Selasa, 08 Maret 2011



foto terbaru




Guru Tak Ideal

Masih terpatri di lubuk hati yang terdalam pesan dekanku nan imut di saat Wisuda Fakultas; “Sekarang tibalah saatnya kamu masuk dalam dunia yang sesungguhnya, banyak tantangan dan hambatan siap menghadang, gunakan pengetahuan yang telah kamu dapat sebaik mungkin dan jangan pernah putus asa.” Tidak salah kalimat itu. Dunia realita ini memang keras dan kejam. Tapi show must go on. Keputusan untuk kembali ke kampung halaman tercinta tak bisa diganggu gugat. Tinggal di gunung jauh dari Citra Land Mall, Hi Sum Cafe, Family Fun, Warung Tegal apalagi Bioskop Twenty One. Singkat cerita jadilah aku seorang guru SD (ha..ha.. Sarjana Sastra Inggris plus lulusan terbaik dari salah satu Universitas elit cuma jadi guru SD di isolated village. sok heroik banget). Kawan aku hanya menjalani panggilan jiwa! Kira-kira demikian kalau aku mau menguatkan sang aku. Mimpi untuk jadi kaum metropolis aliran Yupies dengan sejumlah fasilitas mewah plus-plus ku singkirkan jauh-jauh.
Berbagai aturan sekolah ku jalankan kecuali terlambat masuk sekolah. Hee..hee.. kebiasan sialan satu ini gak bisa dihilangi, kebawa waktu kuliah. Benar kata para psikolog; sesuatu yang sudah dilakukan sebanyak 99 kali berturut-turut maka akan jadi kebiasan yang sulit dirubah. Setiap pagi Sang Kepala Sekolah selalu menegaskan dan menegaskan tetap saja gak mempan. Diibaratkan mengetuk batok kelapa yang sudah keras kulitnya. Jangan pikir aku cuma sendiri, ada sainganku kalau masalah terlambat. Seorang guru, kebetulan Ijasa terakhir PGAK (Pendidikan Guru Agama Katolik) diangkat jadi PNS. Padahal dia sendiri tidak pernah punya mimpi jadi guru apalagi PNS, jauh banget. Menurutnya lebih baik pegang mesin sensor dan potong kayu di hutan dari pada jadi guru harus pegang pulpen dan menjalankan sejuta adminstrasi yang gak abis-abis. Tapi sang kepala sekolah yang sudah dimutasikan ke tempat asalnya terus membujuk agar si tukang sensor ini bisa kembali pegang bolpoin. Mengingat para pendidik generasi bangsa sangat minim di daerah terpencil ini.

Tibalah pagi yang indah meskipun bagi ku gak indah soalnya tidurku belum pulas sudah harus bangun. Kenapa ya matahari cepat banget nongkrong diatas bukit? Padahal masih ingin gentayangan di alam bidadari. Pikir-pikir masih ada tugas yang harus diselesaikan. Mengusap-usap mata jalan menuju kamar mandi, sementara di bawah sana anak-anak sekolah sudah baris lengkap dengan seragam kenegaraan “Sang Merah Hati Ayam” (maksudnya seragam merah Putih). Beberapa anak melirik melihat ku berjalan ke kamar mandi dengan wajah kusut. Pikir mereka; enak ya.. jadi guru, datang terlambat gak dipukul, kalau kita betis sampai memar.” Sang Pengamat tak henti-hentinya memperhatikan anak-anak yang datang terlambat sambil menegur nama anak-anak itu. Bagaikan kucing yang berkonsentrasi tinggi mengamati gerakan anak ayam tak berinduk. Atau jelihnya mata burung elang mengintai burung kecil yang sedang lengah. Dia bukan guru juga bukan anggota komite atau kepala UPTD atau pengawas, dia hanyalah istri Kepala sekolah. Sebagai seorang istri yang baik harus mendukung kinerja suaminya salah satunya adalah: Berteriak dari halaman rumahnya, untuk memaksa anak-anak baris yang rapi. Aturan darimana? Ah gak tahu. Yang aku tahu aku sudah terlambat.

Pasang wajah cuek, seolah-olah gak salah. Berjalan menuju ruang guru. Semua anak-anak sudah masuk kelas dan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tentu saja masih ada sepasang mata memandang ku tanpa ada suara, Sang Pengamat. Mau teriak suruh cepat gak mungkin, ini seorang guru. Tetap cuek dan tepat di depan ruang guru langkah kaki ku terhenti. Sepertinya para pahlawan tanpa tanda jasa sedang berdoa. Ku putar haluan pura-pura masuk ke perpustakaan dari pada berdiri seperti patung dan jadi tontonan anak-anak. Tahu sendiri kalau doa dipandu Sang Kepala Sekolah. Dijamin berdiri sampai lutut kram! Padahal Tuhan Yesus mengatakan “ Kalau berdoa jangan bertele-tele, Bapakmu yang di Surga sudah tahu sebelum kamu meminta.” Maklum manusia gak pernah puas. Termasuk berdoa juga begitu. Sudah omong ini, omong itu, omong ini lagi, itu lagi dan lagi..lagi..lagi.. Setelah mendengar kata: Amin, ku bentangkan langkah kaki ku menuju ruang guru,
“Selamat pagi!”
“Pagi” Sorak serempak dari para Pendidik yang dikategorikan disiplin.
Ku letakan tas hitam yang berisi lap top bantuan dari LPMP Provonsi Nusa Tenggara Timur. Di meja bertaplak hijau. Taplak yang pembayarannya masih kontroversial. Pikirku taplak sialan ini beserta gorden. Masa sih.. harganya sampai tujuh juta lebih? Emang Mas Jawa itu pasti udah untung besar. Otak ku masih mereka-reka untung rugi curang dan tidak, antara sesal dan ikhlas, tiba-tiba;
“Abang, tadi Kepala sekolah bilang, kamu itu sudah dua bulan tidak ke gereja.” Ibu Cici, guru PNS yang paling muda dan tergolong adik ku mengabarkan berita luar biasa ini.
Sejenak aku kaget,
“Jadi, Pak Kepsek hitung ya siapa saja yang datang ke gereja?”
“Mana aku tahu? Tanya sendiri sama Pak Kepsek.”
”Nanti kamu omomg sama Pak Kepsek buatkan daftar hadir di letakan didepan gereja.” Tanggap ku sekenanya.
Ibu Cici Cuma nyegir. Dalam hati dia pikir; rumah sudah mau gandeng dengan gedung sekolah masih terlambat. Gereja sudah di halaman rumah masih malas sembahyang. dia kembali membereskan buku-bukunya. tiba-tiba;
“Ehm...Selamat Pagi!” Ada suara dari pintu
Pandanganku secepat kilat mengarah pada sumber suara. Ternyata yang muncul adalah sosok jangkung beseragam PNS, siapa lagi kalau bukan saingan terlambatku dan selalu jadi ‘Santapan’ Kepala UPTD P&K karena selalu terlambat dan masuk sekolah tanpa ijin, Pak John.
Sudah jadi kebiasaan kalau Pak John muncul pasti suasana jadi ceriah. Ibu Cici tertawa apalagi Pak Kons; sahabatnya pasti meledeknya habis-habisan.
“Eh.. Pak John kamu pasti menghadap Kepsek hari ini. Tadi Pak Kepala ada omong, kamu sudah 2 bulan tidak ke gereja padahal Seksi Liturgi” Pak Kons angkat bicara.
“Bukan Pak John, tapi Pak Don.” Ibu Cici bantah.
“Bukan, tadi Pak Kepala bilang Seksi Liturgi le..”

“He...he..he.. ternyata Pak John bukan aku.” Aku menanggapi. Pikirku pada titik ini aman pasti Pak John dipanggil ditanya kenapa tidak ke gereja padahal kamu guru agama, kenapa kamu begitu tega, apa kata Tuhan Allah nanti kalau Guru Agama tidak memberi contoh yang baik. Dan si pendek itu bicara sambil mengelus-elus kepalanya tengok kiri-tengok kanan lihat atas bawa tanpa memandang lawan bicaranya. Dan Pak John hanya jawab;
“Iya pak..iya pak.”
Tapi salut aku sama Pak John gak pernah mengamuk. Kalau Pak John kayak Ketua BPD pasti kami sudah disidangkan dan harus denda jutaan dengan Delik; Sindiran yang Melecehkan. Memang jasa mu luar biasa Pak John membuat orang tersenyum dan merasa bahwa hidup ini begitu indah. Upah mu besar di Surga (kalau Surga ada).
Setelah menertawakan Pak John, para Pengabdi Ibu Pertiwi ini sibuk menyiapkan nilai maklum sebentar lagi mau kenaikan kelas. Waktu yang diramalkan Pak Kons tiba juga,
Sosok pendek setengah dari tinggi badan Pak John muncul di ambang pintu, sambil mengelus-ngelus kepala,
“Pak John ikut saya ke kantor sebentar.” Wajah serius.
“Saya Pak?” Pak John memastikan. Soalnya bunyi “John” dan “Don” itu tak bisa dibedakan kalau omongnya cepat dan tidak jelas. Apalagi kasus yang mau disidangkan sama. Tadi Ibu Cici dan Pak Kons sempat berdebat soal John dan Don yang terlambat dan tidak ke gereja.
Tanpa berbisik apalagi berkata, Pak John mengayunkan langkah menuju Kantor Kepsek, layaknya terdakwa yang dipanggil Jaksa penuntut umum.
Beberapa saat sang terdakwa muncul lagi ke habitatnya, ruang guru. Wajah tetap cuek dingin.
“Pak Don, dipanggil Kepala Sekolah!”
“Yang benar!” Aku ragu dengan pernyataan Pak John soalnya wajahnya kalau bercanda dan serius sama saja.
“Benar! Kamu ditunggu sekarang”
Melangkahlah aku. Ternyata pagi ini semakin tidak sempurna. John dan Don sama saja, berarti Pak Kepala tadi singgung kami berdua. Maklum kalau pemimpin kami ini bicara gak terarah loncat sana loncat sini jadi pendengar minimal harus punya IQ 150 kayak Sri Muliyani, Mentri keuangan yang sudah jadi Direktur Bank Dunia. Biar bisa tangkap seratus persen. Secara simbolis mengetuk pintu, soalnya aku yakin Sang Kepsek juga gak dengar. Berjalan terus menuju kursi tamu, kemudian di persilahkan duduk. Maka duduklah aku.
“Begini ade.. (aku gak dengar jelas lagi dia omong apa meskipun aku sudah berkonsetrasi, aku yakin ini bukan masalah pendengaranku, soalnya tadi pagi aku baru bersihkan dengan pengorek kuping)..hmm..emm..hmmomm.. gambar sekilas.”
Kata “gambar” dan “sekilas” saja yang aku tangkap. Pikiranku berspekulasi. Jangan-jangan ini terkait dengan lukisan-lukisan Buddha yang aku tempel dinding kamarku. Jadi beliau beranggapan aku sudah murtad. Ah... masa bodoh. Karena gak ada respon dia omong lagi.

“Saya beranggapan ade itu dulu masih kuliah terlalu sibuk jadi tidak ke gereja, sehingga kebiasaan itu dibawah terus. Padahal kita harus mengajak kaum muda aktif di gereja, ade pengurus OMK (Orang Muda Katolik)?” Sedikit memandang wajahku sisanya lihat keatas kesamping dan kebawah.
“Aku bukan pengurus pak, anggota.” Jawabku.
“Dulu ade pengurus?”
“Tidak pak.”
“Penolong berarti. Ade sempat aktif dan sekarang sudah tidak lagi. Sekarang kita mau merubah keadaan, dan kita harus kasih contoh.. sebenarnya saya juga mau ade bimbing anak-anak untuk sembahyang lingkungan malam hari.. saya berusaha untuk mengajak orang untuk rajin ke gereja tapi apa kata orang. Tetangganya sendiri apalagi guru bawahannya sendiri saja tidak aktif. Sehingga saya mengharapkan ade untuk aktif.. jadi saya umpamakan ade ini seperti orang yang pergi merantau kemudian pulang baju baru, jam tangan baru, sepatu baru jadi rajin setelah tidak baru lagi.. malas..”
Gawat.. emang pemimpin satu ini gak bisa mengerti orang, pake contoh yang bikin orang dongkol saja. Dia pikir aku datang ke kampung sini untuk pamer. Dia lupa kalau selama keberadaanku disini sudah banyak perubahan. Emang benar manusia untuk lihat sisi negatif itu lebih mudah. Aku sudah gak nyaman lagi.
“Maaf pak, jangan samakan saya dengan orang yang sekedar pamer. Ketidak aktifanku di OMK bukan karena bajuku sudah kusam atau jam tangan ku sudah rusak, tapi karena mereka sudah tidak mau lagi aktif. Begini pak kalau kita sudah memberi tapi orangnya sudah tidak mau menerima meskipun kita sudah bujuk tapi tetap tidak mau ya.. sudah energi yang ada bisa saya gunakan untuk orang lain.”
“Ya ..begitu saya umpakan jadi ade sama dengan dengan orang merantau begitu...”
Hi..kenapa ini kepsek gak ngerti juga..dia pake ulang lagi. Bagaimana bisa mengerti orang lain kalau sebelum orang lain bicara sudah ada kesimpulan dulu. Belum ada data-data sudah buat kesimpulan. Ini kalau dosenku yang namanya Pak Adhy sudah dibantai habis-habisan pada konsultasi skripsi.
“Begini pak! Aku muak sama sistem gereja, sakremen sepertinya dijual. Jadi kalau aku ke gereja, tidak pernah merasakan khusuknya atau kesakralan beribadat trus, mungkin aku juga punya persoalan psikologis.” Argumenku ku lontarkan biar dia anggap aku tidak waras.
“Dan satu lagi pak, ibadat bagi saya adalah ketika saya bisa berbuat baik tidak pernah menyusahkan oranglain dan ketika kehadirkan ku justru dianggap memudahkan segalah kesulitan, itulah ibadat bagiku.”
“Begini ade.. yang kita bicarakan tadi saya hanya berharap ade bisa bimbing anak-anak bersama Ibu Cici. Biar ketika kita ajak anak-anak sekolah kita sudah buat duluan. Bagaimana kita bisa ajak mereka kalau kita tidak melakukan? Pak John juga seksi liturgi dan guru agama juga sudah kelihatan jarang ke gereja.” Tanggapnya enteng.

“Saya bukan guru ideal pak, dan ini kekurangan saya, tapi cobalah bapak buka mata dan melihat dalam kekurangan pasti ada kelebihan.”
“Kalau ade tidak suka dengan sistem gereja datang kalau ada pertemuan. Ini ade juga tidak pernah ikut pertemuan di gereja jadi tidak mengerti persoalannya.”
Sudah lah pikirku iyakan saja. Dari pada omong putar-putar hanya saling mempertahankan pendapat.
“Baik pak!” Keluarlah aku menuju ke ruangan para pejuang mencerdaskan bangsa. Mungkin sang kepsek pikir semuanya sudah teratasi dengan kata iya dari mulutku. Padahal biasanya manusia itu iya..iya tapi belum tentu dilaksanakan. Yang penting aku bisa memberi semampuku. Soal iman urusan masing-masing..

Sabtu, 19 Februari 2011

SANG DOMBA

Kegelisahan Sang Domba

(don lado)


Hamparan rerumputan bagai permadani hijau tinggal lukisan usang terpampang di bilik kenangan. Kumpulan domba kini melahap tulang rumput kering dan daun-daun tua seadanya. Dimanakah hijau rerumputan yang dikisahkan para leleluhur? Kemanakah tuan bijak yang katanya selalu memperhatikan kesejahteraan hidup para domba? Tak ada yang tahu. Bagi para domba itu bukan pertanyaan mendasar. Masa lalu punya kisah sendiri. Tak perlu diingat lagi. Masa depan memiliki ketidakpastian. Semua begitu kompak berjalan melahap makanan seadanya, mengembik jika itu perlu dan siap digiring ke tempat pemangkasan bulu. Hanya demi sebua rumah megah nan indah di hari depan. Ditengah kumpulan ini, seekor domba sedang asyik bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan. Tak ada yang tahu, bahkan gembala atau tuannya sekali pun. Tidak ada yang aneh dari tingkah lakunya. Mengembik, makan, minum dan siap dicukur bulunya.

Tibalah mereka di sebua tempat peristirahatan. Dan biasanya tempat dan jam seperti ini mereka beristirahat sejenak. Mendendangkan kekaguman mereka akan sang tuan beserta gembala-gembala mereka. Sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengisi perut dengan rerumputan.

Kita mesti lebih banyak berterimakasih.. karena para gembala telah menjaga kita.. Jangan pernah kuatir akan hari esok! Tuan kita sudah mengaturnya” Seekor domba tua berujar. Rupanya dia sudah didoktrin oleh para gembala atau mungkin sudah ada penyuapan demi perlakuan khusus yang diperoleh domba tua? Ah.. lagi-lagi tidak pasti. Yang jelas domba tua ini selalu dihormati dan menjadi orang kepercayaan para gembala.

Betul itu.. kita harus lebih banyak pasrah dengan ketotalitasan, ada rumah terindah bagai rumah para dewa disediakan oleh tuan kita.” Yang lain menambahkan.

Tidak bagi ku..” diam sesaat sambil menunduk. Kemudian menegakan kepala dan menatap setiap wajah-wajah para domba.

Sesaat.. Kumpulan domba menatap serius ke sosok yang berada paling kiri. Kata-kata pembantahan yang tak pernah didengar sebelumnya. Dan terkesan domba ini hidup dalam keragu-raguan. Domba tua memperhatikan lekat-lekat sosok muda yang berdiri tegar. Sosok ini dikenal betul, biasa dipanggil Vida. Selama ini Vida selalu mematuhi aturaan yang ditetapkan kumpulan domba. Hasrat ingin tahu lebih jauh, domba tua mengajukan pertanyaan,

Maksud kamu?”

Sadarkah Kalian, hidup kita selalu diperas. Sudah memberikan bulu, masih akan dimintakan susu lagi? Apakah ada kontribusi para gembala itu bagi kita, kaum domba?” Sambil menatap kesekeliling, sosok domba muda melanjutkan pernyataannya. Tak ada rasa takut. Kepercayaan diri yang selama ini tak pernah terbayang membalut rapi sosok domba muda ini. Kemantapan dan ketegasan kata-kata yang tersaji sangat jelas dari mulut mudanya. Cukup untuk memberikan semburan panas agar bisa bergerak dari tempat kediaman yang dianggap nyaman.

Semua mata melotot dan tersentak kaget. Ada yang seolah-olah mengiyakan namun hanya dalam hati. Takut kalau dianggap pembangkang atau mungkin merasa melawan berarti hidupnya sial terus. Tapi ada juga yang tidak bisa terima dengan pernyataan ini dan sedikit emosional.

Apa kamu bilang? Kamu tidak pikir, hidup kita butuh gembala! Tak ada seekor domba pun didunia ini yang hidup dari kemampuannya sendiri.” Salah satu dari domba kepercayaan gembala angkat bicara. Meskipun bulu nya tak bisa panjang-panjang karena terus dicukur oleh gembala.

Hidup ku bahagia dan jauh dari derita. Karena bakti ku pada gembala.. dan gembala selalu menceritakan kalau tuan kita adalah sosok yang sangat baik. Aku yakin dia memang baik hati.. aku merasakan kehadirannya selama ini” Layaknya kesaksian, dia membuktikan keyakinannya. Meskipun hal itu sangat subyektif. Hampir semua anggota kumpulan mengangguk-anggukan kepala. Dan yang lain diam saja. Mungkin takut menggelengkan kepala, kalau menganggukan, tidak yakin. Ah.. dilematis.

Iya betul itu.. kami sependapat.. tak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Gembala kita tahu apa yang terbaik buat kita.. kenapa mesti pusing.” Yang lain menambahkan.

Hai! ... Para domba anggota kumpulan jangan lagi kita dengarkan kata-kata anak muda ini. Kebenaran yang diyakini kita selama ini jangan pernah ditentang kalau tidak mau hidup menderita.” Kata-kata berbau sedikit ancaman dilontarkan dari domba tua. Selanjutnya para domba berjalan lagi menyusuri hamparan rumput kering, demi mempertahankan hidup.

Tak ada lagi yang harus dibicarakan. Gerombolan domba kini menikmati hidup mereka makan rumput kering. Piara bulu yang panjang, nanti dicukur oleh gembala dan dijual untuk hidup gembala dan kemulian sang tuan. Tapi tak seekor domba pun tahu. Mereka hanya percaya pada cerita gembala.. Sang domba, Vida terus merenung... sampai kapan domba-domba ini sadar kalau mereka hanya dimanfaatkan. Tapi harus bagaimana? Sesaat tersadar dari perenungannya.

Sudahlah aku mengerti perasaanmu..kamu harus tahu kita hanya domba bukan makluk hebat seperti manusia. Kamu hanya akan ditertawakan dikucilkan dan mungkin disingkirkan dari kelompok ini kalau kamu bersikap kontra.” Seokor domba yang selalu berada paling belakang karena tidak bisa jalan cepat mencoba menghibur sahabatnya.

Sungguhkah kita makhluk tak berdaya, sahabatku?”

Vida...Pertanyaanmu tak perlu dijawab. Kita butuh gembala untuk memimpin kita menuju hamparan rumput yang hijau seperti cerita nenek moyang kita. Kamu tidak merindukan hal ini?”

Aku ingin sekali. Tapi apakah jalan yang kita lalui ini benar? Kamu lihat gembala kita! Mereka enak-enak tidur diatas kasur empuk. Lengkap dengan fasilitas mewah lainya. Kadang terlihat berpesta. Biasanya setelah bulu-bulu kita dicukur, satu persatu menghilang dan kembali lagi setelah beberapa bulan.. Sementara mereka tidak pernah pikir kalau kita kerja keras untuk piara bulu-bulu kita demi kehidupan mereka. Bahkan sekarang.. bulu kita harus dicukur lebih banyak lagi.. Bukankah tugas gembala memperhatikan kesejahteraan para domba. Mencari padang rumput yang hijau. Membersihkan kandang, menyediahkan air minum. Tapi coba kita lihat sekarang. Hanya karena prinsip mandiri mereka biarkan kita tertatih-tatih. Jangankan membersihkan kandang menunjukan padang rumput saja tak pernah dilakukan. Mereka sibuk dibalik rumah mewah mereka. Sesekali terlihat keluar dan bicara panjang lebar tanpa bukti.. Penutup dari kata-kata mereka selalu penuh makna menggantung ular.” Vida menumpahkan kegelisahannya, yang selama ini dibungkus sangat rapi direlung hatinya.

Kadang aku pun berfikir seperti itu... tapi kita hidup dalam komunitas ini. Kebenaran sosial sudah jadi bingkai hidup kita, aku bukan orang dionisian yang mampu hidup dengan ketegaran prinsip sendiri.” Lingkan. Demikian domba ini biasa dipanggil, menengada ke langit membiru namun samar-samar ada kabut abu-abu mebentuk seluet fatamorgana. Seperti kegelisahan hati yang dilematis. Sejenak menarik nafas mendalam. Seperti memaklumi segalanya.

Perlahan-lahan, dengan langkah yang disadari. Vida, sang domba meninggalkan sahabatnya Lingkan.

Biarlah aku menyendiri sesaat sahabatku.” Vida meninggalkan Lingkan.

Pergilah! Kembalilah jika kamu tak sanggub!”

Dari kejauhan terdengar para domba mendendangkan pujian untuk kebaikan sang tuan. Ada yang begitu serius. Ini kelompok yang memasrahkan hidupnya pada sang tuan. kelompok lain memuji seadanya sambil matanya mencari rerumputan yang bisa dimakan. Ada juga yang bercengkerama dengan teman-temannya dan anggota baru dibawah lindungan pohon tak berdaun, mencerita kisah kasih hidup yang penuh komposisi warna.

Sementara dibalik rumah mewah, beberapa gembala asyik menghitung jumlah uang, hasil penjualan bulu para domba. Tak pernah tahu mereka. Ada kerisauan ditengah-tengah gerombolan domba yang mereka gembalakan. Atau sekedar merasakan derita kumpulan domba.

Sialan! Kali ini hasil penjualan bulu domba menurun... Kalau begini terus kita tidak bisa maju.. Bagimana kalau saatnya kita paksa mereka menyediakan susu atau daging segar? Kamu stuju?” Rupanya ini pertanyaan dari mulut gembala yang ditujukan kepada asistennya yang ditempatkan di peternakan ini beberapa bulan lalu. Sejenak sang asisten memikirkan..

Menurut saya.. ada tahap yang harus kita lewati.. dua bulan lagi kita mengadakan upacara selamatan dan syukuran atas bakti para domba. Nah, pada perayaan itu domba-domba yang dianggap serius kita berikan penghargaan, dan akomodasi yang nyaman. Sebagai motivasi bagi domba lain agar lebih serius lagi untuk membaktikan diri pada peternakan ini.. bagaimana?”

Diam sesaat.. mengangguk-angguk,

Betul juga ide kamu.. kita akan coba melakukan hal itu. Tapi ini juga tidak mempan kita jalankan rencana selanjutnya... saat ini kita butuh membuat gedung yang besar untuk perayaan akhir tahun mapun pertengahan tahun. Kalau bangunan ini tidak kita selesaikan, bisa-bisa kita dipulangkan.” Rupanya otoritas hidup gembala-gembala ini tergantung pada atasannya lagi. Tuan mungkin? Atau bos lain lagi? Entahlah...

Tak perlu ada pemberitahuan khusus bahwa minggu depan akan ada perayaan syukuran, karena ini sudah jadi tradisi dari tahun ke tahun. Banyak dari domba-domba yang menyiapkan diri untuk menyambut perayaan ini. Namun tidak sedikit juga yang cuek dan lebih memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyambung hidup di jaman yang semakin sulit ini.

Apapun yang terjadi saat-saat seperti ini mereka harus kerja ekstra keras menyongsong perayaan ini. Kawanan domba harus mengumpulkan rumput yang banyak memelihara bulu. untuk bersama-sama merayakan upacara ini. Sudah ada pemberitahuan kali ini mereka harus mengumpulkan sepuluh ikat rumput.

Dikalah istirahat untuk mengagungkan sang tuan, sebua seruan dari domba tua dikumandangkan,

Saudara-saudaraku kawanan domba yang berdiam di peternakan ini. Sebentar lagi kita akan merayakan upacara syukuran atas karya kita dan bentuk terimakasih kita kepada gembala dan tuan kita.” Suara lantang. Semua domba yang hadir berbinar-binar. Ada yang berekspresi datar-datar saja. Intinya dari seruan itu adalah mengumpulkan dan berkorban. Kemudian domba tua melanjutkan,

Kali ini ada ketegasan dari gembala kita. Siapa yang tidak mengumpulkan rumput terbaik sepuluh ikat dan memberikan bulu terbaik maka mereka tidak diperkenankan untuk masuk dalam upacara ini.”

Seruan itu menimbulkan berbagai suara-suara. Keributan pun tidak terkendali. Meskipun suara sumbang terngiang tetap saja dipantulkan kembali oleh dinding-dinding pagar tembok milik para gembala. Sang domba tua hanya bisa diam dan memaklumi. Katanya seorang pemimpin harus “bijak” mampu mengendalikan keadaan dan sabar. Ini adalah tantangan bagi seorang pemimpin. Begitu kira-kira pikir sang domba tua.

Domba-domba yang kecewa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

Gembala kita sekarang tidak seperti yang dulu.” Berkata pada yang lain.

Betul kawan.. kalau gembala yang dulu, tinggal dipondok, makan seadanya, trus waktu mereka dihabiskan bersama, sering memainkan seruling klasik begitu merdu. Bahkan menyirami rumput-rumput yang kelihatan menguning. Jika ada domba yang sakit segera mereka obati.”

Ah.. sudahlah itu kan masa lalu. Tidak usah dipikirkan lagi!”

Apakah kita hanya bisa menerima kenyataan seperti ini, kawan?”

Apalagi yang harus kita lakukan kalau anak-anak kita tidak mau dipisahkan dari peternakan ini.”

Situasi yang sulit memang. Hidup secara komunal diikat oleh aturan komunal yang tak bisa dibantah. Kalau berani keluar dari rel itu artinya celaka. Bagimanapun bentuk rel dan kemanapun arah rel itu harus diikuti.

Kegelisahan Vida terus meremas hati yang masih muda. Benturan-benturan konservatif dari aturan hidup membuat pipinya memerah dan keningnya berkerut.

Seekor domba? Ya seekor domba.. Apa yang bisa diperbuat? Kecuali mengembik berbeda kalau jadi harimau atau macan bisa meraung dan menggigit. Andai aku seperti mereka. Ah... hanya bisa seaandainya.. Tibalah saat yang dinanti-nanti, upacara syukuran tahunan.

Semerbak hiasaan mewarnai aula sederhana menjadi luar biasa. Masih tak kelihatan wajah para gembala. Domba-domba yang telah berikhar untuk setia kepada peternakan ini begitu sibuk. Berlomba-lomba memberikan kemampuan terbaiknya. Sepertinya saat ini mereka ingin menunjukan kemampuan terbaik untuk sang tuan atau mencari nama besar? Sesuatu hal bisa saja mungkin. Kemudian muncullah kawanan domba begitu rapi, bulu-bulu dihias berbagai macam bunga-bunga liar. Ada tanda-tanda khusus yang terpampang didahi mereka. Ada semacam penentuan status dalam hal kesetian. Warna merah baris terdepan, diikuti warna ungu, warna hijau, dan terakhir warna hitam. Sambil mengumandangkan pujian perlahan-lahan bergerak menuju aula. Pemandangan berbeda ketika muncul beberapa domba yang tidak mengenakan atribut tertentu. Dengan penampilan seadanya berjalan menuju aula. Ditengah kumpulan tak beraturan ini ada sosok yang terus meresah, Vida tak tahu apa yang dipikirkan. Diam menunduk dan berdiri disampaing pintu aula. Upacara ini siap dimulai.

Para domba yang merasa begitu setia dan taat pada aturan memandang sinis pada domba-domba yang dianggap liar dan makluk bar-bar. Sementara domba-domba tak peduli dengan ritual dan seabrek aturan yang mengikat menertawakan kepatuhan yang berlebihan. Bagi mereka kehadiran ini hanya sebagai penuaian kehidupan bermasyarakat jika tak ingin dikucilkan. Dan ....

Saudara-saudari anggota Peternakan Tanah Terjanji, hari ini kita berkumpul ditempat ini untuk merayakan kurban satu tahun kesetian kita pada sang tuan dan atas berkat yang kita terima selama ini. Syukur kita haturkan dan sebagai karya nyata kita hari ini kita berikan kurban, hasil terbaik dari usaha kita untuk sang tuan.” Suara domba tua begitu lantang menggemah keseluruh sudut-sudut ruangan dan masuk menembus gendang telinga yang siap menada masuknya suara. Kemudian sebua pernyataan pun muncul,

Untuk itu saudara-saudari yang tidak bisa menuaikan kewajiban diharapkan agar tau diri dan tidak masuk dalam aula ini”

Sial..ternyata mereka benar-benar menerapkan aturan konyol ini. Demi sebua usaha mencari perhatian sang tuan, kasarnya cari muka tapi dikemas dengan kata-kata manis “kesetiaan” gemuru hati Vida tak terbendung.

Kamu lihat. Kamu sudah tahu keanehan ini tapi apa yang bisa kamu perbuat anak muda?” Rupanya dari tadi ada sosok yang memperhatikan Vida. Dan..

Kamu dengar pernyataan domba tua tadi? Kurban untuk sang tuan, pernahkah kamu melihat sang tuan itu. Paling-paling untuk para gembala yang leha-leha didalam rumah mewah sana. Pintarnya mereka, jual nama sang tuan untuk kehidupan mereka dan sang domba itu jadi tameng.” Sesaat Vida melirik ke sumber suara yang terdengar disampingnya, ada rasa kaget... tak diduga sosok itu dicap gila dan tidak dipedulikan. Domba betina yang sering dipanggil, Kiara.

Setelah ini akan kamu saksikan bagiamana liciknya sang gembala membuat domba tua itu dan para pasukan domba aneh yang mengenakan atribut persis domba gila itu melayang-layang diudara. Dan dengan begitu mereka semakin ikut saja apa kata para gembala. Dan kamu bisa tebak sendiri.. memuakan!” Tajam muncul dari mulut domba betina ini.

Tak banyak lagi yang bisa diperbuat..ha...ha... lebih baik dicap orang gila daripada dicap waras padahal setiap saat memperkosa nilai hidup dan cuma jadi kerbau dicocok hidung.” Domba betina ini menjauh dan keluar dari keramian dan menghilang dari padangan Vida.

Kegundahan dan kegelisahan terus mencengram nuraninya, apa yang bisa diperbuat dengan sistem komunal yang baku dan cenderung disakralkan ini? Kecuali menerima saja, bersikap cuek tapi kalau sangat prinsipil ya..tinggalkan lingkungan ini. Pandangan mata Vida kemudian mengarah pada sosok yang muncul berpakian megah, bagai pakian kebesaran para kaisar Zaman Romawi Kuno; mereka adalah para gembala. Buku besar dipegang dan disembah-sembah; sepertinya itu sabda dari sang tuan yang diagung-agungkan. Aneh memang gembala yang terkenal dengan pakian compang-camping, sebagai potret kesederhana tapi yang muncul justru para kaisar.. kontradiktif.. Dimanakah kemurnian itu? Telah hilang ditelan oleh mental kapitalis? Kemudian seorang gembala angkat bicara;

Para domba yang terkasih, Tak ada yang bisa dilakukan jika kita tidak mendapat restu dari sang tuan, untuk itu kita harus berjalan diatas sabda yang telah ditetapkan” Nada ketenangan sambil mengangkat buku besar.

Semua yang hadir didalam aula berbinar-binar dan mengangguk-angguk, seperti mendengar suara yang penuh mistis. Berbagai rentetan ritual dilakukan dan sambutan penutup dari domba tua;

Saudaraku semua yang dilindungi dalam peternakan ini, telah kita lewati sebua momen yang sangat penting dalam kehidupan kita, sebagi kumpulan domba yan setia kita juga harus tahu kewajiban kita. Untuk kali ini telah ditetapkan bagai anak domba yang sudah beberapa bulan lahir diharapkan untuk mengikuti ritual khusus agar hidupnya aman dan tenteram dan harus menyiapkan sejumlah rumput pilihan dan susu.”

Tak ada suara bantahan hanya ekspresi wajah dari kaum yang merasa tidak mampu, atau dianggap pemalas atau mungkin kurang keyakinan terhadap ritual ini.

Kenapa bisa begini? Sepertinya Peternakan Tanah Terjanji ini sedang menujuh keruntuhan. Vida berjalan meninggalkan kumpulannya dan menghilang ditengah padang rumput yang tak lagi menghijauh.


Sabtu, 22 November 2008

Tuhan Dimanakah Kau?



Tuhan dimanakah Kau

Tuhan dimanakah Kau?

“Siapa lagi yang masih mempertanyakan tentang Tuhan?” Suara Pak Anton terdengar tegas dan lantang. Dosen yang miskin rambut ini sangat religus. Salah satu aktifitasnya adalah mengajar Bahasa Inggris di sebua biara tempat pendidikan para calon pastor. Selain itu aktifitas gereja adalah hal terpenting selain mengajar kami. Hal ini membuat ia sangat taat kepada ajaran kitab suci. Atau mungkin karena ketaatannya terhadap kitab suci yang membuat gaya hidupnya seperti ini? ah..gak pasti. Toh segala sesuatu membawa akibat dan sebab yang baru. Rupanya Vina barus saja di tembak habis-habisan sama si bapak.

“Seto pak!!” sambil menunjuk ke sosok yang baru saja muncul di ruangan dosen. Bisa ditebak, Seto kebingungan, gak tahu apa-apa langsung di tunjuk. Urat dahinya mengkerut dan..

“Ada apa toh?”

“Tuh, kamu dipanggil sama Pak Anton.” Vina tersenyum. Dalam hati dia pikir. Selamat menikmati perdebatan sama si bapak religius.

“Oh ternyata kamu juga.” Sambil geleng-geleng kepala.

“Silahkan duduk!”

Tanpa banyak bertanya Seto mengambil tempat duduk di depan si bapak. Wajahnya masih bingung. Dalam hati pasti ada yang gak beres ini. siap-siap aja. Tanpa ada basa-basi. Gaya dosen satu ini gak pernah berputar-putar tapi langsung pada pokok permasalahan.

“Kamu masih mencari Tuhan?” sambil memandang si tersangka di depannya lekat-lekat. Belum dijawab pertanyaan lanjutan muncul juga.

“Sudah kau temukan Tuhan ada dimana?”

Tanpa pikir panjang Seto langsung jawab.

“Belum Pak. Saya masih proses mencari.” Sedikit senyum. Pikir Seto ini pertanyan lucu. Tiba-tiba kok nanya beginian. Ah..paling juga si bapak ngelawak.

“Jadi kamu masih mencari? Tuhan itu gak perlu di cari. Kalau kamu bertanya secara logika tidak akan ketemu.. Jalankan saja perintah Tuhan maka hidupmu akan tenang. Tapi tentu saja perintah yang mengandung cintakasih.” Si bapak berceramah panjang lebar.

“Tapi ini kita bicara konsep pak, menurut saya Tuhan itu gak ada. Karena manusia yang menciptakan itu.” Bantah seto.

“Itu pendapat dari mana? Atau kamu jadi bagian dari kelompok atheis? Orang yang gak percaya sama Tuhan itu sama aja dengan manusia yang susah hidupnya. Karena dia ragu. Nah hal pertama itu kita harus percaya.

“Tapi kita tidak harus percaya membabi buta tanpa harus tahu, pak.” Seto gak mau nyerah begitu aja.

“Kalau dalam konteks iman kepada Tuhan itu wajib “yakin.” Kalau kita gak yakin sama aja kita ragu dengan keberadaan Tuhan, itu berarti gak jauh beda dengan orang-orang yang gak beragama, atau beragama tapi perilakunya gak manusiawi. Atau kamu jadi pegikut aliran kepercayaan baru?” Susah kalau bicara masalah Tuhan sama orang yang benar-benar “religius” apa pun pendapat mu bakal di mentahkan

“Gak, pak. Bukan itu persoalannya. Menurut saya konsep tentang ketuhaan itu justru membuat hidup orang beragama menjadi rancu. Selalu memuja Tuhan biar dapat pahala. Kan sama aja dengan nyogok pak. Baik-baikan sama orangnya biar entar kita minta bantuan apa aja dikasih. Terus kalau bencana alam, itu hukuman dari Tuhan. Katanya Tuhan maha pengampun kok manusia dihukum. Trus satu lagi pak, berperang untuk membela Tuhan. Kok bisa Tuhan maha kuasa kok harus dibela-belain. Itu konyol pak.” Rupanya Seto udah gak tahan lagi kemudian membalas tembakan.

“Nah kalau kamu melihat sisi itu. Itu manusianya bukan Tuhan. Banyak sekali orang yang merasa tangan kanan Tuhan. Ada nabi-nabi palsu, terus sekarang banyak teroris yang merasa membawa amanat Tuhan dengan membunuh manusia-manusia tidak berdosa. Itu sebenarnya sudah tercatat dalam alkitab. Ini gejala-gejala akhir zaman. Makanya untuk memperpanjang akhir zaman kita harus yakin akan kasih Tuhan dalam hidup kita.”

Sampai tahap ini Seto bingung. Kenapa jadi panjang lebar begini. Mana aku urusan sama alkitab cs apalagi tentang ramalan akhir zaman. Sadar gak bakal ada titik temu kali ini dia mau cari teman.

“Itu pak, Donatus juga.”

Aku yang duduk membelakangi mereka dari tadi sibuk dengan computer, sedikit siap-siap kalau si bapak melemparkan pertanyaan.

“Oh..jadi kamu juga, Don? Masih mencari Tuhan juga?”

Biasa nya manusia belajar dari pengalaman orang lain. Tanpa ragu lagi aku mulai berspekulasi.

“Kalau menurut saya Tuhan ada didalam hati pak gak perlu dicari diluar sana. Itu sama aja dengan memindahkan air laut ke dalam sebua lubang kecil.” Siap menunggu tanggapan. Meskipun aku paham apa maksud Seto. Mengingat si bapak make sudut pandang berbeda, maka aku banting setir ikut jalan si bapak

“Iya benar itu.”

Aku terseyum kecil melihat wajah Seto. Dalam hati dia pikir. Dasar pengkianat. Dia juga yang sering ngomong beginian. Bukannya bantuin jelasin. Malah nyari titik aman. Selanjutnya si bapak melanjutkan ceramah agamanya dan Seto diam mendengarkan.

“Bla..bla…bla…bla..and bla…bla.. Sekarang kamu paham?”

Gak perlu pikir panjang lagi, kan percuma juga kalau bantah. Dari pada pusing-pusing.

“Iya pak” Seto menanggapi kemudian meninggalkan ruangan.



Cikal bakal keresahan ini adalah munculnya kaum “Meragukan konsep Tuhan.” Aku sendiri bagian dari komunitas ini. Aku yang boleh dibilang sedikit murtad mencoba memahami agama dan ketuhanan menurut pikiranku. Pada dasarnya manusia adalah makluk social jadi dia butuh orang lain. Awalnya aku dan Seto sering diskusi tentang hal ini. Kemudian bertambah dan bertambah. Ternyata banyak anak-anak Sastra yang tertarik dengan diskusi seperti ini. Diam-diam Vina dan mahasiswa seangkatannya, Aku, Seto, dan teman-teman 2004 lain menambah suasana baru sebagai komunitas yang di cap kaum atheist.

Pada waktu itu, aku jadi anggota senat mahasiswa, tugas ku adalah menyerap aspirasi dari teman-teman mahasiswa. Dan tanpa ku duga aspirasi tertulis disitu seperti berikut;

“Buat Komunitas diskusi tentang Agama”

“Bikin UKM Spiritual dan Meditasi

“Ayo teman-teman kita bikin kelompok Yoga”

Dan ternyata ada yang lebih ekstrim lagi,

“Hidup kaum atheist! Mari kita bawah pencerahan bagi orang-orang yang berada dalam penjara iman yang membabi buta”

Kemudian ada juga lembaran kertas lainnya yang gak mau kala.

“Selamat kan mahasiswa Sastra dari kesesatan!”

“Wahai mahasiswa akhir zaman sudah dekat, sekarang banyak sekali pengikut Lucifer berkeliaran.”

“Teman-teman ku peliharalah imanmu!”

Disamping aspirasi lain tentang akademik dan sarana kuliah. Kelompok aspirasi ini cukup membuat ku diam sesaat. Gila..kayaknya ada perang dingin. Diam-diam kedua kubu bergentayangan. Kaum Theist sama Non-Theist lebih ekstrim atheist. Meskipun kami sendiri punya konsep sendiri Agnostic-humanitarian adalah pas buat kami. Dan parahnya lagi kami gak peduli tetap saja berjalan seperti apa adanya. Ya mau gabung silahkan, gak silahkan. Setiap manusia punya hak kok. Perang dingin tetap jalan. Tibalah kegerahan dari salah satu pihak, aku diundang dalam pertemuan secara empat mata,

“Don..kami dari Perkumpulan Doa, mau mengadakan kegiatan reat-reat, saya harap kamu sama teman-teman bisa ikut.” Wajahnya serius. Sepertinya ada persoalan berat. Pertemuan ini justru bagi dia adalah sebua perjuangan.

“Ya..kalau saya sih sepertinya gak bisa, tapi teman-teman lain mungkin bisa. Kenapa gak ditempelkan aja pengumumannya biar teman-teman tahu kalau ada kegiatan seperti ini?” Aku masih belum maksud dengan arah pembicaraan ini.

“Kita sudah pasang pengumuman kok..tapi sorry ya..”

“Maksudnya?”

“Kamu paham lah..kalau selama ini aktifitas berbau keagamaan kurang eksis di Sastra, jadi saya dan teman-teman mengharapkan peran serta kalian semua. Dan kamu cukup vocal di Sastra jadi saya mohon bantuannya untuk menggerakan anak-anak disini. Begitu maksudnya.” Sedikit tersenyum

“Kalau itu aku gak bisa jamin. Soalnya teman-teman punya pilihan sendiri.” Sebenarnya sih aku sungguh-sungguh gak tertarik dengan kegiatan semacam ini. Ini dipengaruhi dengan kemuakan yang muncul di otak ku.

“Selama ini saya tahu kok siapa kamu? Dan bagaimana pemikiran kamu? Khusunya tentang agama. Sampai-sampai teman-teman banyak yang ikut kamu. Makanya kamu yang harus saya ajak bicara.”

Waduh..kayaknya arah pembicaraan menuju pada kami kelompok kamu atheist. Dan sepertinya dalam pikiran mereka aku lah sumber persoalan ini. Cara berpolitik. Menemukan kepalanya terus pegang kalau kepalanya bisa digiring berarti bawah-bawahnya ikut juga. Tapi sayang aku punya prinsip.

“Maaf sebelumnya, aku merasa bahwa segala sesuatunya terjadi begitu saja. Aku sendiri gak punya pikiran untuk mempengaruhi teman-teman. Sebenarnya mereka selama ini merasakan hal yang sama. Kemuakan dengan ritual agama dan konsep ketuhanan yang rancu cuma mereka gak berani bicara. Nah begitu ada orang yang berani bersuara maka mereka semua merasa punya teman.”

“Ya mungkin seperti itu. Makanya saya mengharapkan peran serta kamu dan teman-teman. Gak perlu dijawab sekarang mungkin kesempatan lain. Terus terang saya mengharapkan kamu ikut kalau teman-teman lain belum sempat.. Toh Tuhan pasti tahu jalan yang terbaik.”

Aku hanya menganguk. Dalam hati, iya Tuhan lagi.. aku berusaha untuk membuat lawan bicara ku bisa mengerti.

“Ya..kalian juga harap bisa mengerti bahwa setiap orang punya fase masing-masing. Ini pun dalam hubungan dengan iman. Masing-masing orang punya pengalaman spiritual sendiri. Mungkin tahap seperti kami ini harus dilewati. Jadi gak usah kuatir.”

“Mudah-mudahan kembali kejalan yang sesungguhnya.” Senyum sedikit.

Ternyata dimata kelompok kaum agamis kami adalah orang-orang yang tersesat. Dan mereka mengharapkan kami untuk kembali kejalan yang benar.. Atau justru sebaliknya? Ah pahami sendiri lah!

Sementara mereka punya lentera Tuhan yang selalu menerangi jalan hidup dan menganggap kami gak punya. Padahal kami punya lampu senter yang kami bawa masing-masing untuk bisa menerangi jalan kami.

Semangat untuk terus mempertanyakan Tuhan sebagai esensi dan konsep serta tradisi agama membara dalam diri kami yang sudah dicap oleh teman-teman penganut setia agama tertentu sebagai kaum sesat. Dan tanpa diduga kami mengambil kelas yang sama. Cukup untuk membuat kami tersenyum dan berkata dalam hati

“Sepertinya ini kelas mengasykan”

Matakuliah AGAMA. Gak pernah kelas ini sepi. Bagaimana tidak mahasiswanya seperti kami. Dalam matakuliah ini ada dua kategori mahasiswa. Pertama, Ikut saja yang penting bisa lulus. Dalam kelas diam dan mendengarkan adalah cara terbaik sambil melihat jam trus berpikir kapan pulang ya? Kedua, mahasiswa yang bersemangat sekali gak pernah bolos, gak pernah terlambat, kerena ini adalah momentum untuk membantah sang dosen. Sepanjang jam kuliah gak pernah diam selalu menguasai keadaan. Dan kelompok kedua ini lah yang mendominasi kelas ini.

Sudah dapat dibayangkan dosen agama kami tercinta yang sehari-harinya mengajar agama di SMA-SMA elit di Kota Semarang sering diam. Sekali dia mengeluarkan pernyataan. Maka seperti bola tanggapan dan sanggahan dari kami membentur kesana kemari. Sampai sang pendidik ini diam sesaat untuk memikir kira-kira bicara apa. Karena setiap pernyataan akan membuka pertanyaan atau pernyataan baru yang berlawanan.

“Awalnya saya pikir kelas ini pasti seperti sebelumnya. Mahasiswanya hanya diam dan mencatat tapi ternyata saya keliru. Kalian semua kritis sekali. Sepertinya saya harus lebih mempersiapkan diri.” Si bapak yang dikategorikan sebagai dosen tamu ini berkomentar. Dalam hati, belum tahu dia..ini baru permulaan pak.. jadi silabus yang bapak pake hanya buat symbol saja. Karena kami akan selalu membawa topik-topik yang selama ini kami diskusikan diluar untuk mengharapkan tanggapan bapak. Maklum namanya juga mahasiswa. Idealismenya masih dipegang kuat, darah muda nya selalu mengelora. Tapi lain cerita kalau sudah gak mahasiswa lagi. Apalagi nyari uang susah ya..luntur juga idealismennya.

“Baiklah karena kalian kritis dalam hal ini maka saya berikan tugas untuk membuat makala tentang sekilas ajaran pokok agamanya masing-masing Dan jangan lupa minta tanggapan dari masing-masing tokoh agama.”

Tiba-tiba vina nyeletuk,

“Maksudnya agama yang di KTP, pak?”

“Kok begitu? Memang agama anda ada berapa?” Si Bapak bingung kok bisa muncul pertanyaan seperti ini.

“Justru itu pak..saya sendiri gak punya. Punyanya yang di KTP.”

“Oh kalau masalahnya begitu. Menurut kamu selama ini kamu menjalankan ajaran agama seperti apa itu yang kamu buat.” Si bapak memberikan tanggapan. Rupanya dia paham sedang menghadapi mahasiswa setengah atheist

“Kayaknya gak perlu pake tanggapan tokoh agama pak. Paling juga pendapat mereka sama.” Aku memberikan masukan.

“Iya pak” yang lain bersorak.

“Tidak bisa. Karena pendapat kalian itu harus didukung oleh tokoh masyarakat. Hal itu menunjukan kalau bisa dipertanggungjawabkan.”

Akhirnya kami sepakat ikut saja maksud sang bapak. Lagi-lagi teman-teman yang tergolong kaum abangan (agama hanya KTP) kebingungan. Tokoh siapa yang bisa dimintai komentar? Karena pasti kami akan memakni konsep Tuhan dan ajaran agama sesuai dengan pemahaman kami. Satu-satunya cara adalah mengarang sendiri nama dan tanggapan sang tokoh. Dan tibalah hari pengumpulan tugas.

“Donatus..Kesini sebentar.” Si bapak serius sekali membuka setiap lembar makala yang dipegang. Matanya melotot diatas frame kacamatanya. Karena kacamatanya sedikit diturunkan. Aku pun maju dengan percaya diri. Siap-siap..

“Ada apa pak?”

“Kamu..buat tentang Agama Buddha..Memang agama kamu Buddha toh? bukan Katolik?”

Diam sesaat..berfikir kira-kira kata-kata apa yang bisa diucapkan.

“Secara turun temurun Katolik pak Tapi saya tertarik dengan Ajaran Buddha.”

“Kenapa kamu tidak bahas tentang Katolik saja?”

“Tadinya saya mau bahas tentang Katolik tapi saya pikir bapak juga Katolik banyak teman-teman disini bakal bahasa Katolik jadi saya bahas Ajaran Buddha saja. Toh ini bisa jadi materi yang menarik” Aku sedikit berspekulasi. Menunggu tanggapan dari si bapak.

Sambil melihat-lihat makala ku dan mengangguk-nganguk, “Bagus..ternyata kamu tahu banyak tentang ajaran Buddha. Kamu punya buku? Ya..yang dasar-dasar saja tentang Ajaran Buddha.” Menatap ku yang duduk di depannya.

“Oh.gak banyak pak saya juga masih belajar kok. Kalau masalah buku nanti saya bawakan, pak” Senyum sedikit

“Silahkan kembali ke tempat duduk anda!”

“Terimakasih pak.”

.Kemudian seperti biasa kelas ini menjadi kelas yang penuh dengan perdebatan. Dan ujian akhir. Kami tergolong kaum Atheist dan setengah atheist ternyata dapat nilai A. kemudian sambil menikmati nilai yang memuaskan ini, Vina mendekati;

“Don tahu gak kenapa kok kita dapat A padahal kita selalu bantah dengan perkataan bapak agama?”

“Gak tahu”

“Karena kalau dia ngasih kita B atau C kita bakalan ngulang dan itu bikin dia tambah pusing. Makanya dia ngasih A biar kita gak ngambil lagi kan dia bisa bebas.”

“Masuk akal juga sih.”



Lagi-lagi Seto terlibat dengan perdebatan tentang Tuhan. Gara-gara di lembar ucapan terimakasih bendel skripsinya bukannya kata ‘Yesus’ duluan yang ditulis, Justru ‘Buddha Gautama’. Kali ini Bu Rosa yang satu perguruan dengan Pak Anton alias dosen agamais merasa ada yang gak beres. Maklum si ibu gak tahu kalau Seto bagian dari komunitas setengah atheist. Sebenarnya mereka berdialog pake Bahasa Inggris, tapi dari pada diterjemahkan lagi pake Bahasa Indonesia saja.

“Seto..kenapa kamu justru menulis nama Yesus dibelakang?”

“Menurut saya Yesus dan Buddha Gautama adalah guru saya.”

“Tapi seharusnya kamu tulis Yesus duluan kerena dia itu Tuhan tidak sekedar guru. Posisi itu yang membedakan dia dari yang lain.”

Gawat… Seto harus siap-siap lagi. Rupanya si ibu serius omongin masalah ini. Padahal perasaan gak ada hubunganya sama ujian skripsi deh.. tapi ya sudah. Api sudah dinyalakan, layani saja.

“Kalau dalam padangan saya bu, Buddha Gautama merupakan sosok yang patut saya ucapkan terimakasih kerena ajarannya telah mengubah hidup saya menjadi lebih baik. Kemudian Yesus dengan ajaran cinta kasihnya, sosok yang membuatku lebih peduli dengan orang lain.. keduanya adalah guru tidak lebih dan sama.”

“Seto, kamu harus tahu Yesus itu Tuhan..”

“Sepertinya kita punya sudut pandang yang berbeda bu, saya tidak bisa memaksakan konsep saya ke ibu atau sebaliknya.”

“Ini hanya masukan Seto”

“Baik bu, terimakasih atas masukannya.”






Rabu, 19 November 2008

Asmara..oh..Asmara


Asmara oh

Asmara oh..Asmara..


Jatuh cinta? Waduh indahnya, tapi gimana kalau ditolak?, dikiayanati?, gak berani menyampaikan? Atau si dia sudah punya pacar? Pasti lemah, lesuh, gak ada gairah hidup, trus pengin kabur dari dunia ini. Kali ini Yudha dan Agung gak bisa ngelak lagi. Diam-diam Yudha mengagumi si Mella, gadis bertubuh ramping. dan Agung dengan idolanya gadis bertubuh bongsor asal Fakultas Ekonomi. Gadis-gadis ini bagi mereka adalah cahaya lilin dikala mati lampu, seteguk air dikala air galon di kost-kostan habis, sebagai kipas angin dikala panas kota semarang menyayat kulit. Atau sepotong tempe di saat gak punya uang buat beli lauk.

Si Makluk zaman batu ini sedang kasmaran. Selalu saja loyo kalau gak lihat sang idola hati. Dan begitu seberkas bayangan nongol dibawah tangga, dunia serasa bertabur bintang dengan bunga bermekaran dimana-mana. Sang bidadari telah tiba. Aksi dimulai,

“Mi kok datang telat sih, papi udah nunggu dari tadi.” Wajahnya serius, seolah-olah gadis didepannya adalah istrinya. Yang disapa gak mau kala bikin si giant baby semakin berbunga-bunga.

“Habis tadi macet sih, papi main ninggalin aja.” Sambil mengerutkan keningnya. Pintar juga aktingnya. Hati si Yudha semakin berbinar-binar mirip bintang dari timur yang mengantarkan para tiga raja menemukan tempat kelahiran Yesus.

“Maaf mi, habis tadi ada urusan mendadak.”

“Tiada maaf bagi mu!”

Dasar..laki-laki kurang kasih sayang. Pacaran gak..Istri bukan. Pake mi..mi an segala. Emang ini karakternya si pemuja wanita berbadan sapu lidi. Adegan papi and mami berlanjut terus. Gak cuman di kampus, via sms berlanjut..hubungan main-mainan ini pun terbaca oleh pihak yang merasa memiliki si gadis.

Tiba-tiba wajahnya berubah jadi laki-laki paling malang sedunia. Gara-gara ada sms yang masuk,

“Jangan macam-macam sama pacar ku ya!!Awas kamu.” Bunyi sms ini cukup meresahkan pria berbadan gajah ini.

Pie ki?” Rupanya dia semakin bingung. Tiba-tiba sms masuk lagi.

“Pokoknya jangan dekatin dia lagi, kalau sampai kamu berani jangan salahkan saya. Kamu tahukan siapa saya?” Mati..ancaman semakin serius. Bagaimana gak kuatir pemilik nomor ini adalah salah satu penegak hukum di negri Indonesia Raya ini alias polisi. Kalau sudah begini peran teman dibutuhkan. Manusia emang egois ya..saat senang di rayakan sendiri tapi begitu susah butuh orang lain.. Siapa lagi yang bisa diandalkan kecuali Seto. Seorang yang gagal masuk Akpol ini punya kenalan polisi seabrek mulai dari polisi jalanan sampe berpangkat jendral. Jurus pertama telpon ke yang punya posisi lebih tinggi dan berhasil.

Si Polisi ini dimaki habis-habisan. Gak mungkin berkutik secara pangkat dia lebih rendah. Hanya bisa mengatakan “Siap Pak!” Aku berfikir, enak ya punya jabatan dan kekuasaan bisa main perintah aja, trus main nekan. Si Yudha terselamatkan meskipun habis itu kebiasaanya kumat lagi. Selalu mendekati perempuan berbadan sangat ramping yang sudah punya pacar.

Dan emang ini musimnya jatuh cinta. Si Agung gak tinggal diam berpartisipasi dalam kisah-kasih ini. Pertemuan dengan gadis Fakultas Ekonomi dalam suatu kegiatan di Vihara bikin dia gak bisa tidur, susah makan, lemah, lesuh, bingung pokoknya mengharubirukan. Dengan berat hati (Antara ragu, bingung, kangen, dan lain-lain saling mengisi bilik hatinya) dia berangkat juga menemui pujaan hatinya.

“Permisi tante, Angel ada?” Tersipu malu.

“Oh..ada..Angel ada teman mu.”

“Iya sebentar.” Kemudian terdengar langkah kaki turun dari lantai dua.

“Oh Agung.” Sambil tersenyum.

“Ada apa, Gung?”

Pertanyaan gak diduga. Pada tahap ini orang yang sedang kasmaran mendalam akan gelagapan mau jawab apa.

“Em..tadi habis dari rumah teman terus mampir.” Padahal bukan itu jawabanya. Tujuan utamanya adalah datang kesini. Kamu gak tahu, Angel kalau semalam aku gak bisa tidur gara-gara mempersiapkan mental untuk bisa datang dan melihat wajahmu. Kemudian pertanyaan klasik pun muncul.

“Kamu gak sibuk?”

“Gak sih tapi lagi nunggu teman mau ngerjain tugas.” Sambil mengambil tempat duduk disampingnya. Gawat..detak jantung semakin kencang. Antara senang, bercampur gerogi deg..degkan. Angel ambil posisi duduk sangat dekat habis gak ada tempat lain. Dalam hati rasanya ingin terus berlama-lama seperti ini.

“Emangnya kenapa?” Mata mereka saling pandang. Dalam hati aduh..mata itu begitu indah. Gak lagi konsen dengan pertanyaan itu.

“Kenapa sih kok lihatnya begitu? Ada yang salah?” Angel penasaran ditanya kok diam aja sambil melotot.

“Oh..gak-gak kok” Seolah-olah tersadar. Yang salah adalah kenapa aku harus kasmaran dengan kamu. Padahal aku tahu kalau kita gak mungkin bisa bersatu. Rasanya terlalu berat untuk melangkah. Tapi iya love is blind, hati Agung merintih. Mawar ku kamu gak tahu kalau begini saja aku sudah sangat bahagia. Dasar pria melankolis! Sekarang jadi mati kutu. Coba kalau lagi sendirian pasti ngahayalnya macem-macem. Bisa pergi berduaan dinner bareng di terangi nyala lilin-lilin dan diringi lagu-lagu cinta. Sebelum makan dia akan memberikan sekuncup bunga sebagai bentuk expresi rasa cinta. Uh..So romantic. Tapi gak kalau berhadapan langsung begini.. mulut seperti di bungkam ratusan lembar isolasi. kata-kata hilang semua dari pikiran. Entah kemana. Tiba-tiba,

“Eh..teman ku udah datang tuh.” Melotot ke parkiran depan rumah.

Dalam hati Agung hanya bisa mengeluh. Pernyataan Angel itu punya satu makna, cepat-cepat angkat kaki. Padahal kan masih pingin duduk berduaan. Meskipun cuma saling lihat aja. Kenapa mesti sekarang orang ini datang? Menganggu kebahagianku aja.

“Ya udah aku pulang dulu ya.” Suaranya merendah, sambil mengenakan jaket. Persiapan mau pulang.

“Mau pulang sekarang toh? Kan belum ngobrol lagi.”

“Teman mu kan udah datang mau bikin tugas. Jadi aku pulang aja.” Sebenarnya aku masih mau disini malaikat ku tapi gimana sepertinya pertemuan kita harus berakhir disini.

“Ya udah hati-hati ya, Gung!” Angel berdiri dan mengantar si secret admirer nya keluar.

Di rumah, pikiran Agung mulai melalang buana menyusuri masa lalu. Rangkaian waktu telah menghadirkan pertemuan-pertemuan yang disulam apik dalam relung hatinya. Angel..Angel.. Awalnya kita bahkan gak kenal. Gara-gara waktu pertemuan pertama untuk acara Waisak di Borobudur kata-kata mu, “Terserah aku ikut siapa aja.” Teman-teman lain pada bingung mau berangkatnya sama siapa dan bagaimana lagi-lagi kamu cuma bilang, Terserah dan terserah.. tapi kenapa kok aku begitu terkesan ya dengan kata itu? Sial!! Ini gara-gara Donatus.. dia yang manas-manasin keadaan. Katanya kalau cewek yang selalu bilang terserah itu bakal menjadi cewek yang asik..apalagi kalau dia belum punya cowok…bla..bla...bla.. Aku sepertinya tersihir dengan pendapat manusia sok tahu itu.. Dan kamu hadir seperti kuncup bunga yang gak pernah layu menghias bilik hati ku. Rasa kasmaran ku terpahat semakin indah. Ketika Hari Waisak, kita selalu jalan bareng.. bercengkerama tentang banyak hal. Aku semakin membiarkan rasa ini tumbuh dan tumbuh. Malam hari aku rela tidur di kursi karena tempat tidurku buat mu. Dalam derita tidur dengan kaki yang ditekuk-tekuk toh aku tetap bahagia. Kesakitan sepertinya luluh ketika aku membayangkan dirimu. Semuanya ku lakukan untuk mu, oh..Mawar ku. Tapi apakah kamu merasakan hal yang sama?

Dasar orang terlalu pintar begini nih. Ngomong donk! Mana dia tahu kalau kamu lagi kasmaran sama dia. Sepertinya kamu hanya bisa menikmati imajinasimua aja, bro. Waktu terus berjalan pokoknya aku harus bisa mengatakan kalau aku suka sama dia. Semangat mengebu-gebu.. kali ini Si Tompel benar-benar mau berjuang untuk mendapatkan cinta Si Angel. Lagi-lagi gak bisa. Gara-gara dia datang tapi di rumah ada teman nya Angel. Cowok lagi.. pikiran sudah macem-macem.. Apa itu cowok pacarnya? Atau yang lagi Pendekatan, kok kayaknya mereka akrab banget. Sepertinya berat kalau maju terus. Disini jika seorang yang lagi kasmaran pasti mucul hasrat possessive nya. Takut kala saingan Agung memutuskan untuk pergi buru-buru.

“Kok baru datang langsung pulang?” Wajah Angel sedikit cemberut.

“Aku lupa ada janji sama teman.” Mencari alasan. Gawat..gimana mau rebut hatinya si gadis kalau sebelum perang udah angkat bendera putih duluan. Dengan wajah lesu sang pejuang cinta ini pulang dengan bendera putihnya dikibarkan tinggi-tinggi.

“Kita juga mau pergi kok” Melirik ke teman cowoknya

“Oh…ya udah aku pulang dulu.” Wajahnya menunduk seperti kala judi ratusan juta. Dengan penuh penderitaan, Sang pejuang sebelum perang ini berusah melupakan pujaan hatinya. Tidak ada lagi sms atau telpon. Tidak adalah kunjungan ke bangunan bertuliskan “Tokoh Mawar.” Benar..benar.. kamu memang mawar yang berduri. Keindahan mu membuatku takjub tapi duri mu selalu menusuk-nusuk hatiku..hiks..hikss..

Kemudian kabarpun terdengar kalau Si Gadis yang bermukim di Toko Mawar ini sudah menikah. Senyum bersemi dibibir Si Tompel, coba kalau aku masih kasmaran sama dia bisa-bisa aku gantung diri atau minum apotas. May you always be happy, My Rose. Kini sudah ada bidadari lain berbadan bongsor juga sedang bermukim di hatiku, dia gadis yang tinggal kost-kost an di pintu pagarnya bertuliskan “Roma” Apakah nasib ku kali ini sama juga? Ah..gak tahu..

Hasrat Yudha untuk mendekati perempuan yang berstatus ‘hak milik’ orang kumat lagi. Kali ini gadis yang lebih ramping. Menurut sang pemuja idolanya adalah luar biasa. Miss universe aja kalah. Hari-hari nya kembali bahagia setelah skandal satu teratasi.. “Jadikanlah aku yang kedua” lagu yang dinyanyikan Astrid cocok banget buat dia. Handphone selalu penuh dengan foto si ramping ini. Foto lagi tidur sampai beraksi bak model di simpan di memory HP sampai-sampai memorinya gak cukup. Maklum si ramping tergolong perempuan narsis. Semua berjalan mulus-mulus saja. si Ramping sepertinya menikmati kebersamaan ini. Maklum pacarnya kerja di luar kota jadi ya..buat hiburan gak apa-apa lah dari pada stress. Realistis aja lah.

Tiba-tiba si manusia kebo ini kaget dan beranjak ke kamar mandi begitu melihat sms terterah di layar Hp nya,

“Kangen”

Dan sms itu dari Si Ramping seperti kesurupan dia langsung cepat-cepat berangkat ke kampus. Padahal bisa saja sms itu salah ngirim. Tapi bagi orang yang kasmaran pasti gak pikir panjang nikmati saja. Hati nya sumringah begitu melihat sang idola tersenyum malu bersama teman-teman lain. Akhirnya mereka pergi nonton bareng. Kebahagian dan kearaban semakin melekat. Emang kalau sudah begini manusia sering lupa diri. Kalau senang pinginnya keterusan. Padahal gak bisa, hidup kan ada dua sisi senang dan susah. Seperti kata orang bijak ketika kebahagian sedang bercengkrama dengan anda di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur. Tiba lah kesakitan itu. Semua akibat kenarsisan kedua anak manusia ini. Ditambah aku yang lagi belajar memotret. Foto “kemesraan” mereka di cium sang pacar. Sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi. Acara jalan bareng di liputi kelabu karena si ramping pulang di tengah jalan sambil nangis-nangis. Isu mulai berkembang diantara kami. Ini semua gara-gara foto “gendong” yang barusan di lihat sang pacar. Yudha merasa bersalah. Dia sebagai subyek dalam persolan ini. Karena ketelodaran dan gak hati-hati persoalan ini pun muncul. Coba kalau aku nolak di foto kayak gitu.. Pasti gak terjadi. Hatinya meradang. Tapi mau gimana semua sudah terjadi. Biasa penyesalan datang terlambat. Selama jalan bareng, Yudha terlihat banyak diam gak seperti biasanya. Sumber kekonyolan.

Dan saat yang membuat si giant baby siap mental.

Tirai wisma di buka ada tamu datang.

“Yudh, ada yang nyari tuh.” Aku menatap wajahnya. Kasihan juga. Kalau diurut-urut aku secara gak langsung terlibat dalam permasalahan ini. Coba kalau aku hidden foto mereka, gak mungkin masalahnya jadi berabe begini.

“Gini Yudh, Aku itu gak masalah kalau kalian pergi bareng. Dan mengenai foto itu, aku cuma kuatir kalau nanti orang-orang nilai yang macem-macem.” Pacar Si Ramping buka mulut. Kehadirannya ingin menjelaskan kesalahpahaman.

“Terus terang aku gak cemburu sama kamu..kita saling kenal kok, Cuma sikap dari dia (si ramping) yang bikin aku jengkel. Dia gak terbuka malah mutar-mutar makanya aku jengkel”

“Iya aku juga sorry banget.. semua karena kesalahan ku juga.” Sambil menunduk si giant baby, menyadari kesalahannya.

“Gak apa-apa aku cuma minta tolong foto itu dihapus ya. Trus kalau mau pergi-pergi ajak dia juga ya.. jangan trus kalian cuekin dia gara-gara ini.”

“Oh..iya..kita gak bakalan nyuekin dia.” Senyum bersemi dibibir. Sedikit lega. Untung sang pacar bukan orang yang sangat possessive atau berpikiran picik. Kalau gak bisa-bisa dia disuruh bikin MOU (memorandum of understanding) alias kesepakatan berdasarkan hukum kalau mereka tidak ada perasaan apa-apa. Sekali melanggar berurusan dengan pengadilan.