan aura wajah yang sangat pekat.. sampai-sampai gak ada satu pun lalat yang berani nangkring di dedapannya. Saat itu kami tidak berani menatap wajah Bu Ike sama sekali. Ngeri takut ketularan darah tinggi atau jadi sasaran tembak peluru terpedo. Dan entah kenapa kobaran api sepertinya telah padam. Tidak ada dua tanduk yang bertengger di kepalanya, tidak ada lagi tombak tajam yang siap menghunus. Tidak menggelegar seperti guntur atau meletik-letik seperti petir atau menggemuru seperti  deru ombak Si ibu berbadan dua ini keluar, kali ini wajahnya tersenyum, langkah kakinya lebih tenang. Aku kaget bukan main malaikat dari surga tingkat berapa yang merasukinya? Ibarat nya kalau ku gambarkan. Dia keluar dengan baju putih-putih, gak ada tanduk dikepalanya tapi mahkota yang blink-blink, bukan tombak bermata tiga tapi tongkat licin berkepala bintang  gejora di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah sekarang saya maafkan kalian, tapi lain kali jangan sepelehkan dosen yang ngasih tugas, harusnya kalian bisa mengerti.. kan kalian sudah dewasa. Sekarang maju satu-satu ke ruangan saya.”  Kali ini bukan Lusifer tapi Gabriel atau Jibril, pembawa berita yang mendamaikan hati kami. Seperti di sihir Suasana menjadi sumringah,  kebahagian setengah ketidakpercayaan menepuk-nepuk wajah kami. Terimakasih Bu Ike kamu memang baik, kira-kira itu yang kami pikirkan. Tentu saja Si Febe terseyum kegirangan sambil meluapkan kata-kata:&lt;br /&gt;“Yes,,gak jadi bikin ulang” Tangannya laksana tangan kuli bangunan di ayun keatas kemudian dibanting kebawa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-5838819108376936246?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/5838819108376936246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=5838819108376936246' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5838819108376936246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5838819108376936246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/angkatan-brengsek.html' title='Angkatan Brengsek'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRf-z34D_I/AAAAAAAAADk/5T0Jeg7YLLg/s72-c/bu+ike.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-3944371891564483105</id><published>2008-10-11T03:10:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:52:37.242-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita konyol'/><title type='text'>I'm Sorry Mum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRgTD9ILzI/AAAAAAAAADs/i33Z2HzpntA/s1600-h/PIC_0088.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRgTD9ILzI/AAAAAAAAADs/i33Z2HzpntA/s200/PIC_0088.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5261436145271058226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kuliah pagi..paling malas. Jam 7.30 harus sudah dikampus. Kalau kelasnya Bu Ike and Bu Ninik gak masalah. Ini kelasnya Bu Wur. Dosennya terkenal strik, killer tidak kenal kompromi Harus on time jam 7.45 lebih pintu ditutup. Walaupun setelah itu aku sadar kalau dosen satu ini baik hati, sampai pas aku gak ada uang buat urunan beli kenangan-kenangan buat Fakultas. Dia bawa aku ke kantor nya dan mengeluarkan lembaran 50 ribuan buat aku. Tapi kalau dalam hal kuliah lain cerita. Apapun alasan kalau telat gak boleh masuk. Terlambat adalah budaya bagi kami. Bu Wur seperti apa orangnya? Penampilan selalu elegant, yang bikin beliau unik adalah punya jambul laksana kepala ayam jantan atau burung kakatua. Walaupun dia terbaring dirumah sakit jambulnya gak pernah rusak. Teman-teman sering tanya kok bisa ya? Sakit masih ngurusin jambul. Ya. Mungkin itu jimatnya.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Nah.. mahasiswa harus on time tapi kuliahnya selalu jam 7.30. ini masalah besar buat kami. Terkenal angkatan 2004 pasti terlambat. Apa lagi “Rombongan Wisatawan.” Mereka kalau masuk kelas selalu keroyokan. Jadi Bu Wur harus berhenti bicara. Semua mata keranjang pasti melahap kearah mereka laksana mata burung elang yang menatap penuh gairah kearah mangsa-mangsanya dari ujung rambut sampai unjung kepala. Apalagi kami penikmati keindahan.  Disini kadang aku tidak bisa membedahkan unsur gairah keindahan dan gairah birahi. Sangat transparan.  Tatapan mata pasti berhenti lebih lama di dua area. Dada dan Paha. Kalau pasukan mereka lewat semua aktifitas berhenti; “Cut..cut…iklan-iklan dulu!!!” Sudah gitu.. mata mengantuk jadi pulih. pikiran yang masih gentayangan di kasur, secepat kilat kembali ke saat ini. Ya..di kelas ini dengan obyek yang memikat. Habis itu Bu Jambul pasti memberikan ceramah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Saya mohon supaya jangan terlambat terus ya. Ini menggangu konsentrasi saya.” Suaranya datar, tegas dengan sorot mata mantap. Yang di nasehati gak peduli sibuk nyari tempat duduk.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Krek..krek..pletak. kursi-kursi diseret merapat. Para mahasiswi wisatawan ini gak mau kalau duduk terpisah. Slalu saja berusaha biar duduknya bareng. Sepertinya kalau misah kekuatan ajaib mereka tidak berfungsi. Dan itu berpengaruh dalam menyerap pelajaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;  “Geeser donk!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Tradisi mahasiswa di kampus ini adalah sebagai berikut: yang datang awal pasti duduk di paling belakang, dan tengah. Kalau duduk didepan berarti itu mahasiswa yang tergolong “sadar” Sadar kalau duduk dibelakang pasti disuruh jawab pertanyaan, atau maju kedepan buat nulis jawaban atau jadi obyek teguran dosen atau dibelakang gak dengar apa-apa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Tolong ya! kalau saya lagi ngomong didengar!” Suaranya agak meninggi, kesan &lt;i&gt;killer&lt;/i&gt;nya terasa. Yang belum dapat tempat duduk terpaksa berdiri dan melihat ke Bu Jambul agak menunduk karena malu.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Yang belum dapat tempat duduk sekarang duduk!”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Ini soalnya dibagikan kebelakang!” Bu Wur dengan jambul bak makhota kebanggannya memberikan tumpukan soal ditangannya ke mahasiswa yang duduk paling depan. Aku terjebak paling belakang bersama sang penggemar bintang holywood itu, Seto, dan Andini. Aku duduk ditengah diantara mereka tentu saja. Tibalah saat yang dinanti-nantikan. Dengan serius soal dibaca satu persatu mana yang lebih mudah. Da ternyata, Oh my God, sepuluh soal yang ada tidak bisa semua. Mampus… masa gak diisi. Kalau gak licik bukan mahasiswa namaya. Ada dua rencana utama, Satu tengok kiri dan kanan. Tanpa berpikir panjang lagi mataku melotot seperti teropong bintang focus ke lembar jawaban Andini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Din nomor satu jawabanya apa?” Tentu saja berbisik kalau kedengaran Bu Jambul langsug disuruh keluar ruangan. Tapi aku tidak melihat jawaban apa pun dikertasnya. Yang ada tulisan nomor satu kemudian salinan soal dilangkah beberapa baris kemudian nomor dua, tulisan soal dan seterusnyanya. Aku mulai panik. Biasanya paling gak tiga atau empat soal yang aku yakin bisa, tapi sekarang gak tahu sama sekali. Selanjutnya tengok kanan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Man, nomor satu dua dan seterusnya sampai sepuluh jawabanya apa?” belum sempat dia komentar, mata ku langsung melahap seluruh isi lembar jawabannya dan ternyata yang ada hanyalah tulisan nama, mata ujian, tandatangan dan pada baris pertama angka satu yang dibulat-bulat. Ternyata, rencana A gagal.  Masuk keaksi berikutnya buka buku ajaib yang tersimpan dalam tas. Ini adalah kitab yang bisa menjawab semua teka-teki ini. Kalau diumpakan, seperti kitab suci yang mampu mengetahui apa kehendak Tuhan. Tanpa bertele-tele tangan kiriku merogo-rogo tas yang ada dibawa kaki. Tiba-tiba.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Yuli, keep your eyes on the paper!” Aku gak bisa membayangkan bagaimana wajahnya Yuli, merah merona  bagai wajah lawan yang kena pukulan telak Make Tyson. Tangan kiri yang masih dalam tas secepat kilat langsung kucabut keluar dan kembali keposisi semula. Setelah itu mata Bu Wur mulai menjelajahi seluruh ruangan laksana tatapan mata Ratu Elisabet di Era Victorian, tegas, cepat, dan tentu saja killer. Kegelisahanku mulai meningkat beberapa persen dari sebelumnya. Diam dan pura-pura nulis agar tidak dicurigai. Setelah beberapa saat, tangan kiriku beraksi lagi tatapan mata tetap kedepan. Tangan kiri bekerja super keras sambil pikiran ku mengira-ngira kira-kira yang mana catatannya. Sudah sekian lama aku tidak menemukan yang dicari. Kali ini aku ragu dengan indera perabaku terpaksa mata ku melongo kedalam tas yang sudah terbuka dan saat itu tanpa ku duga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Donatus, Just write your answer!” Mampus, aku kaget bukan main setengah tidak percaya kalau aku ketahuan. Aku sesaat bengong, yang disebut bukan Yuli, Yudha, Andini atau Seto tapi Donatus, iya namaku. Rupanya Bu Wur punya mata yang sangat lihai bagai kucing yang duduk diatas genteng tapi tahu kalau ada tikus yang lagi sibuk mengobrak-abrik sampah di pinggir jalan. Kali ini aku yang kena tembakan cukup untuk melumpuhkan kesadaran dan kegoblokan ku. Seketika itu semua ribut dan menatap aku yang kebingungan, malu, dan salah tingkah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Iya Bu.” Jawab ku seadanya. Posisi duduk dirapikan lagi. Kali ini benar-benar bahaya. Musuh sudah tahu gerak-gerik ku dan sempat melontarkan tembakan. Akhirnya ambil langkah preventif. Posisi duduk tegak kepala menunduk menatap lembaran kosong yang sedang tertawa mengejek, mungkin kalau kertas ini bisa bicara sudah dari tidak aku digoblok-goblokin. Tangan kanan memegang pulpen. Dan pura-pura menulis. Pikiran ku berkeliaran menyusuri jejak-jejak dimana catatan beserta foto kopian ku? Apa mungkin tidak ada didalam tas? Seperti kesetrum aku sadar kali ini aku benar-benar kala dan harus ambil lagi tahun depan, kitab ajaib andalanku tertinggal di tempat tidur. Gara-gara tadi bangun terlambat. Tidak ada harapan lagi. Kali ini menunggu mujizat siapa tahu ada yang baik hati melemparkan Jawaban dari nomor satu sampai sepuluh. Aku terus mengamati teman-teman yang sedang menyontek ada yang memutar lembar jawaban teman di sebelahnya. Aktifitas mereka begitu rapi sampai sang penembak jitu yang duduk mengawasi di depan tidak mengetahui aksi bulus mereka. Aku masih terus menunggu dan menunggu. Sudah tidak ada harapan lagi.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Tiba-tiba seperti menemukan oase di padang gurun aku bahagia bukan main. Seto memegang sebua kertas besar seukuran lembar jawaban yang dilipat seadanya. Dalam kepalaku sebua angan-angan. Pasti semua jawaban ada dikertas ini. Semuanya.. Setelah Seto menyalin dan giliranku. Aku benar-benar bahagia. akhirnya penderitaanku berakhir. Kali ini Seto yang mengalami ketegangan. Seperti seorang pencopet di kreta api, dia membuka pelan-pelan kertas itu, matanya tetap mengarah ke depan. Takut kalau hantaman &lt;i&gt;cock&lt;/i&gt; telak dari Susi Susanti mengenainya.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Akhirnya kertas penyelamat itu berhasil dibuka. Aku kaget bukan main tanpa terkendali, aku tertawa. Andini yang ternyata sedang menunggu peta harta karun itu dibuka ikut tertawa. Bukan semua jawaban yang ada disitu tapi hanya ada tulisan nomor 6 yang dibundar besar-besar. Diikuti satu kalimat yang terdiri dari 4 kata. Yang ditulis besar-besar juga. Parahnya lagi aku tidak bisa mengerti apa yang ditulis disitu. Tentu saja Susana ini adalah bentuk kebodohan kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Donatus, Andini. What happen? Kalian sudah bikin suasana tidak kondusif. Saya minta tolong kerjakan soal anda,a kalau tidak bisa tinggalkan saja.” Kali ini benar-benar sekarat. Semua kelas bersorak riuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Huh..donatus lagi…donatus lagi…”  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “He..he…he..” Aku hanya bisa nyegir dan menatap Bu Wur yang sedang mengeleng-geleng kepala. Mungkin dia marah atau kasihan.. ekspresinya susah ditebak kali ini. Saking geroginya aku. Keputusan harus diambil dari permainan ini. Aku kalah dan tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain mencorat-coret lembar jawaban itu sehingga kelihatan penuh dengan tulisan. Jika seorang mahasiswa sudah tidak bisa apa-apa lagi dalam mengerjakan soal maka langkah yang paling darurat adalah memenuhi lembar jawaban dengan salinan soal dan dicampur dengan aksi mengarang indah. Dalam rasa bersalahku Ratu Elisabeth ini menembak lagi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Donatus, Andhini, Seto setelah ini menghadap saya.” Tegas, mantap, tidak perlu penjelasan tambahan, dan tidak ada kompromi. Kita bertiga nyengir-nyegir sendiri. Aku kasihan sama Seto. Dia yang tetap tenang walaupun garis-garis kebingungan terangkai berantakan diwajahnya, harus terlibat. Gara-gara keteledoranku. Tapi bukan namanya 2004 kalau gak jadi trouble maker.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Silakan duduk!”  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; Aku deg-degan… kira-kira apa yang akan dikatakan oleh ibu bermakhota ini ya? Yang jelas ceramah. Apa aku tidak diluluskan? Ah..dengarkan saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Terus terang saya kecewa dengan anda bertiga” Suaranya merendah bagai seorang ibu yang menyesali kenakalan anak-anaknya. Kami masih diam sambil menatap Bu Wur.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Kalian adalah orang-orang yang dianggap mampu menjadi pemimpin bagi teman-teman mahasiswa lainya.” Diam dan menarik nafas.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Tapi tindakan kalian tadi sangat tidak layak.” Sorot matanya sangat lembut menyentuh hati kami yang paling dalam. Kami menyesal. Sesaat diam aku menunduk. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat. Tadi seharusnya aku tidak seperti itu. Seharusnya aku belajar, seharusnya aku simpan catatan itu di tas..dan seharusnya..seharusnya.. kemudian Bu Wur melanjutkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Saya tahu kalian tidak menyontek. Teman-teman kalian itu hampir semua menyontek. Tapi sikap kalian itu tidak menghargai ujian ini.” Aku sedikit kaget dan menatap Bu Wur. Ternyata dia tahu juga semua yang terjadi. Hebat-hebat. Seharusnya kamu jadi intel, snapper, pengamat politik, bukan dosen bu. Andini terlihat berkaca-kaca. Emang kalau perempuan dengan perempuan itu lebih saling memahami. Rupanya dia tahu betul perasaan Bu Wur akhirnya ia buka mulut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Kami minta maaf yang sedalam-dalamnya, bu. Kami tidak akan mengulang lagi. Terimaksih atas perhatian ibu kepada kami. Untuk kedepannya kami akan lebih peka terhadap kondisi yang ada.” Pasti meminta maaf dan merasa bahwa ini adalah kekhilafan. Ya..namanya juga maling kalau tidak ketahuan dia cengengesan dan basok maling lagi, tapi kalau ketahuan dia pasti mengatakan, aku khilaf. Besok aku tidak akan mencuri lagi. Dan Bu Wur melanjutkan;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Kalian adalah harapan kami khususnya saya, kalau kami butuh bantuan pasti lewat kalian. Kami menganggap kalian adalah orang yang bisa diandalkan di Fakultas ini. Kalau jadi pemimpin harus bisa memberi contoh. Jadi kalian tahu kenapa saya panggil kalian bertiga? Baiklah saya maafkan kalian, tapi lain kali jangan mengulang lagi.” Intonasi suaranya begitu menyentuh dengan tatapan mata menyimpan harapan yang sangat tulus. Dibalik sosok Ratu Elisabeth ternyata terdapat pribadi Bunda Theresia yang lemah lembut.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; “Terimakasih bu, kami tidak akan mengulang lagi.” Rasa bersalah bercampur dengan semangat untuk tidak melakukan tindakan itu lagi. Kemudian sedikit bangga dengan ucapan Bu Wur bahwa kami adalah mahasiswa yang menjadi tangan kanannya dan dosen lainya. Akhirnya dengan sikap yang agak malu-malu kami meninggalkan Bunda Theresia itu. Terimakasih bu semoga kami jadi mahasiswa yang benar-benar berguna.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-3944371891564483105?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/3944371891564483105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=3944371891564483105' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3944371891564483105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3944371891564483105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/bu-jambul-im-sorry-mum.html' title='I&apos;m Sorry Mum'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SQRgTD9ILzI/AAAAAAAAADs/i33Z2HzpntA/s72-c/PIC_0088.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-7744333182109807185</id><published>2008-10-07T03:10:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:44:58.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Negri Utopia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SOs18tdJJUI/AAAAAAAAACg/WNOgzyiaFec/s1600-h/dog.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SOs18tdJJUI/AAAAAAAAACg/WNOgzyiaFec/s320/dog.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254352707368068418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="CONTENT-TYPE" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt;&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.2  (Win32)"&gt;&lt;meta name="AUTHOR" content="Chantik"&gt;&lt;meta name="CREATED" content="20080828;2420000"&gt;&lt;meta name="CHANGEDBY" content="Seto"&gt;&lt;meta name="CHANGED" content="20081007;1410000"&gt;&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Negri Utopia&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;By; Donatus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; &lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Setiap wajah yang menatap tak menghadirkan senyum sedikit pun. Aku seperti makhluk kutukan yang menyeramkan. Tak pantas untuk hadir bahkan sekedar untuk numpang bernafas. Ada apa dengan tempat ini? Aku tidak salah, tempat ini pernah menjadi saksi atas kehidupanku. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang kujumpai. Kususuri lorong kecil. Sampah berserahkan, bau selokan sangat menyengat. Segerombolan tikus berlarian sementara disisi lain tempat sampah yang sudah reot terpelanting memuntahkan isinya. Tikus yang didalam berlarian keluar dan berusaha mengusir tikus-tikus kecil disekitarnya. Baginya mereka tak pantas untuk ada disitu. Ini area miliknya. Tak peduli dengan kemarahan tikus besar. Mereka berlompatan mengajak-acak sampah yang berserahkan, sesekali bersembunyi karena ada manusia yang lewat. Kehadiran manusia sangat membahayakan. Mereka bisa saja dimusnahkan. Dan bisa saja mereka diangkut bersama sampah kemudian dibuang kearea yang gersang. Tapi akhir-akhir ini ketakutan mereka sepertinya tidak perlu terjadi. Seiring dengan kepergian pahlawan pembuang sampah, mereka bebas melahap setiap sisa sisa makanan yang dibuang. Penduduk di daerah ini tidak mampu lagi membayar orang untuk membersihkan sampah-sampah. Atau mereka tidak peduli. Bahkan membeli tong sampah yang baru mereka tidak mampu. Tidak ada lagi orang seperti Mang Kardi. Tidak peduli bayarannya harus nunggak berbulan-bulan. Membuang sampah merupakan amanah yang harus diemban. Dia selalu menikmati hidupnya. Meskipun orang-orang slalu menutup hidung mereka disaat dia lewat membawa gerobak sampah. Tetangga dekatnya selalu menyarankan dia untuk berhenti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kakek sudah tua istirahat saja!” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Aku tidak akan pernah berhenti sampai Yang Kuasa menganggapku layak untuk beristirahat selamanya.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi ke...  kalau terus mendorong gerobak ini. Kakek bisa sakit”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kakek paham dengan tubuh kakek. Kalau bukan kakek yang melakukan siapa lagi? Ini amanah. Menikmati setiap pekerjaan itu makna dari kehidupan.” Demikian Mang Kardi selalu menanggapi opini orang-orang disekitarnya. Dan sekarang Sang Kuasa sudah memutuskan untuk mempensiunkan sang pejuang untuk selamanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Desas desus yang terdengar, Mang Kardi adalah seorang pejuang. Dia selalu menceritakan ke orang-orang tentang perjuangannya dulu melawan kaum penjajah. Banyak yang tidak percaya. Mana mungkin seorang pahlawan hanya menjadi tukang sampah. Seharusnya banyak simbol-simbol yang melekat dibajunya seperti para veteran perang. Selain itu  kehadirannya di tengah warga sangat misterius. Dia datang seorang diri dan membangun gubuk kecil dipinggir kali. Tidak ada yang tahu asal-usulnya. Dan itu tidak penting, yang penting tempat mereka bisa bersih. Aku tersadar ketika dua orang lewat dengan mengendarai motor sambil berteriak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt; “&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anjing sialan minggir! Bosan hidup ya?” Seorang yang duduk di jok belakang menatapku dengan guratan marah. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rambutnya disemir dengan warna bermacam-macam sementara celananya sobek-sobek tak karuan. Teriakan itu memaksa ku geser ke pinggir jalan tepat diatas kali. Pandangan ku mengarah ke kali kecil. Air tidak bebas lagi mengalir. Sampah menumpuk. Membeludak. Warna keru nan pekat memahkotai sungai yang dulu selalu jadi tempatku berkaca. Sekarang tidak lagi. Keruh dan bau membusuk. Ku pahatkan langkah ku perlahan-lahan diatas tanah basah, luapan air kali. Sifat air memang selalu mengalir. Ketika jalannya terhambat maka dia akan terus mencari cari tak peduli apakah ia pantas untuk berada disitu. Orang-orang yang lewat pasti berjalan menjijit. Kalau sampai kakinya tercebur, paling mengumpat. “Sialan sandalku kena lumpur, kakiku jadi kotor.” Mereka tidak peduli kenapa air sampai muncrat kesitu dan apa yang harus dilakukan untuk mengarahkan air mengalir ke jalannya? Aku tidak bisa menghindar dijalan yang kering. Karena sudah dikuasai manusia. Tidak ada pilihan lain selain menyusuri jalan ini. Percikan air lumpur mengotori seluruh kakiku. Suara rintihan tikus-tikus yang berkelahi masih terdengar. Biarkan saja toh memang itu sudah jadi takdir mereka. Mencari nafkah di tempat-tempat yang dianggap kotor oleh manusia. Dari pada berdasi dan berjas rapi tapi perilakunya sama seperti tikus-tikus itu. Mengais ditempat busuk. Gubuk-gubuk berserakan disepanjang pingir kali. Beratapkan genteng tua dan seng karatan. Dinding-dinging triplek menutupi seadanya. Suara para penghuni bercengkerama mengaung menembus keluar lewat lubang-lubang dinding. Aku tidak memperhatikan obrolan mereka. Tetap pada langakah ku untuk terus menyusuri gang yang tidak layak untuk disebut sebagai perumahan warga yang sehat. Langkah kakiku tiba-tiba terhenti, seketika mataku memandang menyaksikan seorang tukang becak disebrang jalan. Celanannya penuh dengan tambalan, kaos obolong dengan warna kusam. Dia sedang asik memegang sebua benda kecil. Asyik sekali, dia tidak peduli walau ada orang lewat disampingnya. Aku penasaran. Kusebrangi jalanan yang becek itu. Dan iya.. itu adalah sebuah benda aneh. Tiba-tiba dia bicara sendiri dengan mulut menempel pada benda itu. Suara lembut terdengar keluar dari benda aneh itu. Sepertinya suara perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kakak lagi dimana toh” Sayup-sayup suara itu terdengar dari benda aneh itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kakak lagi jalan-jalan nih. Didaerah perkampungan. Mau nyari lahan yang pas buat bisnis.” Wajah nyengir mengisaratkan kebohongan. Sepertinya sosok bersuara disebrang sana tidak tahu siapa sang tukang becak bercelana bolong di area selangkangan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Kakak bisnis apa, kok baru cerita sekarang?” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ya..bisnis kecil-kecilan lah..bikin perumahan gitu.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	“Ah..kakak.. itu mah bukan kecil tapi udah tergolong gede.” Sambil memiringkan pantatnya. Dan sobekan celanannya terlihat jelas. Tetap saja dia tidak peduli. Kaki sebelah kiri diangkat dan ditumpukan pada paha kanannya sambil bergoyang-goyang laksana bos besar sedang menikmati kemakmurannya. Tukang becak ini mungkin sedang merayakan dunia imajinasinya bersama gadis bersuara lembut disebrang sana. Ah..dunia semakin aneh. Apakah ini yang dinamakan kemajuan? Kutinggalkan tukang becak dengan benda anehnya. Kuayunkan langkah kakiku yang terasa semakin berat. Bekas kaki terpahat berantakan diatas jalan berlumpur. Aku berpapasan dengan orang-orang. Wajah mereka penuh curiga, takut, bahkan ada yang lari sambil berteriak: “Ada anjing liar...hi...hi..” Aku tidak peduli. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku berlari kecil dibalik kegelapan. Menghindari keramaian. Menghindari manusia yang sok suci, bersih. Lelah rasanya. Menyusuri gang kecil ini. Namun aku tidak menemukan keindahan, keharmonisan, dan ketenangan. Semua tatapan mata penuh dengan kecurigaan, perkampungan asri nan harmonis tidak tahu entah kemana. Kini yang menghuni adalah orang-orang aneh. Dulu aku dan teman-teman selalu bebas berkeliaran. Meminum air dari kali di pinggir kampung. Menyapa setiap penduduk yang dijumpai. Semua mata begitu bersahabat. Senyum ceria selalu menghiasi bibir mereka. Anak-anak kecil selalu memegang kepalaku dan mengelus-elus buluku. Katanya aku lucu. Mang Kardi selalu menyapaku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atman sudah makan?” dengan kelembutan tangannya di mengelus-elusku. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalau aku lapar aku akan menjilat-jilat tangannya, menatap wajahnya sambil mengeluarkan lidahku kadang air liur menetes. Kalau sudah begitu Mang Kardi mengeluarkan sepotong roti atau tulang dari dalam tas buntutnya. Aku melahap makanan itu. Sementara dia sibuk mengangkat tong sampah dan dimasukan kedalam gerobak. Mang Kardi adalah orang yang sangat dekat denganku. Walaupun kami tidak menggunakan bahasa verbal seperti bahasa manusia. Tapi tingakah lakuku benar-benar diterjemahkan dengan benar oleh Mang Kardi. Dan aku selalu melindungi Mang Kardi dari ganguan anak-anak nakal yang mengejeknya atau mengacak-acak tempat sampah. Tak ada tikus-tikus disini. Disamping Mang Kardi, aku punya teman seekor kucing kampung tak bertuan dengan sorotan mata tajam diselalu duduk diatas genting rumah dan mengamati mangsanya. Kalau ada gerak mencurigakan secepat kilat ia melompat menghajar mangsanya dan melahapnya. Aku kagum dengan kepiawainnya. Sikapnya dingin dan kaku tapi di seekor kucing yang baik. Tidak ada keributan selain pertengakaran suami istri dalam dalam rumah kerena cemburu, atau perkelahian antar anak kecil yang merebut mainan. Tiba-tiba aku tersadar dalam lamunanku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pencuri-pencuri..Maling..Maling..” Terdengar sorakan orang-orang. Dan sebua kendaraan melaju dengan cepat dan membabi buta. Dibelakangnya terlihat dari keremangan lampu-lampu jalan orang-orang berlarian ada yang menggengam batu, pentungan semua melemparkan kearah pengendara itu. “gdebuk” sebua batu menghantam punggung orang yang duduk di belakang. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mampus kau pencuri.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ayo ngebut dong. Mereka semakin mendekat.” Orang yang duduk dibelakang membentak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang-orang semakin banyak menumpuk dijalan meluap ke pinggir sungai. Wajah kecewa, para pencuri tidak tertangkap. Seorang menghujat-hujat dengan kata-kata kasar. Sepertinya dia pemilik motor itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Keparat..berengsek..mampus sekalian ditabrak truk.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari percakapan terdengar kalau motor itu belum selesai masa kredit.. aku tak sanggup menyaksikan “kehancuran” yang terjadi di tempat ini. Tempat yang pernah menjadi saksi hidupku yang begitu damai. Pencurian tidak pernah terjadi. Ketika ada lagak orang yang mencurigakan, aku dan teman-teman akan mengamati tingkah laku mereka. Jika orang ini tetap nekat berusaha menjamah barang-barang warga maka secepat kilat kami mengeluarkan suara yang menakutkan maka orang itu akan mengambil langkah seribu. Bahkan terperangkap kedalam got. Kalau sudah begitu. Kami hanya menyaksikan orang itu keluar dari dalam got dengan wajah ketakutan dan lari terbirit-birit. Ah sudahlah.. semua hanya masa lalu. Kupejamkan mataku dan menunduk. Aku yakin tidak ada orang yang memperhatikanku. Tempat ini cukup aman buatku. Walapun aku merasa, kalau sekarang aku hanya seorang pengecut yang sembunyi dibalik ketakutan. Aku ingin membantu orang-orang itu. Menjaga keamanan kampung ini. Tapi aku tak mampu. Orang-orang ini sudah tidak mengenalku lagi. Teman-temanku juga sudah pergi entah kemana. Sekarang seorang diri dengan bulu-bulu yang tidak terawat kuletakan kepalaku diatas kardus yang setengah basah. Aku lelah..walaupun aku yakin aku masih bisa berlari sepuluh kilo meter lagi. Disini aku ingin menghabiskan malamku dengan tempat dimana aku mengabiskan masa-masa bahagiaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;“&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pergilah! Pergilah dengan tenang Atman manisku..Kamu tidak layak lagi tinggal disini.” Suara itu terdengar sayu mendayu merayap dalam kesadaranku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; line-height: 150%;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman,serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;	&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-7744333182109807185?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/7744333182109807185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=7744333182109807185' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/7744333182109807185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/7744333182109807185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/10/negri-utopia.html' title='Negri Utopia'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SOs18tdJJUI/AAAAAAAAACg/WNOgzyiaFec/s72-c/dog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-6469546739105689634</id><published>2008-09-25T02:44:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:48:06.774-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poem'/><title type='text'>WAKTU</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SNtgQfSb5oI/AAAAAAAAACQ/AJ5thNH-GEg/s1600-h/smal.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SNtgQfSb5oI/AAAAAAAAACQ/AJ5thNH-GEg/s320/smal.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5249895627023443586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;WAKTU&lt;br /&gt;  Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….&lt;br /&gt;Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.&lt;br /&gt;Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.&lt;br /&gt;Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.&lt;br /&gt;Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,&lt;br /&gt;Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.&lt;br /&gt;Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?&lt;br /&gt;Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?&lt;br /&gt;Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSAHABATAN&lt;br /&gt;Tiada mutiara sebening cinta.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada sutra sehalus kasih sayang.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada embun sesuci ketulusan hati.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiada hubungan seindah persahabatan.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat bukan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MMATEMATIKA yang dapat dihitung nilainya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EKONOMI yang mengharapkan materi.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPKN yang dituntut oleh undang-undang.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat adalah SEJARAH yang dapat dikenang sepanjang masa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-6469546739105689634?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/6469546739105689634/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=6469546739105689634' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6469546739105689634'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6469546739105689634'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/09/waktu.html' title='WAKTU'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SNtgQfSb5oI/AAAAAAAAACQ/AJ5thNH-GEg/s72-c/smal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-1167273123056059102</id><published>2008-06-18T06:27:00.001-07:00</published><updated>2008-11-17T21:49:09.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>muri record</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFkNeXjhKBI/AAAAAAAAAB4/nDexz9FNORk/s1600-h/DiH+narSis(668).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFkNeXjhKBI/AAAAAAAAAB4/nDexz9FNORk/s320/DiH+narSis(668).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5213212859028285458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-1167273123056059102?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/1167273123056059102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=1167273123056059102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1167273123056059102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/1167273123056059102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/muri-record.html' title='muri record'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFkNeXjhKBI/AAAAAAAAAB4/nDexz9FNORk/s72-c/DiH+narSis(668).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-8153719148203550083</id><published>2008-06-18T06:22:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:44:58.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Dandang</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dandang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Donatus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sangat cerah..sedikit awan putih menempel begitu saja bak selendang putih menutup seadanya tubuh gadis mudah..padahal sebelumnya awan hitam membungkus rapi langit biru. Sayup-sayup terdengar kelakar ibu-ibu dari sebua rumah dekat kali mati pinggir desa.. hari ini suasana Desa Ile Beleng begitu ramai. Tidak biasanya sepi hanya suara anak kecil berlarian main ban. Hari kamis adalah Hari Pasar jadi susananya lebih meriah dari Hari Minggu.. para aparat Desa sibuk rapat di balaii desa..membahas tentang rencana pembangunan desa.. bapak-bapak dan pemuda sibuk menjual hasil kebun, mete, Kemiri, dan kopra.. Banyak truk dan mobil pick-up lalu lalang membeli hasil kebun. kalau hari lain pusat kegiatan di ladang dan kebun masing-masing. Sekarang desa jadi sentral aktifitas.. para ibu membuat perkumpulan tenun ikat dan Hari Kamis adalah saatnya untuk melakukan tenun ikat.. ada sekitar 10 ibu-ibu asik dengan aktifitas mereka.. mengatur benang, membuat pola, melepaskan simpul, mewarnai benang..&lt;br /&gt;“Apa ya nama untuk perkumpulan kita ini?” Seorang ibu muda melontarkan pertanyaan.&lt;br /&gt;“Kita kasih nama PTI.” Ibu yang lain menanggapi..&lt;br /&gt;Yang lain kebingungan dengan singkatan ini.. Memang ibu Susan suka dengan singkatan.&lt;br /&gt;“Aduh..Kalian ini masa tidak tau..Perkumpulan Tenun Ikat.”&lt;br /&gt;“Susan..itu semua orang juga tau kalau perkumpulan kita ini untuk tenun ikat…maksud kita namanya?”&lt;br /&gt;“Oh saya dapat.. Perkumpulan Tenun Ikat MM.” Ibu Susan tak mau kala.&lt;br /&gt;“apa lagi itu?” &lt;br /&gt;“Maju Mundur..he…he.. bagaimana stuju?&lt;br /&gt;“Ha…ha…. Kita setuju kalau semua anggotanya seperti kamu datangnya Cuma dua minggu sekali …dan datangnya terlambat pulangnya awal.. jadi tidak menghasilkan apa..jadinya mundur.” Ibu Oreng meledek&lt;br /&gt;“Ah..kalian itu…(diam) sibuk dengan menggulung benang.&lt;br /&gt;“kita lihat saja nanti sebentar lagi dia pulang dan benangnya pasti tidak habis digulung.” &lt;br /&gt;“Aduh.. ibu-ibu saya ini lagi sibuk mengurus pembuatan rumah jadi mengertilah.” Yang disindir cuek aja.. memang ibu Susan ini orang yang cuek berani, juga nekat.. dua bulan yang lalu suaminya harus menginap semalam di penjara.. gara-gara di lapor polisi. Tuduhan Suaminya main judi.. dan tidak menafkai dia dan anak-anak.. maklum Ibu Susan ini pernah hidup di kota jadi jiwa emansipasinya begitu berkobar.. tidak peduli suami kek..siapa kek.. Sang suami termasuk anggota ISTI jadi ikut saja. Diintograsi sama polisi kayak tukang curi ayam saja.. dia tidak pernah hormat sama suami.. kalau suaminya lama bertandan ke rumah warga lain. Dia langsung teriak-teriak bikin geger seluruh warga dusun. &lt;br /&gt;“Oh.. saya ada ide kita kasih nama… PIIS.” Sepertinya Ibu Susan belum putus asa juga. Dia selalu kasi singkatan. Rupanya waktu sekolah di SD di dapat nilai seratus untuk pelajaran membuat singkatan.&lt;br /&gt;“Apa lagi Susan.. yang serius.” Ibu ketua buka mulut.&lt;br /&gt;“Ini juga serius Bu Ketu.. kepanjangannya.. Perkumpulan Ibu-ibu Subur.”&lt;br /&gt;“ha….hua…..ha….” semua serempak terbahak-bahak. Suara menggemah keluar dari dinding-diinding keneka.&lt;br /&gt;“Susan..Susan kamu tidak sadar.. ha…ha..ha....kamu itu kategori Ibu tidak subur..berarti kamu tidak perlu ikut perkumpulan ini.”&lt;br /&gt;“Siapa bilang..Lihat masih muda begini di bilang tidak subur..” Ibu Susan berdiri dan melekak lekuk tubuhnya yang gembrot..&lt;br /&gt;“Buktinya anak mu cuma satu saja…”&lt;br /&gt;“itu karena suami saya itu yang tidak mau diajak begituan…”&lt;br /&gt;“Habis kamu terlalu beringas jadi dia takut.”&lt;br /&gt;Ha…..ha….ha,….ha….&lt;br /&gt;Tiba-tiba….&lt;br /&gt; “Ema…ema… dandang..ada orang jual dandang…” bocah kecil berumur tiga tahun itu lari ketakuan masuk rumah. Raut mukanya seperti dekejar anjing pemburuh.&lt;br /&gt; “Mana...?” Si ibu penasaran.&lt;br /&gt; “Itu tadi.. dijalan besar dekat rumah kita.” &lt;br /&gt;Suasana menjadi hening sesaat. Sepertinya semua telinga lebih tertarik dengan cerita bocah ini.&lt;br /&gt; “Boy.. disana ada anak-anak lain tidak?” Ibu ketua merasa perlu bertanya.&lt;br /&gt; Boy menghela nafas.. “Tadi ada banyak tapi sekarang sudah lari semua. Takut ditangkap sama penjual dandang.”&lt;br /&gt;Semua kelisa. &lt;br /&gt;“Anakku mana ya?..kamu lihat Anton tidak boy?.. &lt;br /&gt;“Argo kemana..?” &lt;br /&gt;“Aduh bagaimana ini?”&lt;br /&gt; Susana jadi resah.. kata-kata “Penjual dandang” punya makna yang lebih.. menyangkut ada dan tidaknya anak-anak mereka.&lt;br /&gt;“Sudah.. ibu-ibu jangan pada gelisah begitu.. kita harus tenang tidak akan terjadi apa!” Ibu ketua menenangkan anggotanya. Waibawanya sebagai istri mantan Kepala Desa cukup punya pengaruh.&lt;br /&gt;“Apa lagi sekarang ini di desa banyak warga.. orang itu kalau mau culik anak-anak kita tetap harus berfikir dua kali.”&lt;br /&gt;“Kemarin ada kabar kalau di Maumere ada dua orang penjual dandang yang ditangkap warga. Didalamnya ada kepala anak kecil. Dan kedua orang itu dipukul sama warga hampir mati.”  Ibu Oreng angkat bicara.&lt;br /&gt;“Dengar-dengar itu hanya kabar angin… kemarin Ligi ke Maumere katanya tidak ada apa-apa mereka sampai bertanya sama orang-orang dipinggir jalan.” &lt;br /&gt;“Mungkin saja mereka menutup-nutupi..kita juga tidak tahu.”&lt;br /&gt;“Ya..sudalah ibu-ibu.. yang penting sekarang kita harus hati-hati dengan anak-anak kita.”&lt;br /&gt;Entah darimana awal mula isu ini. Menurut kabar yang beredar Lubang Lumpur Lapindo membutuhkan tumbal kepala anak kecil sebanyak empat ribu kepala.  Ada juga yang bilang enam ribu kepala tidak pasti.. yang jelas akhir-akhir ini warga dibuat kalang kabut, resah dan tidak bebas meninggalkan anak-anak mereka. Isu itu merayap kemana-mana bahkan kaum terpelajar tokoh masyarakatpun ikut-ikut percaya begitu saja.&lt;br /&gt;Setalah selesai rapat Desa para bapak-bapak mulai melemaskan pikiran mereka dengan mengangkat isu ini.&lt;br /&gt; “Kenapa mereka cari anak-anak dari Flores bukankah di Jawa banyak anak gelandangan. Diculik sajakan bisa?”  penasaran dengan kejanggalan penculikan anak-anak Pak Raga berkomentar.&lt;br /&gt; “ Iya.. biar mujarap harus anak-anak dari luar Pulau Jawa. Sebenarnya tidak hanya di Flores aksi cari kepala ini… di Kalimantan juga..kalau di Jawa tidak mujarap.” Tuan tanah yang sehari-hari sibuk dengan ritual adat. Tugasnya memotong kepala bintang rupanya dia tahu apa khasiat kepala manusia.. Lumpur yang meleleh bisa berhenti dengan membuang kepala manusia kedalam lubang utama..bisa diterima hal ini.&lt;br /&gt; “Sesuatu yang tidak masuk akal..sekarang zaman sudah maju teknologii berkembang tapi masaa.. masih ada kepercayaan seperti itu. Kalau menurut saya kalau ada anak-anak yang hilang itu bukan buat tumbal tapi di jual untuk dijadikan pekerja anak.. bagaimana menurutmu Opu?”&lt;br /&gt; “Selama saya berada di Jawa tidak ada sama sekali isu seperti itu..dan pas kebetulan saya lewat didekat lubang itu juga saya tidak melihat ada orang yang membuang kepala manusia.. benar saya sependapat dengan OPu Adrian..” komentar Niko yang masih tercatat sebagi salah satu mahasiswa S1 di Surabaya.&lt;br /&gt;Adrian memang orang yang berwawasan luas walaupun tinggal di Desa terpencil tapii dia suka dengar radio dan sekali-kali nonton TV di rumah Bapak Kepala Sekolah. Dia terkenal kritis dan oranng yang sangat logis. Di usianya yang hampir lima puluh tahun dia belum menikah.. sementara banyak anak-anak baru lulus SD atau SMP tidak tamat hamil atau menghamili anak orang terpaksa harus berumah tangga. Memang kalau di Desa hiburannya cuma hal..hal gituan (sex) &lt;br /&gt; “Tidak mungkin mereka mau mengumumkan… itu rahasia supaya mereka bisa dapat korban.” Bapak tuan tanah masih mempertahankan argumennya.. dia melanjutkan.&lt;br /&gt; “ Kemarin ada keponakan saya telpon dari Malang katanya suruh jaga anak kecil.. ditempat mereka sudah banyak anak yang hilang”&lt;br /&gt; “Itu buat tumbal juga pak?”&lt;br /&gt; “Iya…”&lt;br /&gt; “Bukannya harus dicari dari luar Pulau Jawa? Malang itukan masih di Jawa Timur.” Niko menanggapi. Sesuatu yang irasional hari begini..masih cari kepala anak kecil buat tumbal.. solusi macam apa ini? Ini bukan berita yang tepat .pasti ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang menyebar isu ini. Sengaja membuat kekacaun di desa ini dan sekitarnya.&lt;br /&gt; “Pokoknya kita harus menjaga anak-anak kita..bapak desa mungkin bisa memberikan pengumuman agar bisa berhati-hati.” Bapak Desa hanya mengangguk-ngangguk saja. Dia tidak mungkin bersikap serampangan, tapi juga tidak diam. Masalah ini sepertinya sudah jadi ritual tahunan. Isu “perampok” demikian masyarakat menyebutnya.&lt;br /&gt;Niko tidak banyak bicara..tidak bisa memberikan pengertian kepada orang-orang desa. Mereka sudah diprofokasi dengan isu-isu yang tak ada juntrungannya. Sampai-sampai di desa tetangga setiap malam para laki-laki dengan senjata tombak, busur, dan panah, meronda. &lt;br /&gt;“Menurut Opu bagaimana?”&lt;br /&gt;“Kalau saya itu ada muatan banyak kepentingan bisa saja sekarang lagi menjelang PILKADA kesempatan pihak-pihak tertentu untuk mengacaukan… ISu seperti ini bukan baru..setiap tahun ada..walaupun berbeda. Kalau biasanya perampok yang katanya sembunyi-sembunyi di tepi desa.. sekarang lebih modern katanya bawa pick-up terus kalau lihat anak kecil dikasih permen, kemudian di bius.. nah sekarang beda lagi dengan sarana “Menjual Dandang.” Kita lihat saja kapan rumor ini berakhir.&lt;br /&gt;Banyak cerita mulai beredar.. dengan berbagai versi tentu saja isu nya tentang penculikan anak kecil, penemuan mayat tanpa kepala..yang semuanya diterima begitu saja oleh warga desa ini dan sekitarnya.. minimnya akses informasi.. seperti TV dan Koran didukung pendidikan yang kurang gampang sekali membuat suasana jadi tidak tenteram. Dan saat sore  menjelang…&lt;br /&gt;“Dandang…dandang……dandang….” Seorang laki-laki setengah baya memikul barang dagangannya. Berharap ada yang bisa membeli dandang. Tak ada yang mendekat. Anak-anak kecil yang sedang main di halaman rumah semuanya lari tanpa dikomando masuk rumah dan menutup pintu. Para bapak-bapak hanya melihat dari jauh.&lt;br /&gt;“Dandang bu..dandang bu…” tidak ada yang mengubris. Kenapa semuaya terasa aneh. Sudah dua desa ini aku jajakan barang daganganku tapi sikap warga seperti ini. Ada yang aneh.. dan tidak beres ini.. dengan wajah tenang dia berusaha menyapa ibu-ibu yang ditemui. Semua menatap dengan was-was.. senyum terpaksa tergambar kaku di wajah-wajah ini… ini pasti ulah anak buahnya Warto ini. Biar dandang saya dan teman-teman tidak laku. Mereka pasti menyebarkan isu yang tidak-tidak ini. Aku harus menghadap bos ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-8153719148203550083?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/8153719148203550083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=8153719148203550083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/8153719148203550083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/8153719148203550083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/dandang.html' title='Dandang'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-5016376423214371422</id><published>2008-06-14T01:59:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:44:58.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFOMb2l0ArI/AAAAAAAAABw/eKvAVJXuCFQ/s1600-h/Clara_at_10_Months_by_sgchipman.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFOMb2l0ArI/AAAAAAAAABw/eKvAVJXuCFQ/s320/Clara_at_10_Months_by_sgchipman.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211663603936264882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“CLARA” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Donatus&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt; Sejak kejadian itu aku pindah ketempat ini. pohon flamboyan yang mungil namun tertata rindang memayungi hari-hariku. Sudah lama sekali keluarga, teman-teman tidak mengunjungiku termasuk Karin gadis yang sangat kucintai. Aku bingung setiap kali mereka datang, mereka tidak pernah mau masuk hanya berdiri didepan sana sambil menunduk. Aku bahkan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hari-hariku bersama kesendirian. menyaksikan taburan bintang yang menghias cakrawala nan megah. Bintang-bintang itu begitu anggun dan mempesona. Malam-malam seperti ini sering aku habiskan berdua bersama Karin. Saat-saat akhir kepergianku ketempatku yang baru.&lt;br /&gt; “Mas milih yang mana dari bintang-bintang itu?” Karin memandangku dengan lembut sambil mengarahkan telunjuknya…&lt;br /&gt; “Aku ingin semua bintang-bintang itu menghiasi malam kita sayangku” dengan saksama kutatap dalam-dalam bintang yang ada dicakrawala.&lt;br /&gt; “Kalau aku hanya ingin bintang yang disudut sana yang paling terang untuk hadir menerangi cinta kita.”&lt;br /&gt; Aku sangat mencintaimu Karin. Aku tidak ingin pergi, aku ingin sekali menghiasi hari-hari kita dengan cahaya lembut dari bintang-bintang itu. Aku tidak tahu kenapa aku sangat posesif dan melankolis malam ini. Tidak sepertinya aku memiliki perasaan yang seperti ini. ada ketakutan kegelisaan tiba-tiba hadir bagi selimut menutupi seluruh tubuhku dan itu sangat gerah.&lt;br /&gt; “Sayang…emm” aku tak mampu melanjutkan.&lt;br /&gt; “Kenapa Mas? Kok mas kelihatan sedih ada apa? Masalah kerjaan? Rumah? Atau Om Alex lagi?” Karin selalu mengeluarkan pertanyaan yang bertubi-tubi ketika ada suatu hal yang dianggab telah terjadi padaku.&lt;br /&gt; “Ayo mas, kalau Karin bisa bantu akan Karin bantu.. Mas ngomong aja.!”&lt;br /&gt; “Ternyata ada sesuatu hal yang tidak bisa kita pahami walaupun itu diri kita sendiri”&lt;br /&gt; “Mas….,Karin serius..Jangan berfilsafat.” Raut wajahnya berubah dari romantis menjadi penuh penasaran. Tapi hal itu yang selalu membuatku semakin cinta dengan Karin. Dia perhatian peduli dengan keluarga. Kalau di rumah mama selalu memujinya.&lt;br /&gt; “Kamu beruntung Arya mendapatkan kekasih seperti Karin, cantik baik hati, supel, ramah lagi. Zaman sekarang susah untuk mendapatkan gadis seperti itu.”&lt;br /&gt; “Ah..mama biasa aja. Mama aja yang terlalu berlebihan.”&lt;br /&gt; “Banyak dari teman-teman mama yang selalu bermasalah dengan menantu mereka. Setiap saat selalu bertengkar. Nggak pernah akur. Lihat menantunya tante Melani. Ada saja maunya.&lt;br /&gt; “Mama..kan Karin bukan menantu mama..”&lt;br /&gt; “Justru mama ingin punya mantu seperti Karin. Mama ingin sekali kamu dapat menikahi Karin.”&lt;br /&gt; “Mama mulai lagi..sudalah Arya mau kekamar.”&lt;br /&gt; “Dasar…anak sekarang kalau diajak ngomong serius gak pernah didengar.”&lt;br /&gt; Mama selalu ingin aku cepat bertunangan dengan Karin. Setiap kali Karin datang mama selalu saja ngomong panjang lebar kadang diteras bahkan sampai kekamar mama. Nggak tahu apa saja yang dibicarakan. Ya..perempuan memang sukanya ngegosib. Kedekatan seperti ini mungkin membuat mama menaruh hati pada Karin yang dianggabnya gadis yang pantas hadir dalam keluarga kami.&lt;br /&gt; “Mas….Mas…” Aku tersentak kaget. “Ditanya kok ngalamun..emang kenapa? Tante nyuruh kamu cepatan nikah?”&lt;br /&gt; “Nggak sayang…aku hanya merasa aneh saja dengan diriku sendiri. Ada semacam keterasingan yang muncul dalam diriku, ketakutan, gelisa, dan hasrat ingin sekali terus bersamamu”&lt;br /&gt; “Ya udah mas.. mungkin itu perasaan cinta mas terhadap Karin yang besar. Makasih ya mas..” dengan lembut Karin mencium pipiku. Dingin hanyut mengalir diseluruh tubuhku. Ada yang aneh..tidak biasanya seperti ini. disaat Karin mencium pipiku aku merasa ada rasa hangat yang mengalir dan membuatku menemukan semangat yang tak kubayangkan. Tapi kali ini dingin..ya sangat dingin…&lt;br /&gt; Jalan Setia Budi tidak begitu ramai, kususuri jalan itu perlahan-lahan. Hujan rintik-rintik, kabut tebal menyelimuti jalan satu arah ini. Dan..seperti suara gemuruh dari depan aku tak sanggub menginjak pedal rem dan..selanjutnya aku merasa sangat dingin..dingin yang menusuk tulang ditambah gelap memekat yang tidak pernah kulihat seumur hidupku. Setelah itu aku tidak tahu tiba-tiba aku sudah berada ditempat yang baru ini. Awalnya aku bingung berada disini tetapi lama kelamaan aku terbiasa melihat bintang-bintang di angkasa tanpa suara bising yang sering aku dengar disekitar kantorku, walaupun tak ada Karin disisiku. Namun rasa keterasingan dan kesendirianku mulai membumbung saat kusaksikan orang-orang yang kusayangi tidak mau mendengarkanku, bahkan untuk masuk ketempatkupun mereka tidak mau.&lt;br /&gt; Mama sering datang sambil meneteskan airmata dia komat-kamit. Aku nggak ngerti apa yang dilakukan mama… berdiri didepan sana…lama sekali. Semakin hari, ketakutan semakin mencengkram jemarinya disetiap sudut tubuhku..bintang-bintang yang menjadi hiburanku semakin meredup dan perlahan-lahan tenggelam. Kegelaban muncul merajai setiap ruang waktuku.&lt;br /&gt;“Karin aku merasa takut sekali..Sayang aku tidak betah tinggal disini..aku..aku..bahkan bintang-bintangpun mulai pergi meninggalkanku..”&lt;br /&gt;      ****&lt;br /&gt; “Eh..Karin, Ayo silakan masuk Nak ada apa kok pagi-pagi begini udah datang.”&lt;br /&gt; “Ada yang mau aku sampaikan pada Tante…” Karin menarik nafas sesaat.&lt;br /&gt; “Iya ada apa?”&lt;br /&gt; “Gini tante, Semalam Karin mimpi ketemu Mas Arya..dia….Dia sangat menderita dia enggak tenang tante kita harus melaukan sesuatu.”&lt;br /&gt; “Maksudnya?”&lt;br /&gt; “Karin lihat Mas Arya berada ditempat yang sangat gelap, wajahnya sangat kusut tidak terurus dan seperti orang yang kesakitan, dia terus memanggil nama Karin, Tapi Karin enggak bisa apa-apa, tiba-tiba suaranya menghilang…Dia butuh bantuan kita Tante..”&lt;br /&gt; “Berarti Arya enggak bahagia disana”&lt;br /&gt; “Iya tante kita perlu melakukan kebajikan atas nama Mas Arya biar dia tenang, karena hanya itu yang bisa kita perbuat. Selama ini kita belum melakukan hal yang khusus untuk Mas Arya. Doa-doa saja tidak cukup…Kita harus melakukan dana untuk Sanggha dan juga orang-orang yang membutuhan lainnya, atas nama Mas Arya. “&lt;br /&gt; “Kalau gitu nanti tante bicarakan sama om.”&lt;br /&gt;      ***&lt;br /&gt; Tiba-tiba ada sosok dua orang muncul dihalaman depan. Perlahan-lahan mereka mendekat. Aku kenal dengan jelas dia Karin gadis yang kucintai. Ada yang berubah, senyum indahnya tidak pernah mekar dibibirnya yang mungil. Dia terlihat murung... kemana perginya kecerianmu sayang. Tetapi siapa laki-laki yang disampingnya..Aku tidak kenal dia. Setahuku Karin tidak punya kakak laki-laki ataupun sepupunya laki-laki. Laki-laki ini terlihat tenang, kemudian dia menggandeng tangan Karin..siapa kamu?&lt;br /&gt; “Mas Arya...Mas adalah pria yang paling Karin cintai..mas adalah bintang yang setiap saat menerangi kegelapan hati Karin..tetapi kenyataan selalu berbeda…”&lt;br /&gt;Apanya yang beda aku disini sayang. Aku bahkan setia menunggumu. Kamu tidak pernah mau masuk, aku selalu memanggil namamu.. Tapi kamu selalu berhenti dan berdiri disitu.Tidak biasanya, aku kini mampu mendengar apa yang dibicarakan orang-orang yang ada diluar sana.&lt;br /&gt; “Kenalkan mas ini Mas Bagus Pernama…Dia yang selama ini menjaga Karin sejak kepergian Mas Arya..Dia orang yang sangat baik…perhatian dan selalu menemani hari-hari Karin..walaupun tidak sepenuhnya sama..tapi saya akan belajar untuk mencintai Mas Bagus..&lt;br /&gt;Apa mencintai…kamu tidak salah ucap, Karin..bagai disambar gledek aku kaget..jadi laki-laki itu yang kini hadir di hati Karin..jadi semuda itu dia melupakan aku..kamu mengingkari janji kita sayang..kamu tegah sekali. Aku bahkan selalu berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah kita rajut bersama. Dan..kini mimpi itu hanya menjadi fatamorgana..pedih rasanya seperti ditusuk seribu belati menancap jauh dan semakin jauh kedalam hati..&lt;br /&gt; “Mas Arya….”Butiran air mata menetes dari pelupuk mata indah yang selalu kutatap ketika aku masih bersama-sama dengan dia..&lt;br /&gt; “Maafkan Karin..hidup ini adalah pilihan dan inilah saatnya Karin harus memilih..Sekali lagi maafkan Karin mas.” Sambil menangis Karin duduk dan memegang potongan lempengan tembok yang ada disana.&lt;br /&gt; Aku disini Karin sayang..kenapa kamu tidak mau melihat aku. Aku sangat rindu sekali..aku ingin kita bisa pergi bersama lagi kepantai menyaksikan laut atau ke Kafe Star untuk merasakan sejuknya udara malam.. Dan apa? kamu minta maaf..tidak semudah itu melerai kembali untain kasih yang telah kita rajut. Dan itu sudah menjadi benang yang mengikat kita..aku merasa semakin perih.perih sekali. Aku berusaha mendekati mereka tetapi langkah kaki ini tidak pernah mau bergerak maju. Semua tenaga telah kukerakan tetapi sia-sia. Seluruh badanku seperti terikat oleh kawat besi yang tak sanggub kulepaskan.&lt;br /&gt; “Sudah Karin hari mulai sore kita pulang.” Bagus merangkul pundak Karin dengan lembut.&lt;br /&gt; “Mas Arya Karin pergi dulu semoga Mas Bahagia.”&lt;br /&gt;Kutatap langit..tak ada bintang yang bersinar kabut hitam menebar disudut-sudut langit, semakin pekat..rona alam tak ada yang bersahabat..lolongan serigala membuat ketakutan bercampur pedih. Bagai pisau belatih yang dilumuri cuka merembes menebus daging dan tulang….kenapa aku seperti ini? angin bertiup perlahan-lahan dan kencang.&lt;br /&gt; Sesaat kemudian ada senandung indah memecah kengerian. Suara itu dari jauh perlahan-lahan. Bunyi kecapi, seruling mada pujian dan lantunan syair-syair cinta dan kedamaian bagai tenaga super power. Perlahan-lahan menyapu langit yang pekat. Warna biru mulai kelihatan, walupun belum ada bintang. Suara musik itu semakin dekat, nyaring tapi tidak bising. Merdu mendamaikan sukma. Terangpun mulai muncul. Ada kunang-kunang terbang mengitari tempatku dengan gerakan lembut seolah mengajakku berdansa. Aku kenal lagu itu..ya..aku ingat lagu yang selalu dinyanyikan di vihara “Chan of Metta” seruan untuk kebahagiaan dan kedamaian semua makluk. Ingatanku muncul bagai film layar lebar terpampang jelas. Saat aku melakukan berbagai aktifitas divihara bersama teman-teman remaja. Melakukan baksos didaerah-daerah yang terpencil. Dan saat-saat itu juga aku bertemu dengan gadis yang luar biasa Karin. Meditasi bersama, sampai saat-saat yang terkecil ketika aku memberikan uang cepek untuk pengemis dijalan dan menatap wajah mereka yang sangat bahagia. Ketakutan seperti teruarai dan meleleh mengalir memasuki selah-selah tanah yang basah. Rasa riang menempati selah-selah hatiku. Ada semacam aliran energi dari lantuan lagu Metta. Aku bagai malaikat melayang dan bermain dengan kunang-kunang. Bercanda dengan angin malam. Sementara bintang dilangit bermunculan dan seolah-olah tersenyum dengan kebahagian yang kurasakan.&lt;br /&gt; Dari kejauhan ada rombongan yang sedang berjalan menuju kearahku.. sepertinya kali ini semua keluarga hadir. Ada mama, papa, Rayan, Maya, Karin, dan Bagus serta beberapa lagi yang tidak aku kenal..mereka beriringan semakin dekat, mereka pasti mau menjengukku dan aku berharap kali ini mereka masuk..dan aku ingin sekali Karin bicara jujur tentang hubungan kami. Lagi-lagi mereka tidak mau masuk..dan aku memutuskan untuk mendekati mereka. Dan perjuangan yang luar biasa aku berjalan menuju ketempat mereka berkumpul…suara mereka terdengar membacakan syair yang aku kenal..Ya itu parita yang dilantunkan bagi orang yang meninggal…tapi kenapa tidak dipemakaman kakek saja? Ah..aku mau lihat. Mereka mengelilingi sebua onggokan fondasi dengan taburan bunga yang berwarna-warni ada sebua nisan terpampang disana dan aku bisa melihat dengan jelas tulisan itu..sangat jelas, “ARYADEVA” Sabbe Sankara Anica.” Bukankah itu namaku? Berarti aku…. Tiba-tiba hujan gerimis, bersama suara gemuru dan perlahan-lahan kabut membentang dari arah timur muncul sebua sinar..apa ini sinar matahari..tidak dia terang sekali tapi tidak menyengat dikulit sejuk terasa bagai cahaya rembulan..muncul..perlahan-lahan semakin dekat..dekat sekali aku tidak melihat sesuatupun disekelilingku. Cahaya itu memantul bersinar sehingga tubuhku pun terlihat menguning…lantunan syair terdengar merdu dan sayup-sayup mendamaikan. Ada sebua cerobong terbentuk diatasku.. dan seperti kekuatan mahadasyat mengangkat seluruh tubuhku masuk keterowongan tersebut, bagai lorong waktu aku masuk dan menembus dengan cepat. Selanjutnya aku tidak ingat apa-apa…&lt;br /&gt;      ****&lt;br /&gt; Kehamilan Karin telah berjalan sembilan bulan. Sebelum melahirkan Karin ingin sekali berkunjung kerumah orang tua Arya.&lt;br /&gt; “Tante sepertinya Mas Arya sudah damai. Aku merasakan itu..setiap hari aku lebih tenang sejak sembilan bulan ini. dan dia juga tidak hadir lagi di mimpiku.”&lt;br /&gt; “Syukurlah Nak..tapi tante akan terus melakukan Fang-Sen (pelepasan Binatang) dan akan berdana kepada orang-orang yang membutuhkan. Dan terus mengharapkan kebahagiaan Arya…O ya.. Kapan nih waktu melahirkan?”&lt;br /&gt; “Dokter mengatakan minggu depan” sepertinya bayinya perempuan… Aneh selama ini Karin selalu ngidam makanan kesukaan mas Arya.”&lt;br /&gt;      ****&lt;br /&gt; “Selamat pak Bagus bayi anda lahir dengan selamat dan sehat”&lt;br /&gt; “Trimakasih dok. Bisa saya jenguk sekarang?”&lt;br /&gt; “Oh silahkan Pak”&lt;br /&gt; “Mas Bayi kita perempuan” Karin teringat dengan nama yang indah yang pernah diucapkan oleh Arya.&lt;br /&gt; “Sayang nanti kalau kita sudah menikah dan punya anak saya mau kasih nama Clara?”&lt;br /&gt; “Kalau laki-laki gimana?”&lt;br /&gt; “Saya yakin bayi pertama yang lahir dari rahimmu adalah perempuan dan namanya adalah Clara.. ya..Clara artinya cahaya atau sinar. Dia yang terus hadir dan menerangi hidup kita. Dia yang akan menjadi sumber inspirasi kita. Dia yang akan menerangi hari-hari kita.&lt;br /&gt; “Sayang ternyata kamu benar anak kita cewek. Siapa nama yang pantas.” Bagus membelai istrinya. Sementara Karin tetap diam dan memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;Karin membuka mata lebar-lebar menatap bayi mungil tersebut dengan senyum kepuasan merekah dibibirnya, “Namanya, “CLARA”&lt;br /&gt;     ****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-5016376423214371422?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/5016376423214371422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=5016376423214371422' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5016376423214371422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5016376423214371422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/clara-oleh-donatus-sejak-kejadian-itu.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFOMb2l0ArI/AAAAAAAAABw/eKvAVJXuCFQ/s72-c/Clara_at_10_Months_by_sgchipman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-6733542207867179293</id><published>2008-06-14T01:53:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:44:58.367-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>cerpen</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFOIH7s4YpI/AAAAAAAAABo/uDOXf1WX6qQ/s1600-h/budaya6.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFOIH7s4YpI/AAAAAAAAABo/uDOXf1WX6qQ/s320/budaya6.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5211658863664194194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Donatus&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Malam itu cahaya lampu sangat terang. Sebua rumah dengan dinding setengah tembok. Dinding selanjutnya dari papan. Bentuk bagunan rumah ini tidak berbeda dengan rumah warga lain. Dan pada sebua rapat desa rumah inii dikategorikan sebagai keluarga menegah.. walaupun banyak warga yang bingung kok hanya rumah nya Bapak Desa dikategorikan sebagai keluarga menengah? Sudalah.. mungkin sang pemilik rumah mau memberikan semangat pada warganya bahwa jangan mau kita dibilang miskin.. sebenarnya yang berbeda adalah malam itu..tidak biasanya rumah ini diterangi lampu gas..biasanya juga pakai lampu minyak tanah kalau Orang Jawa bilang lampu teplok.. padahal mesin listrik untuk desa sudah dibeli..dengar-dengar katanya mesin itu belum lunas masih hutang puluhan juta.. Berbagai sumbangan dana untuk pembangunan desa ini harus dialokasikan untuk melunasi hutang mesin desa.. Bapak Desa yang baru dilantik ini tambah pusing. Tapi untunglah dia belum punya istri. Jadi pusingnya hanya buat program-program pembangunan desa. Ya..salah satunya bagaimana caranya untuk melunasi mesin listrik desa..&lt;br /&gt;Malam semakin larut.. rumah ini sudah dipenuhi para bapak-bapak. Duduk mengelilingi meja.. bercengkerama tentang aktifitas siang tadi.. sesekali meneguk moke dan mengisap rokok berekor kuning.. menurut warga di desa Ile Beleng. Ini rokok yang paling nikmat dari yang berekor putih.. sebua kenikmatan tersendiri kalau menikmati rokok ini.. sementara para ibu-ibu dan gadis-gadis sibuk di dapur menyiapkan makan malam.. para bine anak mengurus daging.. sudah menjadi tradisi kalau ada acara seperti ini pihak yang disebut-sebut sebagai bine anak akan sibuk sekali. Ini saatnya mereka harus melayani keluarga laki-laki dari istri mereka. Mulai dari potong daging babi, kambing, ayam sampai potong ikan sekalipun dilakukan.&lt;br /&gt;Malam ini merupakan saat yang menentukan bagi sepasang kekasih. Sejoli yang diam-diam berkomitmen untuk membangun rumah tangga berencana untuk mendapat restu dari orangtua. Selanjutnya memasuki Gereja untuk mohon berkat dari Tuhan. Sudah jadi tradisi bagi warga Ile Beleng. Proses pernikahan harus melewati suatu fase yaitu “Bicara Adat” saat dimana keluarga pria dan wanita bertemu untuk membicarakan soal belis. Tentu saja kalau bicara tentang belis berarti ada hubunganya dengan gading gajah. Dan malam itu….&lt;br /&gt; “Malam bae1..”&lt;br /&gt; “Malam bae.. kita tunggu saja satu orang lagi.” Kalau froum seperti ini ada seseorang yang menjabat sebagai moderator sekaligus pemandu acara.. dia diutus untuk mengatur kapan dimulai dan kapan harus berakhir.&lt;br /&gt;Suasana semakin memanas.. minuman moke yang diteguk dari tadi sudah mulai beraksi.. meremat urat saraf.. biasanya kalau bicara pelan-pelan.. sekarang volume suara perlahan-lahan mulai meninggi.. semua ingin bicara.. memang luar biasa kerja sang moke. Dia bisa buat Susana jadi riuh dan memanas.. mungkin khasiatnya ini orang-orang di Desa Ile Beleng dan sekitarnya jadi suka minuman satu ini.&lt;br /&gt;Botol kosong mulai dipinggirkan, dan botol isi keluar dari kamar.. sepertinya minuman ini sumbernya ada didalam kamar. Daging yang sudah matang disajikan. Tentu saja ini bukan lauk untuk makan tapi untuk teman sang moke..&lt;br /&gt;Dua orang di pojok meja saling berbisik..kelihatannya oborolan mereka jauh lebih penting dan menentukan jalannya acara ini.. sementara yang lain terus saja bercengkerama tentang hasil kebun, ladang, juga tidak ketinggalan membahas tentang pengumuman sang humas desa tentang pencurian daun singkong dan papaya di kebun Bapak guru sekolah.&lt;br /&gt; “Ah… itu paling diambil sama anak-anak sekolah itu…buat makanan babii sumbangan pendidikan.” Bapak setangah baya yang terkenal dengan leluconya, dia dipanggil Bapak Dere menanggapi, saat ada yang menyinggung soal pengumuman sang humas sore kemarin.&lt;br /&gt; “Memang anak-anak itu pintar.. babi itukan di taruh di rumah si Bapak Guru jadi mereka pikir.. buat apa susah-susah cari tempat lain di kebunnya Pak Guru banyak sayuran.”  Sahut Bapak Ado, lelaki yang berambut uban yang selalu terlihat ceria.&lt;br /&gt; “Ha..ha…ha..iya…benar juga.”&lt;br /&gt; “ Eh…Nong Laga.. tadi sore saya ambil daun singkong di Ladang mu..karena sudah terlalu sore saya terpaksa ambil, takut pulang kemalaman.” Rupanya Ibu Maria di belakang mendengar obrolan bapak-bapak ini.&lt;br /&gt; “Oh.. begitu.. dengar tidak pengumuman tadi siang.. kalau yang curi daun papaya atau singkong disuruh lari keliling gereja sambil bawa barang-barang yang sudah dicuri.” Yang punya ladang menyahut dari samping rumah.&lt;br /&gt; “Ha..ha..ha… berarti besok kita lihat Ona Maria lari keliling Gereja dengan bawa daun singkong. Sahut Bapak Ado.&lt;br /&gt; “E…bukan cuma saya yang lari keliling gereja tapi kita semua.. soalnya daun singkongnya dimasak buat makan nanti.” Ibu Maria tidak terima.&lt;br /&gt; “Ya.. sudah lah.. besok Ibu Maria yang lari dulu kita ikut dari belakang sambill bawa piring.” Bapak Dere menyelah.&lt;br /&gt; “Bagaimana bisa bawa piring bukannya daun singkong?”&lt;br /&gt; “Karena daun singkong sudah jadi sayur… makanya sekarang jangan dimakan dulu disimpan masing-masing bawa satu piring isinya daun singkong.”&lt;br /&gt; “Ha..ha…ha….ha…” suasana semakin riuh.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Susana nampak tenang. Semua mata yang duduk diruangan mengarah sosok kurus tinggi muncul dari pintu depan.. rupanya dia tadi diberikan tugas oleh bapak tua yang duduk dipojok meja.&lt;br /&gt; “Bagaimana nong2?”&lt;br /&gt; “Sekitar lima belas menit lagi mereka kesini.”&lt;br /&gt;Sang moderator mulai siap-siap. Mungkin dia sedang berusaha menyusun kata-kata. Bagaimana harus memulai. Tetapi.. ada yang lebih gelisa.. seorang ibu muda duduk di kamar, tak ada sepata kata pun keluar dari mulutnya.. wajah ceria berubah menjadii guratan kebimbangan, kegelisahan, kesedihan. Dia tau keluarga laki-laki yang datang nanti tidak memiliki gading. Dalam hati tidak banyak yang dia inginkan. Dia ingin anak gadis pertamannya ini bisa dipermandikan, mendapat berkat dari Tuhan selayaknya anak-anak lainnya. Untuk sampai tahap itu proses adat seperti ini harus di lewati. Dan untuk fase ini keputusan ada di tangan saudara laki-lakinya. Dia tahu betul saudara laki-laki satu-satunya. Sebelum dan sekarang sudah jadi Kepala desa. Kalau dia bilang tidak..ya.. selanjutnya tidak. Tak ada ruang untuk kompromi. Kenapa untuk bisa “masuk Gereja” keputusan adat yang menentukan? Hubungannya dengan laki-laki yang telah melahirkan putri yang lucu berumur 3 tahun ini tidak direstui oleh kedua keluarga besar Sogemaking dari dirinya dan Lewohayong dari bapak anaknya. Karena cinta dan komitmen yang sama membuat mereka siap menghadapi rintangan apapun. Kedua keluarga besar toh pada akhirnya bisa menerima karena anak gadis sudah hamil mau tidak mau harus di iyakan. Namun proses adat tidak berhenti disini. Secara kekeluargaan bisa di terima belum untuk adat, agama, dan hukum. Dan pintu gerbang untuk restu gereja dan hukum adalah adat, jelas itu tidak ada kompromi. Semua harus diterima karena ini sudah diatur secara turun temurun.&lt;br /&gt; “Itu rombongan mereka sudah datang”&lt;br /&gt; “Kita siapkan tempat.” Suasana kelakar berubah menjadi tenang. Semua orang yang duduk berdiri, saling geser. Menyambut tamu dari pihak laki-laki.&lt;br /&gt;Lampu gas terlihat dari jauh. Iring-iringan orang-orang terlihat rapi. Semakin dekat..semakin dekat. Dan sekarang tanpa diperintah ala militer semua berdiri rapii didepan pintu. Susana hening sejenak… Tak ada suara dari luar maupun dari dalam rumah. Sedikit bisik-bisik mengambang di udara. Seseorang maju beberapa langkah. Sepertinya dia pimpinan rombongan atau mungkin juru bicara rombongan ini. Persis dii depan pintu dia berhenti.&lt;br /&gt; “Malam bae..” tak ada sahutan&lt;br /&gt; “Malam bae..”  sekali lagi tetap..tak ada sahutan&lt;br /&gt; “Malam bae..”  semua yang berdiri di depan pintu dag..dig..dug.. kalau sampaii sapaan ketiga juga tidak dibalas berarti mereka tidak diterima untuk masuk…Kemudian…&lt;br /&gt; “ Malam bae..” Pimpinan dari keluarga perempuan menyahut.&lt;br /&gt;Seketika semua merasa lega. Rombongan dari keluarga laki-laki tersenyum lega. Seperti melepas beban karung beras dipundak dengan berat ratusan kilogram. Tapi mereka sadar ini baru awal menuju pertarungan. Kata “iya” dari keluarga perempuan adalah mantra mujarap untuk mensandingakan anak mereka di pelaminan.&lt;br /&gt;Semua peserta rombongan dipersilakan masuk dan mengambil tempat duduk yang disediakan. Siri pinang disajikan selanjutnya rokok dan moke ditawarkan kepada para tamu.. Suasana tidak serenyah tadi. Tawa dan senyum sepertinya hanya sebua fatamorgana. Masing-masing pihak sedang mempersiapkan ide-ide maupun tanggapan. Setelah para tetua menyantap siri pinang, inti pertemuan ini dibuka.&lt;br /&gt; “Malam bae ema, bapak, kakak arii, bine anak.3. malam hari ini kedua keluarga besar dari Lewohayong dan Sogemaking bertemu untuk membahas adat untuk anak kita Kepitang dan Ida. Dan…saya mempersilakan kepada pihak keluarga laki-laki untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.”&lt;br /&gt; “Malam bae ema, bapak.. kami datang kesini untuk mendiskusikan tentang nasib kedua anak kita… mereka sudah saling suka dan kita tidak memaksanya.. kami rasa dari pihak ema bapak juga tahu kalau semua pilihan ini mereka yang buat.. kami mengharapkan adalah mereka bisa dapat berkat di Gereja agar anak mereka bisa dibaptis. Ketua rombongan memulai. Kemudian…&lt;br /&gt; “Kita semua mengharapkan seperti ini. Tapi adat harus kita terapkan. Kalau keluarga pihak laki-laki sudah bersedia duduk disini berarti ada…. Sesuatu yang telah disiapkan.” Pimpinan dari pihak perempuan menanggapi.&lt;br /&gt; “Untuk sekarang ini kami belum bisa menyiapkan apa-apa…tapi suatu saat kalau ada akan kami atur.”&lt;br /&gt; “Maaf.. kalau kita sampai membuat pertemuan seperti ini seharusnya pihak keluarga laki-laki harus bisa memperhitungkan.” Suasana semakin memanas raut wajah pembicara sudah memerah. Mungkin juga akibat moke. Suaranya meninggi.&lt;br /&gt; “Kami mengerti..hal itu memang sangat penting, tapi itu bisa dijadikan jangka panjang. Yang penting adalah kedua anak kita ini bisa “masuk gereja.” Suara pembicara tetap pelan dan tegas&lt;br /&gt; “Nah.. ini yang harus kita pahami juga.. bicara adat perkawinan itu tidak terlepas dari urusan belis.”&lt;br /&gt; “Baiklah disini kami sampaikan bahwa sesungguhnya kami tidak punya gading untuk bisa diberikan kepada pihak perempuan. Untuk itu kami mohon kebijkan dari ema bapa agar bisa memberikan ijin agar anak kita berkat dulu, kami janji kalau ada gading kami akan atur.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba…..&lt;br /&gt; “Tidak bisa kalau tidak ada gading sekarang ini atau pun dalam waktu dekat berarti Kepitang dan Ida tidak akan “Masuk Gereja”4. Lihat saya.. sampai sekarang saya tidak bisa bertemu dengan keluarga perempuan calon istri saya karena saya belum punya gading.. saya ditolak.. kalian harus tahu..” nada suara yang keras.. iya dia pria satu-satunya adik dari Ida. Bagi masyarakat Ile Beleng dan sekiatarnya suara anak laki-laki adalah punya pengaruh. Perempuan tidak bisa berbuat banyak. Laki-laki lah yang menentukan.&lt;br /&gt;Susana menjadi hening. Kata-kata Lado seperti belatih yang menyayat seketika harapan dari kakak perempun dan calon suaminya. Bak nyala lilin redup yang berusaha menerangi ruangan tiba-tiba padam. Sebelumnya dia tidak menyangka adik laki-laki kesayangannya bisa mengeluarkan kata-kata seperti ini dihadapan keluarga calon suaminya… bulir-bulir air mata lepas dan membasahi pipi kering. Tak ada yang bisa diharapkan…Putri buah hubungan dia dan Kepitang, terlelap pulas dipangkuannya..&lt;br /&gt;Anakku maafkan ibumu dan bapakmu.. karena perbuatan kami.. kamu harus menanggung. Kamu belum bisa dibaptis. Bulir-bulir air mata berubah menjadi tetesan air mata yang sangat cepat. Larah hatinya tak bisa dibendung..isak tangis pun memecah kesunyian. Semua diam sesaat larut dalam kesedihan dan kepasrahan.&lt;br /&gt;Kemudian…&lt;br /&gt;“Maaf bagi saya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan… kecuali pihak laki-laki bisa menyiapkan gading dalam waktu dekat…malam ini kita tetapkan kapan waktunya ada gading.. setelah itu kita bicarakan pemberkatan.”&lt;br /&gt;Utusan keluarga pihak laki-laki tidak bisa membantah lagi. Pembicaran ini mengarah pada gading. Mereka sekarang ini belum memilki gading secara pasti.&lt;br /&gt;Suara bisik-bisik terdengar diluar rumah.. dibalik kegelapan malam sebanarnya ada sosok yang tidak berani memperlihatkan wajahnya. Dialah calon mempelai laki-laki. Dari tadi dia mendengarkan semua pembicaraan ini. Bukan porsinya untuk berada di meja adat itu. Tapi justru masa depannya bergantung pada putusan di meja adat itu. Andaikan dia bisa bersuara. Dia akan berteriak, adat macam apa ini... Hanya jadi ajang balas dendam. Cuma jadi kesempatan untuk menuntut. Hanya jadi tameng untuk mempertahankan budaya leluhur. Kalau memang dua anak manusia sudah berjanji untuk membangun mahliga rumah tangga kenapa adat selalu menjadi hambatan. Toh yang susah senang nanti kami yang rasakan.. gelap malam ini bagai selimut hitam membalut asa yang kandas..  berapa lama lagi dia harus hidup dengan perempuan dan anaknya yang secara adat, agama, dan hukum bukan istri dan anak..  anaknya hanya bisa disebut anak bilogis dan bagaimana dengan Ida? Hanya istri biologis?&lt;br /&gt;Harapan untuk mendapat mantra “iya” pupus sudah. Tidak ada lagi yang perlu dilakukan selain menuggu gading dari belis gadis marga Lewohayong. Padahal sekarang gajah sudah dilindungi sebagai bintang langkah dan menurut aturan pemerintah. Memperjual belikan bintang langkah atau bagian tubuh bintang langkah maka dikenakan sangsi hukum alias dipenjara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-6733542207867179293?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/6733542207867179293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=6733542207867179293' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6733542207867179293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6733542207867179293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/cerpen.html' title='cerpen'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SFOIH7s4YpI/AAAAAAAAABo/uDOXf1WX6qQ/s72-c/budaya6.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-3160174135184660364</id><published>2008-06-11T08:43:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:49:09.548-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE_0Mkr-PYI/AAAAAAAAABg/JkmFkqQGYRI/s1600-h/100_4450.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE_0Mkr-PYI/AAAAAAAAABg/JkmFkqQGYRI/s320/100_4450.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210651790734671234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-3160174135184660364?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/3160174135184660364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=3160174135184660364' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3160174135184660364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3160174135184660364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/blog-post_11.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE_0Mkr-PYI/AAAAAAAAABg/JkmFkqQGYRI/s72-c/100_4450.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-5825804629157166901</id><published>2008-06-11T08:35:00.001-07:00</published><updated>2008-11-17T21:49:09.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE_xuIX-HiI/AAAAAAAAABY/GvoRUT86n8s/s1600-h/100_4156.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE_xuIX-HiI/AAAAAAAAABY/GvoRUT86n8s/s320/100_4156.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210649068715253282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-5825804629157166901?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/5825804629157166901/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=5825804629157166901' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5825804629157166901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5825804629157166901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/blog-post.html' title=''/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE_xuIX-HiI/AAAAAAAAABY/GvoRUT86n8s/s72-c/100_4156.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-5867021716954449488</id><published>2008-06-10T09:04:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:44:58.368-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Samsara</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE6m5DTWGjI/AAAAAAAAABE/5OghsxdxxCo/s1600-h/samsara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5210285317983443506" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE6m5DTWGjI/AAAAAAAAABE/5OghsxdxxCo/s320/samsara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Samsara&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;by Donatus&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Angin berhembus perlahan-lahan. Dingin mencekam menembus tulang. Bibirku gemetar tak mampu menahan dingin. Hanya terbungkus kulit aku berdiri di sebua tempat yang begitu asing. Tak ada seseorang yang hadir, ditengah kesendirianku. Jalan lurus terbentang didepan mata. Ketika aku menoleh kebelakang semua terlihat gelap. Aku tak mampu menggerakan badan untuk maju maupun melangkah mundur. Seperti jabang bayi yang terkungkum dirahim ibu, pasrah dengan apapun yang terjadi. Aku tetap berdiri. Dan terus membiarkan diriku merasakan dinginnya angin malam, menyusup kesetiap pori-pori tubuh dan membekukan aliran darahku. Tiba-tiba ada suara langkah kaki terdengar walaupun suara itu terdengar dari kejauhan tapi bunyinya berdentang dikuping dengan hentakan kaki yang berirama. Kedengaran lembut dan mendayu-dayu. Ada cahaya remang-remang memancar dari depan. Tapi cahaya itu terpecah ada bayangan yang muncul ditengah. Bayangan itu membentuk sesosok manusia yang bergerak kearah tempat aku berdiri. Perlahan-lahan bayangan itu membentuk sosok tubuh seorang perempuan. Semakin dekat rambut panjang terurai menutup pundak, sedikit terbang beriringan dihembus angin. Dekat sekali sosok itu berdiri didepanku dengan tinggi semampai. Tubuh langsing mata bulat hidung yang tidak terlalu mancung dengan wajah oval dan bibir tipis. Rona wajah itu begitu lembut. Bibirnya bergetar. Senyum manis tersungging dibibir yang mungil. Dia mengenakan gaun malam yang berwarna putih tak kalah putih dengan kulitnya. Keanggunan sangat terkesan dan kesempurnaan seorang perempuan tergambar jelas. Aku tetap diam menyaksikan gadis cantik, dari kepala sampai kaki dia benar-benar sosok seorang gadis yang sempurna. Ketakutan sepertinya pergi dariku. Aku tak mengenal lagi persaanku sendiri. Ada pikiran yang muncul. Siapa kamu sebenarnya? Aku tidak pernah melihat gadis sepertimu? Kenapa kita harus bertemu ditempat seperti ini? dan dia mengarahkan tubuhnya sehingga menyamping. Aku masih mengagumi dia. Dan…&lt;br /&gt;“Kamu pasti sudah lupa…dan memang itu menjadi sifat aslimu.”&lt;br /&gt;Aku tersentak.. apa lupa..sifat asli..apakah kita pernah bertemu. Tapi dimana? Aku mencoba memaksa otakku untuk mengingat kembali semua kejadian yang terkesan yang pernah kualami.&lt;br /&gt;“Tapi aku rasa kita tidak pernah bertemu sebelumnya.”&lt;br /&gt;“Sudah kukatakan itulah sifat aslimu. Kamu selalu lupa.”&lt;br /&gt;Suara itu begitu lembut walaupun terdengar sedikit sinis. Tak ada senyum yang membungkus bibir indah itu.&lt;br /&gt;“Aku selalu hadir ditengah-tengah kehidupanmu. Aku selalu menemanimu untuk merangkai kebersamaan kita.”&lt;br /&gt;“Sungguh…siapa kamu sebenarnya? katakan saja!”&lt;br /&gt;“Untuk apa kamu telah menghapus kenangan-kenangan manis yang telah kita rangkai..aku pikir kamu kesini untuk menemuiku..Tapi aku salah…”&lt;br /&gt;Aku tidak pernah melihat gadis ini sebelumnya apalagi sampai merangkai hubungan yang lebih serius..sepertinya dia salah orang.&lt;br /&gt;“Aku pikir kamu salah orang..mungkin saja ada orang yang mirip denganku dan..”&lt;br /&gt;“Tidak hatiku tidak pernah salah aku kenal orang yang paling kucintai…yang selalu menghadirkan kebahagian dalam setiap hari-hariku...dan sekarang aku sudah kembali tapi apa…” Air mata menetes dan rona wajah yang ceria itu berubah menjadi murung. Kesedihaan terbingkai disana. Aku tahu hatinya pasti sakit. Tapi siapa laki-laki itu yang begitu tega meninggalkan gadis secantik ini..betapa bodohnya pria itu. Apakah matanya buta. Andai saja pria itu aku. Aku pasti akan terus menjaganya dan tak akan membiarkan dia pergi jauh.&lt;br /&gt;“Aku tidak salah pria itu adalah kamu Mas Krisna..dan kamu selalu akan mencintai dan menjagaku.. Wajah itu berpaling kepadaku sorot mata itu berusaha memaksaku untuk mengingat tapi dia menyebut aku Krisna..Krisna..&lt;br /&gt;“Aku bukan Krisna dan aku tidak pernah menjalin hubungan denganmu. Kenapa kamu terus memaksaku.”&lt;br /&gt;“Mas tatap mataku…bukankah mas selalu mengatakan mata ini selalu menghadirkan terang. Bagai cahaya rembulan mata ini selalu teduh..” Kutatap mata gadis itu. Air mata membentuk lingkaran pada bola-bola mata perlahan-lahan dua buah bulatan mengalir dipipi. Semua berubah. Gadis ini benar-benar begitu terluka. Tetapi dia begitu kukuh mengangab aku Krisna.&lt;br /&gt;“Aku bukan Krisna…Tapi Aryo…dan aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa berada ditempat ini bahkan aku sendiri tidak ingat apa-apa lagi darimana aku apa saja yang telah aku lakukan semuanya menghilang. Aku semakin bingung..&lt;br /&gt;“Mas…Ingat mas ini Mayra..Mas selalu memangil May…disaat bulan Mei juga kita bersepakat untuk menyatukan hati dan membingkainya dengan rasa Cinta.” Suaranya mulai meninggi dan kekecewaan menyelubungi tapi semangat masih tergambar dibalik kekecewaan itu. Aku berusaha untuk mengingat perlahan-lahan.&lt;br /&gt;“Tapi….aku….aku..ah..aku tidak pernah…sungguh apa yang harus aku lakukan lagi..dan apa yang harus aku katakan..” Dengan keras kupukul kepalaku untuk mencoba mengingat tapi semuanya sia-sia..&lt;br /&gt;“Sudahlah….semuanya sia-sia. Penantianku untuk bisa bersama kembali dengan mas Krisna hanyalah mimpi saja.” Kali ini dia benar-benar putus asa.&lt;br /&gt;Haruskah aku mengakui kalau aku pria yang bernama Krisna itu yang telah meninggalkan. Hanya untuk menyenangkan dia. Tidak mungkin.&lt;br /&gt;“Aku berusaha untuk mencarimu kemana-mana agar kita bisa bersama kembali tapi tidak bisa ketemu..ya.. semua ini juga salahku mas..aku yang terlebih dahulu meninggalkanmu mas. Tapi waktu itu mas berjanji suatu saat kita pasti akan bersama kembali. Walaupun hal itu tidak mungkin..tapi….karena aku yakin mas selalu menepati janji akupun pergi dengan tenang..aku selalu menemani mas walaupun mas tidak pernah melihatku. Tapi mas selalu mengatakan kalau mas merasakan kehadiranku. Kemudian kejadian sesaat telah membuatku kembali yakin kita bisa bersama….. tetapi sejak itu mas pergi dengan tiba-tiba dan…..tak pernah kembali…”&lt;br /&gt;Suasana tenang mungkin dia berusaha menyusun kata-kata memaksaku untuk mengakui diri sebagai Krisna, pria yang sangat dia cintai itu. Tapi..&lt;br /&gt;“Apakah tidak mungkin kita untuk bersama kembali…..” suaranya mulai merendah dan tangis terdengar.&lt;br /&gt;“Mas….” Dia menatapku dalam-dalam dengan beruarai air mata&lt;br /&gt;“Apakah semua ini akan berakhir?”&lt;br /&gt;Aku semakin bingung dan dalam kebinggungan. Ada rasa simpati melihat kesedihan gadis didepanku yang menyebut namanya Mayra. Tapi apa yang harus aku lakukan..aku berusaha mengingat nama itu Mayra..Mayra..Mayra…. Tiba-tiba dari kejauhan aku dengar namaku dipanggil.&lt;br /&gt;“Ryo..Ryo..” suara itu dari kejahuan..tapi semakin dekat..dekat sekali dan aku mulai mengenali suara itu. Iya..tidak salah lagi itu suara Angel..ya Angel..tapi dimana dia…&lt;br /&gt;“Aku ada disini Angel dimana kamu..aku tidak melihatmu..” kupandang kesekeliling yang ada hanya kegelapan. Tapi suara memanggil itu sangat dekat. Dan anehnya akupun tak bisa melihat Mayra lagi. Begitu cepat dia pergi. Tapi suara tangisan mendayu..semakin menjauh. Maafkan aku Mayra, aku tidak bisa berbuat banyak aku akan menceritakan apa yang kau alami jika aku bertemu dengan pria yang bernama Krisna itu. Maafkan aku Mayra kalau aku mengecewakanmu. Seperti suara gemuru dengan angin yang sangat kencang menyeretku masuk di sebua lubang kecil dan secepat kilat aku melihat secara samara-samar..&lt;br /&gt;“ Ryo..kamu udah sadar..” senyum dengan wajah puas terlihat disisi tempat tidur.&lt;br /&gt;“Angel..kamu..Ma..Pa..ada apa dengan Ryo.&lt;br /&gt;“Tadi kamu tidak sadarkan diri lama sekali.. sampai-sampai Mama Papa sama Angel sempat kuatir dengan keadaanmu..tapi sukurlah kamu udah pulih.” Mama terlihat legah. Dan Angel terus memegang tanganku. Ada botol infus tergantung disamping tempat tidur dengan jarum yang tertusuk di pergelengan tanganku..&lt;br /&gt;“Yo..kamu ada dirumah sakit udah dua hari ini dan mulai tadi pagi sampai sore ini kamu enggak sadar..sampai dokter bilang nggak ada harapan lagi..Tapi Tante sama aku yakin kamu pasti siuman.”&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Siang itu saya dan Angel tiba dirumah Tantenya Angel. Disebua rumah yang sangat asri jauh dari kebisingan dan hirukpikuk aktifitas kota. Rumah itu sudah sangat tua sepertinya rumah itu rumah peninggalan orang-orang Belanda tetapi tetap terawat dengan baik halaman yang luas banyak pohon rindang dan bunga-bunga yang tertata rapi diteras membuat rumah itu begitu sejuk dan saat memasuki ruangan. Ada Suasana yang tidak asing. Aku merasa bahwa aku pernah mengunjungi tempat ini. Tapi mana mungkin baru kali ini Angel mengajakku kemari. Ah sudahlah mungkin persaanku saja..&lt;br /&gt;“Eh ada tamu.” Seorang perempuan keluar dari ruangan belakang usianya kira-kira 50an tapi kelihatan begitu segar dengan senyum besar dibibirnya.&lt;br /&gt;“Tante kenalin ini Aryo.. Aryo ini Tante Magda”&lt;br /&gt;“Nak Aryo..selamat datang..mudah-mudahan betah tinggal disini…sepi enggak kayak dikota.”&lt;br /&gt;“Aryo senang kok tante…tempatnya nyaman terus asri lagi..&lt;br /&gt;“Iya Tante..” sambil melihat kesekeliling ruangan. Ruang ini seperti meninggalkan kenangan tersindiri dengan perabot-perabot yang kuno tapi terawat dengan baik.Tatapanku tertuju pada foto keluarga yang serba hitam putih yang terbingkai dan terpampang di dinding sebelah kiri.&lt;br /&gt;‘Itu foto keluarga ya, Tante..”&lt;br /&gt;“Itu foto keluarganya Tante sama Papanya Angel…O.ya Belum buatin minum.. mau minum apa nak..Teh atau kopi?”&lt;br /&gt;“Biar Angel yang buatin aja..”&lt;br /&gt;“Ya udah… ada air panas ditermos baru aja diisi.”&lt;br /&gt;“Boleh saya lihat foto itu tante?”&lt;br /&gt;“Silakan..foto jaman dulu waktu eyangnya Angel masih hidup. Ini rumah peninggalan Eyangnya Angel. Tadinya diserahkan sama Papanya Angel. Tapi papanya Angel milih tinggal dikota mengurus usahanya Jadi tante yang urus. Barang-barang peninggalan eyang masih tersimpan rapi. Termasuk foto itu.”&lt;br /&gt;“Anaknya eyang ada empat. Yang ini anak pertama sekarang jadi dosen terus ikut suaminya sekarang tinggal di Australia, kalau ini Tante, terus laki-laki satu-satunya ini papanya Angel.&lt;br /&gt;“Kalau yang ini siapa namaya Tante?” aku penasaran dengan sosok terakhir ini, senyumnya begitu manis, sepertinya ada misteri yang tergambar dibalik wajah cantiknya.”&lt;br /&gt;Iya..Dia paling cantik diantara anak-anak eyang. Tapi nasibnya tidak semujur kecantikannya. Dulu..ketika dia masih ada, banyak laki-laki yang datang hampir setiap hari, selain cantik dia orangnya mudah bergaul.. walaupun para pria itu menyatakan cintanya tapi dia selalu mengangab mereka semua teman. Sampai suatu saat dia bawa seorang pria dan dikenalkan pada eyang putri katanya pria itu adalah pacarnya..lalu..” Tante Magda diam seperti memikirkan sesuatu yang tidak patut diceritakan.&lt;br /&gt;“Lalu apa tante?” aku penasaran.&lt;br /&gt;“Mereka sangat mencintai satu sama lain, Pria itu sudah punya rencana untuk melamar Ana tapi Eyang tidak setuju, karena Dik Ana masih sekolah, tapi mereka tetap pacaran tapi seperti yang tante bilang tadi nasibnya tidak mujur disaat usianya mau memasuki 20 tahun ia meninggal..”&lt;br /&gt;“Jadi tante Ana ini sudah meninggal..? kutatap wajah dari foto itu ada suatu yang aneh aku sepertinya kenal dengan wanita ini.&lt;br /&gt;“Siapa nama panjangnya Tante Ana?”&lt;br /&gt;“Mayrana”&lt;br /&gt;Apa Maryana….? Nama itu hadir dengan tepat dingatanku. Tidak salah lagi dia gadis yang pernah kujumpai disaat aku tidak sadarkan diri dirumah sakit sebulan yang lalu…&lt;br /&gt;“Lalu siapa nama pria yang dicintai Tante Ana itu?&lt;br /&gt;“Namanya Krisna.”&lt;br /&gt;Apa Krisna…? Berarti aku sebenarnya tidak mimpi tapi sebenarnya kejadian itu benar-benar ada. Mayrana yang ketemui dan dia sedang mencari Krisna kekasihnya memang benar-benar ada.&lt;br /&gt;“Lalu dimana pria itu sekarang Tante?”&lt;br /&gt;Tante Magda diam sejenak matanya terlihat bening sepertinya kedukaan yang dialaminya muncul kembali.&lt;br /&gt;“Minuman datang….kok serius amat lagi ngmongin apa sih? Jadi penasaran.”&lt;br /&gt;“Tante lagi menceritakan tentang Tante Ana.”&lt;br /&gt;“Oh..Kasihan Tante Ana..&lt;br /&gt;“Terus bagaimana dengan Pria itu dimana dia sekarang?”&lt;br /&gt;“Sebulan setelah kepergian Dik Ana, Krisna juga meninggal karena kecelakaan. Dan sangat tragis kecelakan yang dialaminya. Ada ranting pohon yang menusuk paru-parunya sehingga dia meninggal ditempat kejadian.&lt;br /&gt;Jadi Krisna juga sudah meninggal….ingatan tentang pertemuanku dengan Mayra terpampang jelas diingatan. Wajah difoto itu kelihatan agak usang karena usia tapi garis-garis kecantikan seorang gadis mudah berusia 20 tahunan masih terukir indah. Kau Memang Mayra yang kutemui tapi kenapa kamu menganggab aku Krisna bukankah dijuga sudah meninggal.&lt;br /&gt;“Krisna sangat mencintai Ana sejak kepergian Ana. Krisna seperti orang yang aneh suka menyendiri dan sering datang kerumah. Tidak banyak bicara seperti dulunya..dan saat kepergiannya dia sempat bilang.. May aku sekarang bersamamu lagi. Kemudian dia menghembuskan nafas terakhir.”&lt;br /&gt;Ada tirai kesadaran yang mulai terkuak, ingatanku pada kata-kata tentang kehilangan Krisna oleh Mayra, pergi begitu saja dengan cepat. Demikian juga saat itu aku pergi begitu saja dari alam berbeda menuju alam nyata. Tapi apakah mungkin aku Krisna yang sekarang menjadi Aryo? Krisna meninggal kecelakaan dengan luka parah pada paru-parunya dan aku mengalami paru-paru yang cacat sejak lahir. Ah… Tidak ada yang pasti…..&lt;br /&gt;Kuletakan setangaki bunga mawar berwarna pink diatas nisan yang sudah berumur tua 23 tahun yang lalu namun tetap terawat dengan baik. Mayra maafkan aku kalau dalam diriku ada kesadaran milik orang yang pernah kamu cintai dimasa lalu. Semoga dirimu terlahir kembali di alam bahagia dan kembali melihat hidup sebagai sesuatu yang terus berubah.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-5867021716954449488?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/5867021716954449488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=5867021716954449488' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5867021716954449488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5867021716954449488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/06/samsara.html' title='Samsara'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SE6m5DTWGjI/AAAAAAAAABE/5OghsxdxxCo/s72-c/samsara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-6320186017785824274</id><published>2008-05-05T10:19:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T10:19:13.589-07:00</updated><title type='text'>Lado's Cave: Short Stories</title><content type='html'>&lt;a href="http://ladocave.blogspot.com/2008/05/short-stories.html"&gt;Lado&amp;#39;s Cave: Short Stories&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-6320186017785824274?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/short-stories.html' title='Lado&apos;s Cave: Short Stories'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/6320186017785824274/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=6320186017785824274' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6320186017785824274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/6320186017785824274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/lados-cave-short-stories.html' title='Lado&apos;s Cave: Short Stories'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-7323807221268441577</id><published>2008-05-05T10:13:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:49:09.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Gallery</title><content type='html'>&lt;a href="http://ladocave.blogspot.com/2008/05/gallery.html"&gt;Lado&amp;#39;s Cave: Gallery&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-7323807221268441577?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/gallery.html' title='Gallery'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/7323807221268441577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=7323807221268441577' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/7323807221268441577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/7323807221268441577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/gallery_05.html' title='Gallery'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-5330827463807240198</id><published>2008-05-05T10:08:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:49:09.549-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gallery'/><title type='text'>Gallery</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SB8_kCHPwPI/AAAAAAAAAAo/1J7qBOBgEoU/s1600-h/DSCI0033.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SB8_kCHPwPI/AAAAAAAAAAo/1J7qBOBgEoU/s320/DSCI0033.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196942383283945714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-5330827463807240198?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/5330827463807240198/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=5330827463807240198' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5330827463807240198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/5330827463807240198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/gallery.html' title='Gallery'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SB8_kCHPwPI/AAAAAAAAAAo/1J7qBOBgEoU/s72-c/DSCI0033.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-382810948702538599</id><published>2008-05-05T09:35:00.000-07:00</published><updated>2008-05-05T09:37:59.307-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poem'/><title type='text'>Poems</title><content type='html'>Bye Peace&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enfeebled dove watches catharsis&lt;br /&gt;A faded olive tree leaf attaches on old wall&lt;br /&gt;Stops shouting, stops flying, stops walking&lt;br /&gt;Aphophis now on the stage&lt;br /&gt;Guns on hands, bombs on shoulders, grenades in bags&lt;br /&gt;Flames devours body and soul with desire&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The dove still on rocker &lt;br /&gt;No energy rocking back and forth more&lt;br /&gt;Hawk screams on the top old building&lt;br /&gt;A nice little smile on the lips&lt;br /&gt;“I am retired”&lt;br /&gt;Olive tree’s leaf falls&lt;br /&gt;The light’s extinguished &lt;br /&gt;The stage now full of dark play &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angels now have blind eyes &lt;br /&gt;Weapons as god’s sticks&lt;br /&gt;Blood as wine, very intoxicated   &lt;br /&gt;Flesh as delicious meat&lt;br /&gt;The Stage will be shattered&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-382810948702538599?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/382810948702538599/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=382810948702538599' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/382810948702538599'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/382810948702538599'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/poems.html' title='Poems'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7186961803234204639.post-3914690621923992680</id><published>2008-05-05T08:53:00.000-07:00</published><updated>2008-11-17T21:43:56.500-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><title type='text'>Short Stories</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SB812yHPwOI/AAAAAAAAAAg/Vwptd6WFgb4/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SB812yHPwOI/AAAAAAAAAAg/Vwptd6WFgb4/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5196931710290215138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIMSA……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota sedang terbakar. orang-orang berteriak merintih dengan kepedihan, kegetiran. yang luka terus meratap ingin sembuh. Mereka yang kehilangan rumah mengadu ditengah lapangan gersang. Beratap langit, semakin hari semakin mengerut. biru damai memudar menjadi merah pekat. Api yang menjulang tinggi, menyembur dengan lahapnya memberangus semua yang dijumpai. meninggalkan kegetiran bersama bau anyir dan arwah yang merintih. Tawa kelakar dibibir mencemoh dan tak rasa dosa, rasa kasih ah…. Apa itu, rasa cinta … apalagi itu semua tak dia pedulikan. Panas mengelitik setiap deru nafasnya. Baginya inilah dia. Ia telah digariskan untuk menghabisi semua yang membangkang.. yang tidak mendengarkan apa yang telah diseruhkan. Ya.. kota yang telah menjadi kumpulan orang-orang kafir yang setiap saat mengeluarkan nafasnya yang najis. Pantas dibrangus api suci dari langit, demikan banyak yang terus berteriak ditengah-tengah kerumunan. Mereka yang menganggab dirinya paham dengan suara yang berseru dari langit ratusan tahun yang lalu dan tidak tahu kapan dibukukan dan siapa yang membukukan bagi mereka suara itu adalah yang mutlak yang wajib dilakukan apapun alasannya. Dan mereka berhak untuk menciptakan pengadilan atas nama surga. Disebrang sana banyak bibir yang tertawa sinis, sementara mulut mengangah memuntahkan kedengkian dengan teriakan, “Teruskan api..teruskan api…Api suci ..” Sambil menuangkan minyak, disedot langsung dari perut bumi. Untuk memuja langit mereka memeras bumi hingga mengering dan memberangusnya. Untuk menyenangkan sang dewa agung mereka merampas kehidupan sahabatnya. Untuk membersihkankan apa yang di sebut dosa mereka berteriak, yang suci ada ditangan kami. Api merambat terus sementara yang tadinya sekarat harus mengakhiri nafasnya.&lt;br /&gt;Ditengah kegetiran ini seorang ibu berlutut dan menengada, “apakah aku diam dan melihat orang-orang itu bersorak dan menyemangati api itu sedangkan sebentar lagi aku dan seluruh keluargaku akan habis dilahapnya” &lt;br /&gt; “Tolong…..tolong…anak saya ada didalam pak..tolong pak … sambil menarik baju salah seorang yang berbadan gagah berseragam putih yang menyimbolkan kesucian berdiri di tempat yang dibatasi sehingga api tidak boleh lewat disitu tanpa ada setitik ibah yang melembutkan wajahnya.&lt;br /&gt;“Pak tolong anak.. saya.. dia terkunci didalam … aku tidak bisa membuka pintunya..” Merintih bersama keperihan hati, ibu ini terus memohon.&lt;br /&gt;“Sudahlah ibu tua anakmu telah ditakdirkan untuk menerima nasib seperti ini. Dia akan masuk surga biarlah api itu membersihkan dosa-dosanya. Kalian kaum kafir telah membakar amarah Sang Dewa sehingga dia murkah.”&lt;br /&gt;“Siapa dewa itu, kenapa dia begitu kejam.. aku tidak pernah mengenalnya. Yang aku kenal adalah cinta dan kasih yang hidup. Seorang ibu tidak akan membiarkan anaknya menderita karena anak adalah cintanya.” Dengan ketegaran sang ibu menatap tajam sang pemuda yang berdiri tegak dan tersenyum sinis. Kemudian wajahnya berubah kerutan ketidakpuasan tergores di keningnya.&lt;br /&gt;“Hei.. tua bangka kamu pantas mati kamu tidak mengenal sang dewa. Kamu pantas dihukum. Kamu yang menyebabkan sang dewa murkah.” Sambil merentangkan jari telunjuknya kewajah sang ibu.”&lt;br /&gt;“Aku tidak pernah menghina siapapun aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi semua orang, aku sangat menyayangi setiap kehidupan lihat…bahkan tanganku inipun belum pernah merampas nyawa tikus sekalipun, lalu apa salahku. Lihat kalian yang menamakan diri kaum suci jangankan merampas nyawa tikus, nyawa manusia saja tidak pernah ada rasa gentar tapi justru kebanggaan yang terbesit.”&lt;br /&gt;“Sudahlah ibu, kamu tidak paham tentang hukum dari surga dan tidak pernah mengerti tentang kitab suci, minggir!! Pemuda ini mendorong sang ibu hingga jatuh.&lt;br /&gt;Tiba-tiba mobil pemadam kebakaran lewat dengan suara sirinenya yang terus mengaung.&lt;br /&gt;“Awas minggir petugas mau lewat.” Teriak salah seorang petugas. Mungkin dia adalah komandan dari pasukannya. Selang dilepaskan dan disodorkan kearah api yang terus membarah. Lidah-lidahnya yang kelaparan melahap dengan birahinya. Tapi apa yang terjadi tiba-tiba…Api semakin kencang. Mata sang ibu terbelalak lebar.. karena api yang semakin membumbung tinggi disebabkan oleh cairan yang keluar dari selang tersebut. &lt;br /&gt;Perhatian sang ibu beralih kepada petugas yang berseragam yang sebelumnya dianggab sebagai pelindung atau penyelamat kehidupan bagi keluarga dan kerabatnya yang masih tersesat didalam kobaran api, dia sedang memegang selang. Dengan membawa kekecewaan, beraduk kesedihan dan kejengkelan yang mengalir disetiap aliran darah dan nafasnya sang ibu berteriak, &lt;br /&gt;“Siapa kamu sebenarnya bukankah kamu datang untuk memadamkan api ini, tetapi bukannya air yang kamu bawa tapi cairan keparat ini?” Sementara sang petugas tetap menyemprotkan cairan penambah kobaran api dengan wajah dingin.&lt;br /&gt;“Hai orang yang tak punya hati nurani. kemanakah hatimu apakah kamu tidak merasakan kepedulian sedikitpun.”&lt;br /&gt;“Aku hanya mengerjakan tugasku berdasarkan perintah dari atasan. Lihat keatas apakah kau kenal orang itu?” Dengan rentangan telunjuknya mengarahkan keatas sebua singgasana. &lt;br /&gt;“Bukankah dia orang yang dianggab yang terberkahi. Namanya agung ditengah gemuruh kehidupan dia bagai nabi bagi para pengikutnya. Bagaimana mungkin dia begitu kejam…Oh kehidupan  sungguhkah Tuhan atau Dewa itu begitu kejam lalu bagaimana dengan kasih yang ditahktakan dalam hati semua mahkluk apakah telah diambilnya.” Dalam keletihan sang  ibu meratap. Langit yang membiru berubah, sekejam merah membarah dan seluruh selah-selah kehidupan telah dibius oleh kedengkian dan kemurkaan sang api. Dan dengan rasa cinta dan kasih pada anak dan sanak saudaranya yang terkurung dia memutuskan untuk berlari menuju api yang berkobar.&lt;br /&gt;“Lebih baik aku pergi bersama dengan mereka yang punya hati nurani dari pada hidup bersama kedengkian yang menyayatku dan membunuhku perlahan-lahan.” Sang Ibu berlari kearah api, sambil berteriak “Kamu bisa menghanguskan ragaku tapi kasihku akan terus bersemayam disetiap nafas kehidupan hingga satu saat kau akan dipadamkan dengan kelembutannya.”&lt;br /&gt;Sementara itu, dari kejauhan terdengar suara yang sedang mengumandangkan suara kasih. Tepatnya disebuah rumah yang juga bercat putih bersebelahan dengan singgasana sang nabi.&lt;br /&gt;“Hai sesamaku kasihilah semua yang ada dihadapanmu Sang Dewa yang agung telah mengaruniakan kepada kita kasih itu, agar kita juga saling memberi. Jangan pernah menghakimi dan jangan pernah memfitnah hanya sang dewa yang agung yang berhak.”&lt;br /&gt;Semua yang mendengar sabda ini mangut-mangut. Tiba-tiba seorang anak muda bertanya, “Yang dikarunia guru mulia, bagaimana dengan kota yang ada disana yang sedang terbakar lihat semua berubah menjadi ganas lalu bagaimana dengan kasih yang sering diseruhkan? Atau Kasih itu hanya cukup untuk kita yang ada disini? Apakah mereka tidak pantas untuk mengalami Kasih itu?” Sang pemuda berempati terhadap kondisi yang dialami oleh warga yang ada didalam kota.&lt;br /&gt;Sang guru diam sesaat apa yang harus dia katakan. Kemudian, “Saudaraku kitalah yang terpilih untuk mendengarkan sabda Yang Maha Agung, ini merupakan berkah luar biasa sedangkan mereka juga ciptaan Yang Maha Agung tapi karena mereka tidak mengenal Dia Yang Maha Agung, mereka menerima hukuman.”&lt;br /&gt;“Bukankah Dia Yang Maha Agung memiliki Kasih, Maha Pengampun tapi kenapa Dia tega membakar makhluk ciptaan-Nya sendiri. Kalau kita punya kasih bukankah kita perlu menolong mereka.&lt;br /&gt;“Saudaraku mereka telah digariskan dan jika kita melawan sama dengan kita menentang hukum yang telah digariskan, yang perlu kita lakukan adalah berdoa semoga, mereka kaum berdosa memperoleh pengampunan dan mendapat tempat disurga.”&lt;br /&gt;Sementara itu orang-orang yang ingin hidup melarikan diri pergi menuju ketempat yang aman tetapi justru ditangkap oleh orang-orang berbaju putih dengan membawa kelewang suci. Ketika ada yang berontak langsung dipenggal dan para petugas yang ada disitu yang kelihatan patuh terhadap pasukan yang berbaju putih. Tetap menyemprotkan cairan yang terus mengobarkan kemurkaan sang api. Dan anak muda ini tidak tahan melihat kondisi ini dengan berseragam seperti saudaranya yang serba putih. Dia berlari menuju kota yang sedang di musnahkan oleh barah api.&lt;br /&gt;“Aku akan menunjukan sesungguhnya bagaimana kasih itu.” Dengan membawa tongkat dia menghajar salah seorang petugas yang mencoba memegang seorang gadis sehingga sang petugas babak belur. Akhirnya dia ditangkap karena dianggab main hakim sendiri. Dia diikat dengan tali yang berwarna merah karena dianggab telah murtad diarak berjalan sehingga semua orang melihat. Dari atas singgasana sang guru berkotbah, &lt;br /&gt;“Dengarlah wahai umatku siapa yang membangkang akan dihukum seperti pengkhianat ini dia telah mengotori baju sucinya, sekarang lepaskan baju yang dikenakan! Dia telah murtad dan hukum dia!!! Dia telah melakukan perbuatan yang melanggar perintah dari surga” Dengan berapi-api sehingga semua yang mendengarkan berseruh, &lt;br /&gt;“Buang dia ke api..buang dia ke api..buang dia keapi…” Semua bersorak dengan rona wajah yang berwarna merah angkara dan peluh yang meleleh diwajah… tidak ada kesejukan sedikitpun, sepertinya kasih yang diseruhkan adalah kasih sang api yang setiap saat siap membakar.&lt;br /&gt;“Kamu dengar Anak muda pembangkang,.. suara ini adalah suara yang Maha Agung, kamu perlu di buang kalau tidak itu melawan takdirmu.” Dengan beberapa orang yang telah dibius oleh kepatuhan pada atasan tidak peduli apakah yang dilakukan baik atau tidak yang penting itu suara sang guru, mengangkat badan sang pemuda. Sepertinya mereka telah dibekali oleh ilmu belah diri. Namun kemudian.. tiba-tiba ada suara, yang menghentikan penghukuman ini.&lt;br /&gt;“Tunggu sebentar sebelum kalian menghukumnya.” Suara itu adalah suara seorang yang berjubah rapi dan ditata dengan teratur. Mungkinkah dia akan menyelamatkan anak muda ini? dengan melangkah perlahan dia memberkati anak muda itu. &lt;br /&gt;“Anakku pergilah kau dengan tenang semoga kamu lahir kembali disurga yang indah dan serba megah, sehingga tidak ada kebencian yang ada seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun  tapi hal ini semoga membantumu.”&lt;br /&gt;Anak muda itu dibuang keapi yang sedang menyalah sementara dibalik nyala api ada suara yang berteriak, &lt;br /&gt;“Tolong…tolong….tolong…”  &lt;br /&gt; Dan ada sekelompok orang yang melantunkan doa atau mantra. Mungkin berharap api cepat padam atau cepat menghanguskan kota, dan disatu sisi ada orang yang terus menyemprotkan bahan bakar berharap api terus berkobar kerena menurut mereka ini kehendak dari atas, kedua kelompok ini sama-sama berseragam putih-putih seperti  malaikat yang turun kebumi mengawasi peradilan Sang Dewa. &lt;br /&gt; Seruling nada pujian dan permohonan terus berdendang. Sayup-sayup melantun dari kejauhan berharap belaskasihan dari langit. Menurunkan butir-butir air untuk memadamkan amarah api. Langit tidak bergeming. Merah bercampur pekat membentuk kabut tertata di hadapan langit. Semua telah terjadi. Api yang bringas dan lahir tak mampu dikalakan dengan senandung ini. biarlah semuanya pergi..&lt;br /&gt; Seorang kakek tua yang berambut putih dengan berjalan perlahan-lahan dia tidak menampilkan wajah benci atau pura-pura benci tidak juga pura-pura kasih. Dengan senyum misteri bertahkta dibibir  tua. Wajahnya kelihatan segar dan  tenang, dengan sehelai kain yang sudah kusam dan berapa tambalan, melilit di badannya. Tongkat ditangannya, dia tidak bicara tentang hadiah atau hukuman, tidak juga melaknat dan berdoa. Dengan menatap kejadian ini sang kakek mengatakan, “Tuhan sudah dibakar habis sampai kenafasnya, dan asapnya kini memerahkan mata.” Dia pergi bersama asap yang mengepul. “Mereka tidak pernah mengerti siapa yang mereka sebut Tuhan atau Dewa sesungguhnya.” Gumamnya dalam hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Semua orang berteriak tentang Tuhan tapi justru mereka membakar-Nya dengan kebencian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7186961803234204639-3914690621923992680?l=ladocave.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ladocave.blogspot.com/feeds/3914690621923992680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7186961803234204639&amp;postID=3914690621923992680' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3914690621923992680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7186961803234204639/posts/default/3914690621923992680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ladocave.blogspot.com/2008/05/short-stories.html' title='Short Stories'/><author><name>sogen</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03554325829091614831</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SSP5qN47mjI/AAAAAAAAAHI/9ZmZ_eG25Ag/S220/pencil.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_0J0P-3mj_2g/SB812yHPwOI/AAAAAAAAAAg/Vwptd6WFgb4/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
