Entri Populer

Rabu, 15 Oktober 2008

BeTe ah...


Bete

Bete..Ah..


Akhirnya kami harus berpisah. Setelah empat semester bersama-sama. Kali ini kami gak punya pilihan lain selain berpisah. Jangan berfikir kalau perpisahan ini berurai air mata dengan diringi lagu “Good bye” nya Krisdayanti bagaikan istri seorang tentara yang ditinggal perang, atau seorang gadis yang diputus pacarnya secara sepihak dengan iringan lagu “Please Remember” by LeAnn Rimes. Atau anak tunggal yang menyingkir ke kota metropolitan untuk mengadu nasib. Tidak..kita hanya pisah jurusan kok. Ada dua jurusan di fakultas ini: Sastra dan Linguistik. Pilihan yang sangat…sangat berat bagi kami. Wajah kebingungan terpampang dimana-mana dari toilet kampus, selasar, tangga belakang Patung Pak Soegijapranata sampai ruangan Bu Heny (Dosen Wali tercinta). Bukan karena kita gak mau pisah, tapi bingung mau ambil jurusan apa? That’s the basic reason. Tinggal milih mau jadi sastrawan stress atau ahli bahasa yang ambruadul. Kalau gak milih kedua-duanya berarti cepat-cepat angkat kaki dari Fakultas ini. Berat..berat… bagaimana tidak prestasi yang kami ukir selama ini tidak sedikit pun mendukung kedua pilihan itu. Prestasi kami adalah bikin semua dosen memegang kepala dan berkata:

“Ampun-ampun.. Kenapa aku harus ngajar mahasiswa kayak gini.*^^$^$#%#%”


Ada dua opini yang berkembang pada waktu itu; pertama milih LinguistiK aja karena kalau Sastra itu isi baca buku melulu terus baca novel lagi, padahal aku kan tidak suka baca novel, bahasa Indonesia aja gak suka apalagi pake bahasa orang bule..please deh.. Argument ini muncul dari si trouble maker asal Pemalang. Sosok unik. Makhluk dari peradaban zaman batu yang terlalu cepat berevolusi ke zaman modern sehingga ada beberapa struktur otaknya yang perlu penyesuaian. Emang kalau Lingustik gak baca buku, apa? Trus opini kedua bagi yang anti Linguistik (matematikanya bahasa kira-kira begitu kalau disederhanakan), Linguistik itu terlalu susah kita harus dipaksa belajar grammar sampai botak ditambah simbol-simbol yang gak bisa dihafal, entar kayak Pak Budi ha..ha..ha.. (emang dosen yang canggih otaknya ini kepalanya kempling buanget no hair, dia terkenal sebagai pakar grammar) padahal otak kita hanya bisa ke pake 10 % aja. Kalau Sastra kan enak, modal ngarang indah semua beres. Demikian pendapat ini di luncurkan oleh si cantik, Febby. Idola kaum lelaki angkatan 2004. Gadis aduhai dengan postur gak tinggi tapi berbadan sintal. Kalau dia lewat atau duduk berhadapan gitu. Waduh pikiran pasti berkeliaran ke daerah-daerah terlarang. Siapa pun yang lihat kalau doyan perempuan pasti mengatakan: “Ya Tuhan sungguh luar biasa karya Mu.” Sambil menatap dalam-dalam ke makhluk indah ini. Kemudian dilanjutkan: “Gimana ya proses pembuatannya sehingga menghasilkan produk seperti itu?” kemudian silakan beropini sendiri-sendiri..karena pikiran itu pintar banget kalau diajak mikiran hal-hal beginian, kalau tugas kuliah, “Waduh.. udah mentok gak kuat lagi, pikiran ku terbatas.”

Sekarang aku baru sadar ternyata kami tersesat. Sama-sama masuk ke tempat gelap..Tapi mau gimana lagi pilihan udah dibuat. Konsekuensi harus ditanggung. Selamat menjadi sastrawan stress dan ahli bahasa yang ambruadul. Kapan ya bangsa ini bangkit dari keterpurukan? Wuedan mikiran bangsa, ngaca donk!

Anak-anak sastra selalu menenteng novel-novel dari Romanticism Era sampai Twenty Century dengan para pengarangnya sudah lebih dulu menghadap Ilahi, dan sekarang sedang berleha-leha diatas sana, menatap kami sambil mengatakan; “Makan tuh karyaku!”

Jangan kira itu bakal dibaca, paling cuma buat gaya aja biar dibilang anak Sastra Inggris. Sebua status sosial dikalangan mahasiswa yang sangat prestious. Kalau anak linguistic di tas nya penuh dengan buku-buku aneh.. Pragmatics, Sociolinguistics, Psycholinguistics, Second Language Acu…(aku lupa nulisnya kayak apa), trus buku-buku lain yang berasal dari planet sebrang sana. Dibaca kata pengantarnya aja, asap udah nyembul diubun-ubun trus urat-urat didahi berkerut sambil mata melotot trus pasti kata-kata keluar dari mulut:

“Ini makanan apaan sih kok belum pernah dengar ya?.” Buku-buku alien ini pun jangan pikir dibaca, paling buat menuh-menuhin tas. Kalau dikost-kost atau rumah, ada teman yang datang trus kekurangan bantal pasti dipake buat bantalan, besok kalau mau kuliah masukin ke tas lagi.

Selanjutnya kuliah menjadi rutinitas seperti biasa, bukan semakin pintar tapi semakin hancur. Siang yang sangat melelahkan, aku memutuskan untuk menemui dosen wali ku yang imut, terkenal penyabar dan baik hati, makhluk setengah malaikat (makhluk setengah dewi entar ada yang tersinggung, didemo lagi kayak Iwan Fals) Gak tau kenapa aku mau menemui dia padahal gak ada urusan. Berjalan pelan-pelan mendekati pintu kaca. Dibalik pintu ini our cute mom sedang menjalankan tugas-tugas nya sebagai pengajar, dosen wali, dan dekan. Tidak lupa aku mengetuk pintu. Begitu beliau melihat aku,

“Don, masuk aja!” Sambil kepalanya sedikit mengalihkan pandangan dari layar ajaib didepannya.

“Enggak ganggu ya..Bu?” He..he biasa basah basi. Kayaknya pertanyaan itu gak penting banget, kan udah di suruh masuk.

“Enggak kok, duduk aja.” Bu Heny berdiri dan menatapku. Wajahnya seperti orang patah semangat, sepertinya sayap-sayap indah dipunggungnya terluka dan kayaknya dia mau mengatakan sesuatu. Dan sebelum dia menginjak gas aku salip duluan,

“Ibu gak ngajar ya?” menatap dalam-dalam ke Bu Heny.

“Itu dia Don, yang mau aku ceritakan ke kamu.” Expresinya lepas seperti orang yang melepaskan karung beras dipundaknya. Dan meletakan diatas lantai.

“Maksudnya, bu?” Aku bingung

“Begini..aku itu sudah bete banget sama teman-teman kamu. Aku harus gimana coba? Aku sudah mengajar dengan semua kemampuanku. Tapi mereka itu gak ngerti-ngerti. Ini khusus untuk anak-anak Linguistik.” Kali ini aku sedikit tersenyum yang disebut Linguistik, bukan Sastra. Aman..aman. pikirku dalam hati. Walaupun faktanya gak jauh beda, toh dari awal, kita adalah makhluk yang tersesat. Tersesat dalam dua pilihan yang sama-sama berat. Ibarat disuruh nyebur ke kolam lumpur tempat nongkrong kerbau atau mandi air comberan. Kemudian si ibu melanjutkan.

“Kalau aku ngajar kelas Linguistik persis memasuki kuburan ditengah padang gurun. Suasana kelas sepi dari awal sampai akhir. Aku seperti ngomong sama kursi dan meja. Bukan gak ada orangnya? Ada penguninya disitu.tapi semuanya diam dari awal sampai akhir. Dan aku lihat wajah mereka itu seperti kebingungan, melongoh, ada beberapa yang mengangguk-angguk tapi itu tindakan yang misterius. Kalau aku keluar sebentar, waduh.. persis kayak ngelepas kerbau ditengah pasar, Ramee.” Wajah Bu Heny menggambarkan kelelahan sangat berat. Kali ini nurani kemanusian ku muncul, meskipun dalam hati aku cuma mengatakan; Kasihan Bu Heny harus menanggung penderitaan ini. Tapi gak apa-apa bu, masih berat Salibnya Yesus kok.

“Kalau di Sastra gimana, Don? Jangan-jangan sama juga” Bu Heny melontarkan pertanyaan yang gak ku duga sebelumnya. Mikir sebentar..Kalau aku bilang sama aja nanti Si Ibu tambah stress, kalau bilang gak baik-baik aja ya..bohong donk namanya. Tumben otak ku masih bisa berfikir tentang kebohongan. Kemudian otak ku mengembara mengingat kembli dan ketemu, ya.. kelas nya Pak Retang, Prose Analysis. Waktu itu kita gak mau keluar kelas meskipun jam nya udah berakhir alias dead kita tetap ngotot gara-gara ngedebat masalah konsep Ketuhanan. Ada dua kubu waktu itu para Theologist dipimpin Hino, calon frater (mau jadi pastor) dan Kaum Atheist, Agnostic dan Non-theist dipimpin Seto, calon Bhikku ( ada keinginan mau jadi Bhikku katanya) perdebatan itu sangat seru. Sampai Pak Retang harus angkat bicara:

“Cukup dulu! Diskusinya nanti kita sambung lagi di lain kesempatan.” Sambil melihat jam tangan yang sudah kelewatan 20 menit. Jadi dengan bangga aku mengatakan;

“Gak bu, kita itu kalau di kelas sering diskusi dan debat kok jadi kelas gak pernah sepi” Walaupun cuma kelas itu aja sih, tapi kan aku gak bohong.

“Oh gitu ya..” Bu Heny terseyum. Mungkin dia berfikir beban ku sedikit berkurang.


Tiba-tiba Bu Ike masuk, sudah bisa ditebak kalau melihat langkah kakinya yang tergesa-gesa sambil mengeser pintu, Krek.. kacamatanya sedikit miring kemudian dia menarik nafas dalam-dalam, pasti ada masalah yang sangat penting. Sambil menatap Bu Heny kemudian aku yang sedang duduk di depan meja Bu Heny. Dengan wajah give-up nya sambil mengeleng-geleng kepala.

“Aku harus melakukan apa lagi Bu? (Sambil melihat ke Bu Heny) Aku sudah kasih kesempatan biar mereka bisa nyontek atau nanya teman tapi tetap aja mereka gak melakukan, padahal aku lihat lembar jawaban mereka itu warnanya masih putih semua gak ada coretannya sama sekali.” Diam sebentar sambil menatap aku. Tentu saja gaya bercerita bu Ike sangat ekspresif dari Bu Heny, kedua tangannya bergerak bagai seorang dirijen yang sedang memimpin sebua konser spektakuler atau seorang pemimpin pemandu sorak yang terus mendukung para pamain idolnya di lapangan basket ball, Intonasi suaranya bergerak naik turun seperti tangga lagu musik complicated jazz dan mimik wajahnya seperti artis Meriam Belina dalam senetron “Cahaya” kemudian drama monolog ini pun berlanjut;

“Aku sudah gak ngawasin mereka lagi, aku sengaja duduk didepan sambil baca koran, dan muka ku sengaja ku tutup dengan koran. Tadinya aku pikir mungkin kepala ku masih kelihatan. Jadi korannya aku angkat lagi sampai aku kelelep dan aku yakin pasti kalau dari depan itu semua kepala ku tidak kelihatan sama sekali. Tapi..tetap saja lembar jawaban kosong melompong. Jadi dari pada Bete didalam aku keluar saja. Padahal ini sudah setengah jam.” Bu Ike berjalan menuju dispenser sambil meneguk cairan pelega dahaga.

“Itu Don, kenapa aku gak masuk kelas hari ini. Aku sudah capek..bete..dan give-up. Kamu dengar sendirikan ceritanya Bu Ike?.” Bu Heny meyakinkan aku. Dengan suaranya yang lembut.

“Iya, Bu..” Jawab ku seadaanya, dalam hati aku berbisik “Gila..parah juga ternyata.” Kali ini benar-benar tersesat. Pikiran ku mulai berpetualang siapa-siapa saja mahasiswa yang ada didalam kelas itu. Pertama tanpa di komando, sosok Giant Baby dari Pemalang muncul. Iya..bagaimana tampang manusia satu ini? Pasti dia gak bisa bergerak, semalam aja gak belajar katanya gak punya catatan. Apalagi makhluk andalanya seperti Mella, pujaan hatinya juga gak bisa jawab, pasti dia akan mengumpulkan lembar jawaban hanya bertuliskan nama dan judul mata kuliah. Sepanjang waktu dia pasti gelisah dan menunggu miracle. Kemudian ke Penggemar Maria Ozawa, Agung alias Apang, Makhluk yang pintar dan pantas untuk lahir di abad ini, tapi karena proses evolusi yang mengalami stagnansi sehingga struktur otaknya sering konslet. Dia pasti mengerutkan kening sambil cengar-cengir dan memegang kepalanya, mengacak-acak rambutnya dan mengelus-elus tompelnya.

Keributan menggemah sampai ke ruangan Bu Heny. Pasti kelasnya sudah selesai. Sudah diduga semua berteriak seperti pemandu sorak;

“Pasti kita dapat nilai A : Ambil lagi tahun depan!” Suara si Yudha terdengar menggemah. Emang kalau bersuara dia paling lantang, singkron dengan fisiknya. Aku memutuskan untuk keluar ruangan Bu Heny. Menemui Si Tompel

“Gimana bro berhasil?”

“(Nyengir dulu sambil geleng-geleng kepala) Berhasil apanya gak bisa jawab semua. Mau nyontek gak ada catatan nanya yang lain gak tahu semua ya udah terpaksa nomor satu sampai sepuluh mengarang indah.”

Benginilah sekelumit potret buram generasi bangsa ini..hiks..hiks..hikss… moga-moga adik angkatan kami gak seperti ini. Sehingga masa depan Faklutas Sastra dan negri ini sedikit bercahaya. He..he.. sok heroic pada hal sama aja udah punya gelar SS tapi bukan Sarjana Sastra tapi Sarjana Stress atau Sinting.

Senin, 13 Oktober 2008

Angkatan Brengsek




Tiba-tiba aku sadar dari mimpi indah bersama bidadari Limbukku..gak tau kenapa akhir-akhir ini aku selalu memimpikan dirinya. Meski arena mimpiku slalu gak cukup luas menampung bayangannya. Tapi tetap aja dia maksa masuk. Dasar Limbuk..
“Sial.. ada ujian hari ini!” gerutuku.. belum sepenuhnya sadar. Seperempat nyawa baru hadir. Tangan meraba-raba handphone, apalagi yang dilakukan kalau bukan lihat jam. Mastiin aja. Kalau jamnya masih bisa diajak kompromi. Jam 09.00. ternyata kali ini jam sedikit pengertian.
“Ah baru jam sembilan kuliah jam 09.30 tidur lagi ah..” perlahan-lahan aku berpetualang lagi memasuki alam para bidadari. Tiba-tiba..
“Bangun ndes! Ujian..gdebuk (pintu kamar digebuk) sudah jam setengah sepuluh ini.” Suara siapa lagi kalau bukan si pengemar berbagai aktris cantik dari Hollywood itu, Seto.
“Aduh..baru aja lelap sedikit udah mau bangun.” Biasa.. mengeluh kalau kenikmatannya terhambat.
“Gak mau ikut ujian? Gak juga gak apa-apa masih ada tahun depan?” Sindirannya cukup untuk membuat ku loncat dari tempat tidur tanpa kompromi.
Terpaksa. tanpa pikir panjang lagi. Langsung menuju kamar mandi. Tidak perlu mandi cukup cuci muka saja. Lari dengan kecepatan tinggi sudah jadi tradisi. Salip kiri, salip kanan akhirnya sampe juga di Fakultas tercinta, Sastra.

Dengan penuh kepercayaan diri aku dan Seto menaiki anak tangga, langkah kaki tidak beraturan. Maklum sudah terlambat, walaupun suasana hati tidak setegang kalau yang ngajar Bu Wur alias Bu Jambul. Kali ini Ibu Ike dosen berpenampilan seadanya, cuek, kadang kalau ngajar sandalnya ditinggal di kantor. 100% terbalik dengan sosok Bu Wur. Kalau ongomongin masalah disiplin waktu, waduh.. saingan sama mahasiswanya alias suka terlambat. Tapi kali ini lain karena hari ini “UJIAN”. Makanya Susana hati berbeda. seperti biasa disambut Bapak Soegijapranata, berdiri tegak di atas tangga tanpa ekspresi, mata tetap menyorot ke satu arah, mengenakan kaca mata tapi gak ada kacamatanya (frame nya aja) Berjubah kebesaran berwarna hitam ala seorang uskup dengan kalung salib melingkari lehernya semua berwarna hitam termasuk kulitnya. Pikirnya mungkin seperti ini:

“Gimana masa depan bangsa ini kalau generasi bangsa kayak mereka. Mereka tidak tahu kalau masa perang dulu saya berjuang setengah mati. Gak tidur..gak makan.. hanya untuk membebaskan negri ini dari tangan penjajah. Tapi sekarang apa yang mereka perbuat..kuliah terlambat terus.gak pintar-pintar, slalu bikin masalah. Malu aku, namaku dipake buat kampus ini.” Kira-kira begitu kalau patung cebol nan gagah perkasa ini bisa bersuara.
“Jangan kuatir pak, walaupun mahasiswa kayak gini. Suatu saat kami bisa bikin jantung bapak berdetak dan bergerak dari tempat keabadian itu.” Aku beroptimis. Selanjutnya adalah suasana berubah. Teman-teman berdiri melingkar di depan pintu tata usaha, wajah mereka begitu serius. Kedatangan kami tidak dihiraukan. Aku berusaha mendekat. Dan dengan senyum kelegaan Febe nyengir kearahku.

“Itu Dona baru datang.” Mungkin pikirnya. Sang hero sudah datang. Semua akan dapat diatasi. Walaupun pahlawan kesiangan karena emang gak bisa bangun pagi. Dengan wajah yang tenang seperti biasa aku sok jadi penyelesai masalah, problem solver. Kira-kira gitu istilah kerennya.
“Ada apa?” Suara tenang, sedikit bingung tapi tetap santai.
“Tadi Bu Ike marah..marah sampai bilangin angkatan kita itu brengsek habis itu dia gak mau ngasih ujian hari ini..aduh..Bang.. padahal kitakan udah susah..susah buat susah..susah nyari di internet, malam sampe ngelembur, masa disuruh bikin ulang lagi. Padahal itu kan belum tentu salah kita. Kamu udah ngumpulin?” Seperti peluru dari senjata automatic, kata-kata meluncur tanpa henti dari mulut Febe. Tidak ada koma titik atau tanda baca lainya.
“Sebentar-sebentar aku gak ngerti ada apa toh?” Sekilas aku melihat kewajah temanku sang pengidola Sania Twain itu. Ya..bisa ditebak wajahnya bingung dan membingungkan. Itu sudah jadi karakter dari wajahnya.

“Iya..Be kamu ceritaiin dong, kronologinya! Kok.. Bu Ike bisa marah-marah kayak gitu” Si Yuli angkat bicara. Ternyata dia juga gak ngerti permasalahan utamanya apa. rasa penasaran dan kebingungan terpampang jelas.
“Gini loh tadi aku sama Tia ngumpulin paper Romantism trus Bu Ike dengan wajah jengkel, sedikit kaget ngomentar; Kok baru ngumpulin sekarang! Aku jawab;
Kan ujiannya hari ini jadi ngumpulnya hari ini. Bu Ike malahan kayak marah gitu, Kalian itu gak tau diri ya.. sekarang itu ujian oral. Paper itu harus di kumpulin 3 hari sebelum ujian oral. Dan itu ada pengumumannya. Aku tanya jadi gimana bu? Bu Ike gak jawab terus keluar ruangan sambil nekuk wajah gitu. Aku juga ikut keluar. Habis itu Rachel sama teman-teman lain dengan pedenya ketemu Bu Ike di pintu situ (sambil menunjuk ke pintu dekat ruang dosen) terus ongomong sama Bu Ike, Bu mau ngumpulin paper. Nah Bu Ike langsung bentak; Kalian itu punya mata, punya kuping kenapa tidak mau dipake saya sudah bilang di kelas waktu pertemuan terakhir kalau paper tugas akhir dikumpul 3 hari sebelum ujian dan saya juga tempel pengumuman di papan. Kalian memang angkatan brengsek lebih brengsek dari yang lain. Pokoknya saya tidak mau terima paper kalian. Terus ya udah kita keluar. Habis Bu Ike nya udah marah-marah gitu. Cukup jelas Febe mendeskripsikan dengan mimic seorang Bu Ike beserta intonasinya. Sebelum aku bicara tiba-tiba Bu Ike keluar sambil mukul pintu..keluar dari Tata Usaha, sepertinya dia dengar obrolan kami yang kebingungan, kecewa, sakit hati, merasa tolol dan seribu perasaan lainya.

“Kalian dengar tidak kalau pertemuan terakhir kemarin saya umumkan untuk mengumpulkan paper 3 hari sebelum ujian? Tau tujuannya apa?” Kami masih kebingungan untuk menjawab. Dan Si ibu yang lagi syndrome high blood melanjutkan semprotannya.
“Supaya saya punya waktu untuk baca tulisan kalian yang bikin pusing itu.” Matanya melotot dan sudah pasti letak kacamatanya sudah tidak normal agak miring ke kiri. Wajahnya memerah seperti habis dijemur dimatahari sehari di Pantai Marina. Teman-teman memolototiku. Lagi-lagi isyarat mata itu menghendaki aku angkat bicara. Baru mau buka mulut Bu Ike meluncur lagi bagai pesawat jet lepas landas. Wush..
“Siapa yang dengar pengumuman saya? Kalau tidak ada berarti saya yang salah.” Sepertinya dia mau cari bukti sebenarnya kesalahan ada dipihak mana. Tiba-tiba si kupret bicara
“Saya Bu..saya sama Dani..dan kita udah ungumpulin 3 hari yang lalu.” Si Igor dengan jujur menaggapi. Tidak pikir dia kalau jawabannya bisa bikin satu angkatan gak bisa ikut ujian hari ini. Karena Bu Ike mengangap kegobolokan ada di pihak kami.
“Sial” Pikirku. Tiba-tiba aku yang disodorkan pertanyaan
“Donatus, kamu dengar tidak?”
“Tidak bu.” Jawabku. Karena memang aku gak tahu ada pengumuman kayak gitu.
“Okey saya tidak mau ambil pusing saya mau ujian oral kalau kalian bikin paper yang baru titik tidak ada alasan lagi.” Pernyataan itu jelas, menghantam dan mengecewakaan bagai pasien sakit jantung masuk stadium tiga. Dag..dig..dug.. there’s no other choice except find a new topic. “Gila..gila.. bikin setengah mampus gak di kasih nilai.” Gumamku dalam hati. Setelah kepergian Bu Ike dengan pernyataannya setajam pisau, sekeras batu, dan sepanas bara api semua kecewa.
“Ayo kita harus gimana ini? Masa kita harus buat lagi..Igor sih?” Febe melototin Igor yang berdiri dengan percaya diri disampingnya.
“Ya bukan aku dong ya salah..memang waktu itu kita dengar kok.” Igor membela diri. Dengan wajah agresifnya, keningnya dikerut-kerutkan.
“Tuh..Dona aja gak dengar apa-apa.” Febe gak mau kala Aku pikir-pikir lagi. Emang sudah jadi tradisi kalau ada tugas mesti pada nanya ke aku. Walaupun seringkali aku sok tahu. Tapi kok kali ini aku gak tau ya..O..ya…

“Aku gak masuk ada rapat pas kuliah terakhir kemarin.” Aku sadar sekarang. Tapi apa yang mesti dilakukan ya.. Harusnya aku nanya.harusnya aku bisa nebak..dan harusnya bla..bla..bla… biasa penyesalan selalu datang terlambat.. kalau datang duluan bukan penyesalan namanya.
“Ok. Sekarang kita temuin Bu Ike mungkin dia bisa ngerti, siapa tau.” Ku coba untuk berharap. Meski teman-teman sudah pada ikhlas. Ikhlas buat ngambil aja lagi tahun depan, gitu maksudnya. Tapi mereka juga masih berharap, terlihat dari wajah-wajah bingung itu. Tapi kenapa seorang Bu Ike bisa sampai marah seperti itu? Ya.. mungkin udah capek menghadapi mahasiswa dablek kayak kami. Itu kejadian kedua sebelumnya adalah. Kuliah Extensive Reading. Seperti biasa kita dikasih novel dan puisi masing-masing dibatasi sesuai dengan tebal tipisnya novel dan banyak sedikitnya puisi. Saatnya maju ujian. Semua berbaris laksana pasukan Garuda yang dikirim ke Timur Tengah atau seperti warga yang antri sembako. Kali ini kumpulan puisi yang harus kami jelaskan ke Bu Ike. Sudah dipastikan setiap anak menenteng fotokopian dengan puisi buah karya para penyair Romanticm Era sampai abad dua satu. Pintu lab dibuka, dan maju satu-satu.

Dan setelah beberapa saat bu dosen yang mengenakan daster ini keluar wajahnya merah membara. Korban pertama adalah pintu. Kasihan pintu, coba kalau dia bisa ngomong, kenapa ya aku yang slalu digebukin. Perasaan aku gak salah apa-apa..
“Cklek..Gdebuk..Bum….” Semua kaget dan memandang kearah pintu sang wonder women berbadan dua mengenakan daster motif bunga-bunga berdiri disana dengan tangan kanan menenteng fotokopian kumpulan puisi dan tangan kirinya baru saja menghantam pintu. Gila.. coba kalau tangan itu di tempeleng ke muka pasti tambah hancur wajahku.. berantakan dan berserakan kemana-mana.

“Kalian itu saya sudah kasih waktu selama dua minggu untuk baca teks ini..@$%#*$&^)(*&..” Suaranya merambat naik, urat nadi di lehernya seolah-olah mau meloncat keluar, seperti ular yang kepanasan menggeliat keluar liangnya. Kedua kaki menumpu kuat menahan berat badannya yang over karena ada seorang penghuni yang bertenggger didalam perutnya. Kemudian adegan pembentakan berlanjut.
“Kalian pikir saya ini teman kalian yang bisa kalian perlakukan seenaknya.” Sampai disini aku masih bingung. Kupandang wajah teman-teman disekitar tempat itu. Semua wajah kebingungan ada yang melongoh, menunduk, dan melotot karena kaget. Kalau ada yang sakit jantung mungkin shock di tempat.

“Dari tadi saya tanya tidak ada yang bisa jawab, sudah 6 orang. Kalau pun ada yang jawab itu ngelantur kemana-mana.. masa diawal katanya characternya sudah mati kok di belakang bisa hidup lagi.” Sambil mengibas-ngibas teks yang ada ditangannya. Bola matanya melotot seolah-olah kedua matanya mau melompat keluar dari kacamata yang ada didepan seperti bola golf yang meloncat-loncat mencari hole. Aku dan beberapa teman disitu sedikit tersenyum ada yang kelepasan tertawa, saat itu mungkin kami pikir bisa saja tokoh itu punya ilmu sihir atau bisa bermuzijat kayak David Copperfield atau seperti Yesus yang bisa membangkitkan orang mati, atau mungkin karakter itu pengikut Yesus. Kemudian,

“Kalian jangan tertawa!..paling juga sama saja denagan teman-teman kalian yang sudah maju.. Sekarang saya gak mau nguji lagi..kalian baca saja dulu puisinya kalau sudah siap baru kasih tau saya.” Bu Ike langsung menyingkir menuju kantor dengan sandal setengah sepatu yang diseret-seret. Karena makenya gak pas gitu. Semua wajah mengambarkan rasa bersalah tapi prosentasenya lebih besar perasaan puas karena gak ujian hari ini. Akhirnya ujian ditundah.. See you next time Bu Ike.
Kembali ke permasalahan semula, sekarang adalah kejadian kedua, sudah pasti pertama aja kayak gitu apa lagi adegan selanjutnya jauh lebih dasyat dan bombastis kalau kasarnya sih jauh lebih sadis. Semua bicara sendiri-sendiri, belum siap untuk menghadap Bu Ike yang sedang nongkrong di tata usaha dengan aura wajah yang sangat pekat.. sampai-sampai gak ada satu pun lalat yang berani nangkring di dedapannya. Saat itu kami tidak berani menatap wajah Bu Ike sama sekali. Ngeri takut ketularan darah tinggi atau jadi sasaran tembak peluru terpedo. Dan entah kenapa kobaran api sepertinya telah padam. Tidak ada dua tanduk yang bertengger di kepalanya, tidak ada lagi tombak tajam yang siap menghunus. Tidak menggelegar seperti guntur atau meletik-letik seperti petir atau menggemuru seperti deru ombak Si ibu berbadan dua ini keluar, kali ini wajahnya tersenyum, langkah kakinya lebih tenang. Aku kaget bukan main malaikat dari surga tingkat berapa yang merasukinya? Ibarat nya kalau ku gambarkan. Dia keluar dengan baju putih-putih, gak ada tanduk dikepalanya tapi mahkota yang blink-blink, bukan tombak bermata tiga tapi tongkat licin berkepala bintang gejora di tangannya.

“Baiklah sekarang saya maafkan kalian, tapi lain kali jangan sepelehkan dosen yang ngasih tugas, harusnya kalian bisa mengerti.. kan kalian sudah dewasa. Sekarang maju satu-satu ke ruangan saya.” Kali ini bukan Lusifer tapi Gabriel atau Jibril, pembawa berita yang mendamaikan hati kami. Seperti di sihir Suasana menjadi sumringah, kebahagian setengah ketidakpercayaan menepuk-nepuk wajah kami. Terimakasih Bu Ike kamu memang baik, kira-kira itu yang kami pikirkan. Tentu saja Si Febe terseyum kegirangan sambil meluapkan kata-kata:
“Yes,,gak jadi bikin ulang” Tangannya laksana tangan kuli bangunan di ayun keatas kemudian dibanting kebawa.

Sabtu, 11 Oktober 2008

I'm Sorry Mum


Kuliah pagi..paling malas. Jam 7.30 harus sudah dikampus. Kalau kelasnya Bu Ike and Bu Ninik gak masalah. Ini kelasnya Bu Wur. Dosennya terkenal strik, killer tidak kenal kompromi Harus on time jam 7.45 lebih pintu ditutup. Walaupun setelah itu aku sadar kalau dosen satu ini baik hati, sampai pas aku gak ada uang buat urunan beli kenangan-kenangan buat Fakultas. Dia bawa aku ke kantor nya dan mengeluarkan lembaran 50 ribuan buat aku. Tapi kalau dalam hal kuliah lain cerita. Apapun alasan kalau telat gak boleh masuk. Terlambat adalah budaya bagi kami. Bu Wur seperti apa orangnya? Penampilan selalu elegant, yang bikin beliau unik adalah punya jambul laksana kepala ayam jantan atau burung kakatua. Walaupun dia terbaring dirumah sakit jambulnya gak pernah rusak. Teman-teman sering tanya kok bisa ya? Sakit masih ngurusin jambul. Ya. Mungkin itu jimatnya.

Nah.. mahasiswa harus on time tapi kuliahnya selalu jam 7.30. ini masalah besar buat kami. Terkenal angkatan 2004 pasti terlambat. Apa lagi “Rombongan Wisatawan.” Mereka kalau masuk kelas selalu keroyokan. Jadi Bu Wur harus berhenti bicara. Semua mata keranjang pasti melahap kearah mereka laksana mata burung elang yang menatap penuh gairah kearah mangsa-mangsanya dari ujung rambut sampai unjung kepala. Apalagi kami penikmati keindahan. Disini kadang aku tidak bisa membedahkan unsur gairah keindahan dan gairah birahi. Sangat transparan. Tatapan mata pasti berhenti lebih lama di dua area. Dada dan Paha. Kalau pasukan mereka lewat semua aktifitas berhenti; “Cut..cut…iklan-iklan dulu!!!” Sudah gitu.. mata mengantuk jadi pulih. pikiran yang masih gentayangan di kasur, secepat kilat kembali ke saat ini. Ya..di kelas ini dengan obyek yang memikat. Habis itu Bu Jambul pasti memberikan ceramah.

“Saya mohon supaya jangan terlambat terus ya. Ini menggangu konsentrasi saya.” Suaranya datar, tegas dengan sorot mata mantap. Yang di nasehati gak peduli sibuk nyari tempat duduk.

Krek..krek..pletak. kursi-kursi diseret merapat. Para mahasiswi wisatawan ini gak mau kalau duduk terpisah. Slalu saja berusaha biar duduknya bareng. Sepertinya kalau misah kekuatan ajaib mereka tidak berfungsi. Dan itu berpengaruh dalam menyerap pelajaran.

“Geeser donk!”

Tradisi mahasiswa di kampus ini adalah sebagai berikut: yang datang awal pasti duduk di paling belakang, dan tengah. Kalau duduk didepan berarti itu mahasiswa yang tergolong “sadar” Sadar kalau duduk dibelakang pasti disuruh jawab pertanyaan, atau maju kedepan buat nulis jawaban atau jadi obyek teguran dosen atau dibelakang gak dengar apa-apa.

“Tolong ya! kalau saya lagi ngomong didengar!” Suaranya agak meninggi, kesan killernya terasa. Yang belum dapat tempat duduk terpaksa berdiri dan melihat ke Bu Jambul agak menunduk karena malu.

“Yang belum dapat tempat duduk sekarang duduk!”

“Ini soalnya dibagikan kebelakang!” Bu Wur dengan jambul bak makhota kebanggannya memberikan tumpukan soal ditangannya ke mahasiswa yang duduk paling depan. Aku terjebak paling belakang bersama sang penggemar bintang holywood itu, Seto, dan Andini. Aku duduk ditengah diantara mereka tentu saja. Tibalah saat yang dinanti-nantikan. Dengan serius soal dibaca satu persatu mana yang lebih mudah. Da ternyata, Oh my God, sepuluh soal yang ada tidak bisa semua. Mampus… masa gak diisi. Kalau gak licik bukan mahasiswa namaya. Ada dua rencana utama, Satu tengok kiri dan kanan. Tanpa berpikir panjang lagi mataku melotot seperti teropong bintang focus ke lembar jawaban Andini.

“Din nomor satu jawabanya apa?” Tentu saja berbisik kalau kedengaran Bu Jambul langsug disuruh keluar ruangan. Tapi aku tidak melihat jawaban apa pun dikertasnya. Yang ada tulisan nomor satu kemudian salinan soal dilangkah beberapa baris kemudian nomor dua, tulisan soal dan seterusnyanya. Aku mulai panik. Biasanya paling gak tiga atau empat soal yang aku yakin bisa, tapi sekarang gak tahu sama sekali. Selanjutnya tengok kanan.

“Man, nomor satu dua dan seterusnya sampai sepuluh jawabanya apa?” belum sempat dia komentar, mata ku langsung melahap seluruh isi lembar jawabannya dan ternyata yang ada hanyalah tulisan nama, mata ujian, tandatangan dan pada baris pertama angka satu yang dibulat-bulat. Ternyata, rencana A gagal. Masuk keaksi berikutnya buka buku ajaib yang tersimpan dalam tas. Ini adalah kitab yang bisa menjawab semua teka-teki ini. Kalau diumpakan, seperti kitab suci yang mampu mengetahui apa kehendak Tuhan. Tanpa bertele-tele tangan kiriku merogo-rogo tas yang ada dibawa kaki. Tiba-tiba.

“Yuli, keep your eyes on the paper!” Aku gak bisa membayangkan bagaimana wajahnya Yuli, merah merona bagai wajah lawan yang kena pukulan telak Make Tyson. Tangan kiri yang masih dalam tas secepat kilat langsung kucabut keluar dan kembali keposisi semula. Setelah itu mata Bu Wur mulai menjelajahi seluruh ruangan laksana tatapan mata Ratu Elisabet di Era Victorian, tegas, cepat, dan tentu saja killer. Kegelisahanku mulai meningkat beberapa persen dari sebelumnya. Diam dan pura-pura nulis agar tidak dicurigai. Setelah beberapa saat, tangan kiriku beraksi lagi tatapan mata tetap kedepan. Tangan kiri bekerja super keras sambil pikiran ku mengira-ngira kira-kira yang mana catatannya. Sudah sekian lama aku tidak menemukan yang dicari. Kali ini aku ragu dengan indera perabaku terpaksa mata ku melongo kedalam tas yang sudah terbuka dan saat itu tanpa ku duga.

“Donatus, Just write your answer!” Mampus, aku kaget bukan main setengah tidak percaya kalau aku ketahuan. Aku sesaat bengong, yang disebut bukan Yuli, Yudha, Andini atau Seto tapi Donatus, iya namaku. Rupanya Bu Wur punya mata yang sangat lihai bagai kucing yang duduk diatas genteng tapi tahu kalau ada tikus yang lagi sibuk mengobrak-abrik sampah di pinggir jalan. Kali ini aku yang kena tembakan cukup untuk melumpuhkan kesadaran dan kegoblokan ku. Seketika itu semua ribut dan menatap aku yang kebingungan, malu, dan salah tingkah.

“Iya Bu.” Jawab ku seadanya. Posisi duduk dirapikan lagi. Kali ini benar-benar bahaya. Musuh sudah tahu gerak-gerik ku dan sempat melontarkan tembakan. Akhirnya ambil langkah preventif. Posisi duduk tegak kepala menunduk menatap lembaran kosong yang sedang tertawa mengejek, mungkin kalau kertas ini bisa bicara sudah dari tidak aku digoblok-goblokin. Tangan kanan memegang pulpen. Dan pura-pura menulis. Pikiran ku berkeliaran menyusuri jejak-jejak dimana catatan beserta foto kopian ku? Apa mungkin tidak ada didalam tas? Seperti kesetrum aku sadar kali ini aku benar-benar kala dan harus ambil lagi tahun depan, kitab ajaib andalanku tertinggal di tempat tidur. Gara-gara tadi bangun terlambat. Tidak ada harapan lagi. Kali ini menunggu mujizat siapa tahu ada yang baik hati melemparkan Jawaban dari nomor satu sampai sepuluh. Aku terus mengamati teman-teman yang sedang menyontek ada yang memutar lembar jawaban teman di sebelahnya. Aktifitas mereka begitu rapi sampai sang penembak jitu yang duduk mengawasi di depan tidak mengetahui aksi bulus mereka. Aku masih terus menunggu dan menunggu. Sudah tidak ada harapan lagi.

Tiba-tiba seperti menemukan oase di padang gurun aku bahagia bukan main. Seto memegang sebua kertas besar seukuran lembar jawaban yang dilipat seadanya. Dalam kepalaku sebua angan-angan. Pasti semua jawaban ada dikertas ini. Semuanya.. Setelah Seto menyalin dan giliranku. Aku benar-benar bahagia. akhirnya penderitaanku berakhir. Kali ini Seto yang mengalami ketegangan. Seperti seorang pencopet di kreta api, dia membuka pelan-pelan kertas itu, matanya tetap mengarah ke depan. Takut kalau hantaman cock telak dari Susi Susanti mengenainya.

Akhirnya kertas penyelamat itu berhasil dibuka. Aku kaget bukan main tanpa terkendali, aku tertawa. Andini yang ternyata sedang menunggu peta harta karun itu dibuka ikut tertawa. Bukan semua jawaban yang ada disitu tapi hanya ada tulisan nomor 6 yang dibundar besar-besar. Diikuti satu kalimat yang terdiri dari 4 kata. Yang ditulis besar-besar juga. Parahnya lagi aku tidak bisa mengerti apa yang ditulis disitu. Tentu saja Susana ini adalah bentuk kebodohan kami.

“Donatus, Andini. What happen? Kalian sudah bikin suasana tidak kondusif. Saya minta tolong kerjakan soal anda,a kalau tidak bisa tinggalkan saja.” Kali ini benar-benar sekarat. Semua kelas bersorak riuh.

“Huh..donatus lagi…donatus lagi…”

“He..he…he..” Aku hanya bisa nyegir dan menatap Bu Wur yang sedang mengeleng-geleng kepala. Mungkin dia marah atau kasihan.. ekspresinya susah ditebak kali ini. Saking geroginya aku. Keputusan harus diambil dari permainan ini. Aku kalah dan tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain mencorat-coret lembar jawaban itu sehingga kelihatan penuh dengan tulisan. Jika seorang mahasiswa sudah tidak bisa apa-apa lagi dalam mengerjakan soal maka langkah yang paling darurat adalah memenuhi lembar jawaban dengan salinan soal dan dicampur dengan aksi mengarang indah. Dalam rasa bersalahku Ratu Elisabeth ini menembak lagi

“Donatus, Andhini, Seto setelah ini menghadap saya.” Tegas, mantap, tidak perlu penjelasan tambahan, dan tidak ada kompromi. Kita bertiga nyengir-nyegir sendiri. Aku kasihan sama Seto. Dia yang tetap tenang walaupun garis-garis kebingungan terangkai berantakan diwajahnya, harus terlibat. Gara-gara keteledoranku. Tapi bukan namanya 2004 kalau gak jadi trouble maker.

“Silakan duduk!”

Aku deg-degan… kira-kira apa yang akan dikatakan oleh ibu bermakhota ini ya? Yang jelas ceramah. Apa aku tidak diluluskan? Ah..dengarkan saja.

“Terus terang saya kecewa dengan anda bertiga” Suaranya merendah bagai seorang ibu yang menyesali kenakalan anak-anaknya. Kami masih diam sambil menatap Bu Wur.

“Kalian adalah orang-orang yang dianggap mampu menjadi pemimpin bagi teman-teman mahasiswa lainya.” Diam dan menarik nafas.

“Tapi tindakan kalian tadi sangat tidak layak.” Sorot matanya sangat lembut menyentuh hati kami yang paling dalam. Kami menyesal. Sesaat diam aku menunduk. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat. Tadi seharusnya aku tidak seperti itu. Seharusnya aku belajar, seharusnya aku simpan catatan itu di tas..dan seharusnya..seharusnya.. kemudian Bu Wur melanjutkan.

“Saya tahu kalian tidak menyontek. Teman-teman kalian itu hampir semua menyontek. Tapi sikap kalian itu tidak menghargai ujian ini.” Aku sedikit kaget dan menatap Bu Wur. Ternyata dia tahu juga semua yang terjadi. Hebat-hebat. Seharusnya kamu jadi intel, snapper, pengamat politik, bukan dosen bu. Andini terlihat berkaca-kaca. Emang kalau perempuan dengan perempuan itu lebih saling memahami. Rupanya dia tahu betul perasaan Bu Wur akhirnya ia buka mulut.

“Kami minta maaf yang sedalam-dalamnya, bu. Kami tidak akan mengulang lagi. Terimaksih atas perhatian ibu kepada kami. Untuk kedepannya kami akan lebih peka terhadap kondisi yang ada.” Pasti meminta maaf dan merasa bahwa ini adalah kekhilafan. Ya..namanya juga maling kalau tidak ketahuan dia cengengesan dan basok maling lagi, tapi kalau ketahuan dia pasti mengatakan, aku khilaf. Besok aku tidak akan mencuri lagi. Dan Bu Wur melanjutkan;

“Kalian adalah harapan kami khususnya saya, kalau kami butuh bantuan pasti lewat kalian. Kami menganggap kalian adalah orang yang bisa diandalkan di Fakultas ini. Kalau jadi pemimpin harus bisa memberi contoh. Jadi kalian tahu kenapa saya panggil kalian bertiga? Baiklah saya maafkan kalian, tapi lain kali jangan mengulang lagi.” Intonasi suaranya begitu menyentuh dengan tatapan mata menyimpan harapan yang sangat tulus. Dibalik sosok Ratu Elisabeth ternyata terdapat pribadi Bunda Theresia yang lemah lembut.

“Terimakasih bu, kami tidak akan mengulang lagi.” Rasa bersalah bercampur dengan semangat untuk tidak melakukan tindakan itu lagi. Kemudian sedikit bangga dengan ucapan Bu Wur bahwa kami adalah mahasiswa yang menjadi tangan kanannya dan dosen lainya. Akhirnya dengan sikap yang agak malu-malu kami meninggalkan Bunda Theresia itu. Terimakasih bu semoga kami jadi mahasiswa yang benar-benar berguna.


Selasa, 07 Oktober 2008

Negri Utopia


Negri Utopia

By; Donatus

Setiap wajah yang menatap tak menghadirkan senyum sedikit pun. Aku seperti makhluk kutukan yang menyeramkan. Tak pantas untuk hadir bahkan sekedar untuk numpang bernafas. Ada apa dengan tempat ini? Aku tidak salah, tempat ini pernah menjadi saksi atas kehidupanku. Tak peduli dengan tatapan orang-orang yang kujumpai. Kususuri lorong kecil. Sampah berserahkan, bau selokan sangat menyengat. Segerombolan tikus berlarian sementara disisi lain tempat sampah yang sudah reot terpelanting memuntahkan isinya. Tikus yang didalam berlarian keluar dan berusaha mengusir tikus-tikus kecil disekitarnya. Baginya mereka tak pantas untuk ada disitu. Ini area miliknya. Tak peduli dengan kemarahan tikus besar. Mereka berlompatan mengajak-acak sampah yang berserahkan, sesekali bersembunyi karena ada manusia yang lewat. Kehadiran manusia sangat membahayakan. Mereka bisa saja dimusnahkan. Dan bisa saja mereka diangkut bersama sampah kemudian dibuang kearea yang gersang. Tapi akhir-akhir ini ketakutan mereka sepertinya tidak perlu terjadi. Seiring dengan kepergian pahlawan pembuang sampah, mereka bebas melahap setiap sisa sisa makanan yang dibuang. Penduduk di daerah ini tidak mampu lagi membayar orang untuk membersihkan sampah-sampah. Atau mereka tidak peduli. Bahkan membeli tong sampah yang baru mereka tidak mampu. Tidak ada lagi orang seperti Mang Kardi. Tidak peduli bayarannya harus nunggak berbulan-bulan. Membuang sampah merupakan amanah yang harus diemban. Dia selalu menikmati hidupnya. Meskipun orang-orang slalu menutup hidung mereka disaat dia lewat membawa gerobak sampah. Tetangga dekatnya selalu menyarankan dia untuk berhenti.

“Kakek sudah tua istirahat saja!”

“Aku tidak akan pernah berhenti sampai Yang Kuasa menganggapku layak untuk beristirahat selamanya.”

“Tapi ke... kalau terus mendorong gerobak ini. Kakek bisa sakit”

“Kakek paham dengan tubuh kakek. Kalau bukan kakek yang melakukan siapa lagi? Ini amanah. Menikmati setiap pekerjaan itu makna dari kehidupan.” Demikian Mang Kardi selalu menanggapi opini orang-orang disekitarnya. Dan sekarang Sang Kuasa sudah memutuskan untuk mempensiunkan sang pejuang untuk selamanya.

Desas desus yang terdengar, Mang Kardi adalah seorang pejuang. Dia selalu menceritakan ke orang-orang tentang perjuangannya dulu melawan kaum penjajah. Banyak yang tidak percaya. Mana mungkin seorang pahlawan hanya menjadi tukang sampah. Seharusnya banyak simbol-simbol yang melekat dibajunya seperti para veteran perang. Selain itu kehadirannya di tengah warga sangat misterius. Dia datang seorang diri dan membangun gubuk kecil dipinggir kali. Tidak ada yang tahu asal-usulnya. Dan itu tidak penting, yang penting tempat mereka bisa bersih. Aku tersadar ketika dua orang lewat dengan mengendarai motor sambil berteriak.

“Anjing sialan minggir! Bosan hidup ya?” Seorang yang duduk di jok belakang menatapku dengan guratan marah.

Rambutnya disemir dengan warna bermacam-macam sementara celananya sobek-sobek tak karuan. Teriakan itu memaksa ku geser ke pinggir jalan tepat diatas kali. Pandangan ku mengarah ke kali kecil. Air tidak bebas lagi mengalir. Sampah menumpuk. Membeludak. Warna keru nan pekat memahkotai sungai yang dulu selalu jadi tempatku berkaca. Sekarang tidak lagi. Keruh dan bau membusuk. Ku pahatkan langkah ku perlahan-lahan diatas tanah basah, luapan air kali. Sifat air memang selalu mengalir. Ketika jalannya terhambat maka dia akan terus mencari cari tak peduli apakah ia pantas untuk berada disitu. Orang-orang yang lewat pasti berjalan menjijit. Kalau sampai kakinya tercebur, paling mengumpat. “Sialan sandalku kena lumpur, kakiku jadi kotor.” Mereka tidak peduli kenapa air sampai muncrat kesitu dan apa yang harus dilakukan untuk mengarahkan air mengalir ke jalannya? Aku tidak bisa menghindar dijalan yang kering. Karena sudah dikuasai manusia. Tidak ada pilihan lain selain menyusuri jalan ini. Percikan air lumpur mengotori seluruh kakiku. Suara rintihan tikus-tikus yang berkelahi masih terdengar. Biarkan saja toh memang itu sudah jadi takdir mereka. Mencari nafkah di tempat-tempat yang dianggap kotor oleh manusia. Dari pada berdasi dan berjas rapi tapi perilakunya sama seperti tikus-tikus itu. Mengais ditempat busuk. Gubuk-gubuk berserakan disepanjang pingir kali. Beratapkan genteng tua dan seng karatan. Dinding-dinging triplek menutupi seadanya. Suara para penghuni bercengkerama mengaung menembus keluar lewat lubang-lubang dinding. Aku tidak memperhatikan obrolan mereka. Tetap pada langakah ku untuk terus menyusuri gang yang tidak layak untuk disebut sebagai perumahan warga yang sehat. Langkah kakiku tiba-tiba terhenti, seketika mataku memandang menyaksikan seorang tukang becak disebrang jalan. Celanannya penuh dengan tambalan, kaos obolong dengan warna kusam. Dia sedang asik memegang sebua benda kecil. Asyik sekali, dia tidak peduli walau ada orang lewat disampingnya. Aku penasaran. Kusebrangi jalanan yang becek itu. Dan iya.. itu adalah sebuah benda aneh. Tiba-tiba dia bicara sendiri dengan mulut menempel pada benda itu. Suara lembut terdengar keluar dari benda aneh itu. Sepertinya suara perempuan.

“Kakak lagi dimana toh” Sayup-sayup suara itu terdengar dari benda aneh itu.

“Kakak lagi jalan-jalan nih. Didaerah perkampungan. Mau nyari lahan yang pas buat bisnis.” Wajah nyengir mengisaratkan kebohongan. Sepertinya sosok bersuara disebrang sana tidak tahu siapa sang tukang becak bercelana bolong di area selangkangan itu.

“Kakak bisnis apa, kok baru cerita sekarang?”

“Ya..bisnis kecil-kecilan lah..bikin perumahan gitu.”

“Ah..kakak.. itu mah bukan kecil tapi udah tergolong gede.” Sambil memiringkan pantatnya. Dan sobekan celanannya terlihat jelas. Tetap saja dia tidak peduli. Kaki sebelah kiri diangkat dan ditumpukan pada paha kanannya sambil bergoyang-goyang laksana bos besar sedang menikmati kemakmurannya. Tukang becak ini mungkin sedang merayakan dunia imajinasinya bersama gadis bersuara lembut disebrang sana. Ah..dunia semakin aneh. Apakah ini yang dinamakan kemajuan? Kutinggalkan tukang becak dengan benda anehnya. Kuayunkan langkah kakiku yang terasa semakin berat. Bekas kaki terpahat berantakan diatas jalan berlumpur. Aku berpapasan dengan orang-orang. Wajah mereka penuh curiga, takut, bahkan ada yang lari sambil berteriak: “Ada anjing liar...hi...hi..” Aku tidak peduli. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku berlari kecil dibalik kegelapan. Menghindari keramaian. Menghindari manusia yang sok suci, bersih. Lelah rasanya. Menyusuri gang kecil ini. Namun aku tidak menemukan keindahan, keharmonisan, dan ketenangan. Semua tatapan mata penuh dengan kecurigaan, perkampungan asri nan harmonis tidak tahu entah kemana. Kini yang menghuni adalah orang-orang aneh. Dulu aku dan teman-teman selalu bebas berkeliaran. Meminum air dari kali di pinggir kampung. Menyapa setiap penduduk yang dijumpai. Semua mata begitu bersahabat. Senyum ceria selalu menghiasi bibir mereka. Anak-anak kecil selalu memegang kepalaku dan mengelus-elus buluku. Katanya aku lucu. Mang Kardi selalu menyapaku.

“Atman sudah makan?” dengan kelembutan tangannya di mengelus-elusku.

Kalau aku lapar aku akan menjilat-jilat tangannya, menatap wajahnya sambil mengeluarkan lidahku kadang air liur menetes. Kalau sudah begitu Mang Kardi mengeluarkan sepotong roti atau tulang dari dalam tas buntutnya. Aku melahap makanan itu. Sementara dia sibuk mengangkat tong sampah dan dimasukan kedalam gerobak. Mang Kardi adalah orang yang sangat dekat denganku. Walaupun kami tidak menggunakan bahasa verbal seperti bahasa manusia. Tapi tingakah lakuku benar-benar diterjemahkan dengan benar oleh Mang Kardi. Dan aku selalu melindungi Mang Kardi dari ganguan anak-anak nakal yang mengejeknya atau mengacak-acak tempat sampah. Tak ada tikus-tikus disini. Disamping Mang Kardi, aku punya teman seekor kucing kampung tak bertuan dengan sorotan mata tajam diselalu duduk diatas genting rumah dan mengamati mangsanya. Kalau ada gerak mencurigakan secepat kilat ia melompat menghajar mangsanya dan melahapnya. Aku kagum dengan kepiawainnya. Sikapnya dingin dan kaku tapi di seekor kucing yang baik. Tidak ada keributan selain pertengakaran suami istri dalam dalam rumah kerena cemburu, atau perkelahian antar anak kecil yang merebut mainan. Tiba-tiba aku tersadar dalam lamunanku.

“Pencuri-pencuri..Maling..Maling..” Terdengar sorakan orang-orang. Dan sebua kendaraan melaju dengan cepat dan membabi buta. Dibelakangnya terlihat dari keremangan lampu-lampu jalan orang-orang berlarian ada yang menggengam batu, pentungan semua melemparkan kearah pengendara itu. “gdebuk” sebua batu menghantam punggung orang yang duduk di belakang.

“Mampus kau pencuri.”

“Ayo ngebut dong. Mereka semakin mendekat.” Orang yang duduk dibelakang membentak.

Orang-orang semakin banyak menumpuk dijalan meluap ke pinggir sungai. Wajah kecewa, para pencuri tidak tertangkap. Seorang menghujat-hujat dengan kata-kata kasar. Sepertinya dia pemilik motor itu.

“Keparat..berengsek..mampus sekalian ditabrak truk.”

Dari percakapan terdengar kalau motor itu belum selesai masa kredit.. aku tak sanggup menyaksikan “kehancuran” yang terjadi di tempat ini. Tempat yang pernah menjadi saksi hidupku yang begitu damai. Pencurian tidak pernah terjadi. Ketika ada lagak orang yang mencurigakan, aku dan teman-teman akan mengamati tingkah laku mereka. Jika orang ini tetap nekat berusaha menjamah barang-barang warga maka secepat kilat kami mengeluarkan suara yang menakutkan maka orang itu akan mengambil langkah seribu. Bahkan terperangkap kedalam got. Kalau sudah begitu. Kami hanya menyaksikan orang itu keluar dari dalam got dengan wajah ketakutan dan lari terbirit-birit. Ah sudahlah.. semua hanya masa lalu. Kupejamkan mataku dan menunduk. Aku yakin tidak ada orang yang memperhatikanku. Tempat ini cukup aman buatku. Walapun aku merasa, kalau sekarang aku hanya seorang pengecut yang sembunyi dibalik ketakutan. Aku ingin membantu orang-orang itu. Menjaga keamanan kampung ini. Tapi aku tak mampu. Orang-orang ini sudah tidak mengenalku lagi. Teman-temanku juga sudah pergi entah kemana. Sekarang seorang diri dengan bulu-bulu yang tidak terawat kuletakan kepalaku diatas kardus yang setengah basah. Aku lelah..walaupun aku yakin aku masih bisa berlari sepuluh kilo meter lagi. Disini aku ingin menghabiskan malamku dengan tempat dimana aku mengabiskan masa-masa bahagiaku.

“Pergilah! Pergilah dengan tenang Atman manisku..Kamu tidak layak lagi tinggal disini.” Suara itu terdengar sayu mendayu merayap dalam kesadaranku.


Kamis, 25 September 2008

WAKTU



WAKTU
Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?….
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi,
Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan.

Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa.
Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain?
Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.



PERSAHABATAN
Tiada mutiara sebening cinta..

Tiada sutra sehalus kasih sayang..

Tiada embun sesuci ketulusan hati..

Dan tiada hubungan seindah persahabatan..



Sahabat bukan

MMATEMATIKA yang dapat dihitung nilainya..

EKONOMI yang mengharapkan materi..

PPKN yang dituntut oleh undang-undang..


Tetapi

Sahabat adalah SEJARAH yang dapat dikenang sepanjang masa

Rabu, 18 Juni 2008

muri record

Dandang

Dandang
Oleh Donatus

Langit sangat cerah..sedikit awan putih menempel begitu saja bak selendang putih menutup seadanya tubuh gadis mudah..padahal sebelumnya awan hitam membungkus rapi langit biru. Sayup-sayup terdengar kelakar ibu-ibu dari sebua rumah dekat kali mati pinggir desa.. hari ini suasana Desa Ile Beleng begitu ramai. Tidak biasanya sepi hanya suara anak kecil berlarian main ban. Hari kamis adalah Hari Pasar jadi susananya lebih meriah dari Hari Minggu.. para aparat Desa sibuk rapat di balaii desa..membahas tentang rencana pembangunan desa.. bapak-bapak dan pemuda sibuk menjual hasil kebun, mete, Kemiri, dan kopra.. Banyak truk dan mobil pick-up lalu lalang membeli hasil kebun. kalau hari lain pusat kegiatan di ladang dan kebun masing-masing. Sekarang desa jadi sentral aktifitas.. para ibu membuat perkumpulan tenun ikat dan Hari Kamis adalah saatnya untuk melakukan tenun ikat.. ada sekitar 10 ibu-ibu asik dengan aktifitas mereka.. mengatur benang, membuat pola, melepaskan simpul, mewarnai benang..
“Apa ya nama untuk perkumpulan kita ini?” Seorang ibu muda melontarkan pertanyaan.
“Kita kasih nama PTI.” Ibu yang lain menanggapi..
Yang lain kebingungan dengan singkatan ini.. Memang ibu Susan suka dengan singkatan.
“Aduh..Kalian ini masa tidak tau..Perkumpulan Tenun Ikat.”
“Susan..itu semua orang juga tau kalau perkumpulan kita ini untuk tenun ikat…maksud kita namanya?”
“Oh saya dapat.. Perkumpulan Tenun Ikat MM.” Ibu Susan tak mau kala.
“apa lagi itu?”
“Maju Mundur..he…he.. bagaimana stuju?
“Ha…ha…. Kita setuju kalau semua anggotanya seperti kamu datangnya Cuma dua minggu sekali …dan datangnya terlambat pulangnya awal.. jadi tidak menghasilkan apa..jadinya mundur.” Ibu Oreng meledek
“Ah..kalian itu…(diam) sibuk dengan menggulung benang.
“kita lihat saja nanti sebentar lagi dia pulang dan benangnya pasti tidak habis digulung.”
“Aduh.. ibu-ibu saya ini lagi sibuk mengurus pembuatan rumah jadi mengertilah.” Yang disindir cuek aja.. memang ibu Susan ini orang yang cuek berani, juga nekat.. dua bulan yang lalu suaminya harus menginap semalam di penjara.. gara-gara di lapor polisi. Tuduhan Suaminya main judi.. dan tidak menafkai dia dan anak-anak.. maklum Ibu Susan ini pernah hidup di kota jadi jiwa emansipasinya begitu berkobar.. tidak peduli suami kek..siapa kek.. Sang suami termasuk anggota ISTI jadi ikut saja. Diintograsi sama polisi kayak tukang curi ayam saja.. dia tidak pernah hormat sama suami.. kalau suaminya lama bertandan ke rumah warga lain. Dia langsung teriak-teriak bikin geger seluruh warga dusun.
“Oh.. saya ada ide kita kasih nama… PIIS.” Sepertinya Ibu Susan belum putus asa juga. Dia selalu kasi singkatan. Rupanya waktu sekolah di SD di dapat nilai seratus untuk pelajaran membuat singkatan.
“Apa lagi Susan.. yang serius.” Ibu ketua buka mulut.
“Ini juga serius Bu Ketu.. kepanjangannya.. Perkumpulan Ibu-ibu Subur.”
“ha….hua…..ha….” semua serempak terbahak-bahak. Suara menggemah keluar dari dinding-diinding keneka.
“Susan..Susan kamu tidak sadar.. ha…ha..ha....kamu itu kategori Ibu tidak subur..berarti kamu tidak perlu ikut perkumpulan ini.”
“Siapa bilang..Lihat masih muda begini di bilang tidak subur..” Ibu Susan berdiri dan melekak lekuk tubuhnya yang gembrot..
“Buktinya anak mu cuma satu saja…”
“itu karena suami saya itu yang tidak mau diajak begituan…”
“Habis kamu terlalu beringas jadi dia takut.”
Ha…..ha….ha,….ha….
Tiba-tiba….
“Ema…ema… dandang..ada orang jual dandang…” bocah kecil berumur tiga tahun itu lari ketakuan masuk rumah. Raut mukanya seperti dekejar anjing pemburuh.
“Mana...?” Si ibu penasaran.
“Itu tadi.. dijalan besar dekat rumah kita.”
Suasana menjadi hening sesaat. Sepertinya semua telinga lebih tertarik dengan cerita bocah ini.
“Boy.. disana ada anak-anak lain tidak?” Ibu ketua merasa perlu bertanya.
Boy menghela nafas.. “Tadi ada banyak tapi sekarang sudah lari semua. Takut ditangkap sama penjual dandang.”
Semua kelisa.
“Anakku mana ya?..kamu lihat Anton tidak boy?..
“Argo kemana..?”
“Aduh bagaimana ini?”
Susana jadi resah.. kata-kata “Penjual dandang” punya makna yang lebih.. menyangkut ada dan tidaknya anak-anak mereka.
“Sudah.. ibu-ibu jangan pada gelisah begitu.. kita harus tenang tidak akan terjadi apa!” Ibu ketua menenangkan anggotanya. Waibawanya sebagai istri mantan Kepala Desa cukup punya pengaruh.
“Apa lagi sekarang ini di desa banyak warga.. orang itu kalau mau culik anak-anak kita tetap harus berfikir dua kali.”
“Kemarin ada kabar kalau di Maumere ada dua orang penjual dandang yang ditangkap warga. Didalamnya ada kepala anak kecil. Dan kedua orang itu dipukul sama warga hampir mati.” Ibu Oreng angkat bicara.
“Dengar-dengar itu hanya kabar angin… kemarin Ligi ke Maumere katanya tidak ada apa-apa mereka sampai bertanya sama orang-orang dipinggir jalan.”
“Mungkin saja mereka menutup-nutupi..kita juga tidak tahu.”
“Ya..sudalah ibu-ibu.. yang penting sekarang kita harus hati-hati dengan anak-anak kita.”
Entah darimana awal mula isu ini. Menurut kabar yang beredar Lubang Lumpur Lapindo membutuhkan tumbal kepala anak kecil sebanyak empat ribu kepala. Ada juga yang bilang enam ribu kepala tidak pasti.. yang jelas akhir-akhir ini warga dibuat kalang kabut, resah dan tidak bebas meninggalkan anak-anak mereka. Isu itu merayap kemana-mana bahkan kaum terpelajar tokoh masyarakatpun ikut-ikut percaya begitu saja.
Setalah selesai rapat Desa para bapak-bapak mulai melemaskan pikiran mereka dengan mengangkat isu ini.
“Kenapa mereka cari anak-anak dari Flores bukankah di Jawa banyak anak gelandangan. Diculik sajakan bisa?” penasaran dengan kejanggalan penculikan anak-anak Pak Raga berkomentar.
“ Iya.. biar mujarap harus anak-anak dari luar Pulau Jawa. Sebenarnya tidak hanya di Flores aksi cari kepala ini… di Kalimantan juga..kalau di Jawa tidak mujarap.” Tuan tanah yang sehari-hari sibuk dengan ritual adat. Tugasnya memotong kepala bintang rupanya dia tahu apa khasiat kepala manusia.. Lumpur yang meleleh bisa berhenti dengan membuang kepala manusia kedalam lubang utama..bisa diterima hal ini.
“Sesuatu yang tidak masuk akal..sekarang zaman sudah maju teknologii berkembang tapi masaa.. masih ada kepercayaan seperti itu. Kalau menurut saya kalau ada anak-anak yang hilang itu bukan buat tumbal tapi di jual untuk dijadikan pekerja anak.. bagaimana menurutmu Opu?”
“Selama saya berada di Jawa tidak ada sama sekali isu seperti itu..dan pas kebetulan saya lewat didekat lubang itu juga saya tidak melihat ada orang yang membuang kepala manusia.. benar saya sependapat dengan OPu Adrian..” komentar Niko yang masih tercatat sebagi salah satu mahasiswa S1 di Surabaya.
Adrian memang orang yang berwawasan luas walaupun tinggal di Desa terpencil tapii dia suka dengar radio dan sekali-kali nonton TV di rumah Bapak Kepala Sekolah. Dia terkenal kritis dan oranng yang sangat logis. Di usianya yang hampir lima puluh tahun dia belum menikah.. sementara banyak anak-anak baru lulus SD atau SMP tidak tamat hamil atau menghamili anak orang terpaksa harus berumah tangga. Memang kalau di Desa hiburannya cuma hal..hal gituan (sex)
“Tidak mungkin mereka mau mengumumkan… itu rahasia supaya mereka bisa dapat korban.” Bapak tuan tanah masih mempertahankan argumennya.. dia melanjutkan.
“ Kemarin ada keponakan saya telpon dari Malang katanya suruh jaga anak kecil.. ditempat mereka sudah banyak anak yang hilang”
“Itu buat tumbal juga pak?”
“Iya…”
“Bukannya harus dicari dari luar Pulau Jawa? Malang itukan masih di Jawa Timur.” Niko menanggapi. Sesuatu yang irasional hari begini..masih cari kepala anak kecil buat tumbal.. solusi macam apa ini? Ini bukan berita yang tepat .pasti ada orang-orang yang tidak bertanggungjawab yang menyebar isu ini. Sengaja membuat kekacaun di desa ini dan sekitarnya.
“Pokoknya kita harus menjaga anak-anak kita..bapak desa mungkin bisa memberikan pengumuman agar bisa berhati-hati.” Bapak Desa hanya mengangguk-ngangguk saja. Dia tidak mungkin bersikap serampangan, tapi juga tidak diam. Masalah ini sepertinya sudah jadi ritual tahunan. Isu “perampok” demikian masyarakat menyebutnya.
Niko tidak banyak bicara..tidak bisa memberikan pengertian kepada orang-orang desa. Mereka sudah diprofokasi dengan isu-isu yang tak ada juntrungannya. Sampai-sampai di desa tetangga setiap malam para laki-laki dengan senjata tombak, busur, dan panah, meronda.
“Menurut Opu bagaimana?”
“Kalau saya itu ada muatan banyak kepentingan bisa saja sekarang lagi menjelang PILKADA kesempatan pihak-pihak tertentu untuk mengacaukan… ISu seperti ini bukan baru..setiap tahun ada..walaupun berbeda. Kalau biasanya perampok yang katanya sembunyi-sembunyi di tepi desa.. sekarang lebih modern katanya bawa pick-up terus kalau lihat anak kecil dikasih permen, kemudian di bius.. nah sekarang beda lagi dengan sarana “Menjual Dandang.” Kita lihat saja kapan rumor ini berakhir.
Banyak cerita mulai beredar.. dengan berbagai versi tentu saja isu nya tentang penculikan anak kecil, penemuan mayat tanpa kepala..yang semuanya diterima begitu saja oleh warga desa ini dan sekitarnya.. minimnya akses informasi.. seperti TV dan Koran didukung pendidikan yang kurang gampang sekali membuat suasana jadi tidak tenteram. Dan saat sore menjelang…
“Dandang…dandang……dandang….” Seorang laki-laki setengah baya memikul barang dagangannya. Berharap ada yang bisa membeli dandang. Tak ada yang mendekat. Anak-anak kecil yang sedang main di halaman rumah semuanya lari tanpa dikomando masuk rumah dan menutup pintu. Para bapak-bapak hanya melihat dari jauh.
“Dandang bu..dandang bu…” tidak ada yang mengubris. Kenapa semuaya terasa aneh. Sudah dua desa ini aku jajakan barang daganganku tapi sikap warga seperti ini. Ada yang aneh.. dan tidak beres ini.. dengan wajah tenang dia berusaha menyapa ibu-ibu yang ditemui. Semua menatap dengan was-was.. senyum terpaksa tergambar kaku di wajah-wajah ini… ini pasti ulah anak buahnya Warto ini. Biar dandang saya dan teman-teman tidak laku. Mereka pasti menyebarkan isu yang tidak-tidak ini. Aku harus menghadap bos ini.